Renungan Harian 414 (Kamis, 17 Oktober 2019)

Mengakhiri Pertandingan

Devotion from Kisah Rasul 28:30-31 dan 2 Timotius 4:1-8

Hari ini kita menyelesaikan pembahasan Kitab Kisah Rasul sekaligus membahas satu pesan penting terakhir Paulus kepada Timotius. Ayat 30 dan 31 dari Kisah Rasul 28 mengatakan bahwa Paulus tinggal selama dua tahun di rumah yang disewanya. Dia menjadi tahanan dengan status yang begitu bebas sehingga dia dengan leluasa dapat mengabarkan Injil. Tuhan benar-benar membukakan jalan bagi Injil selama dua tahun hidup Paulus di Roma. Dari Yerusalem hingga mencapai jantung Kekaisaran Romawi. Adakah yang berpikir bahwa inilah yang akan terjadi di dalam kurun waktu kurang dari 30 tahun? Adakah Petrus membayangkan hal ini ketika mereka berdoa di dalam rumah sebelum Roh Kudus turun atas mereka (Kis. 1:14)? Siapakah yang dapat membayangkan bahwa pada akhir kitab ini Injil telah menjangkau sebagian besar dunia yang dikenal. Siapakah yang dapat menyangka bahwa orang Yahudi hanyalah satu bangsa yang kecil di antara begitu banyak bangsa yang telah menjadi percaya dan telah menjadi umat Tuhan. Siapakah yang dapat menyangka bahwa Roma menjadi kota yang di dalamnya berdiri jemaat yang besar? Tetapi karya Roh Kudus tidak dapat dihentikan oleh siapa pun. Dia tidak pernah berhenti memanggil orang-orang datang kepada Kristus. Dia tidak pernah membiarkan rasul-rasul dan pengabar-pengabar Injil-Nya tenang walau hanya sementara. Mereka terus digelisahkan dengan kerinduan yang suci untuk menyaksikan Kristus ke seluruh dunia, demikian juga Paulus. Selama dua tahun pertamanya di Roma dia terus mengabarkan Injil Tuhan. Kitab ini berakhir di sini, walaupun pada waktu Kitab ini ditulis, Paulus telah mati. Dia telah dipenggal oleh orang Romawi di kota ini, kota yang sama tempat kisah dalam kitab ini berakhir. Sumber-sumber sejarah mengatakan bahwa Paulus sempat dibebaskan untuk sementara waktu, tetapi ditangkap kembali oleh perintah Kaisar Nero pada tahun 60-an. Dia dibawa kembali ke Kota Roma dan menyerahkan nyawanya menjadi martir bagi Kristus. Suatu hal yang sangat dia idam-idamkan akhirnya Tuhan izinkan terjadi. Dia diizinkan mati bagi Tuhannya.

Kitab ini tidak menuliskan akhir kehidupan Paulus. Seolah-olah Lukas ingin mengingatkan pembacanya bahwa Kitab ini bukanlah biografi sang rasul. Kitab ini bukan tentang Paulus! Kitab ini adalah tentang Injil Kristus yang disebarkan oleh Roh Kudus melalui perantaraan Paulus dan para pengabar Injil lainnya. Oleh sebab itu kalimat terakhir dari Kitab ini adalah: ”…tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus.” Injil Kerajaan Allah tidak terhalangi apa pun. Badai besar di laut tidak bisa merintangi Injil Kerajaan Allah. Pemerintah Romawi tidak bisa merintangi Injil Kerajaan Allah. Pemimpin agama yang korup dan jahat tidak bisa merintangi Injil Kerajaan Allah. Kelompok ekstremis Yahudi yang keras dan kejam tidak bisa merintangi Injil Kerajaan Allah. Bahkan kematian rasul Kristus pun tidak bisa merintangi Injil Kerajaan Allah! Paulus telah mati, tetapi berita Injil yang dia beritakan tetap bergema dengan kekuatan yang semakin keras. Pada waktu Kitab ini selesai ditulis, Paulus telah berdiam bersama dengan Juruselamat yang sangat dikasihinya. Juruselamat yang mengasihi dia, dan yang telah menyerahkan diri-Nya untuk dia. Dia telah mendapatkan apa yang dia sangat inginkan, yaitu meninggalkan kemah di bumi ini untuk berdiam bersama dengan Kristus. Tetapi Paulus sendiri mengingatkan di dalam 2 Timotius 4 supaya setiap orang Kristen yang hidup sesudah dia melanjutkan pengabaran Injil dengan kekuatan, gairah, kuasa, kebergantungan kepada Tuhan, serta sukacita yang sama besarnya dengan para rasul!

Paulus mengatakan, “beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya…” (2Tim. 4:1). Beritakanlah firman! Meskipun kita hanyalah sekelompok kecil orang di tengah-tengah ribuan, bahkan puluhan ribu orang yang belum percaya kepada Kristus. Bukankah ini yang dilakukan Petrus dan kawan-kawan di Yerusalem? Beritakanlah firman! Meskipun itu berarti harus pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Bukankah itu yang telah dilakukan Paulus dan para pengabar Injil lainnya? Beritakanlah firman! Walaupun di tengah badai sekalipun, di tengah huru-hara sekalipun. Beritakanlah firman, karena Tuhan harus ditinggikan. Kristus yang telah menang harus dikabarkan!

Paulus juga mengatakan, “…akan tiba waktunya orang tidak lagi bisa mendengar ajaran sehat” (ay. 3). Akan tiba waktunya orang-orang lebih suka mendengar dongeng, kata-kata penghiburan palsu, dan kebohongan. Tidak ada yang senang kebenaran firman. Bagaimana agar ini tidak terjadi? Beritakan firman! Mengapa orang dunia ini lebih gencar di dalam mengajarkan ajaran mereka yang kacau balau? Jika kita malas berjuang untuk menyatakan kebenaran Tuhan, jangan harap kita dapat melihat generasi muda yang menyukai firman Tuhan. Jangan harap kita dapat melihat masyarakat yang takut akan Tuhan. Tanpa firman Tuhan bagaimana mungkin semua ini terjadi? Tetapi jika gereja malas mengajar doktrin yang benar dengan alasan ajaran ini kurang populer, lalu mulai mengubah haluan untuk mengajarkan dongeng yang sama yang dunia ini ajarkan, maka celakalah masyarakat kita. Gereja mempunyai tanggung jawab yang berat untuk menyatakan firman Tuhan, tetapi gereja menolaknya dan memilih untuk menjadi sama dengan dunia ini. Benar-benar celaka!

Paulus juga mengingatkan, “kuasailah dirimu dalam segala hal…” (ay. 5). Biarlah kita yang meneruskan tongkat estafet pengabaran Injil tidak lagi hidup sembarangan. Kuasailah dirimu dalam segala hal! Mengapa begitu gampang menyerah kepada hawa nafsu? Mengapa sulit menguasai keinginan? Mengapa sulit mengingini hal yang baik? Mengapa menolak melatih diri? Mengapa mengabaikan teguran? Semua hal ini kita perlukan agar kita tidak merusak pekerjaan Tuhan. Beritakanlah firman, tetapi jangan lupa untuk menguasai dirimu dalam segala hal! Matikan hawa nafsu cemar. Sampai kapankah kita akan terus ditaklukkan olehnya? Kuasai diri, sabar di dalam kesesakan dan penderitaan, latih diri untuk menanggung apa pun yang Tuhan mau kita tanggung, dan melepas apa pun yang Tuhan mau kita lepas. Bukankah kerohanian kita bertumbuh di dalam dua jalan? Jalan pertama adalah menyangkal diri, dan jalan kedua adalah memikul salib. Jika ada hal yang kita senangi, tetapi Tuhan tidak senangi, mari kita belajar untuk matikan. Belajar sangkal diri. Jika ada hal yang Tuhan senangi, maka mari belajar untuk menjalaninya. Jikalau itu terasa berat untuk kita, biarlah kita belajar memikulnya sebagai salib yang Kristus bebankan bagi kita. Sangkal diri, pikul salib, kuasai diri, dan sabar menderita.

Waktu terus berlalu dan generasi manusia terus tergeser. Kitab Kisah Rasul mengisahkan generasi para rasul yang sekarang telah lama berlalu. Generasi demi generasi lewat dan tidak terlalu banyak hal yang layak dikenang terjadi. Kebanyakan hal yang diwarisi oleh satu generasi kepada generasi lain akan segera mati dan hilang tak berbekas. Tetapi orang-orang yang menjalankan kehendak Tuhan akan memberikan sumbangsih bagi generasinya. Sumbangsih itu adalah benang merah sejarah Kerajaan Allah di bumi. Sejarah keselamatan yang Tuhan kerjakan. Inilah yang akan kekal menjadi warisan satu generasi kepada generasi lainnya. Siapakah yang masih terpukau oleh Kaisar Agustus? Kaisar Nero? Tokoh-tokoh itu sudah lama diabaikan orang. Tetapi tidak ada generasi akan menghapus ingatan kepada Petrus, Yohanes, Stefanus, Barnabas, atau Paulus. Saudara dan saya yang hidup di generasi ini, biarlah kita mewarisi firman dan perjuangan melayani Kristus, karena hal-hal inilah yang akan menjadi tradisi kekal yang tidak akan mati di sepanjang sejarah manusia. (JP)