Renungan Harian 438 (Minggu, 10 November 2019)

Kesaksian Tentang Kristus

Devotion from Yohanes 5:31-40

Pengakuan Kristus tentang siapa Dia sungguh luar biasa. Dia benar-benar menyetarakan diri-Nya dengan Allah di dalam kuasa, hidup, dan penghakiman. Apakah kesaksian ini benar? Bukankah ini berarti Yesus sedang bersaksi tentang Yesus sendiri? Apakah ini bisa dipercaya? Bagian ini memberikan penjelasan untuk hal ini. Yesus segera menyatakan di dalam ayat 31 bahwa kesaksian tentang siapa Dia bukan dari diri-Nya sendiri. Jika hanya Dia yang mengklaim hal ini, tetapi tidak ada yang lain membenarkan apa yang Dia katakan, maka kesaksian-Nya tidak dapat dipercaya (Ul. 19:15). Siapa lagikah saksi-Nya? Yesus menyatakan bahwa ada tiga saksi. Yesus segera menyebut tentang Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptislah yang menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias. Dialah yang dinanti-nantikan oleh Israel, dan Yohanes hanyalah suara yang memperkenalkan Sang Mesias itu kepada Israel. Kesaksian Yohanes Pembaptis sangat penting, meskipun tidak dapat menjadi saksi bagi Yesus Kristus. Mengapa tidak? Karena Yesus mengklaim sesuatu yang melampaui dunia ini. Dia berbicara tentang hal-hal surgawi ketika Dia berbicara tentang penghakiman dan kebangkitan orang mati (Yoh. 3:12-13). Yohanes Pembaptis pun tidak mungkin mengerti hal-hal ini. Jadi, apakah kesaksian Yohanes Pembaptis cukup kuat? Tidak. Tetapi ini justru membuat apa yang Yesus katakan semakin kuat. Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa Yesus adalah Sang Mesias. Tetapi kesaksian ini hanyalah awal dari pernyataan tentang siapakah Yesus. Ada dua lagi Saksi yang lebih kuat daripada Yohanes. Dua kesaksian yang tidak bisa disamai oleh Yohanes, kesaksian yang melampaui Yohanes. Saksi yang kedua adalah pekerjaan Yesus sendiri. Maksudnya adalah perkataan Yesus bukanlah perkataan kosong. Dia mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan oleh Sang Mesias. Dia mengerjakan pekerjaan yang Bapa percayakan kepada Sang Mesias. Adakah perbuatan Kristus yang salah? Adakah yang Dia kerjakan yang merugikan orang lain karena diperlakukan tidak adil? Adakah yang melanggar Taurat? Tidak. Justru yang dikerjakan oleh Kristus menggenapi tugas yang Tuhan percayakan kepada Sang Mesias. Orang-orang Yahudi menghakimi dengan cara yang sangat buta. Mereka tidak melihat apa yang dilakukan oleh Yesus. Mereka menghakimi tanpa melihat tanda-tanda yang Yesus sudah kerjakan. Mereka tidak punya kepekaan yang dimiliki oleh sebagian dari pengikut Yesus. Mereka buta terhadap tanda karena mereka telah ditutup oleh kebencian kepada Yesus.

Saksi yang ketiga adalah Allah! Di dalam ayat 37 Yesus mengatakan bahwa Bapa di surga adalah saksi. Dari manakah kita tahu kesaksian dari Allah? Kita belum pernah mendengar Dia berbicara. Tetapi Yesus mengatakan bahwa seharusnya kita mendengar Dia berbicara melalui firman-Nya. Dia sudah berfirman! Kitab Suci menyatakan firman-Nya. Kitab Suci adalah firman-Nya, tetapi mengapakah orang Yahudi tidak bisa melihat perkataan ini? Karena mereka tidak memiliki Kristus. Bagaimana bisa memiliki Kristus? Dengan memercayai Dia sebagaimana dikabarkan di dalam Kitab Suci. Apakah yang terjadi ketika kita memercayai Dia sebagaimana dikatakan Kitab Suci? Yang terjadi adalah kita semakin mampu mengenal firman itu. Kemampuan yang akan membawa kita ke dalam pengenalan yang semakin lengkap tentang Yesus, dan ini akan terus memampukan kita memahami Kitab Suci. Ini menjadi lingkaran yang terus menerus saling menambah kelimpahan di dalam mengerti Kitab Suci maupun di dalam mengenal Tuhan Yesus! Inilah kesaksian Bapa! Mengapa orang Yahudi tidak terima Yesus? Karena mereka sebenarnya tidak terima firman Allah! Jika mereka menerima firman Allah pasti mereka akan menerima Yesus Kristus. Itu sebabnya di dalam ayat 45 Yesus berkata bahwa Musalah yang akan menghakimi orang Yahudi. Mengapa Musa? Karena ternyata mereka tidak menerima firman Tuhan. Mereka menolak firman Tuhan, dan karena itu mereka menolak Yesus. Alkitab berbicara tentang Yesus. Perjanjian Lama memperkenalkan banyak sekali simbol dan pengertian yang limpah tentang Yesus Kristus. Seluruh tokoh penting di dalam Perjanjian Lama pelan-pelan menambah pengertian kita tentang siapakah Kristus, yaitu Kristus yang akan menggenapi di dalam Perjanjian Baru panggilan yang mereka kerjakan di dalam Perjanjian Lama, baik nabi, imam, maupun raja. Semua panggilan ini digenapi di dalam satu Pribadi, yaitu Yesus Kristus.
Kesaksian Kitab Suci inilah kesaksian dari Allah. Yesus menyatakan bahwa Allah telah menyaksikan siapa Dia melalui Kitab Suci-Nya, dan kalau kita mau menyelidiki Kitab Suci, maka kita akan mengetahui bahwa segala sesuatu yang Yesus katakan adalah benar. Yesus tidak pernah mengatakan kata-kata, melakukan tindakan, dan menghidupi hidup yang tidak menggenapi apa yang Tuhan katakan di dalam Perjanjian Lama. Harap kalimat itu dapat ditangkap dengan tepat. Apa pun yang Dia katakan, apa pun yang Dia lakukan, bahkan seluruh hidup yang Dia jalani, semuanya menggenapi apa yang Allah nyatakan di dalam Perjanjian Lama! Allah bersaksi melalui hal ini. Benarkan Yesus Sang Mesias itu? Selidikilah Kitab Suci maka engkau akan mengetahui bahwa Allah adalah saksi bahwa Yesuslah Sang Mesias.

Untuk direnungkan:
Bagaimanakah kita dapat menerima fakta bahwa Yesus adalah Sang Mesias? Harus dari Kitab Suci! Tidak ada orang bisa mengenal Yesus Kristus tanpa Kitab Suci. Kedatangan Yesus bukanlah kedatangan yang sembarangan. Dia bukan tokoh yang muncul tanpa perencanaan. Tetapi sering kali kita memperlakukan Dia seperti itu di dalam kehidupan iman kita. Kita menganggap pengenalan kita tentang Yesus telah cukup, padahal sangat miskin. Kita merasa kita telah cukup mengenal apa yang perlu kita kenal dari Dia, tetapi justru ini adalah bukti bahwa kita salah mengenal Dia. Tidak ada orang yang mengenal Dia dengan benar merasa bahwa pengenalan mereka sudah cukup. Orang yang mengenal Yesus dengan benar selalu ingin mengenal Dia lebih dan lebih lagi. Tidak ada rasa cukup. Yang ada adalah kerinduan yang semakin lama semakin besar untuk mengenal Kristus. Oh, betapa indahnya pengenalan yang seperti ini. Tuhan Yesus begitu indah, begitu mulia, begitu dalam, begitu limpah, begitu mulia… tidak ada manusia di bumi ini yang dapat mengenal Dia di dalam seluruh kedalamannya. Sayang sekali kalau begitu banyak orang Kristen tidak tergerak untuk mengenal Dia. Lebih sayang lagi kalau orang Kristen merasa bisa mengenal Yesus dengan benar tanpa diikuti pengenalan akan Kitab Suci yang benar. Sedangkal itukah Yesus bagi kita? Betapa besar dosa kita sebenarnya jika kita tidak menggali lebih lagi tentang Dia dari Kitab Suci. Menggali lebih lagi agar kita dapat makin mengenal Dia. mengenal lebih lagi, dan mengagumi lebih lagi, mengasihi lebih lagi, memuji lebih lagi, menaati lebih lagi.

Setiap orang yang tidak berakar dengan kuat di dalam Kitab Suci akan sangat mudah dikacaukan oleh dunia. Dan yang paling berbahaya adalah ketika kita mengenal Yesus dengan sudut pandang yang kita dapatkan dari dunia. Kita akan mengenal Yesus yang salah. Pasti salah! Tidak ada kesaksian yang benar sekaligus cukup tentang Yesus, kecuali dari Allah. Bahkan Yohanes Pembaptis pun tidak sanggup! Hanya Kitab Suci saja. Keadaan orang Kristen sekarang sangat memprihatinkan. Cara kita memperlakukan Kitab Suci sangat memperhatikan. Kita tidak pernah mau usaha memahami. Kita bahkan tidak mau dedikasikan hati dan waktu untuk membaca Kitab Suci. Kita membuang Kitab Suci demi mimpi-mimpi liar dari pendeta palsu. Kita membuang Kitab Suci dengan kerangka pikir setan yang kita kira berasal dari malaikat terang. Kita bukan Kristen jika kita membuang Kitab Suci dari hati kita. Tidak peduli berapa banyak volume Alkitab memenuhi rak di rumah kita. Yang ingin saya tahu adalah berapa banyak Kitab Suci memenuhi hati kita? Tanpa mengenal Kitab Suci, bagaimana mungkin kita mengenal Tuhan Yesus? Betapa miskinnya hidup kita jika kita tidak mengenal Dia. Betapa celakanya nasib kita jika kita ternyata bukan termasuk orang-orang yang percaya kepada Allah melalui firman Kristus. Kiranya kita mempunyai kepedulian yang cukup atas keadaan jiwa kita. Mengapa tidak peduli jika jiwa kita kosong dan menuju kebinasaan? (JP)