Renungan Harian 435 (Kamis, 7 November 2019)

Penyembuhan dan Sabat

Devotion from Yohanes 5:1-18

Jika di dalam bagian sebelumnya mukjizat kesembuhan itu dialami oleh pegawai istana yang percaya kepada Yesus, maka pada bagian ini kita akan melihat kisah seorang yang tidak percaya, tetapi menerima kesembuhan. Kisah ini juga akan sangat cocok dipadukan dengan kisah selanjutnya dari Injil Yohanes, yaitu kesembuhan seorang yang buta sejak lahir. Seorang buta yang beriman dan akhirnya mengikut Yesus. Tidak demikian orang lumpuh dari kisah hari ini. Dia tidak percaya, bahkan tidak peduli kepada Yesus walaupun dia menerima kesembuhan dari Yesus. Dia adalah seorang lumpuh yang berada di pinggir kolam Betesda. Menurut tradisi pada waktu itu, kolam ini adalah kolam kesembuhan. Akan ada goncangan di dalam air, dan siapa pun yang pertama masuk ke dalam air itu ketika terjadi goncangan, dia akan sembuh dari penyakitnya. Oleh Injil Yohanes, kepercayaan tradisional inilah yang berusaha dibenturkan dengan Yesus. Bukan kolam atau tradisi apa pun yang dapat menyembuhkan. Hanya Yesus menyembuhkan. Orang itu terus duduk di pinggir kolam sambil menunggu kesempatan bisa disembuhkan. Orang ini sudah begitu lama lumpuh. Ayat 5 mengatakan dia telah 38 tahun sakit. Ketika Yesus melihat dia, Yesus pun bertanya, “maukah engkau sembuh?” Jawaban orang itu menunjukkan bahwa dia tidak mengenal Yesus. Dia tidak menjawab, “ya, aku mau sembuh…” tetapi menjawab bahwa kolam yang dapat menyembuhkan itu tidak dapat dicapai oleh dia. Dia tetap mengandalkan kolam padahal di depan dia ada Yesus yang sedang bercakap-cakap dengan dia. Inilah pikiran orang yang telah dikurung oleh kebiasaan dan cara pikir yang sempit. Seperti inilah kita semua. Hanya ketika anugerah Tuhan tiba, lalu membukakan pikiran kita dan membentuknya berdasarkan firman Tuhan, barulah kita dapat diselamatkan dari cara berpikir seperti ini. Kesempitan berpikir yang membuat orang tidak bisa mengenal Tuhan dengan benar.

Kemudian Tuhan menyembuhkan dia dengan sebuah perintah, “angkat tilammu dan berjalanlah”. Orang itu sembuh dan melakukan apa yang Yesus perintahkan. Tetapi ada satu masalah. Hari itu ternyata hari Sabat. Orang-orang Yahudi dilarang melakukan pekerjaan di hari Sabat. Memikul tilam adalah salah satu dari banyak hal lain yang dilarang pada waktu hari Sabat. Itulah sebabnya orang-orang Yahudi sangat marah melihat orang itu memikul tilamnya. Ini pelanggaran terhadap Sabat! Melihat dirinya diserang seperti itu, orang yang telah disembuhkan itu segera menyalahkan Yesus. “Orang yang menyembuhkan aku yang memerintahkan, maka aku lakukan ini.” Orang yang sangat rusak cara berpikirnya. Dia telah disembuhkan oleh Yesus dan yang dia mau lakukan adalah menjerumuskan Yesus oleh karena memerintahkan dia melakukan ini. Tetapi, mengapakah Yesus memerintahkan dia memikul tilamnya kalau begitu? Tidak tahukah Yesus kalau ini dapat menjadi masalah? Yesus tahu. Justru Dia ingin mendidik umat-Nya untuk memahami Taurat dengan benar. Mereka melakukan segala peraturan dengan mekanistik dan kering. Mereka tidak paham makna di balik setiap peraturan. Peraturan ditaati hanya sebagai usaha untuk membuktikan kesalehan dan kelebihan diri dibandingkan orang lain. Israel sudah tersesat. Mereka mungkin tidak tersesat di dalam menyembah berhala, tetapi mereka tersesat di dalam hal yang sama buruknya, yaitu tersesat di dalam mengasihi diri, bangsa, komunitas, kebanggaan diri lebih daripada mengasihi Tuhan. Mereka tidak mengasihi Tuhan dan tidak memahami isi hati Tuhan di dalam firman-Nya. Mereka hanya tahu mana boleh dan mana tidak dan melakukan semua itu secara mekanik, tanpa hati, tanpa kasih, tanpa kecintaan kepada Allah. Itulah sebabnya pengharapan akan pertobatan sejati hanya mungkin kalau Sang Mesias datang dan memberikan hukum di dalam hati setiap orang (Yer. 31:33-34).

Apakah makna Sabat? Sabat adalah hari ke-7 yang dinikmati Tuhan setelah Dia menyelesaikan pekerajaan-Nya. Dia beristirahat di hari ke-7. Dia juga mengundang umat-Nya untuk menikmati istirahat ini bersama-sama dengan Dia. Inilah makna Sabat. Tuhan berdiam bersama-sama dengan manusia di dalam kemuliaan dan kesucian yang sempurna. Damai sejahtera, sukacita, kegembiraan, kasih, kekudusan, kemuliaan, semua akan memenuhi bumi ketika hari ini tiba. Tetapi apakah syarat manusia dapat memasuki Sabat? Sama dengan Allah, yaitu jika manusia telah selesai melakukan pekerjaannya. Tetapi ternyata manusia jatuh ke dalam dosa. Itulah sebabnya Allah memulai pekerjaan-Nya menebus manusia. Pekerjaan penciptaan telah selesai, sekarang Dia mempersiapkan umat yang akan Dia tebus. Itulah sebabnya di dalam ayat 17 Yesus berkata bahwa Dia dan Bapa di surga bekerja hingga sekarang. Karena Sang Bapa di surga masih bekerja, demikian juga Dia bekerja. Hingga tiba saatnya Dia menyelesaikan pekerjaan-Nya, yaitu menaklukkan bumi dan menaklukkan kejahatan serta maut, barulah tiba Sabat yang sejati. Inilah makna Sabat. Setiap hari ke-7 orang Israel beribadah kepada Allah dan menjalankan Sabat sambil mengingat pengharapan Sabat yang sejati ketika Sang Mesias berhasil menjalankan pekerjaan-Nya. Apakah orang Yahudi memahami ini? Jika mereka memahami ini, mereka tidak akan membenci Yesus karena apa yang Dia kerjakan ini.

Di dalam ayat 14 Yesus bertemu kembali dengan orang yang disembuhkan ini. Yesus berpesan agar dia jangan berbuat dosa lagi. Sangat mungkin kalau dia adalah orang yang berdosa dan mengalami penyakitnya itu sebagai hukuman dari Tuhan. Penyakit tidak bisa langsung dikaitkan dengan keberdosaan seseorang, tetapi untuk kali ini Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan bahwa keadaan orang itu akan makin buruk jika dia tidak bertobat dari dosa-dosanya. Tetapi pembahasan lebih utama bukan pada orang lumpuh itu, melainkan pada perdebatan Yesus dengan orang-orang Yahudi. Perdebatan yang nanti akan dilanjutkan dengan ajaran Yesus mengenai pekerjaan-Nya. Bagi Yesus sekarang belum Sabat. Dia masih harus menyelesaikan pekerjaan-Nya, dan karena itulah Dia tidak ingin memelihara hari Sabat dengan cara yang salah. Dia tetap bekerja hingga tiba saatnya Sabat, yaitu ketika pekerjaan-Nya genap, tugas sebagai Imam Besar selesai, dan Dia datang kembali sebagai Raja di atas segala raja. Inilah Sabat. Betapa menggelikan jika orang Yahudi mengajarkan makna hari Sabat kepada Yesus, yang justru akan menggenapi Sabat. Yesuslah yang telah dijanjikan oleh Allah untuk menggenapi pekerjaan-Nya dan mendatangkan Sabat. Tetapi kebodohan mereka membuat mereka merasa diri mereka pandai. Mereka berusaha menangkap Yesus dan menganiaya Dia karena mengabaikan Sabat.

Yesus menyembuhkan, mengajar, berkhotbah, hingga akhirnya menderita dan mati di kayu salib. Inilah pekerjaan yang diterima-Nya dari Bapa-Nya di surga. Inilah yang akan Dia lakukan untuk membuat segalanya menjadi baru. Dialah yang akan membawa ke bumi Kerajaan Allah yang sempurna dan genap. Hal berikutnya yang membuat orang Yahudi marah kepada-Nya adalah karena Dia menganggap Allah sebagai Bapa-Nya di surga. Tetapi ini adalah fakta. Bukan hanya fakta karena Dia memang Anak Allah, tetapi juga fakta karena Dia melakukan pekerjaan yang sama dengan Bapa. Apakah Saudara dan saya telah ditebus oleh Kristus? Jika ya, maka kita telah menjadi anak-anak Allah. Anak-anak yang dilahirkan bukan dari darah dan daging, tetapi dari Roh. Makna menjadi anak Allah bukan berarti kita memiliki gen yang sama dengan Allah. Tetapi menjadi anak Allah berarti kita melakukan pekerjaan yang Dia lakukan. Inilah kebiasaan orang pada zaman itu. Apa yang dikerjakan seorang bapa akan selalu menjadi pekerjaan sang anak juga. Jika ayahnya seorang petani, maka anaknya akan belajar bertani dari ayahnya dan akhirnya menjadi petani seperti ayahnya. Jika kita adalah anak-anak Allah, apakah kita melakukan pekerjaan yang Allah lakukan? Bekerja di dalam kekudusan, tanggung jawab, rindu menjadi berkat bagi orang lain, menaklukkan pengaruh setan, dan mengajarkan kepada setiap orang bahwa Kristus Sang Raja sudah datang menebus dosa, dan akan segera kembali. Bapa di surga bekerja hingga kini, dan kita anak-anak-Nya, apakah yang kita kerjakan? (JP)