Renungan Harian 452 (Minggu, 24 November 2019)

Yesus, Wahyu Allah Yang Sempurna

Devotion from Yohanes 8:21-29

Yesus mengetahui bahwa mereka ingin membunuh Dia. Mereka menolak Dia, membenci Dia, dan ingin menyingkirkan Dia, padahal Dia sedang menyatakan belas kasihan Allah dengan kehadiran-Nya di bumi ini sebagai Juru Selamat. Kasih yang paling agung dibalas dengan kebencian yang paling jahat. Maka Yesus pun mengatakan bahwa keberadaan-Nya di tengah orang-orang berdosa hanya sementara. Dia tidak mungkin terus menerus berada di tengah-tengah mereka yang tidak percaya. Suatu saat nanti orang-orang yang tidak percaya akan dihakimi dan disingkirkan dari Kerajaan Allah. Jika saat ini tiba, orang-orang Farisi itu tidak lagi punya kesempatan untuk percaya kepada Yesus. Inilah saatnya mereka kembali kepada Dia dan bertobat dari kekerasan hati mereka. Tidak lama lagi Yesus akan kembali ke tempat Dia datang, yaitu bersama dengan Allah di surga. Jika Dia sudah kembali, maka harapan bagi orang-orang itu untuk bersama dengan Dia akan habis. Kecuali mereka menerima Yesus dan mengikut Dia ketika masih ada kesempatan, maka mereka dapat memperoleh keselamatan dan berdiam bersama-sama dengan Dia dan Bapa-Nya di surga.

Apa pun yang Yesus katakan, apa pun yang Dia lakukan, semuanya adalah untuk menyatakan siapakah Allah Israel itu. Umat Tuhan sudah terlalu lama mengabaikan firman Tuhan, hidup sembarangan, dan berlindung di balik upacara agama yang dengan tekun dan setia mereka lakukan. Tetapi Tuhan tidak menghakimi mereka. Tuhan justru mengirimkan Anak Tunggal-Nya untuk menyatakan dengan sempurna siapa Dia. Tidak ada yang lebih penuh kemurahan daripada ketika Allah mengirimkan Anak Tunggal-Nya bagi umat-Nya yang sedang memberontak. Tuhan begitu mengasihi umat-Nya. Pemberontakan demi pemberontakan, penghinaan demi penghinaan, dan pengkhianatan demi pengkhianatan mereka lakukan melawan Tuhan. Tetapi Tuhan rela mengirimkan Anak Tunggal-Nya untuk memanggil mereka kembali. Akankah Anak-Nya ini gagal memanggil Israel kembali? Tidak. Anak Tunggal Allah pasti akan berhasil, bukan saja memanggil orang-orang Israel yang setia kembali kepada Tuhan, Dia juga memanggil bangsa-bangsa lain kembali kepada Tuhan (Yes. 49:6). Tidakkah orang-orang Farisi ini sadar? Betapa agung panggilan Tuhan bagi mereka! Tetapi sudah generasi demi generasi mereka mengabaikan firman Allah. Sudah beratus-ratus tahun mereka membangun pengertian theologi sesuai keinginan mereka sendiri. Setiap ayat Kitab Suci yang berbicara tentang kedatangan Yesus sudah ditutup oleh mereka dengan tafsiran yang sangat egosentrik dan serakah. Tidak ada lagi pengertian bahwa Tuhan akan memanggil bangsa-bangsa di bumi untuk kembali kepada Dia. Tidak ada lagi kepekaan untuk melihat ajaran tentang salib. Betapa butanya mereka! Sama seperti mereka, betapa butanya kita juga! Sudah berapa lama kita membangun pengertian theologi dengan motivasi yang sangat berpusat ke diri? Jika theologi kita tidak berpusat ke diri sendiri, bisakah kita menjelaskan apakah rencana Allah di dalam sejarah dunia ini? Atau kita hanya tahu apa yang Allah kerjakan bagi saya, karena “saya” adalah pribadi terpenting di alam semesta ini. Inilah theologi celaka, yang membuat orang gagal melihat salib Kristus dan pengorbanan-Nya. Kristus yang paling utama, tetapi Dia tidak pernah memperlakukan diri-Nya sebagai yang terutama. Dia mengutamakan umat Tuhan! Hidup-Nya adalah hidup yang paling penting di seluruh alam semesta ini, tetapi Dia memberikan hidup-Nya untuk kita, yang menjalani hidup di dalam kegelapan dan kematian. Kehidupan-kehidupan hina yang seharusnya dibinasakan oleh Tuhan, tetapi diambil, diangkat, ditebus, dan dipulihkan di dalam kekudusan oleh Yesus Kristus dengan membayarkan hidup-Nya! Betapa butanya kita jika kita tidak melihat ini! Mengerti hal ini dengan benar tidak berarti kita tidak buta. Jika kita mengerti, tetapi tidak menjadikan pengertian ini pengertian yang merombak seluruh hidup kita, maka sebenarnya kita adalah orang-orang buta yang mempunyai pengertian benar. Pengertian benar, tetapi hidup tetap mati dan gelap. Alangkah malangnya kita.

Tetapi, walaupun orang-orang Farisi itu buta, Yesus tetap memberikan kesempatan bagi mereka untuk melihat siapa Dia sebenarnya. Mereka bertanya tentang siapakah Yesus. Yesus menolak menjawab, karena sebenarnya Dia telah memberitahukan jawaban-Nya kepada mereka. Mereka telah begitu tuli sehingga mereka tidak bisa mendengar apa yang Yesus katakan. Mereka menuntut Yesus mengatakan siapa Dia, padahal Yesus sedang menjelaskan tentang siapa Dia kepada mereka. Tetapi Yesus masih akan memberikan satu cara menjawab lagi. Cara apakah itu? Ayat 28 mengatakan bahwa ketika Anak Manusia ditinggikan, barulah mereka (sebagian dari mereka) akan tahu siapa Dia. Siapakah Anak Manusia? Yesus Kristus. Bagaimanakah Anak Manusia akan ditinggikan? Yohanes 3:14 dan 12:23-25 menjelaskan bahwa ditinggikan berarti salib! Ketika mereka menyalibkan Mesias mereka, barulah mereka tahu bahwa apa yang dikatakan Yesus itu benar dan bahwa Dia benar-benar datang dari Allah. Umat Tuhan di seluruh dunia mengikut Yesus karena berita salib. Semua orang yang datang kepada Dia datang karena kemuliaan-Nya memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib. Berita salib adalah berita yang akan melunakkan hati orang pilihan di mana pun, termasuk dari antara orang Farisi sekalipun. Mereka yang dipanggil Bapa untuk datang kepada Kristus akan menerima Dia karena berita salib. Tetapi sebaliknya, mereka yang tidak mau datang, meskipun berita salib telah disampaikan kepada mereka, akan menjadi orang-orang yang tersandung pada Kristus. Kristus menjadi batu sandungan bagi mereka (1Kor. 1:23). Pernyataan tentang siapa Allah dinyatakan lewat tanda-tanda yang penuh kuasa, dan tanda paling besar dari semuanya itu adalah salib Kristus. walaupun mereka mengeraskan hati waktu mendengar perkataan Yesus, masih ada satu cara lagi Yesus menyatakan kebenaran Allah, yaitu salib. Salib menjadi tanda paling besar, mukjizat paling puncak di dalam Injil Yohanes. Satu kesempatan lagi diberikan kepada mereka yang masih menolak Dia, yaitu kesempatan untuk menyaksikan Anak Manusia disalibkan bagi dosa manusia.

Yesus datang untuk mewahyukan siapa Allah dengan seluruh hidup-Nya, bahkan kematian-Nya. Percuma jika orang-orang Farisi meminta Yesus menerangkan dengan kata-kata tentang siapakah Dia. Semua kalimat yang penting telah mereka dengar dan mereka tetap tidak percaya. Semua hal yang menunjukkan Yesus menggenapi nubuat di dalam Kitab Suci tetap tidak membuat mereka percaya. Maka Yesus meminta mereka untuk melihat satu hal lagi, yaitu kematian-Nya. Bukan hanya tanda-tanda kuasa, bukan hanya pengajaran, tetapi juga kematian-Nya!

Untuk direnungkan:
Setiap orang yang mendengar berita tentang Kristus harus mengetahui bahwa kematian Kristus yang menebus manusia adalah pernyataan paling penting dari Kristus. Dia tidak hanya datang untuk mengajarkan kasih, kuasa, kebenaran, kesetiaan, dan penghakiman Allah dengan kata-kata. Kata-kata-Nya penuh dengan kuasa, tetapi bukan kata-kata penuh kuasa inilah pernyataan paling sempurna dari rencana keselamatan yang Allah siapkan. Pernyataan paling agung adalah ketika Dia sendiri memberikan seluruh diri-Nya, seluruh hidup-Nya, nyawa-Nya di atas kayu salib! Inilah yang membuat Bapa sangat berkenan kepada Dia (ay. 29). Inilah yang akan mengoreksi semua pemikiran orang-orang Yahudi yang masih keras hati (ay. 26). Inilah yang mengaitkan semua berita di dalam Kitab Suci tentang siapakah Allah dan perjanjian-Nya dengan manusia. Kiranya Tuhan memberikan kepada kita mata yang melihat ini. Tanda paling agung untuk kesabaran dan kesetiaan Allah terhadap janji-Nya adalah kematian Kristus di kayu salib. Tanda paling agung untuk cinta kasih Allah kepada umat-Nya adalah kematian Kristus di kayu salib. Tanda paling agung dari kesetiaan umat kepada Allah adalah kematian Kristus. Inilah teladan bagi semua orang percaya di seluruh zaman. Tanda paling agung untuk hikmat Allah adalah kematian Kristus di kayu salib. Tanda yang menggenapi seluruh nubuat Kitab Suci tentang keadilan dan penghakiman Allah adalah kematian Kristus di kayu salib. Mari belajar melihat! Mari belajar memahami! Mari belajar mengagumi makna salib bagi umat Tuhan! Salib tidak sesempit keselamatan pribadi kita saja. Salib adalah puncak dari pernyataan siapakah Allah bagi umat-Nya. (JP)