Renungan Harian 446 (Senin, 18 November 2019)

Waktu Yang Belum Tiba

Devotion from Yohanes 7:1-13

Yesus terus melayani keliling Galilea. Dia tidak segera kembali ke Yudea karena orang-orang Yahudi di sana ingin membunuh Dia (ay. 1). Tibalah Hari Raya Pondok Daun yang mengharuskan orang Yahudi merayakannya ke Yerusalem. Saudara-saudara Yesus mengatakan kepada-Nya untuk kembali ke Yerusalem dan membuat tanda-tanda mukjizat lagi sehingga nama Yesus semakin terkenal. Mereka pun ternyata tidak bisa menerima pengertian Mesias yang menderita dan mati. Mereka ingin Mesias yang menyatakan diri-Nya hingga kemegahan militer dan kuasa kerajaan yang Dia miliki dilihat oleh semua orang. Bagi Yohanes, pengertian seperti ini menunjukkan bahwa saudara-saudara Yesus tidak percaya kepada Yesus. Mereka ingin Yesus segera menyatakan mukjizat besar sekali lagi. Jika Yesus mengerjakan mukjizat di saat perayaan lagi, seperti yang Dia lakukan di Hari Raya Paskah (Yoh. 2:23), pasti akan ada sangat banyak orang mengikuti Dia. Sekaranglah waktunya jika Yesus ingin menyatakan mukjizat-Nya.

Tetapi justru Tuhan Yesus mengatakan bahwa waktu-Nya belum tiba. Di sini ada dua perbedaan pengertian. Saudara-saudara Yesus merasa ini adalah waktu-Nya untuk dikenal banyak orang, maka Yesus harus datang ke Yerusalem. Buat tanda-tanda yang limpah, mukjizat, sembuhkan orang, usir setan, dan lain sebagainya. Ini akan membuat Yesus dikenal ke seluruh Israel. Tetapi bagi Yesus, waktu-Nya tiba adalah saat kematian-Nya. Orang-orang di Yerusalem ingin membunuh Dia, dan ini tidak diketahui oleh saudara-saudara-Nya. Yesus belum mau datang ke Yerusalem karena memang waktu-Nya untuk mati belum tiba. Berbeda dengan Yesus, saudara-saudara-Nya tidak dibenci di Yerusalem. Itulah sebabnya Yesus tidak melarang mereka pergi ke Yerusalem, bahkan mendorong mereka untuk pergi. Mereka tidak akan dibenci seperti Yesus dibenci (ay. 7). Selalu ada waktu untuk mereka karena mereka sama dengan dunia ini. Tetapi Tuhan Yesus tidak, karena Dia terus menyatakan kebenaran tentang dunia ini, yaitu kebenaran tentang jahatnya dunia ini (ay. 7). Ini membuat dunia membenci Dia. Tetapi “jam” atau “waktu” yang ditetapkan Allah menjadi waktu penebusan yang sempurna itu belum tiba. Belum waktunya Yerusalem melihat Anak Domba Allah disembelih.

Tetapi di dalam ayat 10 dikatakan bahwa Yesus tetap pergi ke pesta itu. Apakah ini berarti waktu-Nya sudah tiba? Tidak. Di dalam Yohanes 2, Yesus berkata bahwa jam-Nya (waktu-Nya) belum tiba, tetapi setelah itu Dia menyatakan suatu tanda bahwa Dialah yang akan menggenapi pesta di akhir zaman ketika Allah datang kembali. Demikian juga di dalam Yohanes 7 dan 8, Yesus tetap pergi ke Yerusalem menggenapi Perayaan Pondok Daun. Apakah yang penting dari Hari Raya Pondok Daun ini? Di dalam Imamat 23:39-43 ini adalah perayaan untuk mengingatkan Israel bahwa mereka dipimpin Tuhan keluar dari Mesir dan berdiam bersama dengan Tuhan di dalam kemah. Tetapi, selain Imamat 23, hari raya ini juga berkait dengan Peresmian Bait Suci Salomo (2Taw. 5:1-5), yaitu ketika Tabut Perjanjian dibawa masuk ke Bait Suci yang telah selesai didirikan Salomo. Ini semua memiliki makna Injil yang sangat penting bagi Yohanes. Itu sebabnya dia mencatat bahwa Yesus tetap pergi ke Perayaan Pondok Daun ini. Dia harus pergi. Dialah yang menggenapi berdiamnya Allah di tengah-tengah umat-Nya. Orang Israel merayakan Pondok Daun untuk mengingat penyertaan Allah dahulu di padang gurun, Salomo memakai Perayaan Pondok Daun untuk membawa masuk Tabut Perjanjian ke dalam Bait Allah dan menyatakan Bait itu sebagai simbol kehadiran Allah sampai selama-lamanya. Kehadiran Allah, tetapi hanya simbol (1Raj. 8:21). Berarti baik Salomo maupun seluruh Israel sedang mengharapkan penyertaan Allah yang sempurna, bukan hanya simbol. Siapakah yang mampu menggenapi simbol itu? Hanya Yesus! Itu sebabnya Dia harus ada di Bait Suci ketika hari perayaan itu tiba, tetapi tidak dengan kemegahan ataupun sambutan besar (yang berujung pada penyaliban), tetapi dengan diam-diam. Begitu banyak orang mulai menyadari kehadiran-Nya, segera mereka ingin membunuh Dia (Yoh. 8:59). Waktunya belum genap untuk Yesus menggenapi segala simbol ini, tetapi Dia tetap harus memberikan tanda bahwa Dialah yang akan menggenapinya.

Orang banyak yang berkumpul menanti-nantikan apakah Yesus akan datang atau tidak. Ini merupakan perayaan yang sangat berkait dengan pengharapan Mesianik, yaitu pengharapan akan kedatangan Sang Mesias. Jika Yesus benar-benar adalah Mesias, dan orang banyak yang melihat tanda mukjizat yang Dia kerjakan dan percaya benar-benar bahwa Dia adalah Mesias, mereka ini telah berkumpul di Yerusalem, bukankah sekarang waktu yang sempurna untuk Dia menyatakan kuasa-Nya? Kerjakan lagi mukjizat saat di mana pengharapan Mesianik sedang sangat tinggi dan seluruh pengikut-Mu yang sangat banyak sedang berkumpul di satu tempat. Demikian kira-kira yang dimaksudkan oleh saudara-saudara Yesus (ay. 3-4), mewakili pikiran banyak orang pada waktu itu. Tetapi di tengah-tengah orang banyak, ada juga pemimpin-pemimpin agama Yahudi (oleh Yohanes hanya disebut sebagai “orang Yahudi” di ayat 11) yang memberikan provokasi di tengah-tengah orang banyak. Mereka terus menggoyahkan hati bangsa Israel untuk meragukan Sang Mesias mereka. Mereka mencap Dia sebagai penyesat, walaupun tidak ada bukti untuk hal itu. Mereka menyebut Dia nabi palsu walaupun tidak pernah bisa membantah semua argumen yang Yesus berikan untuk menyatakan diri-Nya. Mereka adalah orang-orang yang terus menerus memelihara tradisi pengharapan kedatangan Sang Mesias, tetapi tidak mau menerima Sang Mesias yang menggenapi tradisi mereka. Tradisi mereka telah menjadi illah mereka sehingga mereka menolak Allah mereka.

Untuk direnungkan:
Semua yang dikerjakan oleh Kristus memiliki makna yang sangat erat dengan apa yang Allah nyatakan di dalam Perjanjian Lama. Tetapi meskipun demikian, banyak orang menolak Dia. Bukan karena ada alasan yang benar untuk menolak Dia, tetapi karena Dia membongkar kejahatan mereka. Dunia ini sangat membenci kebenaran dan terang Kristus, karena segala hal yang bobrok dari dalam dia akan dibongkar oleh kebenaran dan terang Kristus. Demikian jugalah kita dahulu, kita hidup di dalam kebobrokan kita, bahkan walaupun kita begitu dekat dengan tradisi iman dan kebiasaan-kebiasaan umat Tuhan. Kita begitu nyaman di dalam segala hal rohani yang kita jalankan, tetapi kita benci kalau dibongkar kesalahannya. Kita benci kalau kebobrokan dan kegelapan di dalam diri kita disorot oleh terang itu. Tidak ada apa pun yang Kristus kerjakan gagal memberikan pesan yang kuat. Semakin orang Yahudi mempelajari Taurat dan Perjanjian Lama, semakin mudah mereka melihat bahwa Yesus adalah Mesias. Semua tanda yang Yesus kerjakan dapat dipahami oleh orang-orang yang memahami Kitab Suci. Tetapi heran, mereka justru menolak Yesus. Orang-orang sederhana yang kurang di dalam pendidikan Kitab Suci justru menerima Yesus. Mengapa orang-orang sederhana ini menerima? Karena mereka rela dibongkar dan dinyatakan kesalahannya. Dengan rendah hati mereka mengaku dosa mereka dan datang kepada Yesus. Tetapi para pemimpin agama, orang-orang Sanhedrin, imam-imam, dan orang-orang yang terdidik di dalam Kitab Suci, mereka membenci Yesus yang membongkar dosa mereka. Kesombongan mereka menutup mata dan telinga mereka sehingga mereka tidak mengenal Yesus yang menggenapi Taurat dan Kitab Suci. Semoga Tuhan memberikan kita pengertian yang limpah dari Kitab Suci, sehingga kita melihat dengan limpah siapa Yesus sebagaimana diajarkan oleh Kitab Suci; tetapi semoga kita juga terus memiliki kerendahan hati sehingga setiap teguran dan pernyataan kebenaran Tuhan yang mengoreksi kita dan memperingatkan kita dengan keras dapat kita terima dengan sepenuh hati kita, sehingga kita terus menerus dituntun di dalam pertobatan yang sejati. (JP)