Renungan Harian 437 (Sabtu, 9 November 2019)

Hidup Kekal Dalam Kristus

Devotion from Yohanes 5:24-30

Bagian selanjutnya menuliskan penjelasan Yesus tentang pengharapan Sabat yang sejati. Sabat bukanlah mengenai rumusan tindakan yang boleh dan yang dilarang. Sabat adalah pengharapan damai sejahtera sejati di dalam janji Tuhan pada waktu Tuhan hadir kembali di bumi. Tetapi bagaimana janji ini genap? Janji ini genap jika kefasikan dan kejahatan telah disingkirkan dari bumi. Tidak ada Sabat yang final jika tidak ada penghakiman. Jadi, apakah Tuhan Yesus meniadakan Sabat (ay. 18)? Tidak mungkin. Karena di dalam ketetapan Allah, justru Yesuslah yang memungkinkan Sabat yang final itu terjadi. Mengapa demikian? Karena Allah, yang berkuasa untuk menghakimi bumi, menyerahkan penghakiman itu kepada Sang Anak (ay. 22). Sebagaimana dinyatakan di dalam Mazmur 2:7. Di dalam Mazmur itu Allah menyatakan bahwa Sang Anaklah yang akan menghakimi. Mazmur ini berbicara tentang pengangkatan raja, dan tentu saja digenapi dengan sempurna di dalam diri Yesus Kristus, Anak Allah. Kristus akan membawa Israel masuk ke dalam Sabat yang sejati, tetapi sebelumnya Dia akan mengadakan penghakiman terlebih dahulu.

Ayat 24 mengatakan bahwa Yesuslah yang akan membawa penghakiman itu. Apakah yang menjadi standar untuk penghakiman itu? Firman Tuhan. Tetapi di dalam ayat 24 dikatakan bahwa perkataan Kristuslah yang menjadi standar. Yesus sedang mengklaim otoritas yang sama dengan otoritas Allah. Sebagaimana firman Allah adalah standar penghakiman yang sejati, demikian juga firman Kristus. Yesus menyatakan bahwa baik firman-Nya maupun firman Allah di surga adalah satu. Ayat 24 mengatakan bahwa menaati firman Kristus adalah sama dengan percaya kepada Allah. Percaya kepada Allah, yaitu memiliki hidup yang diberikan untuk Allah, komitmen mengasihi Allah, dan keinginan yang ditundukkan di dalam ketaatan kepada Allah hanya mungkin dilakukan melalui menaati firman Allah. Tetapi di dalam ayat 24 Yesus mengatakan bahwa semua hal itu hanya dapat dilakukan melalui mendengar perkataan Yesus Kristus.

Apakah hebatnya mendengar suara Yesus Kristus? Ayat 25 mengatakan perkataan Yesus sangat berkuasa sehingga akan membangkitkan orang-orang mati. Semua orang mati yang mendengar suara Anak Allah akan dibangkitkan. Betapa dahsyatnya hal ini. Renungkanlah baik-baik, semua orang, besar atau kecil, tua atau muda, hidup atau mati, harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Allah di hari penghakiman. Hari penghakiman begitu dahsyat sehingga maut pun tidak dapat menyembunyikan orang-orang yang harus dihakimi. Suara Anak Allah akan membangkitkan semua orang, supaya semua orang dihakimi dengan adil oleh Sang Hakim, yaitu Anak Allah. Ayat 26 mengatakan bahwa Yesus memiliki hidup di dalam diri-Nya karena Bapa memberikan hidup itu di dalam diri-Nya. Sama seperti Bapa memiliki hidup di dalam diri-Nya sendiri, demikian juga Yesus Kristus mendapatkan hidup di dalam diri-Nya sendiri dari Bapa. Ini berarti Yesus baru memiliki hidup karena diberi oleh Bapa? Benarkah cara menafsir seperti ini? Tidak. Mengapa tidak? Karena ayat ini tidak sedang berbicara tentang asal usul hidup Yesus Kristus. Ayat ini sedang mengatakan bahwa otoritas untuk menghidupkan orang diberikan oleh Bapa kepada Anak, karena Anak memiliki hidup itu di dalam diri-Nya sendiri. Bukan kesanggupan, tetapi hak. Anak Allah sanggup membangkitkan orang. Dia memiliki hidup kekal di dalam diri-Nya. Tetapi, walaupun Dia memiliki hidup di dalam diri-Nya sendiri, Yesus tidak berhak untuk membangkitkan orang mati untuk masuk ke dalam penghakiman. Ini adalah otoritas yang dimiliki Allah Bapa. Bapalah yang menyatakan kapan penghakiman seluruh dunia dilakukan. Bapalah yang akan memanggil orang-orang di seluruh bumi, dalam seluruh zaman, untuk dihakimi. Tetapi Bapa sekarang memberikan itu kepada Yesus Kristus. Yesuslah yang diberi hak untuk memanggil orang-orang di dunia untuk diadili. Mereka yang dipanggil bukan hanya Israel, tetapi juga bangsa-bangsa lain. Yang dipanggil bukan hanya yang hidup, tetapi juga yang mati. Jadi, Yesus memiliki hidup di dalam diri-Nya berarti Yesuslah sumber hidup. Sama seperti Bapa adalah sumber hidup, demikian juga Yesus adalah sumber hidup. Tetapi kata “diberikan-Nya” di dalam ayat 26 berarti Bapa memberikan otoritas kepada Anak untuk menjalankan penghakiman. “Diberikan” di dalam ayat 26 sebenarnya paralel dengan “menyerahkan” di dalam ayat 22. Bapa memberikan kepada Anak otoritas untuk mengeksekusi penghakiman. Bagaimanakah penghakiman dieksekusi? Dengan cara Sang Anak menjalankan kuasa-Nya membangkitkan orang mati. Bagaimana Sang Anak bisa mempunyai kuasa membangkitkan orang mati? Karena Dia memiliki hidup di dalam diri-Nya sendiri, sama seperti Allah Bapa memiliki hidup di dalam diri-Nya. Dialah sumber hidup. Dia bisa memerintahkan siapa pun untuk hidup, bahkan orang mati sekalipun! Perhatikan ayat 28!

Setelah semua orang hidup, dan juga orang mati dibangkitkan, barulah penghakiman terakhir dijalankan. Siapakah yang akan menghakimi? Yesus Kristus! Lihatlah ayat 27. Dialah yang akan menghakimi. Mengapa? Karena Dia adalah Anak Manusia. Apakah maksudnya Anak Manusia? Istilah Anak Manusia dapat ditelusuri hingga di dalam Kitab Daniel. Di dalam Daniel 7:12-14 dikatakan bahwa seluruh kuasa di langit dan di bumi dicabut oleh Allah dan diberikan kepada seorang yang seperti anak manusia. Inilah yang dimaksudkan, Sang Anak Allah adalah Anak Manusia di dalam Kitab Daniel. Yesuslah yang memiliki kuasa untuk menghakimi seluruh kuasa lain. Dialah yang mewakili Allah untuk menghakimi segala kuasa yang melawan kuasa Allah! Ini berarti Yesus akan mewakili Allah untuk menghakimi semua manusia. Semua manusia akan dibangkitkan mendengar suara Yesus Kristus. Setelah itu semua akan dihakimi berdasarkan kehendak Allah. Siapakah yang menghakimi? Yesus. Siapakah yang diwakili oleh Yesus? Allah sendiri. Allah menghakimi, dan yang menjalankan penghakiman Allah itu adalah Yesus Kristus, Anak Allah, Anak Manusia.

Untuk direnungkan:
Ayat 29 mengatakan bahwa semua orang akan dihakimi berdasarkan apa yang dia perbuat. Penghakiman Kristus akan mengakhiri semua bentuk ketidakadilan. Itulah sebabnya penghakiman Kristus adalah berita sukacita bagi mereka yang terus menerus ditindas oleh ketidakadilan. Tetapi setiap orang yang terus menerus berbuat jahat, menjalankan ketidakadilan, membenci, menyakiti, menghancurkan orang lain, celakalah, karena penghakiman Kristus akan memastikan orang-orang ini mendapatkan hukuman yang adil. Bagian ini sedang tidak berbicara tentang keselamatan, tetapi tidak bisa dilepaskan dengan pengertian tentang keselamatan kita. Tidak ada orang yang dapat berbuat baik, tetapi di dalam kasih dan di dalam mengenal Allah melalui mengenal Anak-Nya, yaitu Kristus, seseorang akan diubahkan hatinya. Dia akan menjadi orang yang melakukan hal baik. Di dalam dirinya akan mengalir sumber air kehidupan. Inilah orang-orang yang diselamatkan itu. Bukan orang-orang yang berbuat baik dengan sempurna, tetapi orang-orang yang bertindak karena didorong oleh kasih kepada Yesus Kristus dan kasih kepada Allah. Seluruh hatinya telah diubahkan, dan meskipun dia tetap hidup di dalam kelemahan dan sisa-sisa kecemaran yang masih sedang diperangi, tetapi dia telah menjadi baru. Dia sudah dilahirkan dari atas. Dia bukan lagi dirinya yang lama. Dia sudah memahami kasih Allah di dalam pikiran, hati, dan hidupnya. Orang-orang seperti ini tidak mungkin terus menerus hidup di dalam dosa, penipuan, kecemaran, hawa nafsu, keserakahan, dan lain sebagainya. Tetapi orang-orang yang masih terus tenggelam di dalam dosa, kejahatan, kepalsuan, pasti tidak akan luput dari pengadilan yang adil, yaitu pengadilan Kristus. Setelah orang-orang fasik disingkirkan melalui penhakiman akhir ini, mereka akan dibuang ke tempat penghukuman. Bumi akan terbebas dari kejahatan dan kefasikan. Bumi yang baru, yang telah dibersihkan dari keberdosaan dan kefasikan manusia, bumi inilah yang akan menjadi Sabat final bagi umat Tuhan yang beroleh anugerah menikmati Sabat sejati. (JP)