Renungan Harian 418 (Senin, 21 Oktober 2019)

Elia Yang Bersuara di Padang Gurun

Devotion from Yohanes 1:19-28

Di dalam ayat 19-28, Injil Yohanes memberikan fokus kepada peran Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis memberikan penjelasan tentang siapa dirinya. Ada beberapa dugaan orang-orang yang semuanya ditolak oleh Yohanes. Yang pertama adalah dugaan bahwa dia adalah Sang Mesias. Dugaan ini segera ditolak oleh Yohanes. Dia adalah yang mempersiapkan jalan bagi Sang Mesias. Dia tidak mungkin Sang Mesias itu sendiri. Jika dia bukanlah Sang Mesias, berarti dia adalah yang mendahului Sang Mesias, yaitu nabi yang dibangkitkan untuk mempersiapkan jalan bagi Sang Mesias, mempersiapkan jalan dengan mempertobatkan Israel untuk menyambut Mesias mereka. Siapakah tokoh yang bertugas mempertobatkan Israel ini? Maleakhi 4:5-6 mengatakan bahwa tokoh itu adalah Elia. Elialah yang dikirimkan oleh Tuhan untuk mempertobatkan Israel, sehingga kedatangan Tuhan membuat Israel menjadi umat-Nya yang dibangkitkan, bukan menjadi seteru-Nya yang dibinasakan. Apakah benar- benar Elia yang akan diutus oleh Tuhan? Ternyata tidak. Yang dimaksudkan di dalam Kitab Maleakhi adalah seorang nabi dengan kuasa Roh Kudus yang sama dengan kuasa Roh Kudus yang bekerja pada Elia. Ini sesuai dengan yang ditulis di dalam Lukas 1:17. Seorang nabi akan melayani di dalam kuasa yang sama dengan Elia. Kuasa yang dipakai untuk mempertobatkan Israel sehingga mereka tidak dihakimi oleh kedatangan Sang Mesias. Sang Mesias bukan hanya datang untuk mengangkat umat-Nya, tetapi Dia juga datang untuk menghakimi seteru-seteru-Nya. Yang manakah Israel? Umat atau seteru? Jika mereka tidak bertobat, mereka akan termasuk seteru Sang Mesias. Jika mereka bertobat, mereka akan kembali ke posisi semula sesuai dengan perjanjian Tuhan, yaitu sebagai umat-Nya yang terkasih. Inilah tugas dari sang nabi yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Sang Mesias.

Tetapi jika Yohanes Pembaptis adalah sang nabi ini, mengapa di dalam ayat 21 dia menolak mengatakan bahwa dialah Elia atau nabi yang akan datang? Menurut penyelidikan seorang ahli Perjanjian Baru, Ramsey Michaels, ada dua tradisi yang terjadi di abad ke-1 mengenai sang nabi ini. Yang pertama adalah tradisi para ahli Taurat dan imam-imam Yahudi berdasarkan tulisan dari Kitab Sirakh. Menurut tradisi ini, Elia, atau nabi yang akan datang itu adalah orang yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan (Mal. 4:5). Itu sebabnya, menurut mereka tugas dari Elia dan nabi yang akan datang itu adalah tugas sebagai Mesias yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Demikian juga pengertian dari komunitas Qumran, yaitu kelompok orang-orang saleh yang memilih untuk hidup terpisah dari kebudayaan yang penuh kerusakan. Menurut tradisi orang-orang Qumran, Sang Mesias itu adalah sang nabi yang dinubuatkan dalam Ulangan 18:15-19. Yohanes Pembaptis tidak ingin mengidentikkan dirinya dengan Sang Mesias. Itulah sebabnya dia menolak disebut Elia ataupun nabi yang akan datang itu. Dia memiliki pengertian tentang Sang Mesias yang jauh lebih baik daripada kedua kelompok ini. Lebih baik dari tradisi berdasarkan Kitab Sirakh, maupun dari orang-orang Qumran. Jika mereka menyamakan Elia dan sang nabi itu dengan Mesias, maka Yohanes Pembaptis menyamakan Sang Mesias itu dengan Allah yang akan datang menghakimi bangsa-bangsa. Itulah sebabnya Yohanes menolak disebut Elia atau nabi yang akan datang, jika mereka mengaitkan Elia dan nabi yang akan datang itu dengan Sang Mesias.

Tetapi ada hal lain lagi yang membangkitkan rasa ingin tahu dari para imam. Jika dia memang bukan Elia dan nabi yang akan datang, mengapa dia membaptis? Sebab, di dalam pengertian mereka Elia dan nabi yang akan datang itu pasti akan membaptis Israel menjadi umat yang baru. Baptisan mengandung pengertian pemisahan. Yang dibaptis adalah umat, sedangkan yang tidak dibaptis adalah bukan umat. Baptisan sangat penting untuk memisahkan mana umat Tuhan dan mana bukan. Tetapi ketika Elia atau nabi yang dijanjikan itu datang, dia akan memisahkan mana Israel sejati dan mana Israel palsu. Itulah sebabnya mereka membaptis orang Israel. Mereka ingin meresmikan umat yang baru, yang sejati dari antara tengah-tengah bangsa Israel yang kebanyakan adalah umat yang palsu. Yohanes bukan nabi itu? Mengapa dia membaptis? Mengapa mendirikan suatu umat yang baru? Mengapa memisahkan umatnya dari bangsa Israel yang lain? Jawaban Yohanes sangat baik. Yohanes mengatakan bahwa Mesias sejati tidak membaptis dengan air. Dia membaptis dengan air sebagai pendahulu Sang Mesias. Dia hanya mempersiapkan jalan. Mesias yang sejati membaptis dengan Roh Kudus (ay. 33). Roh Kudus inilah yang akan memisahkan mana umat sejati di tengah-tengah umat yang palsu. Roh Kudus, bukan air, yang membedakan mana milik Tuhan sejati dan mana yang hanya mengaku umat. Israel sejati akan dikuduskan oleh Roh Kudus. Roh Kudus yang dicurahkan oleh Mesias yang sejati. Air hanyalah lambang, Roh Kuduslah yang menggenapinya.

Baptisan Yohanes adalah baptisan simbolik. Simbolik untuk apa yang terjadi secara spiritual. Apa yang terjadi secara tidak kelihatan dinyatakan oleh apa yang kelihatan. Tetapi Yohanes tidak mengklaim bahwa dia memiliki otoritas membaptis sama seperti Tuhan Yesus membaptis. Itulah sebabnya dia mengatakan bahwa perbedaan antara dia dan Sang Mesias terlalu jauh sehingga membuka tali kasut-Nyapun dia tidak layak (ay. 27). Dia membaptis, tetapi baptisan Sang Mesias jauh lebih mulia sehingga baptisan Yohanes hanya dapat disamakan dengan telapak kaki Sang Mesias.

Tetapi kerendahan hati ini tidak membuat Yohanes merendahkan panggilannya. Dia tetap menyadari betapa mulianya panggilan dia. Dia adalah suara yang berseru-seru. Suara yang telah dinubuatkan oleh salah satu nabi yang tulisannya paling berpengaruh di Israel abad ke-1, yaitu Yesaya. Dia tahu bahwa dialah yang mempersiapkan kedatangan Allah, yaitu kedatangan Sang Mesiasnya. Dia mempersiapkan dengan suara khotbah yang sangat berkuasa. Suara yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Suara yang berseru-seru di padang gurun. Hina, tetapi mulia; Rendah, tetapi agung; Di tempat pembuangan, tetapi mengkhotbahkan kedatangan surga!

Betapa rendah hatinya sang pembuka jalan ini. Dia menolak disamakan dengan Yesus Kristus, Sang Mesias, dengan cara apa pun. Dia tidak ingin dianggap sebagai Mesias. Dia tidak ingin dianggap melakukan pekerjaan yang sama dengan yang dikerjakan oleh Sang Mesias. Dia tidak ingin mulia. Dia hanya ingin mulia bagi Kristus. Dia tidak ingin ambil sedikit pun mulia bagi dirinya sendiri. Dia menolak gelar nabi yang akan datang, Elia, atau pembaptis, meskipun Yesus Kristus mengakui semua gelar itu bagi Yohanes. Yesus mengatakan bahwa Yohaneslah Elia (Mat. 11:13-14). Yesus juga mengatakan Yohaneslah nabi yang akan datang itu (Mat. 11:7-10). Bahkan Yesus juga mengakui bahwa baptisan Yohanes itu berasal dari surga (Mat. 21:24-25)! Yohanes sibuk merendahkan diri demi meninggikan Kristus, dan Kristus meninggikan dia karenanya. Inilah pengajaran agung dari iman Kristen. Barang siapa meninggikan diri, dia akan direndahkan. Barang siapa merendahkan diri, dia akan ditinggikan (Luk. 14:11).

Doa:
Ya Tuhan, kami rindu bisa menjadi seperti Yohanes Pembaptis. Ketika mulutnya meninggikan Kristus, hatinya merendahkan dirinya sendiri. Ketika mulia datang kepada dirinya, mulutnya menolak semua itu. Dia terpanggil hanya untuk meninggikan Sang Mesias. Ya Tuhan, kami telah ditebus oleh Sang Mesias yang juga terus menerus merendahkan diri-Nya. Biarlah teladan Kristus dan Yohanes Pembaptis kami pelihara di dalam hati, mulut, dan tingkah laku kami, ya Tuhan. Kami ingin nama Kristus ditinggikan, ya Tuhan, melalui kami. Kami mohon supaya ketika nama Kristus ditinggikan, kami direndahkan oleh-Mu, ya Tuhan, sehingga semua pandangan hanya tertuju kepada Kristus, dan semua mulia Kristus dapat dinikmati oleh umat-Mu tanpa diganggu sedikit pun oleh keangkuhan kami. (JP)