Renungan Harian 407 (Kamis, 10 Oktober 2019)

Reaksi Festus

Devotion from Kisah Rasul 26:24-32

Ayat 24. Di dalam ayat 23 Paulus kembali ke tema awalnya, yaitu Yesus yang telah bangkit. Dia terus mendesak Agripa untuk percaya kebangkitan Kristus karena dua hal. Yang pertama adalah karena para saksi. Yang menyaksikan Dia bangkit begitu banyak. Yang kedua adalah karena nubuat para nabi. Jika Agripa menolak untuk percaya kepada para saksi, dia tidak mungkin boleh tidak memercayai para nabi. Agripa, seorang raja yang religius, tidak mungkin berani menolak kesaksian para nabi. Para nabi telah bersaksi untuk penderitaan dan kematian Kristus ini. Yesaya 53 dan Mazmur 22 adalah dua contohnya. Tetapi kerinduan Paulus untuk menyampaikan berita ini, serta isi beritanya yang tidak bisa diterima Festus, membuat dia berseru bahwa Paulus sudah gila. Tema kebangkitan menjadi tertawaan bagi orang-orang Romawi yang terdidik. Jika orang biasa yang mengajarkan tentang kebangkitan, maka mereka akan mencap orang itu orang bodoh. Tetapi karena yang berbicara adalah Paulus, seorang dengan pengetahuan sangat luas dan tidak mungkin bisa dicap bodoh, maka Festus menuduh Paulus sudah gila. Paulus tidak mungkin sebodoh itu memercayai berita aneh itu dengan seluruh jiwanya. Maka Festus berkesimpulan Paulus sudah kehilangan akal sehatnya sehingga dia tidak bisa membedakan lagi mana yang aneh mana yang wajar.

Ayat 25. Tetapi di ayat 25 Paulus mengatakan bahwa dia menyampaikan kebenaran dengan pikiran yang sehat. Dia mengatakan bahwa berita yang dia kabarkan adalah kebenaran. Ini bukan berita yang tidak dapat ditelusuri sumbernya. Saksi-saksi kebangkitan Kristus masih banyak, dan sebagian dari mereka menjadi pemimpin jemaat Tuhan. Tentu bukan hal yang sulit untuk menemui mereka. Saksi-saksi itu akan dengan senang hati menceritakan pengalaman menyaksikan kebangkitan Kristus. Tidak ada berita yang diselewengkan dan tidak ada berita yang ditambah-tambah. Seluruh kabar tentang Kristus dinyatakan dengan jelas dan tidak ambigu oleh Paulus. Hal kedua adalah bahwa dia mengatakan kebenaran dengan pikiran yang jelas. Pikirannya tidak pikun dan dia tidak memiliki cacat yang membuat dia salah mendengar. Dia pun menyampaikan beritanya dengan pikiran yang terstruktur dan sehat. Tidak ada argumennya yang aneh dan tidak bercampur dengan perkataan-perkataan tak relevan lainnya.

Ayat 26. Paulus juga membela dirinya dengan mengatakan bahwa argumen yang dia ceritakan dipahami dengan utuh oleh raja Agripa. Raja itu tahu persis tentang apa yang dikisahkan Paulus. Kematian Kristus dan penyebaran Injil telah menjadi hal yang diketahui dengan jelas olehnya, karena hal-hal ini sangat mengganggu kestabilan pemerintahannya, sehingga dia pasti pernah berurusan dengan hal ini. Bukan Festus yang tidak mengerti yang bisa menilai apakah Paulus berbicara dengan kacau atau sebenarnya, tetapi Agripalah yang dapat memahami apa yang Paulus kisahkan. Penyebaran Injil merupakan hal yang besar. Terjadi di kota-kota besar dan memengaruhi begitu banyak orang. Injil bukan sesuatu yang tanpa dampak. Di dalam puluhan tahun pertama saja berita Injil telah masuk ke bangsa-bangsa dengan budaya besar dengan sangat cepat. Tetapi Agripa, berbeda dengan pemimpin-pemimpin lainnya, dapat menilai apakah yang sebenarnya sedang terjadi. Dia dapat menilai bukan karena kepekaan politiknya, tetapi karena wahyu Tuhan melalui Taurat dan Kitab Para Nabi.

Ayat 27. Tawaran Injil yang diberitakan oleh Paulus begitu konkret, teratur, dan penuh sentuhan kemanusiaan sejati di hadapan Allah. Dia mendesak Agripa dengan cara yang sopan dan dengan argumen yang teratur rapi sebelumnya. Paulus menegaskan bahwa Agripa perlu percaya kepada Kristus jika dia mau percaya kepada para nabi dan dirinya.

Ayat 28: Respons Agripa sungguh mengejutkan. Dia mengatakan bahwa Paulus hampir saja meluluhkan hatinya. Seluruh agrumen Paulus memang sulit dibantah dengan keyakinan setinggi ini. Tetapi “hampir meluluhkan hati” tidak sama dengan “telah meluluhkan hati”. “Hampir percaya” tidak sama dengan “percaya”. “Hampir menjadi orang Kristen” tidak sama dengan “menjadi orang Kristen”. Sebaik apa pun argument yang diberikan Paulus, Agripa tidak tergerak untuk benar-benar percaya. Dia mungkin merasa terharu dengan pengertian yang limpah yang dimiliki Paulus tentang agama Yahudi, tetapi dia tidak merasa ingin beriman kepada Yesus Kristus. Sebaik apa pun ajaran Kristen bagi seseorang, tetap saja tidak ada gunanya bagi dia jika dia tetap tidak percaya. Mengagumi lain dengan memercayai. Memberikan pujian lain dengan menjadi Kristen. Siapakah yang mengagumi orang Kristen? Tidak ada gunanya! Seseorang harus menjadi orang Kristen, barulah dia diselamatkan. Mengagumi kekristenan tidak membuat dosa seseorang dihapuskan. Menjadi orang Kristen sejati yang beriman kepada Kristuslah yang akan membuat dosa seseorang dihapuskan. Sebesar apa pun tanggapan positif Agripa kepada pembelaan Paulus, dia tetap tidak diselamatkan karena dia tetap tidak mau percaya kepada Kristus.

Ayat 29: Paulus menjawab perkataan Agripa dengan cara yang sangat unik. Agripa mengatakan, “hampir saja engkau meyakinkan aku menjadi orang Kristen”. Ini secara harfiah bisa juga diterjemahkan, “di dalam jangka waktu singkat engkau meyakinkan aku untuk menjadi orang Kristen”. Paulus mengadakan sedikit permainan kata-kata untuk membalas Agripa. Paulus mengatakan, “Aku berdoa supaya di dalam jangka waktu yang singkat atau panjang engkau akan berkeadaan sama seperti aku, hanya tidak terbelenggu.” Paulus mengatakan entah dalam waktu yang singkat atau dalam waktu yang masih lama sekalipun Agripa dan semua orang lain benar-benar menjadi Kristen. Paulus menunjukkan keahliannya bermain kata-kata tanpa kehilangan tujuan utamanya untuk membawa orang kepada Kristus. Perhatikan akhir dari dialog Paulus dengan Agripa. Tidak ada usaha memohon kebebasan. Tidak ada lobi agar raja Agripa mau berusaha memakai koneksinya untuk membebaskan Paulus. Tidak ada kerinduan yang dimiliki Paulus lebih besar daripada kerinduannya agar orang memercayai berita Injil. Dia berpidato agar Agripa, Festus, dan semua pegawai mereka percaya Tuhan Yesus.

Ayat 30-32: Ketika mereka keluar dari ruangan, semua sepakat bahwa Paulus tidak bersalah. Apa yang diperjuangkan Paulus, tutur katanya, dan kepandaian serta ketulusannya membuat tidak satu pun dari mereka merasa bahwa Paulus seharusnya ditahan. Segera mereka menyadari permainan licik dari para pemimpin agama Yahudi di dalam penahanan Paulus. Semua tahu bahwa orang berbijaksana dan berkebajikan seperti Paulus layak untuk memperoleh kedudukan penting, bukan malah dipenjarakan. Bahkan raja Agripa menyatakan kesiapannya untuk memperjuangkan kebebasan Paulus seandainya dia belum naik banding kepada Kaisar. Jika Paulus belum naik banding kepada Kaisar, dia bisa dibebaskan oleh permintaan raja Agripa kepada Gubernur Festus. Permintaan dari satu kepala daerah kepada kepala daerah lainnya. Tetapi setelah Paulus naik banding, dia menjadi tahanan Kaisar. Dia harus diadili oleh Kaisar dan tidak ada yang dapat mengganggu atau membatalkan hal ini. Tuhan telah memakai Paulus untuk menyatakan Injil dengan cara yang sangat indah di depan Raja Agripa II. Tuhan tidak memakai kesempatan ini untuk membuat Paulus terlepas dari penjara. Tuhan hanya ingin Agripa, Festus, dan lain-lain mendengarkan berita Injil. Tetapi tugas Paulus belum selesai. Dari dalam penjara Kaisarea dia akan berangkat ke penjara di Roma. Dari penjara ke penjara untuk mengabarkan Injil. Jika sebelumnya dia pergi dari tempat ibadah yang satu ke tempat ibadah lain untuk memberitakan Injil, lalu dia pergi dari satu kota ke kota lain untuk memberitakan Injil yang sama, maka sekarang dia pergi dari penjara ke penjara sebagai tahanan untuk pergi memberitakan Injil. Inilah tahanan Roh, yang rela dipenjara demi Kristus dan demi orang-orang yang Kristus kasihi, dan demi kemuliaan Kristus! (JP)