Renungan Harian 410 (Minggu, 13 Oktober 2019)

Janji Tuhan dan Tanggung Jawab Manusia

Devotion from Kisah Rasul 27:27-41

Di dalam ayat 27-30 dikatakan bahwa anak-anak buah kapal ingin lari dengan sekoci karena peluang selamat dengan sekoci di perairan yang makin dangkal adalah jauh lebih besar. Ketika mereka semakin dekat ke pantai, maka risiko untuk karam jadi lebih besar dengan kapal besar. Itulah sebabnya mereka membuang sauh supaya kapal tidak dibawa ombak menghantam karang. Tetapi jika mereka naik sekoci, maka peluang terhantam karang menjadi sangat kecil. Peluang selamat pun menjadi lebih besar. Hanya ada satu masalah, sekoci tidak mungkin cukup menampung semua penumpang. Hanya sebagian kecil saja yang dapat naik ke sekoci. Di tengah-tengah situasi genting seperti ini para anak buah kapal berusaha untuk naik ke sekoci. Dengan berpura-pura hendak menurunkan sauh, mereka bersiap untuk menurunkan sekoci. Tetapi jika mereka lari dari kapal itu, maka tidak ada lagi yang sanggup mengarahkan kapal itu dekat ke garis pantai. Kapal besar seperti yang mereka tumpangi perlu banyak anak buah kapal untuk dikendalikan. Tanpa mereka kapal itu tidak akan bisa mencapai garis pantai dan akan terhempas ombak hingga hancur. Keadaan sangat genting dan mereka tidak sanggup kehilangan anak buah kapal itu. Paulus kembali menyadari apa yang sedang terjadi. Kepekaan yang dia miliki dari pengalaman di laut dan pengalaman bersama manusia membuat dia mengetahui kelicikan manusia. Paulus segera mengingatkan Yulius, sang perwira Romawi, untuk mencegah para anak buah kapal pergi meninggalkan kapal. Yulius segera memerintahkan agar tali-tali yang mengikat sekoci-sekoci dipotong dan sekoci-sekoci tersebut dibiarkan hanyut. Sekarang tidak ada lagi yang bisa melarikan diri dengan menaiki sekoci tersebut.

Mengapakah Paulus bertindak begitu ketat seperti ini? Bukankah di dalam ayat 23-25 dia sendiri telah berkata bahwa Tuhan telah menyatakan janji-Nya bahwa seluruh penumpang akan selamat? Jika Tuhan sudah berjanji, bukankah tidak ada tindakan manusia dapat membatalkannya? Mengapa dia harus berusaha seketat mungkin mencegah anak buah kapal pergi meninggalkan kapal? Karena di dalam theologi Paulus, janji Tuhan justru menjadi tuntutan untuk bertanggung jawab. Janji Tuhan dan ketetapan Tuhan diberikan bukan agar manusia menjadi lalai dan malas. Janji Tuhan dan ketetapan Tuhan justru harus menjadi alasan terkuat untuk manusia bekerja keras dan bertekun. Kalimat yang tepat untuk menggambarkan pikiran Paulus adalah: “Karena Tuhan berjanji dan menetapkan hal ini, maka saya harus berusaha sekuat mungkin untuk melakukan hal ini.” Karena Tuhan telah berjanji akan memberikan keselamatan, maka saya harus berusaha sekuat mungkin, dengan segala daya, pikiran, dan tenaga saya untuk membuatnya terjadi. Inilah iman yang utuh. Iman yang terpecah akan membuat respons yang berbeda. Iman yang terpecah akan menjadikan janji Tuhan sebagai alasan untuk tidak awas, tidak berjaga-jaga, tidak bekerja, dan tidak berjuang. Ini bukan iman di dalam ajaran Alkitab. Janji Tuhan harus menjadi alasan terkuat kita bekerja. Ketetapan Tuhan harus menjadi pendorong terkuat bagi kita untuk mengerjakannya hingga genap. Itu sebabnya Paulus dengan pikiran yang cepat segera memerintahkan agar anak buah kapal tidak naik ke sekoci. Ini bukanlah tanda ketidakpercayaan akan janji Tuhan. Ini adalah bentuk tanggung jawab Paulus setelah menerima janji Tuhan. Apakah perbedaan orang yang beriman seperti Paulus dan yang tidak? Bedanya adalah: orang yang beriman seperti Paulus akan bekerja segiat mungkin dan mempersiapkan sebaik mungkin, tetapi ketika hasilnya tidak berjalan sebaik yang seharusnya, orang-orang ini tetap tenang (ay. 21-22). Sebaliknya orang yang tidak beriman seperti ini akan pasrah, berserah ketika seharusnya berjuang, pasif, tetapi tidak pernah tenang sekalipun keadaan sepertinya berjalan baik. Mari perbaiki pengertian kita tentang iman yang benar! Mari belajar dari Paulus!

Kengototan Paulus dan kegigihannya berjuang menggenapi apa yang Tuhan janjikan adalah tanda iman yang sejati. Tanda berikutnya adalah ketenangan jiwanya di dalam segala keadaan. Di dalam ayat 33-37 dikisahkan bahwa Pauluslah yang paling sanggup memimpin orang-orang di kapal untuk tenang dan menikmati makanan dan persekutuan. Lihat di dalam ayat 33-38, Paulus menyuruh orang-orang itu makan. Bukan hanya makan, tetapi bersekutu untuk makan. Ayat 35 mengatakan bahwa Paulus terlebih dahulu memecah-mecahkan roti, mengucap berkat, barulah orang-orang itu makan. Ini adalah gambaran dari persekutuan di gereja. Bahkan ini adalah gambaran dari Perjamuan Kudus! Jika kita membayangkan keadaan di sebuah tempat bersekutu, atau di gereja, setelah selesai kebaktian, atau persekutuan, maka gambaran ini sangat cocok. Jika kita membayangkan jemaat menghadap meja perjamuan, lalu hamba Tuhan memecah-mecahkan roti dan mengingatkan akan Kristus yang telah mati dan yang akan datang kembali, maka pemandangan ini juga sangat tepat. Tetapi bacaan hari ini mengambil setting sebuah kapal kotor di tengah laut yang sedang mengamuk. Ini sulit dibayangkan! Tetapi inilah yang terjadi. Pauluslah yang paling tenang dan ketenangannya yang suci mengajak orang-orang untuk mengekspresikan ketenangan itu melalui kegiatan yang sangat berbau persekutuan gerejawi. Tidak ada hal yang lebih menenangkan dibandingkan ibadah kepada Allah yang sejati sambil memanjatkan syukur untuk pemeliharaan-Nya.

Perlu diingat juga bahwa orang-orang yang mengikuti perjamuan makan ini adalah para tahanan, tentara-tentara Romawi yang keras, anak-anak buah kapal yang kasar, dan pengusaha, serta jurumudi serakah. Ini bukan persekutuan antara hamba Tuhan dengan para majelis dan jemaat baik-baik. Tetapi lihat apa yang terjadi, di tengah-tengah situasi paling sulit, mereka dilatih Paulus mengucap syukur kepada Allah. Di tengah-tengah badai yang nyata-nyata sedang terjadi, mereka bisa menikmati berkat Tuhan bersama-sama. Berkat berupa makanan maupun persekutuan. Ini hal yang banyak orang Kristen tidak sanggup lakukan di tengah-tengah keadaan yang jauh lebih baik! Sudahkah kita bersyukur karena hari ini bisa makan? Mengapa tidak? Apakah karena sedang ada badai di dalam hidup? Apakah karena kita dikelilingi oleh orang-orang kasar? Mengapa ini menjadi alasan kita tetapi tidak menjadi alasan orang-orang di kapal itu? Badai? Mereka sedang berjuang hidup mati di tengah badai. Orang-orang kasar? Mana yang lebih kasar daripada para narapidana, para pelaut, dan tentara Romawi? Berhenti mengasihani diri dan belajarlah melihat berkat Tuhan! Paulus mengarahkan sekumpulan orang-orang yang layak menjadi sampah masyarakat, diawasi oleh sekelompok tentara terkejam pada waktu itu, di tengah-tengah kapal yang dikendalikan oleh orang-orang serakah, di tengah-tengah badai yang mengamuk hebat, untuk mengalami ketenangan di dalam ibadah kepada Tuhan. Ibadah sambil memanjatkan syukur kepada Allah. Ibadah adalah sumber ketenangan. Mengapa gantikan sumber ketenangan dengan musik-musik dunia yang sedang gelisah? Ketenangan sejati hanya ada di dalam ibadah kepada Allah dengan penuh ucapan syukur.

Setelah mereka selesai makan, mereka membuang segala perbekalan. Segala yang bisa dibuang mereka buang. Ini dilakukan agar kapal semakin ringan sehingga dapat mencapai jarak paling dekat dengan garis pantai. Mereka tidak lagi berharap untuk berlabuh di pelabuhan. Mereka sekarang berusaha mencapai pantai dan mendekatkan kapal sedekat mungkin kepada garis pantai, sehingga mereka bisa mencapai daratan dengan berenang. Ayat 40 mengatakan bahwa mereka meninggalkan sauh-sauh di dasar laut. Ini berarti mereka tidak lagi ingin membuang sauh dekat garis pantai untuk mengamankan kapal. Mereka sudah siap untuk mengandaskan kapal ke pasir yang berjarak sedekat mungkin dengan pantai. Mereka tidak tertarik lagi untuk menjaga agar kapal tidak rusak. Ayat 41 mengatakan bahwa kapal tersebut menabrak pasir, haluan terpancang, dan gelombang menghancurkan buritan kapal itu. Apa yang dijaga ternyata tidak bisa dipertahankan. Paulus telah mengatakan sejak awal, tetapi tidak ada yang mendengarkan. Setiap tindakan yang dikerjakan dengan keserakahan selalu berakhir dengan kerugian besar. Kapal tidak ada lagi, dan muatan pun sudah berada di dasar laut. Masihkah kita dengan serakah mengejar harta duniawi? Sebentar lagi ombak akan datang dan memukul hancur semuanya. Tetapi orang-orang yang menjalankan kehendak Tuhan selalu disertai Tuhan dan pada akhirnya dipanggil Tuhan untuk berada di tempat-Nya yang mulia. (JP)