Renungan Harian 405 (Selasa, 8 Oktober 2019)

Pembelaan di Hadapan Raja Agripa

Devotion from Kisah Rasul 26:1-11

Akhirnya pertemuan Agripa dan Paulus terlaksana. Festus mengucapkan kata-kata pengantar, dan setelah itu Paulus akan memberikan penjelasan mengenai apa yang terjadi, dan Agripa akan memberikan komentarnya terhadap apa yang terjadi itu. Setelah Festus mendahului dengan latar belakang keadaan yang terjadi dan tuduhan yang telah disampaikan kepadanya mengenai Paulus, Agripa pun memberikan kesempatan kepada Paulus untuk menyatakan pembelaannya. Paulus memulai perkataan pembelaannya dengan unik. Dia tidak membuka dengan kata-kata pembuka yang umumnya dilakukan, yaitu janji untuk berbicara dengan singkat. Kebiasaan ilmu retorika klasik dalam berpidato adalah janji bahwa pidatonya akan berlangsung singkat (Kis. 24:4). Tetapi Paulus memulai pembelaannya dengan hal yang sebaliknya, yaitu meminta kesabaran para pendengar karena dia akan menyampaikan sesuatu yang panjang (ay. 3). Mengapa Paulus melakukan ini? Karena Paulus bukan akan menyampaikan pembelaan saja. Lebih penting daripada sekadar pembelaan adalah berita Injil. Paulus tahu bahwa keadaan ini merupakan keadaan yang diatur Tuhan agar Raja Agripa II dan Festus dapat mendengar berita Injil dengan lengkap. Untuk dapat menjelaskan berita Injil dengan baik dan utuh, Paulus perlu waktu untuk membangun argumen dan menyatakan apologetikanya bagi Injil yang dia beritakan. Berita Injil bukan seperti mantra yang diucapkan dan memengaruhi pendengarnya tanpa perlu berpikir. Berita Injil harus direnungkan, dipikirkan, dan diterima dengan segala kerelaan hati. Untuk itu pengabaran berita Injil juga harus dilakukan dengan argumen dan pembelaan yang sebaik mungkin.

Dalam ayat 4 dan 5 Paulus memulai pembelaannya dengan menyaksikan kehidupannya di dalam agama Yahudi dahulu. Dia menekankan mengenai kegigihannya untuk memperjuangkan agama Yahudi. Dengan ketat Paulus menaati dan berjuang untuk melakukan semua yang diperintahkan. Tetapi apakah gunanya dia dengan ketat menjalani agamanya? Apakah untuk kebahagiaan hidup saat ini saja? Tentu tidak. Paulus menekankan hal yang menjadi pergumulan orang Yahudi saat itu, yaitu ketaatan dan kegigihan mereka akan membuat Tuhan mengirimkan waktu kelegaan dengan mengirimkan Sang Mesias untuk menaklukkan semua musuh Israel. Ketaatan inilah yang Paulus jalani. Ketaatan dengan sebuah pengharapan di masa depan, pengharapan eskatologis. Dengan kalimat ini Paulus berusaha masuk ke dalam pikiran Raja Agripa. Tentu sang raja ini juga tahu bahwa kegigihannya menaati hukum Tuhan adalah kegigihan yang mengandung pengharapan di masa depan. Raja Agripa begitu taat beragama. Dia juga orang yang berperan besar di dalam pembangunan banyak rumah ibadah dan juga perbaikan-perbaikan dan pemeliharaan Bait Allah. Untuk apa raja ini begitu saleh? Mengapa tidak tenggelam di dalam kejahatan dan hawa nafsu seperti banyak raja-raja lain? Tentu karena sang raja mempunyai pengharapan akan berkat Tuhan di waktu yang akan datang. Kesamaan pengharapan inilah yang Paulus coba nyatakan, bukan untuk membela diri, tetapi untuk membawa Agripa percaya kepada berita Injil.

Paulus melanjutkan dengan berita yang menjadi klimaks dari bagian pertama pembelaannya, yaitu bahwa dia menemukan janji Allah dan pengharapan masa depan itu ada pada Kristus, yang mati dan yang bangkit. Siapakah yang sanggup memberikan pengharapan lebih besar daripada orang mati yang bangkit? Pengharapan apakah yang lebih besar daripada pengharapan kemenangan atas kematian? Jika maut sudah ditaklukkan, tidak ada lagi musuh yang ditakuti. Inilah puncak dari pemberitaan bagian pertama Paulus. Pengharapan yang dia cari ternyata telah Tuhan genapi. Tuhan telah memberikan Sang Mesias.

Pengharapan akan Sang Mesias seharusnya sangat dihargai oleh orang Yahudi. Bukankah mereka yang memperoleh janji Tuhan? Bukankah mereka yang diberikan pengharapan ini? Penantian yang panjang akan janji Tuhan, kehancuran karena ketidaktaatan, pengampunan dan pemulihan yang Tuhan berikan, serta janji yang tidak pernah Tuhan tarik kembali, semua ini hanya bisa dipahami melalui tradisi orang Yahudi. Tidak ada bangsa mana pun di dunia ini yang dididik untuk menantikan pengharapan akan Sang Mesias seperti orang Yahudi. Mereka dilatih dengan sangat limpah oleh Tuhan di dalam perjalanan sejarah bangsa mereka. Tetapi yang terjadi adalah ketika janji itu digenapi, mereka justru menolak. Bangsa lain yang tidak dilatih di dalam pengharapan yang sama justru menerima. Inilah tragedi terbesar bangsa Israel. Tidak ada kecelakaan lebih besar bagi mereka lebih daripada fakta bahwa mereka telah menolak Raja dan Mesias mereka sendiri. Mereka telah menolak penggenapan janji Tuhan.

Tentu saja tidak semua orang Israel menolak. Banyak juga yang menjadi percaya. Tetapi penolakan Israel terhadap Sang Mesias terjadi ketika para pemimpin memutuskan untuk menolak Kristus dan menganiaya orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya. Penolakan Israel ini diwakili oleh penolakan Imam Kepala dan pemimpin-pemimpin agama Yahudi. Termasuk Paulus! Paulus begitu gigih membela agama Yahudi dengan buta. Dia tidak tahu, maka kegigihannya dilakukan dengan cara yang salah. Dia tidak mengerti bahwa Kristuslah penggenapan janji itu. Paulus melakukan apa yang juga dilakukan para imam kepala dan pemimpin agama Yahudi. Dia, bersama-sama dengan mereka, menganiaya orang-orang Kristen. Tetapi setelah Kristus menyatakan diri, dia dengan gairah yang sama besarnya membela nama Kristus. Dia sekarang menjadi rasul untuk menyatakan Injil Kristus. Dan karena dia pernah menganiaya orang-orang Kristen, maka dia sekarang mengabarkan Injil dengan penuh kerelaan untuk menderita. Karena dia dulu pernah menolak dengan keras berita Injil, dan satu-satunya penyebab dia bisa percaya Injil adalah karena kasih karunia Kristus kepadanya, maka dia pun memiliki gairah dan kesabaran yang sangat besar untuk orang-orang Yahudi yang membenci dan menganiaya dia.

Paulus berusaha meyakinkan Agripa untuk tidak mengambil jalur bodoh yang dahulu dia ambil. Tidak ada pengharapan lain selain Kristus. Kebangkitan-Nya dari antara orang matilah yang membuat pengharapan Israel menjadi pasti dan genap. Paulus menunjukkan betapa absurdnya tuduhan orang-orang Yahudi kepada dia. Dia percaya Yesus Kristus karena Kristus bangkit, dan karena percaya Kristus bangkit dia dianiaya. Di manakah kesalahan memercayai orang mati bangkit? Jika orang Yahudi dengan tekun beribadah, tetapi tidak mempunyai pengharapan akan kebangkitan, apakah gunanya ibadah yang dia lakukan? Apakah gunanya memperjuangkan damai sejahtera, kebenaran, dan keadilan di tengah-tengah Israel kalau ternyata maut akan menghapus semuanya sampai habis? Salahkah memercayai kebangkitan? Tidak salah sama sekali. Bahkan itulah inti pengharapan Israel. Jika kebangkitan orang mati adalah inti dari pengharapan Israel, bukankah ini berarti seluruh Israel musti memerhatikan baik-baik berita yang dibawa oleh orang-orang Kristen, yaitu berita kebangkitan Yesus dari Nazaret?

Kekuatan berita Injil di dalam kebangkitan Kristus inilah berita yang disampaikan Paulus untuk memenangkan hati Agripa. Apakah lagi yang diharapkan Israel, yang lebih besar daripada pengharapan akan kebangkitan? Jika pengharapan akan kebangkitan itu salah, tidak mungkin para pengikutnya rela dianiaya, bahkan mati demi berita itu. Jika Kristus tidak benar-benar bangkit, maka tidak ada bukti untuk pengharapan kebangkitan di dalam Kristus. Jika Kristus tidak benar-benar bangkit, kekuatan apakah yang membuat pengikut-Nya bertahan di dalam penganiayaan, bahkan ancaman kematian yang mereka alami? Paulus pernah berada dalam pihak yang menganiaya dan pihak yang teraniaya. Satu hal yang dia saksikan adalah kekuatan pengharapan akan kebangkitan yang dimiliki oleh orang-orang Kristen. Maukah Agripa memiliki pengharapan ini? Maukah kita? Hanya satu nama yang memberikan bukti pengharapan itu nyata, hanya Yesus Kristus! (JP)