Renungan Harian 439 (Senin, 11 November 2019)

Mencari Hormat Manusia

Devotion from Yohanes 5:41-47

Kesaksian tentang Kristus datang dari Allah sendiri. Dia tidak perlu konfirmasi dari manusia ataupun persetujuan manusia. Inilah perbedaan Kristus dengan orang-orang Yahudi, yaitu pemimpin-pemimpin agama yang menentang Dia. Mereka menentang Dia karena mereka tidak mengenal Allah. Karena mereka tidak mengenal Allah, maka mereka tidak bisa melihat tanda yang Allah sendiri nyatakan bagi Anak-Nya. Tetapi, sebagaimana dikatakan di dalam Yohanes 1:12-13 bahwa kesaksian Allah ini akan diterima oleh anak-anak-Nya yang lahir dari Roh Kudus. Yesus tidak memerlukan kesaksian manusia, tetapi ini tidak berarti bahwa semua manusia menentang Dia. Tetap ada orang-orang yang Allah bangkitkan untuk melihat siapakah Kristus dengan benar. Orang-orang inilah yang memahami kesaksian Allah tentang siapa Kristus, dan orang-orang ini juga yang memberikan kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Allah, Sang Mesias. Tetapi orang-orang yang menentang Yesus gagal melihat bahwa Allah telah memberikan kesaksian-Nya tentang siapakah Kristus. Mereka buta karena mereka memang tidak mengenal Allah. Orang-orang buta ini menjadi pemimpin yang menyesatkan umat Tuhan. Itulah sebabnya mereka mendapatkan teguran keras dari Yesus di dalam ayat 42. Yesus mengatakan di dalam ayat 42, alasan orang banyak itu tidak mengenal siapa Dia adalah karena mereka tidak mengasihi Allah. Mereka tidak mengenal Yesus bukan karena mereka kurang mengerti theologi. Mereka tidak mengenal Yesus bukan karena kurang pintar. Mereka tidak mengasihi Allah! Tidak ada orang yang dapat mengasihi Kristus tanpa mengasihi Allah Bapa-Nya di surga. Demikian juga tidak ada orang yang mengaku mengasihi Allah di surga dan tidak mengasihi Yesus Kristus. Yesus dan Bapa di surga adalah satu. Dua Pribadi yang berbeda, tetapi satu Allah yang Mahakuasa. Bagaimana mungkin seseorang mengasihi yang satu dan menolak yang lain? Orang yang mengasihi Allah akan mengasihi Kristus. Orang yang akan mengasihi Kristus akan mengasihi firman-Nya. Orang yang mengasihi firman Kristus akan mengasihi para saksi yang mengabarkan Kristus. Semua hal ini tidak bisa dilepas. Mengapa dunia membenci orang Kristen? Karena orang Kristen satu dengan Kristus, dan Kristus satu dengan Allah. Dunia membenci Allah, dan karena itu dunia membenci Kristus. Dunia membenci Kristus, dan karena itu dunia membenci orang Kristen.

Di dalam ayat 44 Yesus mengatakan apa yang menjadi akibat bila seseorang tidak mengasihi Allah. Dia bukan hanya menolak Kristus (dan orang-orang Kristen, tentu saja), tetapi dia juga akan sibuk mencari hormat dari dunia ini. Jika kemuliaan Allah yang dapat dinikmati melalui mengasihi Dia tidak ada pada seseorang, dia akan kekurangan sesuatu yang sangat dalam. Dia akan mencari pengganti kemuliaan ini dengan mencari hormat dari dunia ini. Inilah yang membuat manusia begitu penuh dengan kekosongan dan kegelisahan. Kosong dan tidak tenang hidupnya. Kekosongan dan kegelisahan yang menuntut dipuaskan dengan cara yang salah. Cara apakah? Cara penerimaan dari dunia ini. Betapa senang kalau dihormati oleh dunia ini. Betapa senang kalau mendapatkan pengakuan duniawi. Mengapa tidak cari pengakuan dari Tuhan? Mengapa tidak cari kerelaan untuk menderita asalkan diperkenan oleh Tuhan? Karena diperkenan Tuhan bukanlah hal yang besar bagi orang-orang ini. Jikalau seseorang tidak mengasihi Tuhan, maka diperkenan oleh Tuhan bukanlah hal yang penting bagi dia. Di manakah posisi kita? Orang yang mengasihi Tuhan akan mengejar kehormatan dan kemuliaan dari Tuhan. Dia akan membayar apa pun yang harus dia bayar sebagai harga untuk memperoleh penghormatan dan kemuliaan dari Tuhan. Walaupun ini berarti dihina oleh dunia ini. Jika Tuhan berkenan, orang-orang seperti ini akan rela dihina dan ditolak oleh dunia ini. Mengapa ada kerelaan sebesar ini di dalam diri mereka? Karena mereka mengasihi Tuhan. Mereka mengasihi Allah dan tidak ingin apa pun lebih daripada kasih dan penerimaan dari Tuhan. Tetapi orang yang tidak mengasihi Tuhan akan mencari penghormatan dari dunia ini dan terus kosong, akan mengejar kemuliaan dunia ini dan terus hampa. Mengapa terus kosong dan hampa? Karena yang mereka cari dan kejar adalah hal yang kosong dan hampa. Hanya Kristus yang dapat memberi damai sejahtera. Hanya Kristus yang dapat memberikan kelimpahan. Damai sejahtera dan kelimpahan di dalam kasih Allah. Damai sejahtera dan kelimpahan di dalam mengasihi Allah. Begitu banyak orang-orang yang mengasihi Tuhan menjadi contoh dalam hal ini. Mereka seperti kehilangan segala sesuatu di dalam ukuran dunia ini, tetapi mereka memiliki seluruh damai sejahtera dan ketenangan yang dicari oleh dunia ini. Tidak punya apa-apa, tetapi memiliki segala yang dicari dunia ini. Sebaliknya, orang dunia ini memiliki segalanya, tetapi tidak memperoleh apa yang dia cari. Maukah kita memikirkan hal ini baik-baik? Sudahkah damai sejahtera di dalam kasih Allah memenuhi jiwa kita? Jika tidak ada kedamaian di dalam jiwa kita, kemanakah kita akan mencarinya? Sampai nanti waktunya kita mendekat ke kubur, damai sejahtera itu tetap akan jauh dari kita. Carilah kasih Allah! Perjuangkanlah hidup yang mengasihi Allah! Dunia mencari damai sejahtera ke seluruh tempat dan di dalam berbagai cara, kecuali di dalam dua hal ini: mencari kasih Allah, dan menghidupi hidup yang didorong oleh kasih kepada Allah. Itulah sebabnya dunia akan terus memberi kekosongan dan kehampaan di dalam jiwa kita.

Tetapi, yang lebih bahaya, adalah mencari penghormatan duniawi di dalam agama. Inilah yang paling membuat kosong, dan juga yang paling membangkitkan murka Allah. Agama dijadikan alat untuk seseorang memperoleh penghormatan, kekayaan, kesenangan duniawi. Inilah yang dilakukan oleh para pemimpin agama Yahudi. Mereka mencari hormat dengan memanfaatkan hukum Taurat. Siapakah yang paling suci? Siapakah yang paling besar? Siapakah yang paling diterima? Siapakah yang paling penting? Apakah ukuran seseorang disebut suci, besar, diterima, dan penting? Ukurannya adalah Taurat Musa. Siapa yang paling mampu menaati Taurat, dialah orang yang penting, raksasa rohani yang patut dihormati. Ini membuat pencarian kehormatan menjadi tujuan terpenting seseorang, lalu dia memakai kendaraan “rohani” untuk mencapainya. Jika seseorang mempelajari Taurat dengan memanipulasinya untuk menjadi kendaraan bagi prestasi “rohani” dan pencarian bagi penghormatan “rohani”, maka pastilah orang tersebut gagal melihat Kristus di dalamnya. Taurat memberitakan Kristus dengan cara yang akan mencerahkan orang benar dan membutakan orang fasik. Mengapa orang gagal melihat Kristus di dalam Taurat? Karena hati mereka fasik! Tuhan membutakan mata orang fasik dan mengeraskan hati mereka sehingga firman Tuhan tidak menyentuh hati mereka sama sekali (Yes. 6:9-10).

Yesus pun memperingatkan orang-orang seperti ini. Di dalam ayat 45 dikatakan bahwa Musalah yang akan menghakimi mereka. Mereka memanipulasi Taurat yang diberikan melalui Musa. Mereka menggunakan Musa sebagai jalan memperoleh penghormatan dunia ini. Mereka memanipulasi nabi mereka, yang oleh Tuhan dipercayakan Taurat, untuk mendapatkan prestasi rohani demi hormat dan puji dari mulut manusia. Tentu saja Musa pun akan murka kepada mereka. Yesus mengingatkan mereka bahwa kebutaan mereka membuat mereka tidak layak menjadi murid-murid Musa. Mereka lebih pantas menjadi orang-orang yang dijatuhi hukuman oleh Musa. Ingat Korah, Datan, dan Abiram (Ul. 16:25-33)? Jika mereka yang menentang Taurat Musa dihukum seperti mereka, betapa lebih beratnya lagi hukuman bagi orang-orang yang menghina Injil Yesus Kristus (Ibr. 10:28-29).

Kiranya Tuhan memberikan kepada kita hati yang terus haus dan mencari kasih Allah. Biarlah Tuhan memberikan kepada kita jiwa yang haus dan terus ingin mengasihi Allah. Dua hal ini sajalah yang dapat memberikan damai. Dua hal ini yang memampukan kita melihat kehendak Allah, kemuliaan Allah, kemuliaan Yesus Kristus, Sang Anak Allah, kemuliaan pekerjaan Roh Kudus, kemuliaan firman Allah, kemuliaan orang-orang kudus-Nya, dan kemuliaan dari pengharapan kekal di dalam Allah. Carilah Allah! Kasihilah Dia! Mengapa terus hidup di dalam kekosongan? (JP)