Renungan Harian 440 (Selasa, 12 November 2019)

Tanda Atau Roti?

Devotion from Yohanes 6:1-14

Karena mukjizat yang Yesus kerjakan, semakin banyak orang yang mengikuti Dia. Sama seperti yang dikatakan di dalam pasal dua, tidak semua orang yang mengaku percaya kepada-Nya benar-benar memiliki kepercayaan yang sungguh, banyak yang percaya karena melihat mukjizat. Tetapi tidak banyak yang tahu bahwa mukjizat paling penting, tanda yang paling menyatakan kemuliaan pekerjaan Sang Mesias adalah salib. Ular tembaga yang ditinggikan di atas tiang, yang melambangkan Yesus Kristus dipaku di atas kayu salib, inilah tanda paling penting. Tetapi tanda paling penting ini juga adalah tanda yang paling tidak diinginkan oleh orang Israel: Salib bukanlah tanda, salib adalah batu sandungan! Kerjakanlah tanda-tanda, hai Tabib… kami ingin sembuh, ingin kuat, ingin jaya, ingin segala yang terbaik dari dunia ini. Kami ingin kerajaan yang segera dipulihkan. Tetapi tidak ada yang sadar kalau mereka semua memerlukan penebusan. Tidak ada yang sadar betapa krusialnya salib bagi mereka. Demikian juga di dalam bagian ini. Ayat dua mengatakan bahwa orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari berbagai tempat dan mengikut Dia ke mana pun Dia pergi. Adakah mereka mengasihi Dia? Tidak. Adakah mereka mengerti tanda, yaitu penebusan yang akan Dia kerjakan bagi mereka? Tidak. Jika demikian, apakah motivasi mereka mengikut Tuhan? Mereka ingin sembuh. Mereka ingin apa yang bisa Dia berikan bagi mereka, tetapi mereka tidak ingin Dia. Mereka tidak perlu Yesus. Mereka hanya mau kuasa yang keluar dari diri-Nya. Andaikata kuasa yang sama juga keluar dari Pilatus, maka mereka pasti akan berbondong-bondong mengikut Pilatus.

Apakah Yesus tidak tahu motivasi mereka mengikut Dia? Tentu saja tahu. Di dalam pasal dua juga dikatakan bahwa tidak seorang pun perlu memberitahukan kepada Yesus tentang siapa pun, karena Dia tahu apa yang ada di dalam hati manusia. Tuhan tahu motivasi mereka mengikut Dia. Tuhan tidak pernah bisa ditipu siapa pun. Dia tahu apa yang ada di dalam hati manusia. Tuhan tahu apa yang Saudara dan saya pikirkan, rasakan, rencanakan, dan inginkan. Kita tidak dapat menipu Dia. Betapa sering kita datang kepada-Nya dengan hati yang palsu dan berpura-pura, dan kita tidak sadar kalau Dia tahu kepura-puraan kita di hadapan Dia. Tuhan tahu motivasi orang-orang yang mengikuti Dia. Tetapi apakah reaksi Dia? Marah? Mengusir mereka? Tidak! Dia menyembuhkan mereka. Dia mengasihani mereka. Dia memberikan apa yang mereka inginkan meskipun mereka pada akhirnya akan kecewa dan meninggalkan Dia (ay. 66). Bahkan di dalam ayat 5 dikatakan bahwa Dia memikirkan tentang makanan mereka. Dia memikirkan ketika mereka lapar. Dia memelihara orang-orang itu bagaikan domba-domba-Nya, meskipun mereka tidak mau mengikuti Dia sebagai Gembala mereka! Yesus menanyakan kepada Filipus bagaimana cara mendapatkan roti untuk memberi makan semua orang ini. Di dalam ayat-ayat selanjutnya ditulis bagaimana Yesus mengerjakan mukjizat yang sangat besar, yaitu memberi makan lima ribu orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak. Tetapi di dalam ayat lima, Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk bersama-sama dengan Dia melakukan kebaikan. Yesus memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan tindakan kasih. Barang siapa telah menerima banyak cinta kasih, dia akan memberikan banyak cinta kasih. Bahagia yang akan diperoleh seorang manusia sejati ada di dalam memberi. Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima, sebagaimana dikatakan Paulus mengutip Tuhan Yesus. Maka Yesus pun bertanya kepada Filipus, dari manakah Dia harus membeli roti untuk memberi makan semua orang ini? Yesus membagikan kepada Filipus beban yang seharusnya Dia tanggung, yaitu kerinduan untuk memelihara umat Kristus. Sudahkah Filipus memikirkan hal ini? Ataukah dia hanya menunggu saatnya pekerjaan Kristus bagi orang banyak itu selesai dan dia tinggal menyuruh mereka pulang? Dia harus memikirkan keadaan orang banyak itu. Itulah sebabnya Yesus bertanya kepada dia mengenai memperoleh roti.

Tuhan Yesus mengerjakan pekerjaan-Nya untuk memelihara umat Tuhan. Tetapi Dia mengerjakannya bersama dengan para murid. Dia tidak melakukannya sendiri. Dia memutuskan untuk tidak melakukan semuanya sendiri, walaupun Dia sanggup. Ini konsep yang sangat indah yang kita temukan di dalam pengajaran tentang Tritunggal. Allah Tritunggal bekerja bersama-sama. Bapa, Anak, dan Roh Kudus bekerja bersama-sama di dalam penciptaan, penebusan, dan penciptaan kembali di dalam kesempurnaan. Semua dikerjakan oleh Bapa, Anak, dan Roh Kudus bersama-sama. Apakah Bapa tidak dapat mengerjakan semuanya dengan kuasa yang Dia miliki? Tentu saja dapat. Tetapi Bapa, Anak, dan Roh Kudus bekerja bersama-sama karena relasi kasih. Kasih yang dinyatakan melalui keharmonisan yang sempurna di dalam mencipta alam semesta, memelihara, dan menopang alam semesta, menebus kerusakan alam semesta, merestorasi, dan menyempurnakan alam semesta. Keharmonisan kasih sayang yang sempurna di dalam bekerja bersama-sama. Inilah yang Yesus ingin bagikan juga dengan murid-murid-Nya. Dia, yang menjalin relasi yang utuh, sempurna, dan bahagia bersama dengan Sang Bapa dan Sang Roh Kudus, Dia juga ingin menjalin relasi yang sedemikian dengan murid-murid-Nya. Keindahan di dalam bekerja bersama-sama. Murid-murid membagikan apa yang menjadi bagian untuk mereka bagikan, dan Dia membagikan apa yang menjadi bagian untuk Dia bagikan.

Maka para murid bekerja, mencari siapakah yang memiliki roti, dan mereka menemukan hanya seorang anak kecil yang membawa roti dan ikan. Dia membawa bekal yang hanya cukup untuk tiga orang dewasa saja. Lima roti dan dua ikan… apakah yang dapat dilakukan dengan semua ini? Tetapi apa yang Tuhan Yesus lakukan mengingatkan semua orang tentang keadaan Israel ketika dipimpin oleh Allah melalui Musa di padang gurun. Musa memimpin Israel keluar dari Mesir ke padang gurun. Di manakah mereka dapat memperoleh roti? Padang gurun tidak bisa ditanam. Akankah gandum tumbuh dari dalam tanah kering dan debu di padang gurun? Tidak mungkin! Tetapi apakah yang Tuhan lakukan? Dia menumbuhkan benih untuk orang Israel agar mereka dapat membuat roti. Benih yang tumbuh dari mana? Dari surga. Dari surga Tuhan memberikan benih. Dari surga Tuhan memberikan roti. Tuhan memelihara dengan cara yang melampaui pikiran kita. Demikian juga di dalam bacaan hari ini. Tuhan Yesus memberikan pemeliharaan melalui makanan seorang anak. Lima roti dan dua ikan bagi lima ribu orang laki-laki!

Untuk direnungkan:
Tuhan mau memelihara umat-Nya. Tetapi Tuhan menginginkan umat-Nya mengetahui bahwa pemeliharaan-Nya itu timbul dari kasih-Nya kepada umat-Nya. Dia menginginkan agar umat-Nya mengasihi Dia, bukan roti yang Dia bisa berikan. Adakah kita mengasihi Dia? Adakah kita mengagumi Dia karena Dialah Sang Mesias yang akan menjadi Raja atas seluruh ciptaan Tuhan? Orang Israel tidak mengasihi Dia dan mengagumi Dia sebagai Raja mereka. Mereka menginginkan Dia, tetapi hanya sebatas roti yang Dia berikan. Selama Dia lancar memberikan roti dan kesembuhan, selama itu juga mereka akan mengikuti Dia. Orang-orang yang tidak pernah benar-benar mengenal siapakah Kristus. Mereka hanya mengenal rasa roti yang Dia pernah berikan itu. Di manakah kita? Tidak malukah kita untuk memiliki karakter rendah seperti itu? Setiap kali ada kesempatan untuk mendapat untung, segera dikejar. Kita terlatih oleh dunia ini untuk mengejar hal-hal yang menyenangkan diri dan menguntungkan diri, tanpa peduli apa pun dan siapa pun. Kita hidup tanpa benar-benar memiliki hati yang mau belajar mengenai kasih dan menyembah Allah. Kita tidak tahu bagaimana menyembah Allah dan sujud kepada Dia dengan segenap jiwa. Kita juga tidak tahu bagaimana mengasihi Dia dengan segenap hati. Kita hanya tahu bagaimana menikmati roti yang dapat Dia beri. Kiranya Tuhan mencelikkan kita dan mengarahkan kita untuk mengasihi Dia. Mengasihi, menyembah, mengagumi, dan menyanjung Dia sebagai Raja segala raja, sekaligus juga Juru Selamat yang penuh cinta kasih. (JP)