Renungan Harian 451 (Sabtu, 23 November 2019)

Pemimpin Yang Berjalan Dalam Kegelapan

Devotion from Yohanes 8:12-20

Yesus mengatakan bahwa Dialah terang dunia. Sejak bagian awal Kitab ini, Yohanes telah menekankan bahwa Yesus adalah terang (Yoh. 1:4). Dia adalah hidup, dan di dalam hidup itu ada terang bagi manusia. Yesaya 9:1-2 mengatakan bahwa Sang Hamba Allah akan membawa terang bagi bangsa-bangsa di dalam kegelapan. Kegelapan berarti kematian. Bangsa-bangsa yang hidup di dalam kebutaan, tidak mengenal Tuhan, menyembah ilah palsu, beribadah kepada berhala, inilah bangsa-bangsa yang sedang berada di dalam kegelapan maut. Hanya pengenalan akan Allah yang memberikan hidup. Pengenalan akan Allah inilah terang sejati. Terang yang membuat hidup bercahaya dan tidak dikuasai oleh kegelapan. Di manakah terang ini dapat diperoleh? Hanya di dalam Yesus. Dialah terang. Dia telah bersama-sama dengan Allah sejak mulanya, dan hanya Dia yang mengenal Allah dengan pengenalan yang sempurna. Dialah yang ada dekat hati Allah Bapa di surga, dan Dialah satu-satunya yang dapat membawa terang sejati ke dalam dunia.

Setelah Yesus menyatakan bahwa Dialah terang dunia, orang-orang Farisi menentang Dia dan menuntut kesaksian dari pihak lain. Mereka mengklaim berita yang Yesus bawa tidak benar karena Dia bercerita tentang diri-Nya sendiri. Siapa yang tahu kalau berita ini benar atau tidak? Bagaimana kita bisa yakin kalau apa yang Yesus katakan tentang diri-Nya sendiri itu benar? Itu sebabnya orang Farisi menolak perkataan Yesus jika tidak ada orang lain yang menyatakan hal yang sama tentang Yesus. Tetapi pertanyaan ini tidak mungkin dijawab. Benarkah ada orang di dunia ini yang bisa bersaksi tentang siapa Yesus? Jika dunia sedang berada di dalam kegelapan, dan setiap orang sedang hidup di dalam dunia yang tersesat dan yang tidak mampu melihat Allah dan kemuliaan-Nya, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberikan kesaksian tentang siapa Yesus. Jika apa yang Yesus katakan tentang diri-Nya sendiri benar, berarti Dia adalah terang yang sedang datang ke dalam kegelapan. Bagaimana mungkin orang yang hidup di dalam kegelapan dapat melihat dan memberi tahu apakah perkataan Yesus benar atau salah? Jadi siapakah yang bisa memberikan kesaksian tentang siapa Yesus? Hanya satu yang dapat melakukan itu, yaitu Allah Tritunggal. Allah Bapa yang dapat menyaksikan siapakah Kristus. Anak Allah, Yesus Kristus sendiri yang dapat menyaksikan siapa Dia. Roh Allah, Roh Kudus yang dapat menyaksikan siapa Dia. Allah Bapa melalui Roh Kudus menyaksikannya melalui firman yang diberikan-Nya kepada manusia. Dan Sang Anak, dengan datang ke dalam dunia, menjadi manusia, Dia menyatakannya melalui perkataan-Nya dan perbuatan-Nya. Allah Tritunggal menyatakan bahwa Kristus adalah terang dunia. Allah Tritunggal menyatakan pekerjaan-Nya yang dengan genap disempurnakan oleh Sang Anak, Pribadi kedua dari Tritunggal. Tidak ada kesaksian manusia yang bisa menggantikan (atau bahkan menyamai) kesaksian dari Allah Tritunggal. Maka, jika orang Farisi menginginkan konfirmasi dari orang lain selain Yesus, mereka harus mencarinya dari Allah, bukan dari manusia.

Yesus mengajarkan mereka bahwa kesaksian dari Allah Bapa dan Roh Kudus tidak bisa mereka dengar. Dia berasal dari surga, dan karena itu Dia mengenal Allah Bapa dan Roh Kudus. Dia menyatakan siapa Allah kepada manusia karena Dialah satu-satunya yang mengenal Allah dengan sempurna. Orang-orang Farisi hanya belajar tentang Allah, dan sumber-sumber mereka di dalam mengenal Allah, yaitu Taurat dan Kitab Para Nabi, ini pun tidak sekuat kesaksian Yesus Kristus. Karena baik Taurat maupun nabi-nabi hanyalah bercerita tentang Yesus dan ceritanya belum lengkap dan sempurna.

Yesuslah yang disaksikan oleh para nabi dan oleh Taurat Musa, tetapi baik Taurat Musa dan Kitab Para Nabi tidak bisa dipahami dengan tepat oleh orang-orang Farisi itu. Mengapa tidak? Karena baik Taurat Musa maupun tulisan para nabi datang dari Roh Kudus yang sama yang sedang menyatakan siapa Yesus Kristus. Tulisan para nabi tidak bisa dipahami tanpa Roh Kudus memberikan pencerahan. Jika mereka terus mengeraskan hati dengan keangkuhan mereka, maka mereka akan mengeraskan hati terhadap pekerjaan Roh Kudus juga, dan pada akhirnya menolak berita yang Roh Kudus ingin sampaikan di dalam hati mereka. Mereka tidak perlu kesaksian. Mereka hanya ingin menolak Yesus, menyingkirkan Dia, dan berbangga dengan kekerasan hati dan kesombongan mereka.

Di dalam ayat 15 dikatakan bahwa orang-orang Farisi ini menghakimi berdasarkan cara manusia. Cara manusia yang fasik penuh dengan tipu daya, manipulasi, dan kemunafikan. Tetapi orang benar pun tetap terkurung di dalam keterbatasan untuk menghakimi. Terbatas di dalam hikmat, di dalam pengetahuan, dan di dalam menjalankan hidup yang sempurna. Hanya Yesus yang sanggup menghakimi dan Dia memutuskan untuk menunda penghakiman-Nya. Dia tidak datang untuk menghakimi siapa pun. Ini adalah ajaran yang sangat sesuai untuk suasana hari raya seperti pada waktu itu. Yohanes 7:2 mengatakan bahwa saat itu adalah saat Hari Raya Pondok Daun. Di dalam Hari Raya Pondok Daun, orang Israel mengingat penyertaan Tuhan dan janji-Nya bahwa Dia akan berdiam bersama mereka. Tetapi di hari raya ini jugalah orang Israel memperingati didirikannya Bait Allah. Tetapi setelah memperingati Hari Raya Pondok Daun, orang Israel memperingati hari penebusan (Yom Kippur – Im. 23:7). Pada hari itu orang Israel menantikan janji Tuhan, yaitu janji bahwa Dia akan menghakimi dengan adil. Semua bangsa, kaum, dan semua orang akan dihakimi dengan adil oleh Dia. Namun ternyata Yesus, yang berhak menghakimi, mengatakan bahwa Dia tidak menghakimi siapa pun. Dia justru menjadi penebus bagi orang-orang yang seharusnya dihakimi. Yesus Kristus adalah Penebus. Dialah yang menjadi Penggenap janji Allah, yaitu menggenapi janji kedatangan Sang Penebus. Ini bukan berarti Dia tidak akan menghakimi. Ini berarti bahwa di dalam kedatangan-Nya saat itu, Dia menggenapi penebusan. Dia yang seharusnya menghakimi menunda penghakiman-Nya demi menjadi Juru Selamat yang menanggung penghukuman bagi orang-orang yang seharusnya dihakimi. Tetapi, justru di saat Dia menunda penghakiman-Nya demi belas kasihan Allah, pada saat itu justru Dia dihakimi oleh orang-orang Farisi ini, hakim-hakim palsu yang memakai standar manusia untuk menghakimi Yesus, Anak Allah. Kalimat-kalimat Yesus ini membuat mereka semakin ingin menangkap Dia dan menjatuhi hukuman mati untuk membunuh Dia. Tetapi, sebagaimana dikatakan dalam ayat 20, karena waktunya belum tiba, tidak seorang pun yang berani menangkap Yesus.

Untuk direnungkan:
Setiap orang berdosa mengalami hal yang sama dengan orang-orang Farisi ini. Kita membangun cara berpikir sendiri dan memutlakkan cara berpikir itu. Kita menghakimi berdasarkan kebiasaan kita sendiri, bentukan tradisi, nilai-nilai keluarga, suku, golongan, kelompok, dan apa pun yang lain; tetapi kita menolak untuk dibentuk oleh Tuhan. Bagaimanakah perasaan kita kalau Tuhan membongkar kebobrokan budaya, agama, tradisi, keluarga, suku, golongan kita? Akankah kita bertobat, menyadari betapa buta dan gelapnya hidup kita? atau justru kita ingin membunuh Yesus Kristus? Siapakah Dia yang berani mengatakan hal-hal ini? Menjelek-jelekkan saya, budaya saya, suku saya, dan segala keangkuhan saya yang lain? Jika kita membenci Dia karena hal ini, maka kita masih sama butanya dengan orang-orang Farisi. Dengan buta kita menghakimi terang dunia itu. Dengan gelap kita menolak terang yang akan memberikan hidup kepada kita. Kiranya Tuhan membuka mata kita dan memampukan kita melihat betapa kita memerlukan Yesus. Hancurkanlah budaya saya, jika memang perlu dihancurkan, ya Tuhan! Hancurkanlah tradisi saya, jika memang rusak dan tidak layak dipertahankan! Tetapi hiduplah di dalam saya ya Tuhan, jadilah Terang bagi saya, jadilah pemimpin hidup saya yang membawa kehidupan saya ke dalam Terang yang sejati! (JP)