Renungan Harian 429 (Jumat, 1 November 2019)

Yesus dan Perempuan Samaria

Devotion from Yohanes 4:1-14

Di dalam Yohanes 4:3 dikatakan bahwa Yesus harus meninggalkan Yudea dan kembali ke Galilea. Orang-orang Yahudi di Yudea (termasuk Yerusalem, tentunya) membenci Dia karena Dia telah memiliki pengikut lebih banyak daripada Yohanes Pembaptis, padahal Yohanes Pembaptis memiliki pengikut lebih banyak daripada mereka yang membenci Yesus. Orang banyak berkumpul pada Yesus karena kuasa yang dinyatakan oleh Roh Kudus melalui apa yang dikerjakan Yesus. Tetapi semakin besar pengaruh Yesus, semakin orang-orang Yudea membenci Dia. Maka Dia pun menyingkir ke Galilea. Tetapi hal yang mengejutkan terjadi selanjutnya. Kisah tentang Yesus dalam Injil ini ternyata tidak berpindah dari Yerusalem ke Galilea. Kisah selanjutnya justru mengambil tempat di daerah orang Samaria. Yesus harus melintasi daerah Samaria. Keharusan ini bukan karena Dia mengejar waktu, atau karena tidak ada jalur lain. Ini adalah keharusan di dalam pimpinan Roh Kudus. Roh Kudus telah menyiapkan tuaian (Yoh. 4:35), sehingga mereka akan datang kepada Yesus. Orang-orang Yudea menolak Dia, tetapi orang-orang Samaria akan beriman kepada Dia. Ini sangat ironis. Yudea terkenal sebagai daerah Israel yang paling ketat memelihara Taurat dan tradisi agama Yahudi. Orang-orang Galilea justru telah banyak kompromi dan hidup dengan cara yang mirip dengan orang-orang kafir dari bangsa-bangsa lain. Galilea begitu sekuler, tetapi Yudea begitu religius. Bagaimana dengan Samaria? Samaria adalah kelompok yang dianggap paling rusak oleh orang-orang Yudea. Mereka adalah orang-orang yang telah kehilangan identitas sebagai orang Israel. Orang-orang Yahudi menganggap bahwa orang-orang Samaria sama najisnya dengan orang-orang kafir. Mereka enggan bertemu orang-orang Samaria. Mereka juga anti melewati daerah orang-orang Samaria. Orang-orang Samaria juga sangat anti kepada orang-orang Yahudi. Orang-orang Samaria percaya bahwa hanya Kitab Taurat Musa saja yang berasal dari Tuhan, dan karena itu mereka menganggap orang-orang Yahudi palsu dan memegang ajaran yang salah. Perdebatan ini sudah menjadi perpecahan yang membuat kedua kelompok ini saling membenci. Orang Samaria tidak mengakui Kitab Suci, tidak menerima janji Mesias sebagai Anak Daud, menolak menyembah Allah di Bait Suci, mereka mendirikan mezbah dan beribadah di gunung Gerizim. Penolakan terhadap Bait Suci ini adalah hal yang fatal. Mereka tidak dianggap berhak mewarisi janji Tuhan kepada Israel karena mereka tidak bisa lagi dianggap bagian dari Israel. Berbeda dengan Yudea yang mempertahankan ketaatan kepada Taurat, bahkan yang memelihara ibadah di Bait Suci dengan sangat ketat. Tetapi apakah yang terjadi? Ketika Sang Mesias datang justru Yudea yang menolak, dan Tuhan menyiapkan sebuah kampung di Samaria untuk menerima Sang Raja.

Pertobatan sebuah kota di Samaria ini dimulai dengan perjumpaan Yesus dengan seorang perempuan yang akan menjadi saksi Yesus bagi seluruh kota. Yesus sangat letih dalam perjalanan dan memerlukan air. Perempuan Samaria ini tiba pada siang hari untuk menimba air. Dia sudah menyiapkan apa yang diperlukan untuk mengambil air, dan karena itu Yesus meminta air kepada perempuan ini. Yesus berinkarnasi menjadi manusia, dan karena itu Dia mengalami segala hal yang kita alami, kecuali dosa. Dia tidak berdosa. Setelah berjalan jauh di tengah teriknya matahari Yesus menjadi lelah dan haus. Dia beristirahat di dekat sumur Yakub dan bertemu dengan perempuan Samaria itu di sumur tersebut. Perempuan yang pergi menimba air di tengah hari, sendirian. Tentu dia bukan seorang yang diterima baik oleh masyarakatnya. Dia seorang buangan yang pergi menimba air saat keadaan tidak baik untuk menimba air demi menghindarkan diri bertemu dengan orang-orang sekotanya.

Setibanya perempuan itu di sumur Yakub, dia bertemu dengan Yesus yang segera meminta air kepadanya. Peristiwa ini adalah peristiwa yang sangat penting. Yesus, seorang Yahudi, tidak membenci perempuan Samaria ini. Dia tidak menghina perempuan ini, Dia tidak mengusir perempuan ini, sebaliknya Dia meminta air kepada perempuan ini. Ini gambaran yang akan mengingatkan kita kepada Kejadian 24:14-18, yaitu ketika hamba Abraham bertemu dengan Ribka dan meminta minum kepada dia. Inilah gambaran yang dipahami oleh perempuan Samaria itu ketika Yesus meminta air kepada dia. Gambaran yang terjadi tentu sangat bertentangan dengan pandangan orang Yahudi terhadap orang-orang Samaria. Dalam Kejadian 24:14-18, yang meminta air adalah hamba Abraham (seorang kafir), dan yang memberi air adalah Ribka (ibu dari Israel). Apakah gambaran ini tidak salah? Yesus, orang Yahudi, meminta air kepada orang Samaria? Tetapi Yesus segera mengatakan bahwa Dia memiliki air yang akan Dia berikan jika perempuan itu memintanya. Perempuan ini sangat cerdas. Dia segera menggambarkan perkataan Yesus ini dengan gambaran dari Kejadian 29:10. Yakub memberi minum Rahel dari sebuah sumur yang harus digulingkan batunya oleh tiga orang! Orang Samaria merasa bahwa mereka adalah keturunan Yusuf. Itu sebabnya perempuan ini mengatakan di dalam ayat 12 bahwa Yakub telah memberikan air kepada mereka, yaitu keturunan Yusuf, yang adalah anak pertama Rahel. Jika Yesus bertindak sebagai yang memberikan air kepada keturunan Rahel, apakah ini berarti Dia sama dengan Yakub? Adakah Yesus bisa disejajarkan, bahkan lebih besar daripada Yakub (ay. 12)? Jadi, yang manakah Yesus? Seorang yang meminta air kepada orang Samaria, dan karena itu menyamakan diri dengan hamba Abraham? Ataukah seorang yang bisa memberi air dan karena itu membuat Dia disejajarkan dengan Yakub? Yang mana pun itu, sang perempuan Samaria ini tetap menjadi ibu dari bangsa Israel! Dia menjadi Ribka untuk kasus yang pertama, yang memberi air kepada hamba Abraham, atau dia menjadi Rahel untuk kasus yang kedua, yaitu ketika Yesus menawarkan air, dan itu membuat Yesus seperti Yakub dan dialah Rahel. Yang mana pun membuat Yesus harus mengakui dia sebagai keturunan Yakub.

Tetapi Tuhan Yesus tidak perlu dipaksa untuk menghargai perempuan ini. Dia sudah menghargai perempuan ini. Dia meminta air kepada perempuan ini. Tetapi Dia juga perlu memperkenalkan diri-Nya kepada perempuan ini. Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa Dia akan memberikan air. Tetapi Dia tidak menyamakan diri-Nya dengan Yakub. Dia menyamakan diri-Nya dengan Allah yang memberi air! Itu sebabnya di dalam ayat 14 Yesus mengatakan bahwa air yang akan Dia berikan bukanlah air yang ditimba dari sumur, sama seperti air yang ditimba oleh Ribka untuk hamba Abraham, maupun yang diambil Yakub bagi Rahel. Air yang Dia berikan akan menjadi sangat berlimpah, bahkan menjadi mata air yang sangat limpah. Ini mengingatkan kita kepada Bilangan 21:16-20. Tuhanlah yang memberi air hingga berlimpah-limpah, menjadi mata air yang menghidupkan seluruh bangsa Israel! Yesus sedang menyatakan bahwa Dialah Tuhan yang sama dengan yang memelihara Israel. Jika Dia adalah Tuhan, maka Dia menunjukkan kerelaan-Nya menerima perempuan Samaria ini bukan sebagai Ribka, ataupun Rahel, tetapi sebagai Israel yang menerima air di padang gurun. Yohanes dengan sangat teliti menempatkan bagian ini setelah percakapan Yesus dengan Nikodemus yang menyatakan bahwa Yesus harus ditinggikan seperti ular tembaga ditinggikan. Mengenai ular tembaga ini tercatat di dalam Kitab Bilangan 21:9, dan mengenai Tuhan memberikan air tercatat di dalam Kitab Bilangan 21:16-20. Persis secara urutan. Musa mendirikan ular tembaga, dan Yohanes mencatat ini di dalam pasal 3. Peristiwa selanjutanya dicatat Yohanes di dalam pasal 4 mencerminkan Bilangan 21:16-20, mengenai air yang Tuhan berikan. Tuhan Yesus telah menyerahkan diri-Nya menjadi penebus, supaya umat Tuhan, yaitu kita yang telah digigit oleh racun dosa yang menyebabkan kita binasa, boleh diselamatkan. Tetapi Tuhan Yesus juga adalah Allah yang menuntun umat-Nya dengan memberikan air yang berlimpah-limpah. (JP)