Renungan Harian 450 (Jumat, 22 November 2019)

Hakim Yang Berbelas Kasih

Devotion from Yohanes 7:53-8:11

Di dalam seluruh Injil Yohanes, perikop ini adalah yang unik. Perikop ini memakai gaya bahasa yang beda dengan bagian lain dari Injil Yohanes. Bagian ini juga satu-satunya yang menulis “ahli Taurat”, sesuatu yang tidak pernah muncul di bagian lain Injil ini. Bahkan paling tidak ada 14 kata yang tidak muncul di bagian lain dari Injil ini. Dari cara penulisan kebanyakan ahli menyimpulkan bahwa perikop ini bukanlah bagian asli dari Injil ini (lihat misalnya tafsiran Injil Yohanes dari Koestenberger, hal. 245-249, diterbitkan Baker). Tetapi kita tidak akan membahas lebih dalam tentang asal usul perikop ini. Kita akan coba menggali dan memahami apa yang Tuhan mau nyatakan melalui firman-Nya ini, siapa pun yang Dia pakai untuk menuliskan dan bagaimanapun caranya tulisan ini akhirnya masuk menjadi bagian dari Injil ini.

Saat pagi-pagi Tuhan Yesus sedang mengajar di Bait Allah, tiba-tiba orang banyak berkumpul karena adanya perempuan yang tertangkap berbuat zinah. Sebagaimana diketahui orang Yahudi di dalam hukum Taurat, dengan keterangan dua atau tiga saksi, pelanggaran perempuan ini harus dihukum dengan hukuman mati (Ul. 17:6, Im. 20:10). Tetapi, seperti dicatat di dalam Imamat 20:10, yang seharusnya dihukum mati adalah laki-laki dan perempuan yang melakukan zinah. Keduanya! Di manakah laki-laki yang berzinah dengan perempuan ini? Berhasil melarikan diri? Atau memang hanya perempuan saja yang biasanya dihukum mati di dalam kasus-kasus ini pada waktu itu? Ternyata memang ada indikasi seperti itu. Penelitian dari Craig Keener (The Gospel of John: A Commentary, hal. 736) menunjukkan catatan tentang perempuan-perempuan yang dieksekusi mati pada zaman Perjanjian Baru ditulis, dan alasan mereka dieksekusi kebanyakan adalah perzinahan. Pada waktu itu orang Yahudi tidak diberikan otoritas untuk mengeksekusi mati seseorang. Selain itu, di dalam hukum Kekaisaran Romawi juga tidak ada peraturan eksekusi mati karena perzinahan. Itu sebabnya eksekusi-eksekusi ini, walaupun keputusan dari sidang Pengadilan Agama Yahudi, sengaja dilakukan dengan liar dan terlihat seperti kekerasan jalanan ketimbang eksekusi resmi hasil pengadilan. Tidak ada yang bisa diminta pertanggungan jawab. Hanya ada massa liar dan tidak terkontrol yang bertindak brutal dan menyebabkan kematian perempuan-perempuan ini. Ini menyebabkan pemerintah Romawi tidak merasa perlu untuk memperpanjang kasus-kasus eksekusi yang terjadi. Tetapi, andai kata diketahui siapa penggerak di belakang massa yang mengeksekusi mati perempuan-perempuan ini, tentu pihak Romawi akan bertindak dan menangkap orang itu. Ketentraman seluruh Kekaisaran Romawi harus dijaga, dan membiarkan eksekusi-eksekusi mati terjadi bukanlah cara yang bijak untuk membangun ketentraman itu.

Inilah sebabnya perempuan yang tertangkap oleh mereka itu dihadapkan ke Tuhan Yesus. Tentu Yesus akan menaati hukum Musa, bukan? Bagaimana mungkin Dia berani memberontak terhadap Musa dan Hukum Taurat? Mereka pun menuntut Yesus memberikan jawaban mengenai apa yang harus dilakukan kepada perempuan ini. Menaati hukum Musa? Menaati hukum Musa memiliki muatan politis yang besar sekali. Jika mereka menjalankan hukum Musa, yang dianggap sebagai hukum Kerajaan Israel oleh orang Romawi, ini akan membuat orang Romawi merasa terancam dan bertindak agar peraturan Kekaisaran Romawi yang lebih diutamakan. Membangkitkan peraturan suatu bangsa jajahan adalah tindakan pengkhianatan jika dilihat dari sudut pandang sang penjajah. Tetapi jika Yesus tidak bertindak, mereka akan menganggap bahwa Dia takut kepada pemerintah Romawi dan lebih ingin menjalin perdamaian dengan penjajah mereka. Dia melanggar hukum Musa demi menaati pemerintahan kafir! Yang mana pun keputusan Yesus, itulah yang akan mereka pakai untuk mempersalahkan Dia (ay. 6).

Di saat semua orang terus mendesak Dia untuk memberikan jawaban, Yesus membungkuk dan menulis dengan jari-Nya di tanah. Tindakan ini mengingatkan orang banyak itu pada dua peristiwa di Perjanjian Lama. Yang pertama adalah peristiwa yang tercatat di dalam Ulangan 9:10. Allah menuliskan ke-10 hukum dengan jari-Nya sendiri! Meskipun tidak dicatat di dalam perikop ini, sangat mungkin tindakan Yesus ini mengingatkan mereka pada peristiwa itu. Peristiwa kedua adalah nubuat Yeremia di dalam Yeremia 17:13. Yeremia 17:13 mengatakan bahwa orang-orang yang meninggalkan Tuhan, namanya akan tercatat di bumi (di tanah), yaitu mereka yang meninggalkan Sang Sumber air sejati (terjemahan LAI “dilenyapkan dari negeri” secara literal tertulis “di bumi/di tanah akan tercatat namanya”). Sebelumnya, di dalam Yeremia 17:9 dan 10 dikatakan bahwa orang-orang yang meninggalkan Tuhan ini adalah orang-orang yang licik hatinya, lebih licik daripada apa pun, tetapi Tuhan mengetahui kelicikan hati itu dan Tuhan akan menghakimi orang-orang itu. Karena kelicikan hati mereka itulah maka Tuhan mencatat nama mereka di bumi/di tanah sebagai orang-orang yang meninggalkan Tuhan. Ketika Yesus sedang menulis dengan jari-Nya ini, orang banyak terus mendesak Dia untuk mengambil keputusan. Mana jawaban-Mu, hai Rabi? Yang mana pun itu, kami akan pakai untuk menjerat-Mu! Yesus pun berdiri dan menantang orang yang tidak berdosa yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini. Orang yang mengingat Ulangan 9:10 menyadari bahwa mereka adalah umat yang sedang melanggar perjanjian dengan Tuhan. Mereka dibuang dan hingga saat ini belum dipulihkan. Mereka adalah orang-orang yang namanya tercatat di bumi karena meninggalkan Tuhan (Yer. 17:13) karena kelicikan hati mereka yang diketahui dan akan dihakimi oleh Tuhan (Yer. 17:9-10). Kesadaran ini tiba-tiba muncul di dalam hati mereka setelah mendengar perkataan Yesus yang penuh kuasa, “barang siapa tidak berdosa, hendaklah dia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini.” Dengan Yeremia 17:9 dan 10 di dalam pikiran, orang banyak itu tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang licik. Dengan tipu daya berusaha untuk memanipulasi hukum Musa dan keberdosaan perempuan yang berzinah ini untuk menangkap dan menjerat Yesus. Hati mereka sangat licik, dan di dalam anugerah Tuhan mereka masih menyadari hal ini. Itu sebabnya tidak ada satu pun yang mengambil batu dan melempari perempuan itu.

Setelah mengatakan tantangan bagi orang yang tidak bersalah (baik tindakan maupun rancangan hati) untuk melempar batu, Yesus melanjutkan menulis di tanah. Satu per satu orang pergi meninggalkan Yesus dan perempuan itu. Setelah semua orang pergi, dan hanya Yesus dengan perempuan itu yang masih tinggal, Yesus pun membebaskan perempuan itu dengan mengingatkan dia agar tidak berbuat dosa lagi. Hanya Yesus yang berhak menghakimi karena Dialah satu-satunya yang tidak bersalah di dalam tindakan, perkataan, maupun hati-Nya. Dia membebaskan perempuan itu dengan belas kasihan yang sangat besar. Belas kasihan yang, celakanya, tidak dimiliki oleh orang-orang lain, yaitu orang-orang yang berhati licik dan berniat jahat, tetapi tidak memiliki belas kasihan. Tuhan Yesus tidak melanggar hukum Taurat, karena di dalam hukum Taurat ada tempat untuk pengampunan melalui penebusan. Yesus mengampuni perempuan itu karena Dia juga adalah Penebus perempuan itu. Dia yang bersih memiliki belas kasihan yang sangat besar kepada perempuan itu, sama seperti Allah memiliki belas kasihan yang sangat besar kepada umat-Nya. Dia yang berdosa justru hatinya menjadi picik dan penuh keangkuhan dan buta terhadap kejahatannya sendiri. Orang berdosa menyimpan dosanya diam-diam di dalam hatinya dan terus menerus menjadi jahat dengan merendahkan orang lain sambil meninggikan dirinya. Tidak ada belas kasihan di dalam hati orang-orang seperti ini. Yang ada hanya penghakiman yang diterapkan dengan berat kepada orang lain, tetapi tidak kepada diri sendiri. Tetapi Yesus yang kudus memiliki hati yang penuh belas kasihan, sama dengan hati orang-orang yang telah dikuduskan oleh Dia. Dialah yang berhak memberikan penghakiman, tetapi memutuskan untuk menanggung penghakiman itu dengan berat pada diri sendiri. (JP)