Renungan Harian 443 (Jumat, 15 November 2019)

Roti Hidup

Devotion from Yohanes 6:30-40

Setelah Yesus menjelaskan kepada orang banyak bahwa percaya kepada Kristus adalah pekerjaan yang Allah inginkan dari mereka, mereka segera meminta tanda (ay. 30). Bukankah Yesus baru saja memberikan tanda yang besar? Tanda yang membuat orang banyak mencari Yesus? Mengapa mereka minta tanda lagi? Ketika Yesus melakukan mukjizat, semua menikmatinya. Tetapi tidak ada yang benar-benar mengerti apa yang Yesus maksudkan di dalam mukjizat itu. Mereka meminta mukjizat atau tanda-tanda supaya mereka bisa menikmatinya lagi. Menikmati, tetapi tetap degil hatinya. Menikmati, tetapi tidak bertumbuh di dalam mengenal Tuhan. Siapa yang mencari mukjizat tetapi tidak tertarik untuk mengenal Tuhan, dia adalah orang yang degil hatinya. Semua orang ini sudah melihat mukjizat, tetapi masih juga merasa belum cukup. Mereka menuntut tanda lagi supaya mereka bisa yakin bahwa Yesus adalah Mesias yang harus mereka percaya. Bahkan mereka membandingkan diri mereka dengan nenek moyang mereka di padang gurun. Nenek moyang mereka pun mendapatkan mukjizat roti surga setiap hari. Yesus adalah Sang Mesias? Biarlah Dia menurunkan roti setiap hari juga. Bagi orang banyak itu, inilah tandanya kalau Dia sungguh-sungguh Mesias itu. Peliharalah umat-Mu, hai Mesias, seperti Musa memelihara umat Tuhan di padang gurun!

Tetapi Tuhan Yesus mengingatkan mereka bahwa nenek moyang mereka mati di padang gurun (ay. 49). Jika nenek moyang mereka mati di padang gurun, maka apakah gunanya roti yang diberikan itu? Untuk memelihara mereka? Memelihara mereka sampai kapan? Sampai mereka mati di dalam pemberontakan mereka! Apakah gunanya roti yang seperti ini? Tetapi Yesus mengajarkan bahwa roti yang dimakan oleh nenek moyang mereka diberikan oleh Allah sebagai suatu tanda. Tanda bahwa Allah adalah sumber pemelihara mereka. Allah yang memelihara mereka, bukan Mesir, bukan tuan-tuan mereka di Mesir. Bahkan ketika tidak ada ladang untuk menabur gandum mereka pun, Tuhan tetap sanggup memelihara mereka. Tuhan mengirimkan benih untuk roti dari langit, bukan dari dalam tanah. Tuhan memelihara mereka dengan cara yang tidak bisa dipikirkan oleh dunia ini. Tidak ada yang bisa menghalangi Tuhan memelihara umat-Nya. Tetapi benarkah pemeliharaan Tuhan hanya seputar roti? Jika benar hanya seputar roti, berarti semua yang Tuhan kerjakan menjadi sia-sia karena toh nenek moyang orang Israel mati di padang gurun? Tuhan Yesus mengatakan bahwa Allah di surga memelihara orang Israel, bukan hanya memelihara mereka melalui makanan, tetapi memelihara mereka dengan hidup yang kekal. Hidup di dalam Allah dan Allah hidup di dalam mereka (Yoh. 17:21-23), itulah hidup yang kekal. Cukupkah hanya mendapat roti? Tidak. Jika mereka ingin Yesus menjadi pemberi roti, maka mereka akan mempunyai roti yang cukup seumur hidup mereka, tetapi mereka terus hidup di dalam keberdosaan mereka, dan murka Tuhan menanti ketika Tuhan menyatakan kerajaan-Nya. Kerajaan-Nya akan datang dan mereka akan binasa. Binasa, walaupun dengan perut yang kenyang! Jika demikian, apakah gunanya roti? Apakah gunanya keamanan hidup di dalam makanan, pakaian, dan keamanan jika ternyata kita tidak memperoleh tempat di dalam kerajaan-Nya. Itulah sebabnya Allah juga mengirimkan “roti” yang akan memberikan hidup kekal.

Setelah mendengar ini, orang banyak itu meminta roti surga itu. Sama seperti perempuan Samaria meminta air hidup, demikian juga orang banyak itu meminta roti hidup. Di dalam pengertian orang Yahudi, pada waktu pemulihan kerajaan Israel di masa yang akan datang, Allah akan hadir di dalam jamuan megah bersama dengan seluruh Israel. Mereka percaya bahwa pada saat itu mereka akan makan roti manna bersama-sama. Roti manna yang sempurna, lebih baik daripada manna yang dimakan oleh nenek moyang mereka di padang gurun. Jikalau Allah memang akan memberikan roti itu, berarti saat pemulihan kerajaan Israel sudah tiba. Itulah sebabnya mereka meminta roti itu. Tetapi Tuhan Yesus menjawab dengan jawaban yang di luar harapan mereka. Yesus mengatakan bahwa Dialah roti itu. Konsep orang Yahudi tentang roti perjamuan akhir dirombak oleh Tuhan Yesus melalui ajaran ini. Roti ini adalah tubuh Kristus yang akan dipecahkan untuk memberikan hidup yang kekal. Tuhan Yesus yang akan mati di kayu salib demi menebus umat Allah, Dialah roti hidup yang dimaksudkan. Tidak ada perjamuan di dalam kedatangan Tuhan yang akan datang jika roti ini, yaitu Kristus, tidak dipecahkan untuk menyelamatkan manusia.

Yesus mengatakan bahwa siapa yang datang kepada Dia, ia tidak akan lapar lagi. Siapa yang datang kepada Dia akan menikmati saat ketika Tuhan datang kembali. Dia akan bersukacita, bukan karena makanan yang dapat habis, yang tidak dapat meluputkan dia dari kebinasaan. Dia akan bersukacita karena hidup yang kekal. Hidup yang kekal bukanlah hidup yang tidak berkesudahan saja. Hidup yang kekal berarti hidup dengan kelimpahan di dalam relasi dengan Allah di dalam kerajaan-Nya yang datang. Hidup bersama dengan Allah dan Yesus Kristus di dalam kerajaan-Nya. Inilah hidup yang kekal yang dimaksudkan oleh Yesus Kristus. Tetapi, akankah semua orang datang kepada Dia? Tidak. Kebanyakan orang lebih menyukai roti. Kalau dapat hidup yang kekal, tetapi kekurangan roti, apakah gunanya? Manusia berdosa sudah rusak di dalam prioritas hidup. Makna hidup, kemuliaan hidup, tujuan hidup, pengharapan hidup, semua ini dipahami dengan salah. Itulah sebabnya manusia berdosa menolak apa pun yang Tuhan berikan dan meminta apa pun yang Tuhan benci. Menolak persekutuan dengan Tuhan. Menolak cinta kasih-Nya. Menolak pengorbanan-Nya, menolak darah-Nya, menolak segala hal yang sebenarnya sangat diperlukan oleh jiwa manusia! Sebaliknya kita menghabiskan hati kita dan hidup kita mengejar keangkuhan hidup, kemampuan menaklukkan orang lain, kesenangan yang cemar, kebencian, fitnah, dusta, keserakahan, mengejar segala hal yang akan membinasakan jiwa manusia.

Tetapi, sebagaimana dikatakan dalam ayat 37, tetap akan ada orang-orang yang datang kepada Yesus. Orang-orang yang digerakkan oleh Bapa di surga untuk mengikut Yesus. Merekalah orang-orang yang diberi anugerah untuk mampu melihat dengan benar. Melihat apa yang sebenarnya diperlukan oleh jiwa mereka. Dan Yesus mengatakan bahwa Dia tidak akan membuang mereka yang digerakkan oleh Bapa di surga. Dia akan memimpin mereka, mengasihi mereka, mempertumbuhkan mereka, memelihara mereka hingga datangnya saat hidup bersama dengan Allah di dalam kerajaan-Nya tergenapi. Hingga kapankah orang-orang ini akan terus dijaga oleh Kristus? Sampai kebangkitan pada akhir zaman. Sampai tiba saatnya hidup yang kekal itu digenapi, yaitu berdiam bersama dengan Bapa dan Kristus dengan sempurna, bahkan kematian pun tidak akan menghalangi pemeliharaan Kristus ini. Walaupun orang-orang yang datang kepada-Nya mengalami kematian sekalipun, Kristus akan membangkitkan mereka (ay. 39).

Untuk direnungkan:
Tuhan memiliki belas kasihan yang sangat besar bagi umat-Nya. Di saat mereka letih dan seperti domba yang tidak bergembala, Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai Gembala mereka. Tuhan memperhatikan segala hal yang mereka perlukan. Tetapi umat-Nya memerlukan Tuhan lebih daripada roti yang Dia berikan. Jika kita tidak mampu melihat kebutuhan kita yang melampaui sekadar bertahan hidup, maka kita tidak akan mungkin mengenal siapa Kristus. Dia mengerjakan hal yang jauh lebih besar bagi umat-Nya. Dia memelihara mereka dan memberikan kepada mereka diri-Nya sendiri. Tuhan Yesus memberikan hidup-Nya, tubuh-Nya, darah-Nya bagi umat-Nya. Mengapa? Karena itulah yang diperlukan untuk sebuah relasi yang sempurna dengan Allah. Roti hanya mampu memelihara hidup kita dengan cara yang sangat terbatas. Roti tidak dapat meluputkan kita dari kebinasaan, tetapi tubuh Kristus dapat. Roti hanya memberikan kekuatan yang sangat terbatas, tetapi tubuh Kristus yang terpecah memberikan relasi yang sempurna dengan Allah. (JP)