Renungan Harian 421 (Kamis, 24 Oktober 2019)

Pemanggilan “Israel”

Devotion from Yohanes 1:43-51

Kisah selanjutnya masih seputar pemanggilan murid yang juga menjadi gambaran relasi Kristus dengan gereja-Nya sekarang. Jika sebelumnya dua orang murid ingin mengikut Yesus untuk tinggal bersama dengan Dia, maka setelah itu Yesus yang mengajak murid selanjutnya, yaitu Filipus untuk mengikut Dia. Yesus memanggil Filipus, dan melalui dia, Natanael pun mengikut Yesus. Pola yang sama terulang. Satu orang murid mengajak orang lain lagi.

Meskipun memiliki pola yang sama, tetapi ada perbedaan di dalam pemanggilan Filipus dan Natanael. Jika Andreas dan seorang murid yang lain mengikut Yesus dengan inisiatif sendiri, maka Filipus langsung dipanggil oleh Yesus Kristus. Bukan Filipus sendiri yang berkeinginan untuk mengikut Yesus. Bahkan kemauan Filipus mengikut Yesus juga mungkin disebabkan karena perjalanan Yesus yang menuju Galilea, sebab di dalam ayat 44 dikatakan bahwa Filipus berasal dari Betsaida yang berada di Galilea. Jika Andreas, yang juga berasal dari Betsaida, mengikut Yesus tanpa tahu Dia akan pergi ke mana, maka Filipus mengikut Yesus ketika sudah mengetahui tujuan perjalanan-Nya ke Galilea. Dalam ayat 45 terbukti ternyata Filipus bukan seorang yang menguasai theologi dengan baik. Ketika dia mengajak Natanael, dia mengatakan bahwa Yesus dari Nazaret adalah orang yang dibicarakan oleh Musa dan para nabi. Dia tidak mengetahui mengenai apa yang dibicarakan oleh Musa dan para nabi karena dia mengaitkan asal Yesus yang dari Nazaret dengan keberadaan Yesus sebagai penggenapan nubuat para nabi. Para nabi tidak pernah berbicara tentang seorang yang berasal dari Nazaret akan memimpin Israel. Itulah sebabnya ketika dia memperkenalkan Yesus dengan cara itu kepada Natanael, Natanael berespons dengan sangat skeptik, “Adakah yang baik datang dari Nazaret?” Natanael berasal dari daerah Galilea. Dia tahu persis bahwa Nazaret bukan tempat yang baik. Tidak mungkin ada janji Tuhan melalui para nabi yang digenapi di Nazaret. Bahkan di dalam kitab-kitab Injil, penekanan kepada asal Yesus yang dari Nazaret umumnya dilakukan untuk menghina Dia. Natanael, berbeda dengan Filipus, ternyata sangat menguasai theologi. Filipus dengan polos mengajak Natanael, tetapi cara dia mengajak sangat tidak menggerakkan. Tetapi setelah didebat oleh Natanael, Filipus tidak membela diri atau memberikan argumen balasan. Dia hanya mengatakan, “mari dan lihatlah!” Tawaran yang pastinya tidak akan menggerakkan Natanael. Mesias dari Nazaret? Ini pasti palsu. Tetapi, yang mengherankan, ternyata Natanael mau pergi bersama Filipus untuk bertemu dengan Yesus. Di ayat 47 Yesus segera memberikan komentar tentang Natanael, sama seperti Dia memberi komentar kepada Simon Petrus sebagaimana dicatat di ayat 42. Yesus mengatakan kepada Natanael bahwa dia adalah Israel sejati yang tidak ada kepalsuan di dalamnya. Yesus sedang memanggil Natanael sebagai Israel sejati. Dahulu, nenek moyang Israel bernama Yakub. Yakub adalah seorang penipu. Bahkan namanya pun dipelesetkan artinya menjadi penipu oleh karena penipuan-penipuan yang dia lakukan (Kej. 27:36). Hingga akhirnya Yakub harus terusir dari rumahnya karena menipu Esau. Di dalam perjalanan setelah terusir dari rumahnya inilah justru Tuhan menyatakan diri kepadanya. Tuhan menyatakan diri melalui penglihatan tangga yang hingga ke langit dan para malaikat naik turun pada tangga itu (Kej. 28:12). Tuhan juga mengubahkan Yakub. Setelah diberi nama baru dia menjadi orang yang sama sekali baru. Dia tidak lagi menjadi si penipu. Dia telah menjadi “Israel” (Kej. 32:28). Israel sejati yang tidak lagi menipu.

Tetapi ada alasan lain mengapa Yesus memanggil Natanael sebagai Israel sejati, yaitu di dalam ayat 48. Yesus mengatakan bahwa Dia telah melihat Natanael di bawah pohon ara sebelum Filipus memanggilnya. Ini berarti Filipus memanggil Natanael ketika Natanael berada di bawah pohon ara. Dua orang ahli Perjanjian Baru, C. R. Koester dan Ramsey Michaels mengidentikkan peristiwa pemanggilan Natanael di bawah pohon ara dengan Hosea 9:10 dan Zakharia 3:10. Di dalam Hosea 9:10 dikatakan bahwa Tuhan melihat Israel seperti buah pohon ara. Yesus mengetahui bahwa Filipus memanggil Natanael ketika Natanael di bawah pohon ara, dan Yesus mengatakan bahwa Dia melihat ketika hal itu terjadi. Berarti, berdasarkan Hosea 9:10, Yesus sedang menyamakan dirinya dengan Allah! Hal berikutnya lagi adalah apa yang dikatakan di dalam Zakharia 3:10. Di dalam Zakharia 3:10 dikatakan bahwa ketika Tuhan memulihkan Israel, setiap orang akan mengundang temannya di bawah pohon ara. Hal ini digenapi oleh Filipus ketika memanggil Natanael dari bawah pohon ara! Berarti saat ini adalah saat pemulihan Israel yang dijanjikan dalam Zakharia 3:10 itu. Hal ini memberikan makna bahwa Yesus benar-benar adalah Mesias seperti yang dikatakan Filipus di Yohanes 1:45. Natanael, yang mengerti theologi, juga mengerti apa yang Yesus maksudkan. Dia langsung menangkap apa yang Yesus maksudkan ketika Dia berkata, “Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Itu sebabnya dia langsung berespons dengan mengatakan, “Ya Tuhanku dan Allahku!”

Yesus, yang mengetahui kemampuan theologi Natanael, segera mengingatkan bahwa janji kedatangan Mesias yang diberikan oleh Allah mencakup pemulihan surga di bumi, tidak hanya seputar pemulihan Israel. Janji Mesias digambarkan juga oleh mimpi Yakub di dalam Kejadian 28:12, yaitu surga dan bumi disatukan oleh sebuah tangga ke langit. Yesus, Sang Mesias, adalah tangga ke langit itu. Dialah Sang Anak Manusia (Raja yang akan bertakhta menurut Daniel 7:9-14), dan ketika Dia bertakhta, Dia akan memulihkan surga di bumi.

Demikianlah peristiwa pemanggilan Filipus ternyata berlanjut dengan dipanggilnya Natanael. Filipus dan Natanael adalah dua orang yang dipanggil walaupun sebelumnya tidak punya niat untuk ikut Yesus. Ini keadaan yang mirip dengan keadaan kita. Kita tadinya adalah orang-orang yang sangat nyaman dengan kehidupan kita sehingga merasa mengikut Mesias bukan suatu keharusan yang mendorong kita meninggalkan segala sesuatu. Kita tidak merasa perlu meninggalkan apa-apa untuk mengikut Sang Mesias. Semua bisa dilakukan dengan paralel. Kristus ingin dimiliki, tetapi dunia tidak ingin ditinggalkan! Tetapi, sama seperti Filipus juga, akhirnya Tuhan memanggil dan meminta kita untuk berjalan bersama dengan Dia, baik itu ke Galilea maupun ke Yerusalem. Bahkan kita, seperti Natanael, sebelumnya gagal melihat kemuliaan Kristus. Adakah hal yang baik datang dari Yesus dari Nazaret? Bukankah duniaku dan hidupku sekarang sudah lebih baik? Tawaran apa yang dapat diberikan oleh Yesus dari Nazaret? Ketika panggilan untuk mengikut Yesus datang, kita pun memikirkan hal yang sama. Apakah yang lebih baik daripada usahaku yang sukses ini? Apakah yang lebih baik daripada prestasiku yang memukau ini? Apakah yang lebih baik daripada kehidupanku sekarang ini? Mana mungkin seorang Nazaret menawarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kumiliki sekarang ini? Tetapi, seperti Natanael, kita akan menjadi terkejut dan kagum. Ternyata apa yang kita miliki hanyalah sampah tanpa kedatangan Sang Mesias. Natanael akan terus menjadi warga Israel yang menantikan harapan kosong dan berakhir dengan hancurnya Yerusalem di tangan Kerajaan Romawi jika dia menolak panggilan Tuhan melalui Filipus. Tetapi ketika Sang Mesias itu datang, Dia akan memberikan surga bagi bumi ini! Dia akan menjadi tangga yang sampai ke langit! Dia akan memulihkan kehidupan umat Tuhan melalui memulihkan kasih dan perjanjian mereka dengan Bapa-Nya di surga. Bersediakah kita dipulihkan? Ataukah kita mau terus menjadi Yakub sang penipu? Mari menjadi Israel yang telah bertemu dengan tangga ke surga itu! (JP)