Renungan Harian 420 (Rabu, 23 Oktober 2019)

Murid-murid Mengikut Yesus

Devotion from Yohanes 1:35-42

Ayat 35 melanjutkan narasi pertemuan Yohanes dengan Yesus Kristus. Setelah Yesus datang kepada Yohanes, dan Yohanes menyatakan bahwa Yesuslah Anak Domba Allah, keesokan harinya mereka bertemu kembali. Tetapi jika sehari sebelumnya Yesus datang kepada Yohanes, maka kali ini Yesus bersiap untuk pergi meninggalkan Yohanes. Itulah sebabnya ayat 36 mengatakan bahwa Yohanes melihat Yesus lewat. Tidak seperti sehari sebelumnya (ay. 29) Yohanes melihat Yesus datang kepada dia. Tetapi, sama seperti sehari sebelumnya, Yohanes kembali menyatakan hal yang sama. Lihatlah Anak Domba Allah! Setelah Yohanes menunjuk kepada Yesus dan menyatakan bahwa Dialah Sang Anak Domba Allah, segera dua orang murid Yohanes sendiri meninggalkan Yohanes dan mengikut Yesus meninggalkan tempat itu. Narasi berikutnya menggambarkan indahnya persekutuan antara Yesus dengan murid-murid pertama-Nya itu. Persekutuan yang menggambarkan persekutuan antara Yesus Kristus dan gereja-Nya. Dua orang murid itu mengikut Yesus dan bertanya di mana Dia tinggal. Yesus menjawab dengan mengundang mereka tinggal bersama dengan Dia. Beberapa kali Injil Yohanes mencatat rancangan Allah bagi Sang Anak Allah untuk berdiam bersama-sama dengan manusia. Yohanes 1:14 menyatakan bahwa Sang Firman telah menjadi manusia dan berdiam bersama dengan manusia. Yohanes 14:3 menyatakan bahwa Yesus Kristus rindu supaya di mana Dia berada, para murid berada bersama dengan Dia.

Undangan Yesus itu bermula ketika para murid mengikuti Dia dan Yesus bertanya, “apakah yang kamu cari?” Kedua murid Yohanes itu menjawab, “Rabi, di manakah Engkau tinggal?” Di dalam Injil Yohanes, jawaban yang diberikan sering kali mengungkapkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar menjawab pertanyaan saja. Pertanyaan “Di manakah Engkau tinggal?” ini memberikan pengertian kepada kita bahwa kedua murid Yohanes itu ingin menjadi pengikut Yesus. Keduanya ingin tinggal bersama-sama dengan Dia. Jika di dalam ayat 14 dikatakan Yesus Kristus rela berdiam bersama dengan manusia, maka di dalam bagian ini diajarkan bahwa para murid rindu berdiam bersama dengan Dia. Kedua murid Yohanes ini tidak hanya ingin mendengar pengajaran Yesus saja. Mereka ingin mengikut Dia. Tinggal bersama-sama dengan Dia, melangkah ke arah Dia melangkah, dan hidup dengan cara Dia hidup, itulah yang diinginkan kedua orang ini. Kedua orang ini ingin relasi yang kekal bersama dengan Yesus Kristus. Mereka segera meninggalkan guru mereka yang sangat luar biasa, yaitu Yohanes Pembaptis, dan ingin memiliki relasi personal yang seterusnya bersama dengan Yesus Kristus. Mungkinkah ini dilakukan kedua orang ini jika mereka belum memahami yang Yohanes maksudkan? Tidak mungkin. Mereka hanya ingin berkomitmen mengikuti Yesus dan tinggal bersama dengan Dia jika mereka telah percaya bahwa Yesus adalah Sang Mesias itu, Sang Anak Domba Allah. Injil Yohanes mengatakan bahwa dua orang itu adalah Andreas dan seorang murid yang lain lagi. Dugaan yang paling populer adalah bahwa murid yang lain lagi ini adalah Yohanes, yang dipercaya sebagai penulis Injil ini. Nama Yohanes disembunyikan dan dia memakai istilah-istilah seperti “murid yang satu lagi”, atau “seorang murid yang lain lagi”, dan “murid yang dikasihi-Nya” untuk menulis tentang dirinya. Dia sengaja menyamarkan identitasnya dengan menyembunyikan namanya. Dia ingin terus anonim di dalam Injil yang ditulisnya. Bagi Yohanes, Yesus Kristus adalah segalanya, dan dirinya tidak berarti. Dirinya boleh ada dan boleh tidak. Namanya tidak sekali pun ditulis dan ternyata itu tidak memengaruhi dampak Kitab Injil ini bagi gereja Tuhan. Meskipun demikian, dugaan ini tetap tidak terselesaikan. Kita tetap harus menerima fakta bahwa anonimitas beberapa murid yang terlibat di dalam narasi Injil Yohanes menunjukkan bahwa narasi Injil ini adalah tentang Yesus Kristus. Bukan yang lain. Anonimitas murid (atau murid-murid) dalam Injil ini sepertinya tetap akan menjadi bagian misteri yang tidak dapat dengan mudah dipecahkan.

Demikian juga di dalam bagian ini, Yohanes tidak ingin membahas tentang murid yang satu. Dia ingin memberikan fokus kepada Andreas, saudara Simon Petrus, yang akhirnya membawa Simon bertemu dengan Tuhan Yesus. Meskipun perjumpaan Kristus dengan Simon ditulis di sini, tetapi ini tidak berarti bahwa urutan pemanggilan murid adalah seperti ini. Yohanes hanya mencatat bahwa Andreas memanggil Simon untuk bertemu dengan Kristus dan Kristus menamai Simon dengan nama Kefas, yaitu Petrus. Ini tidak terjadi pada awal pemanggilan Petrus. Seperti kita ketahui dari narasi Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas), Simon disebut Petrus ketika dia mengaku bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang Mahatinggi. Tetapi pada Injil Yohanes, pemanggilan Simon, dan perubahan namanya menjadi Petrus dikisahkan sangat singkat karena ingin menekankan pentingnya relasi keluarga di dalam membawa seseorang kepada Yesus. Yohanes menulis ini untuk mengingatkan pembaca kepada Simon Petrus dan memberikan kisah singkat mengenai pemanggilannya yang terjadi karena Andreas, saudaranya, membawa Simon bertemu Yesus. Andreas membawa orang pertamanya kepada Kristus, dan orang itu adalah saudaranya sendiri. Orang itu, ternyata, akan menjadi pemimpin besar dari gereja Tuhan. Seorang nelayan sederhana yang ternyata akan dipakai sangat besar oleh Tuhan dapat mengenal Tuhan karena dibawa oleh keluarganya sendiri.

Dengan mengisahkan secara singkat (dan di luar urutan waktu) tentang pertemuan Yesus dengan Simon yang akan menjadi begitu penting, bahkan akan dinamai Petrus oleh Tuhan Yesus; Yohanes sedang mengajarkan aspek penting tentang kehidupan dan ajaran Yesus Kristus, yaitu berdiam bersama di dalam kasih. Yesus berdiam bersama dengan manusia, menjadi manusia, mengalami semua yang dialami oleh manusia, bahkan berkorban bagi manusia karena kasih-Nya. Andreas dan seorang murid lagi pergi meninggalkan Yohanes Pembaptis, meninggalkan kehidupan mereka sebelumnya, dan ingin tinggal bersama dengan Yesus Kristus karena mereka ingin mengasihi Dia dan diam di dalam kasih-Nya. Demikian juga Andreas memanggil Simon, saudaranya, yang telah tinggal bersama-sama dengan dia di dalam sebuah keluarga, supaya mereka sekarang berdiam bersama dengan Kristus. Kedatangan Kristus ke dalam dunia bukan hanya menebus dosa dan selesai. Dia ingin mendirikan relasi yang intim, penuh kasih, relasi yang berdiam bersama, dan hidup bersama. Relasi yang seharusnya dimiliki oleh umat Tuhan dengan Tuhan, dan oleh umat Tuhan dengan sesama saudara seiman. Gereja dimulai dengan Yesus Kristus yang berdiam bersama dengan murid-murid-Nya, membagi hidup di dalam kasih, dan akan berkembang dengan cara yang sama juga.

Inilah pengajaran penting di awal pemanggilan para murid. Murid-murid tidak dipanggil hanya untuk mendaftar dan ikut kuliah. Murid-murid dipanggil untuk membentuk komunitas kasih yang menjalani hidup bersama di dalam kekudusan, kemurnian, dan kasih, di bawah pimpinan Sang Mesias, yang juga hidup bersama dengan mereka. Komunitas yang sering kali digantikan oleh organisasi yang saling bekerja sama secara profesional. Komunitas yang sering kali digantikan oleh relasi tanpa salib, yaitu relasi antara orang-orang yang saling cocok dan saling sesuai. Gereja Tuhan tidak dibangun dengan relasi seperti ini. Gereja Tuhan bukanlah kumpulan orang profesional yang bekerja sama untuk suatu proyek! Gereja Tuhan juga bukan kumpulan orang-orang yang cocok dan satu selera atau hobi. Gereja Tuhan adalah kumpulan dari orang-orang yang dipanggil oleh Sang Anak Domba Allah untuk hidup bersama di dalam Dia dan hidup meneladani Dia. (JP)