Renungan Harian 411 (Senin, 14 Oktober 2019)

Kembali ke Darat

Devotion from Kisah Rasul 27:42-28:10

Setelah kapal terkandas, para prajurit berencana untuk membunuh para tahanan. Ini adalah cara untuk menghindarkan diri mereka dari hukuman mati. Setiap tahanan yang melarikan diri harus dibayar dengan nyawa oleh para penjaga mereka. Jika para tahanan terjun, berenang ke pantai, dan melarikan diri, maka para tentara ini terancam hukuman mati. Tetapi Tuhan telah menggerakkan hati sang perwira, yaitu Yulius, untuk menaruh simpati kepada Paulus. Dia tidak ingin Paulus dibunuh, maka dia memberikan perintah untuk menyelamatkan Paulus. Dia memerintahkan untuk orang-orang yang mampu berenang terlebih dulu berenang menuju pantai dengan membawa orang-orang yang tidak mampu berenang. Di dalam bahasa asli, kata-kata dalam ayat 44: “…orang-orang lain menyusul dengan menggunakan papan atau di pecahan-pecahan kapal” dapat juga diterjemahkan “…orang-orang lain menyusul dengan papan-papan (Yunani: sanisin, papan-papan) atau bersama orang-orang (Yunani: tinon, orang-orang) dari kapal. Perwira itu memperlakukan semua sebagai korban kapal karam yang harus diselamatkan. Alkitab mencatat bahwa tidak seorang pun di atas kapal itu yang akan kehilangan nyawanya (Kis. 27:22 dan 34), dan inilah cara yang Tuhan pakai. Semua saling menolong sehingga tidak satu pun yang tidak selamat. Semua tiba di darat dengan selamat! Kapal yang tadinya penuh dengan orang-orang yang tidak saling kenal dan (kebanyakan) tidak mengenal Allah, sekarang menjadi kapal yang penuh dengan orang-orang yang belajar bersyukur kepada Allah dan yang saling tolong menolong untuk dapat selamat. Ini mirip dengan apa yang terjadi di atas kapal yang ditumpangi Yunus. Mereka bersyukur bersama-sama untuk keselamatan yang Tuhan berikan, berseru bersama-sama kepada Allah, dan membakar korban kepada Allah yang sejati (Yun. 1:14-16). Paulus telah mengajarkan kepada orang-orang di kapal itu tentang Allah yang janji-Nya pasti terlaksana.

Ketika mereka semua telah tiba di darat, bukan saja mereka telah selamat, tetapi mereka juga telah mendengar khotbah dari Paulus bahwa Tuhan yang dipercaya oleh Paulus telah terlebih dahulu berjanji bahwa mereka semua akan selamat (Kis. 27:23-24). Janji yang mustahil terjadi di tengah-tengah ombak badai seperti yang mereka alami. Injil Tuhan telah diberitakan melalui keadaan alam dan khotbah Paulus tersebut. Ayat 2 dan 3 menuliskan bahwa orang-orang itu semua diperlakukan sebagaimana korban kapal karam biasa diperlakukan. Penduduk lokal di pantai tempat mereka karam (yaitu di Malta) menyambut mereka dan membawa mereka ke tempat di mana mereka dapat menghangatkan diri. Jemaat “unik” ini kembali mendapatkan kesempatan bersekutu, melepaskan diri dari ketegangan selama dua minggu berjuang hidup mati di tengah lautan yang mengamuk, dan berbincang-bincang dengan santai. Hingga saat ini kita dapat melihat betapa luar biasanya cara Tuhan bekerja. Tuhan menempatkan Paulus di tengah-tengah jemaat-Nya yang memerlukan firman dan tidak jarang Tuhan memberikan tanda-tanda kepada mereka. Demikian juga kumpulan orang-orang lokal dan para korban kapal karam yang selamat ini menjadi “umat” yang menyaksikan mukjizat, yaitu ketika Paulus digigit ular beracun dan tetap hidup. Betapa besarnya kuasa Tuhan menyertai Paulus. Ombak laut, kapal karam, tentara Romawi, dan sekarang ular berbisa tidak sanggup membunuh dia. Tuhan yang berkuasa menjaga dia tetap hidup karena dia harus bersaksi di Roma. Mukjizat ini begitu memukau bagi orang-orang yang menyaksikannya sehingga mereka percaya bahwa Paulus bukan manusia biasa. Paulus adalah dewa (Kis. 28:6).

Selain penumpang kapal dan orang-orang Malta yang menyambut mereka, Tuhan juga berkenan menperkenalkan diri-Nya kepada seorang petinggi Romawi, yaitu seorang Gubernur bernama Publius. Di awal perjalanan misi Paulus, dia mempertobatkan seorang Gubernur Romawi (Kis. 13:7-12), dan sekarang, di akhir perjalanannya sebelum tiba di Kota Roma, Paulus juga mempertobatkan Gubernur Publius. Perlu diperhatikan bahwa di dalam Kisah Rasul, orang-orang yang sangat menghormati para rasul dan menyediakan kebutuhan mereka adalah orang-orang yang telah menjadi percaya kepada Injil. Meskipun tidak secara eksplisit ditulis, tetapi kontribusi mereka, kasih mereka, dan penghormatan mereka adalah tanda mereka telah menjadi orang percaya.

Kitab ini penuh dengan kisah-kisah luar biasa seperti yang dalam beberapa hari ini kita dalami. Tuhan memberikan penyertaan dan Injil-Nya terus dinyatakan oleh para rasul di mana saja dan kapan saja. Tuhanlah yang memakai setiap peristiwa untuk memanggil orang-orang pilihan-Nya. Entahkah itu dalam suatu jamuan makan, entahkah itu di dalam ibadah di sinagoge, entahkah itu di pengadilan agama, pengadilan Romawi, pasar, tempat debat publik, di atas kapal, di tengah badai, ketika berlindung setelah selamat dari badai, di mana pun ada orang-orang yang Tuhan panggil untuk mengenal Kristus. Di dalam segala keadaan Tuhan menyatakan Injil-Nya. Dan ini bukan semuanya. Tuhan juga menyatakan panggilan-Nya dan kehidupan persekutuan orang percaya pun bermunculan di mana-mana. Orang percaya berkumpul bersama untuk memecah-mecahkan roti, saling mengasihi, saling menolong, saling menguatkan, menegur, memberitakan firman, semua terjadi di mana pun Injil diberitakan. Hal-hal ini benar-benar memberi sukacita besar karena kita tahu bahwa Allah yang mengerjakan ini semua di dalam kehidupan para rasul juga adalah Allah yang terus mengerjakan hal yang sama melalui para hamba-Nya.

Bagian ini menjadi bagian terakhir dari pengabaran Injil Paulus yang dicatat sebelum Paulus masuk ke kota Roma, bagian yang menjadi klimaks di dalam kisah-kisah petualangan kitab ini. Tidak banyak tulisan yang bisa menandingi cara penulisan Lukas di dalam bagian ini. Intensitas peristiwa yang bertubi-tubi terjadi, ketegangan yang terus memuncak sebelum menjadi teduh dan menenangkan pada bagian akhir, kepahlawanan Paulus yang lebih bersikap seorang comforter ketimbang seorang pahlawan berotot ala mitologi Yunani, semua menunjukkan kualitas sastra terbaik. Sayang sekali jika orang Kristen gagal menghargai pemberian Tuhan berupa masterpiece dunia literatur ini. Banyak orang menolak menempatkan Kitab ini setara dengan karya sastra agung besar karena menganggap bahwa Kitab ini adalah tulisan yang “sempit” karena milik satu agama saja. Tetapi banyak juga orang yang menyadari bahwa tidak banyak tulisan lain yang dapat memberikan begitu banyak drama hanya di dalam bagian yang tidak sampai dua pasal! Sulit memilih literatur apa pun, baik dari mitologi kuno maupun dari karya sastra modern yang dapat menandingi ini. Hal yang lebih mengagumkan lagi adalah bahwa Lukas “hanya” melaporkan peristiwa yang dia alami sendiri bersama dengan Paulus. Dia bukanlah seorang yang sedang menulis kisah khayalan. Dia sedang melaporkan kisah nyata. Kisah nyata yang jauh lebih dramatis daripada cerita khayalan mana pun. Tetapi orang Kristen melihat lebih dalam dari itu. Orang Kristen melihat bahwa di dalam drama hidup apa pun, Tuhan tidak pernah gagal menyatakan panggilan Injil-Nya bagi kaum pilihan-Nya. Dia sudah, sedang, dan akan terus bekerja di dalam persitiwa apa pun dalam kehidupan umat-Nya untuk memanggil domba-domba-Nya dan membawa mereka menjadi satu tubuh di dalam Gembala mereka, yaitu Kristus.

Untuk direnungkan:
Kita sering kali lalai di dalam melihat, mengharapkan, dan memperjuangkan pekerjaan Tuhan di dalam setiap situasi. Kita hanya melihat kemungkinan pengabaran Injil di dalam event, program, acara, dan lain-lain yang diatur oleh gereja atau lembaga Kristen. Kita hanya tahu kalau orang-orang menerima Tuhan Yesus ketika ada KKR, atau ada retreat, atau apa pun. Tetapi lihatlah Kitab Kisah Para Rasul, petobat-petobat baru bermunculan! Mereka tidak bermunculan di sinagoge saja. Mereka juga tidak bermunculan hanya di dalam kebaktian resmi saja. Mereka bermunculan di pasar, agora, tempat pertemuan publik ketika Paulus berbicara dengan mereka, bahkan berdebat dengan mereka. Mereka bermunculan di kapal, di tengah badai, ketika selamat dari kapal karam, di rumah, di saat berteduh dan di saat menghangatkan diri. Tuhan sedang bekerja. Mari mohon kepada Tuhan supaya kita dapat melihat, mendoakan, mengharapkan, dan berbagian ketika Tuhan sedang menyatakan pekerjaan-Nya di dalam situasi apa pun. Di tempat kita bekerja, di tempat kita sedang berteduh, di tempat kita sedang dirawat, di mana pun! Kiranya Tuhan pakai kita semua. (JP)