Renungan Harian 406 (Rabu, 9 Oktober 2019)

Kesaksian Panggilan Paulus

Devotion from Kisah Rasul 26:12-23

Dalam bacaan hari ini Paulus mengisahkan pertobatan dan pemanggilannya oleh Tuhan. Paulus menekankan penglihatan dari surga. Otoritas surgawi yang diyakini Paulus tentu tidak bisa disetarakan dengan otoritas dunia ini. Tuhan yang menyatakan diri kepada Paulus tentu saja lebih berkuasa daripada raja-raja dunia, termasuk Raja Agripa. Tuhan yang berkuasa ini menyatakan diri-Nya untuk memanggil Paulus. Tanda yang luar biasa yang menyertai panggilan Paulus ini menunjukkan betapa penting tugas panggilan yang Tuhan percayakan kepada Paulus. Pengabaran Injil dari Yerusalem sampai ke ujung dunia merupakan pekerjaan yang akan menyatakan kemenangan Kristus atas dunia ini, dan karena itu Kristus pun memanggil hamba-Nya ini dengan tanda yang sedemikian dahsyat.

Paulus menegaskan bahwa dengan pernyataan dari Kristus sendiri, tidak mungkin dia tidak taat. Dia bisa diintimidasi oleh kuasa para imam kepala, kuasa politik, kuasa kekerasan, tetapi tidak satu pun dari kuasa-kuasa itu yang mengalahkan terangnya sinar matahari. Ketika Sang Pencipta matahari sudah menyatakan diri, tidak ada apa pun di bawah matahari yang bisa mengintimidasi Paulus. Di manakah kemuliaan Kaisar? Di manakah kemuliaan para imam besar? Di manakah kemuliaan gubernur? Panglima perang? Tentara yang perkasa? Semua hanyalah manusia biasa. Jika matahari sudah tenggelam mereka pun tidak sanggup melihat. Jika matahari menyatakan sinarnya yang terik sepanjang hari, mereka pun tidak bisa bertahan. Paulus bertemu dengan Kristus yang kemuliaan-Nya melampaui segala sesuatu. Tidak ada jalan lain selain taat. Tidak ada cara lain selain menerobos segala tantangan dan tetap menaati panggilan dari Tuhan Yesus.

Kristus menyatakan diri dengan tanda yang sangat besar, tetapi tanda ini tidak pernah terlepas dari Kitab Suci. Yohanes 1:4 dan 5 mengatakan bahwa di dalam Kristus ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia yang tidak mungkin dikuasai kegelapan. Terang Kristus menaklukkan kegelapan, tidak mungkin sebaliknya. Ketika Kristus menyatakan diri kepada Paulus, Dia sedang menyatakan kuasa-Nya sekaligus janji-Nya kepada Paulus bahwa terang Injil yang akan dibawa oleh Paulus tidak akan pernah dipadamkan oleh kegelapan. Ke mana pun berita Injil pergi, kegelapan lenyap dan terang bercahaya. Siapakah yang bisa menakut-nakuti Paulus? Tidak ada kuasa kegelapan yang sanggup menghentikan terang Injil yang dibawa Paulus.

Tetapi Paulus menyaksikan bahwa Kristus yang mulia ini justru berbicara dengan suara yang penuh dengan kelemahlembutan. Dia tidak berbicara menyatakan penghakiman, tetapi berbicara menyatakan panggilan-Nya yang penuh kesabaran kepada Paulus. Sang Hakim seluruh dunia mengampuni Paulus dan memanggil dia untuk menjadi hamba-Nya. Kristus mengidentikkan diri-Nya dengan orang-orang yang dianiaya oleh Paulus. Hal ini membuat Paulus sadar. Betapa mengerikannya jika dia harus terus melawan Kristus ini. Betapa menakutkannya jika Paulus menjadikan Yesus lawannya! Lebih baik menjadi salah satu dari orang-orang lemah yang menjadi korban ini daripada menjadi penindas mereka. Sebab mereka memiliki Kristus yang rela diidentikkan dengan mereka, rela menderita bersama dengan mereka, dan yang dengan penuh kuasa menyatakan diri sebagai pembela umat-Nya. Paulus tidak ingin menganiaya orang-orang yang dilindungi dan dikasihi Kristus. Betapa indahnya jika kita boleh berbagian menjadi orang-orang yang dilindungi Kristus. Untuk mereka Kristus rela mati. Untuk mereka juga Kristus rela menyatakan kesatuan di dalam penderitaan. Paulus bukan sedang menganiaya sebuah sekte bernama Nasrani, tetapi dia sedang menganiaya Kristus sendiri.

Tetapi, sama seperti Kristus begitu lemah lembut kepada domba-domba-Nya, demikian juga Kristus begitu lemah lembut kepada Paulus. Mengapa? Karena Paulus ini pun domba-Nya yang akan diutus-Nya menjadi rasul-Nya. Dengan lemah lembut Kristus memanggil Paulus. Dengan kuasa-Nya yang besar Dia membutakan mata Paulus untuk sementara, tetapi dengan panggilan-Nya yang lembut Dia menyembuhkan hati Paulus.

Kekuatan dari pengampunan Kristus menghantam Paulus bahkan lebih kuat daripada cahaya yang melampaui matahari. Ketika Tuhan kita menyatakan dahsyatnya penghakiman-Nya, besarnya kuasa-Nya, tetapi memutuskan untuk mengampuni kita dan memanggil kita dengan lemah lembut, maka panggilan yang penuh lemah lembut inilah yang akan menghancurkan diri kita yang lama dan menguatkan diri kita yang baru, yang dikuduskan di dalam kasih Tuhan, dan didedikasikan untuk mengasihi Tuhan kita. Paulus tidak gentar bukan karena dia punya keberanian di dalam hatinya. Dia tidak gentar karena kasih Kristus yang dia rasakan mendorong dia untuk menaati Tuhan (2Kor. 5:14).

Hal ketiga yang menjadi kekuatan bagi Paulus adalah kasih Kristus kepada dunia ini. Setelah menyatakan kemuliaan-Nya, disusul dengan menyatakan pengampunan dan panggilan-Nya bagi Paulus, maka hal berikut adalah belas kasih Kristus bagi bangsa-bangsa. Belas kasih inilah yang mendorong setiap pemberita Injil untuk memberitakan Injil kepada banyak bangsa. Tidak pernah cukup hanya satu bangsa menerima Kristus. Harus ada bangsa lain yang dimenangkan juga. Tidak pernah cukup hanya satu orang menerima Kristus. Harus ada orang lain yang berikut dimenangkan bagi Kristus. Kristus menginginkan orang-orang ini direbut dari tangan Iblis. Tidak satu pun yang boleh dibiarkan binasa. Semua yang dipilih Kristus pada akhirnya akan diselamatkan, tetapi ini tidak mungkin terjadi tanpa ada orang-orang yang digerakkan oleh kerinduan Kristus memanggil bangsa-bangsa kembali kepada-Nya. Siapakah yang melihat visi ini? Siapakah yang mau pergi untuk Kristus? Pauluslah yang dipilih Kristus untuk pekerjaan ini.

Dengan didorong oleh penglihatan akan kemuliaan Kristus yang melampaui segala terang yang ada di dunia ini, dengan didorong oleh kasih pengampunan Kristus bagi Paulus sendiri, dan dengan didorong oleh kerinduan dan kasih Kristus yang mau memanggil seluruh bangsa kembali kepada-Nya, Paulus segera pergi dan memberitakan Kristus. Dengan giat dia mengabarkan Kristus, tetapi yang ditemui olehnya adalah penolakan, ancaman, bahkan usaha pembunuhan. Yang lebih mengherankan Paulus adalah bahwa penolakan ini ditemuinya justru dari saudara-saudaranya, sesama orang Yahudi. Dia tidak ditolak dengan keras oleh bangsa-bangsa lain sekeras dia ditolak oleh orang Yahudi. Orang Yahudilah yang mengejar dan ingin membunuh dia dengan mencari dia ke kota demi kota. Bagi orang-orang Yahudi Paulus seperti penyakit sampar yang harus dienyahkan. Sejak awal Paulus telah ditolak oleh orang-orang yang justru mendapatkan hak istimewa menjadi umat Tuhan.

Untuk direnungkan:
Apakah yang mendorong Paulus bergiat mengabarkan Injil? Kemuliaan yang Tuhan nyatakan, belas kasihan yang Dia tunjukkan kepada Paulus, dan kerinduan-Nya memanggil bangsa-bangsa kembali kepada Dia. Tiga hal ini menggerakkan Paulus untuk mengabarkan Injil di tengah-tengah kesulitan apa pun. Inilah sebabnya dia tidak putus asa di tengah-tengah ruang tahanan sekalipun. Dia tidak menjadi lemah dan lelah di tengah-tengah penolakan dari bangsanya sendiri. Sekarang dia berdiri di depan raja Israel, dan dia ingin memastikan sang raja tahu betapa besar dosa Israel menolak dia yang membawakan berita tentang Sang Mesias mereka. Dia berdiri dan berkhotbah sambil berharap sang raja tidak melakukan kebodohan yang sama dengan orang-orang Yahudi yang giat karena alasan yang sama. Paulus dulu bodoh, tetapi sekarang dia telah melihat hikmat Kristus. (JP)