Renungan Harian 441 (Rabu, 13 November 2019)

Berjalan Di Atas Air

Devotion from Yohanes 6:15-21

Ketika orang banyak sadar siapa yang ada di depan mereka, segera mereka menjadi kelompok militan yang mau mengangkat Sang Mesias ini menjadi raja atas mereka. Mereka ingin mengangkat raja dan menjadi kelompok pemberontak untuk menghancurkan kerajaan dunia ini. Kehancuran bagi bangsa-bangsa lain tentu sudah dekat. Bagaimana mungkin Sang Mesias bisa ditaklukkan oleh bangsa-bangsa lain? Lihatlah Mazmur 2, tidak tahukah mereka bahwa raja mana pun di seluruh dunia tidak akan sanggup melawan Dia. Mereka akan dihancurkan jika melawan Sang Mesias. Mereka hanya punya dua pilihan: Sujud mencium kaki Sang Mesias, atau dijadikan tumpuan kaki-Nya dan mereka binasa di tengah jalan. Mazmur 2 menyatakan hal ini dengan sangat jelas. Siapakah Mesias itu? Musa memimpin Israel di padang gurun menuju Tanah Perjanjian. Tentu Sang Mesias tidak berbeda dengan Musa. Musa memelihara Israel di padang gurun, dan melalui dia mereka mendapatkan roti dari surga. Tentu saja Sang Mesias juga akan memelihara Israel di tengah-tengah “padang gurun” penjajahan ini. Dan, lihatlah, Dia yang disebut-sebut sebagai Sang Mesias ini ternyata mampu memberi makan 5.000 orang! Adakah orang lain dapat melebihi Mesias ini? Tentu saja tidak! Inilah Sang Mesias! Mari jadikan Dia raja! Mari mengikuti sang raja yang baru ini. Tentu saja ada harga yang harus dibayar. Jika kita berani menjadikan Dia raja, maka kita harus bersiap untuk konflik dengan pasukan pendudukan dari Kekaisaran Romawi. Kekaisaran Romawi begitu kuat, apakah kita sanggup melawan mereka? Tentu saja! Ada Sang Mesias! Kekaisaran Romawi pun akan dihadapkan kepada dua pilihan. Sujud kepada Sang Mesias, atau dijadikan tumpuan kaki Sang Mesias. Mari jadikan Dia raja!

Inilah seruan orang-orang yang telah menikmati roti yang Yesus berikan. Apakah Yesus senang? Apakah ini memang yang Dia harapkan? Apakah Dia mengabulkan keinginan mereka dan menjadi raja mereka? Ternyata tidak! Yesus memilih untuk menghindar dari mereka. Mereka tidak mengerti apa yang harus dilakukan Sang Mesias. Mereka benar-benar sulit memahami konsep Mesias yang menderita. Mesias yang menderita? Raja-raja dunia taklukkan penderitaan. Tidak demikian dengan Yesus, Yesus tidak mungkin tidak menderita. Kerajaan Allah dinyatakan dengan penuh kemurahan dan pengampunan bagi orang-orang yang seharusnya binasa. Itulah sebabnya kerajaan Allah dinyatakan dengan diawali oleh penebusan. Jika tidak ada penebusan, maka Kerajaan Allah akan datang dan seluruh bumi akan binasa oleh kesucian dan kemuliaan Allah. Tidak ada yang dapat bertahan memandang kemuliaan Allah! Jika Sang Mesias tidak menderita terlebih dahulu, tidak ada penebusan. Jika tidak ada penebusan, Saudara dan saya binasa ketika Kerajaan Allah itu datang. Tidak sadarkah kita? Kita sibuk cari roti, padahal kita sudah akan binasa oleh kekudusan Allah. Kita sibuk minta sembuh, padahal kemuliaan-Nya akan menghancurkan baik tubuh maupun jiwa kita! Jika Yesus datang menyatakan Kerajaan-Nya, akankah kita diizinkan berbagian di dalamnya? Tidak! Kita akan dihancurkan dan dibinasakan karena kecemaran kita. Jika Yesus tidak menjadi Juru Selamat, semua orang, termasuk lima ribu orang ini, tidak mungkin menikmati Kerajaan Allah. Yesus tidak ingin menjadi Raja mereka sesuai cara mereka dan dengan waktu mereka. Mereka tidak mengerti apa-apa tentang rencana Allah. Mereka hanya tahu hidup mereka yang sempit, dan mereka memutlakkan hidup mereka yang sempit itu. Maka Yesus pun menyingkir ke gunung dan menghindarkan diri dari mereka.

Ketika Yesus sedang di atas gunung, murid-murid mendahului Dia meneruskan perjalanan mereka. Murid-murid naik perahu, berlayar di danau Galilea, dan menuju ke Kapernaum. Ketika mereka sedang berlayar, ternyata mereka dihantam oleh ombak besar. Mereka baru sekitar dua atau tiga mil berlayar dan kesulitan ini menimpa mereka. Danau Galilea sering kali dihantam angin kencang yang menyebabkan danau itu berombak besar dan sangat sulit dilalui kapal. Murid-murid masuk ke dalam bahaya ini dan mereka mati-matian berjuang melawan ombak.

Di dalam ayat 19 dikatakan bahwa Yesus datang mendapati mereka. Yesus datang dengan berjalan di atas air yang berombak. Ini mukjizat yang sangat penuh makna. Tuhan Yesus mengerjakan mukjizat-Nya bukan karena Dia mau mempertontonkan hal yang spektakuler. Tuhan Yesus bukan ahli sihir yang hanya ingin memukaukan orang. Tuhan Yesus sedang menyatakan firman Allah. Mengapa Dia melakukan mukjizat? Agar orang mengerti siapa Dia sesuai dengan firman Allah. Yesus berjalan di atas air. Ini sangat penting untuk diketahui oleh orang Israel. Dia adalah Allah yang menenangkan ombak lautan. Kejadian 1:2, Mazmur 33:7; 77:16; 135:6, semua menunjukkan kehebatan kuasa Allah atas samudra raya. Mengapa kuasa Allah atas samudra raya sangat ditekankan? Karena samudra raya sering kali diidentikkan dengan kekacauan, kuasa politik yang memberontak kepada Tuhan dan menindas umat-Nya, dan juga dengan kuasa jahat dari setan. Jadi, ketika Perjanjian Lama menekankan kuasa Allah atas samudra, yang dimaksud bukanlah samudra di dalam pengertian literal, tetapi kuasa yang melawan kuasa Allah. Politik dan kuasa yang melawan surga, itulah yang ditaklukkan oleh Allah.

Yesus berjalan di atas air. Tanda apakah yang sedang dinyatakan oleh Dia? Tanda bahwa Dialah Raja dari Allah. Dialah Raja atas alam semesta. Dia menghindarkan diri-Nya dari orang banyak yang mau menjadikan Dia Raja, tetapi bukan karena Dia tidak mau jadi Raja. Dia adalah Raja! Untuk itulah Dia datang. Dialah Raja yang dinyatakan oleh Allah sendiri. Dia tidak perlu pengakuan manusia. Dialah Sang Anak Allah, Raja atas segala kuasa. Maka, peristiwa Yesus berjalan di atas air sangat menekankan hal ini. Dialah Raja, dan ombak laut pun tunduk. Sama seperti samudra raya takluk kepada kuasa Sang Raja, yaitu Allah, demikian juga danau Galilea takluk kepada kuasa Sang Raja, yaitu Mesias, Anak Allah yang hidup.

Tetapi apakah tujuan Yesus berjalan di atas air hanya untuk menyatakan tanda bahwa Dialah Sang Anak Allah, Raja atas alam semesta? Tidak. Dia juga melakukan itu karena Dia mengasihi para murid yang terombang-ambing di dalam perahu. Sama seperti Tuhan Yesus memperhatikan umat-Nya dan memberi mereka makan mereka agar mereka tidak kelaparan, demikian juga Tuhan Yesus memperhatikan murid-Nya dan memberi mereka penyertaan-Nya. Mukjizat Yesus tidak hanya menyatakan tanda, tetapi juga menyatakan belas kasihan Dia. Dia mengasihani murid-murid-Nya dan ingin menolong mereka agar mereka tidak binasa. Kasih-Nya dan kemurahan-Nya mendorong Dia untuk mengerjakan mukjizat-mukjizat-Nya.

Untuk direnungkan:
Semakin kita mengenal siapa Tuhan kita, semakin kita akan mengasihi Dia. Kenallah Dia! Kenallah apa yang menjadi isi hati-Nya! Kenallah beban-Nya! Kenallah sengsara-Nya! Di dalam mengenal Allah, akan ada kasih akan Allah. Di dalam mengenal Allah, akan ada kesadaran akan kasih-Nya. Kebesaran dan kasih-Nya dinyatakan dengan cara yang sangat indah di sini. Yesus adalah Raja, tidak peduli berapa banyak orang yang menolak Dia, faktanya tetap Dia adalah Raja. Tidak peduli berapa banyak orang yang tidak mengerti dan menghina Dia, faktanya tetap Dia adalah Raja. Tetapi Dia juga adalah Raja yang mengasihani umat-Nya. Dia melihat murid-murid-Nya terombang-ambing ombak dan hampir binasa, maka Dia pun menolong mereka. Dia ingin bersama-sama dengan mereka. Bisakah Dia menolong mereka dengan berseru dari pinggir danau agar airnya berhenti berombak? Bisa, tetapi Dia tidak melakukan itu. Dia selalu menyatakan kehadiran-Nya, lebih daripada apa pun. Dia ingin bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Dia mengasihi mereka, dan Dia ingin bersama-sama dengan mereka. Adakah kita juga mengalami ombak menghantam perahu kecil kita? Tuhan Yesus tidak ingin mencabut ombak dengan sembarangan. Terkadang ombak perlu untuk menguji iman kita dan kesetiaan kita kepada Allah. Tuhan Yesus lebih ingin memberikan penyertaan-Nya agar supaya kita dapat menghadapi ombak itu bersama-sama dengan Dia di dalam perahu. (JP)