Renungan Harian 447 (Selasa, 19 November 2019)

Pengajaran di Bait Allah

Devotion from Yohanes 7:14-24

Setibanya di Yerusalem, Yesus segera pergi ke Bait Allah dan mengajar di situ. Inilah Dia, Sang Mesias, yang menggenapi Hari Raya Pondok Daun dan yang menyatakan kehadiran Allah dengan sempurna, menggenapi Bait Allah. Pengajaran-pengajaran ini dapat disebut sebagai pengajaran di Bait (temple discourse, sebagaimana disebut oleh Ramsey Michaels, seorang ahli Perjanjian Baru). Pengajaran yang sangat sarat dengan makna simbolis. Kristus, penggenap kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya, hadir di tengah-tengah perayaan Pondok Daun, yang menyatakan pengharapan kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya, dan Dia mengajar di Bait Allah, simbol kehadiran Allah bagi umat-Nya.

Mendengar pengajaran-Nya, semua orang begitu kagum. Pengetahuan Yesus bukanlah pengetahuan para pemimpin Yahudi. Pengetahuan Yesus adalah pengetahuan yang menjadi sumber pelajaran bagi para pemimpin agama Yahudi. Pengetahuan Yesus adalah pengetahuan yang dengan sempurna menyatakan kehendak Bapa. Yesus Kristus sanggup menyatakan dengan sempurna siapakah Allah karena Dia adalah Anak Allah. Yesus Kristus sanggup menyatakan kehendak Allah dengan sempurna karena Dia menjalankannya dengan sempurna. Tidak ada yang sanggup mengajar dengan kesempurnaan seperti Yesus Kristus. Anak Allah yang taat kepada kehendak Allah, Dialah pengajar sejati bagi umat Tuhan. Tetapi meskipun demikian, tidak semua orang memahami pengajaran-Nya. Tidak semua orang menangkap keagungan di dalam pengajaran-Nya. Tetap saja ada yang tuli, buta, dan keras hati. Mereka bukan saja tidak mampu memahami kedalaman pengajaran Yesus Kristus, mereka dengan keras hati menolak setiap hal yang Dia nyatakan, apalagi kalau itu menyinggung mereka. Setiap orang yang gampang tersinggung ketika mendengar firman Tuhan, orang itu tidak mungkin mengetahui kebenaran. Lalu bagaimana kita dapat mengetahui kebenaran firman? Bagaimana dapat mengetahui keagungan pengajaran Kristus? Di dalam Yohanes 6:37 dikatakan bahwa Allah Bapalah yang menarik orang untuk datang kepada Kristus. Allah yang memampukan orang untuk menerima pengajaran Kristus. Jikalau kamu tidak dilahirkan dari atas, kamu tidak akan melihat Kerajaan Allah (Yoh. 3:3). Tetapi di dalam ayat 17 ada satu hal lagi yang membuktikan bahwa orang itu benar-benar ditarik oleh Bapa untuk mendengarkan perkataan Kristus, yaitu bahwa dia akan melakukan apa yang Allah ajarkan: Melakukan dulu, baru mengerti (ay. 17). Maukah kita mengerti firman Tuhan? Jalankan dulu, maka kita akan mengerti. Ini membalikkan cara berpikir sebelumnya. Saya mengerti dulu, baru jalankan. Tetapi perkataan Yesus adalah perkataan hidup yang kekal. Hidup bersama dengan Allah. Hidup diperkenan Allah. Dan hidup seperti ini bukanlah hidup yang memisahkan perkataan dan tindakan. Allah berfirman, maka segala sesuatu ada. Allah berfirman, umat-Nya taat, maka segala sesuatu menjadi jelas dan dimengerti oleh umat-Nya. Taati dulu, baru engkau akan mengerti.

Tetapi menaati perkataan Tuhan itu sangat sulit. Mengapa sulit? Banyak hal yang membuat sulit, tetapi ayat 18 menunjukkan apa sebabnya menaati Tuhan Yesus itu sulit, yaitu kesombongan. Yesus Kristus rendah hati dan rela mengosongkan diri. Siapa pun yang tinggi hati dan hanya ingin menonjolkan diri, dia tidak mungkin bisa memahami Yesus yang rendah hati dan rela mengosongkan diri. Yesus tidak berkata-kata dari diri-Nya sendiri. Walaupun Dia adalah Anak Allah, setara dengan Allah, mengetahui segala yang Allah ketahui, tetapi Dia mau mengosongkan diri-Nya dan berkata-kata di dalam ketaatan yang sempurna kepada Allah Bapa di surga. Dia tidak mengatakan ajaran dari diri-Nya sendiri. Semua yang Dia katakan adalah dari Allah. Allah Bapa yang memerintahkan Dia untuk mengatakan apa yang Dia katakan. Siapa yang memiliki kerendahan hati, kerelaan untuk menjadi kosong, kerelaan untuk dihina, kerelaan untuk direndahkan, dialah yang akan sanggup memahami perkataan Yesus. Tetapi jika seseorang hanya ingin Israel menjadi besar, jaya, kuat, mampu menghancurkan semua bangsa-bangsa lain, atau jika seseorang hanya ingin menjadi pemimpin agama Israel, menentang semua pesaing, dan mati-matian mencari cara untuk meninggikan diri, orang ini tidak mungkin mengerti Yesus.

Para pemimpin Yahudi sudah sangat sombong karena tradisi agung yang mereka warisi dari Musa. Tetapi Tuhan Yesus justru mengatakan bahwa Musalah yang mereka langgar kalau mereka menolak Yesus. Musa berbicara tentang kedatangan Sang Mesias, Sang Nabi yang berkuasa, dan sekarang apa yang dibicarakan Musa itu sudah tiba (Ul. 18:18). Tetapi apakah para pemimpin Yahudi menerima Dia? Tidak. Mereka menolak Dia. Bahkan mereka mencoba untuk membunuh Dia. Bukan saja mereka gagal memahami nubuat Musa mengenai kedatangan Sang Mesias, mereka juga memberontak terhadap perintah Musa, yaitu larangan untuk membunuh. Mereka berniat membunuh Yesus. Kebencian karena teguran Yesus yang membongkar kebobrokan mereka membuat mereka mengabaikan tradisi mereka dan berniat memberontak kepada Musa!

Kebobrokan apakah yang Yesus bongkar? Ayat 7 mengatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan mereka yang jahat, itulah yang Yesus bongkar. Tetapi apakah kejahatan mereka yang Yesus bongkar? Perzinahan? Pembunuhan? Pencurian? Tidak. Dosa yang Yesus bongkar adalah akar dari semua tindakan itu! Mereka tidak mengerti firman Tuhan dan tidak tahu bagaimana menghidupi firman itu. Mereka memiliki pengertian dan kehidupan sehari-hari yang terpisah jauh. Mereka tidak tahu bagaimana hidup bagi Tuhan, sehingga setiap perkataan Tuhan menjadi kalimat-kalimat kosong untuk dihafalkan, diperdebatkan, dan ajarkan, tetapi tidak untuk ditaati! Ini terbukti dari ayat 22 dan 23. Orang Yahudi harus menyunat seorang anak ketika dia berusia 8 hari. Tetapi bagaimana kalau hari ke-8 dari bayi yang akan disunat tersebut jatuh di hari Sabat? Orang Yahudi akan memilih untuk menyunat anak itu walaupun hari Sabat. Mereka bekerja di hari Sabat demi anak itu. Yesus bekerja di hari Sabat demi menyembuhkan seluruh tubuh, dan mereka mau membunuh Dia. Mereka tidak tahu bagaimana menghidupi firman. Firman Tuhan dijadikan identitas, tetapi identitas yang menghasilkan kesombongan. Firman Tuhan dijadikan alat untuk menyerang musuh, tetapi tanpa sadar memukul balik mereka sendiri. Firman Tuhan dilanggar oleh kebencian mereka dan dimanipulasi untuk mengesahkan kebencian mereka itu. Firman Tuhan dilanggar oleh niat mereka membunuh Yesus dan dimanipulasi untuk mengesahkan hukuman mati bagi Anak Allah!

Untuk direnungkan:
Sungguh kita tidak sadar betapa bobroknya hati kita. Hati kita sangat jahat, seperti hati orang-orang Yahudi di dalam Kitab ini. Kita memanipulasi firman Tuhan untuk menyerang orang-orang yang kita benci. Kita memanipulasi firman Tuhan untuk membenarkan tindakan kita. Kita memanipulasi firman Tuhan untuk memberi makan kesombongan kita dan menonjolkan kebanggaan kita. Kita melakukan semua yang dapat dilakukan untuk memanipulasi firman, tetapi kita tidak pernah berusaha menaatinya! Kita tidak pernah suka teguran firman yang menunjukkan kebobrokan kita. Kita benci ketika firman Tuhan menyadarkan bahwa kita rendah dan hina. Kita tidak pernah menganggap serius perintah firman Tuhan. Kita tidak pernah memberinya tempat di hati kita dan mengasihinya sebagaimana seharusnya sebagai umat Tuhan. Kiranya Tuhan mempertobatkan hati kita. Kiranya Tuhan berbelas kasihan dan mengubah hati kita, serta memampukan kita untuk memahami firman Tuhan karena kita menjalankannya di dalam hidup. Biarlah firman Tuhan memperkenalkan kita kepada Allah yang mengasihi dan mengampuni orang-orang hina yang mau kembali kepada-Nya. Biarlah firman Tuhan menjadi seruan yang melembutkan hati, sehingga hati kita menjadi milik Kristus sampai selama-lamanya. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk menikmati ini semua sehingga segala kepicikan, kesombongan, kebencian, dan kebanggaan yang kosong, semua dihancurkan, dan kita menikmati apa yang jauh lebih baik, yaitu diri Allah sendiri. (JP)