Renungan Harian 436 (Jumat, 8 November 2019)

Sang Anak Satu Dengan Sang Bapa

Devotion from Yohanes 5:19-23

Reaksi marah orang-orang Yahudi mendengar Yesus menyamakan diri-Nya dengan Sang Bapa, yaitu Allah, langsung terlihat. Mereka ingin menganiaya Yesus. Menyamakan diri dengan Allah adalah penghujatan, jika itu dilakukan oleh ciptaan. Manusia tidak bisa mengklaim dirinya sama dengan Allah. Siapakah orang Nazaret ini? Begitu berani menyamakan diri dengan Allah. Ini penghujatan! Orang ini harus dihukum mati! Setelah melihat reaksi ini, Yesus justru semakin menambah amarah mereka dengan menjelaskan bahwa Dia setara dengan Bapa bukan hanya di dalam status sebagai Anak Allah, tetapi juga di dalam pekerjaan. Apa yang Bapa kerjakan, itu juga Sang Anak kerjakan. Kalimat-kalimat yang semakin membakar marah orang-orang Yahudi hingga semakin muncul niat ingin membunuh Yesus. Tetapi Yesus tidak mungkin menyatakan diri-Nya dengan cara yang lain. Dia memang Anak Allah. Dia memang mengerjakan apa yang Allah lakukan. Inilah yang ditekankan oleh Yesus di dalam ayat 19. Dia mengerjakan apa yang dikerjakan oleh Bapa-Nya di surga. Di dalam zaman itu, orang-orang Yahudi umumnya mengerjakan apa yang dikerjakan oleh ayah mereka. Mereka akan dididik untuk bekerja oleh ayah mereka, dan ayah mereka akan mengajarkan kepada mereka apa yang dia ketahui, yaitu profesinya. Maka, sama seperti pekerjaan ayahnya, demikianlah biasanya pekerjaan seseorang. Jika ayahnya adalah tukang kayu, maka hampir pasti dia akan menjadi tukang kayu juga. Jika ayahnya adalah seorang nelayan, maka ayahnya akan mengajarkan keahliannya ini kepada anaknya dan membuat dia ahli, sama seperti dirinya ahli, di dalam menangkap ikan. Maka di ayat 19 ini Yesus menunjukkan kebertundukan-Nya kepada Allah, tetapi juga mengklaim kedudukan yang sama dengan Allah. Dia adalah Allah, tetapi Dia rela tunduk kepada Allah. Sebagai Anak Dia tunduk kepada kehendak Bapa. Sebagai Anak, Dia mengikuti apa yang dikerjakan oleh Bapa. Sebagai Anak, Dia melanjutkan apa yang telah dikerjakan oleh Bapa-Nya.

Ayat 20 mengatakan bahwa Bapa menunjukkan apa yang Dia kerjakan kepada Anak karena kasih-Nya kepada Sang Anak. Kasih Allah kepada Yesus Kristus tidak mungkin bisa dipahami oleh siapa pun. Dia mengasihi Sang Anak sehingga menunjukkan kepada Dia segala sesuatu yang Dia kerjakan: Tidak ada rahasia, tidak ada misteri. Bagi Kristus, tidak ada yang tersembunyi dari pekerjaan Allah. Kita tidak mungkin mengalami hal yang sama. Banyak hal dari pekerjaan Tuhan yang merupakan misteri bagi kita. Bahkan Paulus pun mengatakan bahwa rencana keselamatan Tuhan begitu besar sehingga kita hanya dapat mengakui bahwa jalan dan rancangan Tuhan melampaui kemampuan pengertian kita (Rm. 11:33). Tetapi Yesus Kristus mengetahui segala hal yang dikerjakan oleh Bapa-Nya. Bapa di surga menyatakan segalanya kepada Anak Tunggal-Nya. Jadi, siapakah yang dapat menyatakan siapa Allah lebih daripada Yesus? Tidak seorang pun. Tidak seorang pun yang dapat mengajarkan tentang siapakah Allah selain dari Yesus yang dikasihi Allah sebagai Anak Tunggal-Nya. Tidak seorang pun dapat mengajarkan apa yang Allah kerjakan selain dari Yesus, karena Allah menyatakan segalanya kepada Anak Tunggal-Nya.

Tetapi ayat 20 menyatakan hal yang lebih lagi. Bapa bukan hanya menunjukkan kepada Anak apa yang Bapa kerjakan. Bapa juga menunjukkan apa yang akan dikerjakan di kemudian hari. Dan di kemudian hari, bukan Bapa, melainkan Anak yang akan melakukannya. Bapa memberikan kepada Anak hal-hal yang Dia akan kerjakan. Kebangkitan orang mati dan penghakiman akan dilakukan oleh Anak karena Bapa menyerahkannya kepada Anak (ay. 22). Ini tentunya berkait dengan pekerjaan Bapa menciptakan dan menyempurnakan ciptaan-Nya ini. Dia telah menciptakan, Dia menebus umat-Nya untuk memulihkan ciptaan. Dia mengutus Anak Tunggal-Nya untuk menyempurnakan pekerjaan penebusan dan pekerjaan menyempurnakan ciptaan-Nya ini. Maka seluruh ciptaan akan dipulihkan oleh Yesus Kristus. Allah akan menjadikan segala sesuatu baru (Why. 21:5), tetapi Dia menyerahkannya kepada Anak Tunggal-Nya. Allah akan menjadikan Anak-Nya ini Raja atas seluruh ciptaan, Raja atas seluruh bangsa, Raja atas segala penguasa dan raja-raja (Mzm. 2:6-12), bahkan Raja yang akan menang atas kerajaan maut dan setan (1Kor. 15:25-27). Yesus Kristus adalah yang dipilih dan diberikan pekerjaan memulihkan dan menyempurnakan ciptaan ini oleh Bapa-Nya di surga! Bapa di surga yang memilih Dia untuk menyempurnakan ciptaan ini agar semua manusia menghormati Dia sama seperti mereka menghormati Allah Bapa di surga (ay. 23).

Yesus bukan saja sama dengan Bapa di surga, Dia juga adalah yang akan melanjutkan pekerjaan Bapa di surga. Tetapi Yesus mengatakan bahwa Dia tidak akan bisa melakukan apa pun jika bukan Bapa yang terlebih dahulu mengerjakannya. Dia tidak mungkin melakukan pekerjaan ini dengan cara yang berbeda dengan yang dilakukan oleh Bapa-Nya. Dia hanya melakukan apa yang Dia lihat Bapa lakukan. Sungguh suatu pernyataan yang sekaligus agung dan rendah hati. Dialah ahli waris dari seluruh ciptaan Allah di surga. Tetapi Dia juga adalah yang rela tunduk dan menjalankan dengan taat apa yang Allah Bapa di surga perintahkan kepada-Nya. Dia juga akan dipermuliakan oleh Allah Bapa di surga dengan memberikan kepada Dia pekerjaan-pekerjaan besar di masa yang akan datang untuk menyempurnakan ciptaan ini. Sungguh suatu pengertian yang jauh lebih besar dan agung daripada pengertian orang Yahudi tentang siapakah Mesias. Mesias menurut pengertian orang Yahudi terlalu kecil. Yesus jauh lebih besar daripada apa yang orang Yahudi percayai tentang Mesias mereka.

Ketika orang-orang Yahudi marah karena Yesus menyamakan diri-Nya dengan Allah, mereka menunjukkan ketidaktahuan mereka tentang siapakah Mesias. Mesias bukanlah seorang raja seperti Daud yang akan memerintah Israel. Permasalahan yang terjadi di seluruh ciptaan Tuhan, itulah yang akan dibereskan oleh Sang Mesias. Dia bukan hanya raja Israel, Dia adalah Sang Raja, yang menyempurnakan apa yang Allah telah ciptakan dan menggenapi apa yang Allah rencanakan. Yesus memang sama dengan Allah, bukan karena Dia membesarkan diri-Nya, tetapi karena Allah yang menyatakan demikian. Ini bukan penghujatan. Inilah kebenaran! Orang Yahudi pasti akan menolak Yesus karena mereka tidak siap menerima Sang Mesias dengan segala kebesaran-Nya.

Tetapi demikian juga kita. Kita, orang-orang Kristen sering kali hidup dengan cara yang sama dengan orang-orang Yahudi. Kita gagal menyadari betapa besarnya Kristus itu. Kita gagal menyadari bahwa Dialah Anak Allah yang menaklukkan segala kuasa. Kita mengamini kemenangan-Nya dengan mulut kita, tetapi tindakan kita tetap sama seperti orang dunia. Tetap mendedikasikan diri untuk berhala. Kita lebih takut kehilangan uang, teman, kedudukan, dan kenikmatan duniawi ketimbang kehilangan Kristus. Kita lebih mendedikasikan diri untuk berhala kita ketimbang untuk Sang Raja yang akan menghancurleburkan segala berhala. Sangat menakutkan kalau kita membaca tentang orang Yahudi, mengutuk mereka karena mereka tidak menghormati Yesus, tetapi kita melakukan hal yang sama persis dengan mereka. Apakah benar kita menyadari siapa Yesus? Jika kita benar-benar menyadari siapa Dia, mengapa hidup kita tetap seperti ini? Tetap mengabaikan kemuliaan Tuhan, rencana Tuhan, dan Kerajaan-Nya. Kita tetap menolak Dia di dalam hidup kita. Kita hanya mau Dia di mulut dan perkataan kita, tetapi tidak di hidup dan hati kita. Mari berubah. Mari memandang kepada Kristus melalui firman-Nya, menyadari betapa besar dan mulianya Dia, dan mulai belajar sujud menyembah Dia. (JP)