Renungan Harian 453 (Senin, 25 November 2019)

Kebenaran Yang Memerdekakan

Devotion from Yohanes 8:30-40

Setelah mendengarkan ajaran Yesus, banyak orang menjadi percaya. Tetapi Yohanes menggunakan istilah “percaya” dengan sangat longgar. Orang percaya yang dimaksud oleh Yohanes bisa merujuk kedua kelompok orang. Yang pertama adalah orang yang percaya dengan pengharapan Mesianik sebagaimana dipercaya oleh kebanyakan orang Yahudi, yaitu pengharapan datangnya Mesias untuk memulihkan Kerajaan Israel dengan kuasa dan penyertaan Allah. Tetapi percaya juga bisa merujuk kepada kelompok kedua, yaitu orang-orang yang percaya bahwa Yesus datang untuk memulihkan Kerajaan-Nya dengan menyerahkan diri-Nya untuk mati di kayu salib. Inilah percaya yang sejati. Kelompok orang yang tidak mengerti bahwa Yesus akan menyerahkan diri-Nya untuk mati di kayu salib adalah kelompok yang tidak percaya, walaupun mereka percaya akan Dia berdasarkan pengertian yang pertama, yaitu pemulihan kerajaan dengan kuasa (Yoh. 2:23-24; 7:5; dan 8:31, 32, 33, 37). Itulah sebabnya Yesus masih memberikan pengajaran lagi kepada orang-orang yang mengaku percaya kepada-Nya (ay. 31 dan 32). Jika mereka tetap dalam firman Yesus, maka mereka akan mengetahui kebenaran yang memerdekakan mereka. Kebenaran apakah yang dimaksudkan Yesus? Firman yang manakah yang dimaksud? Yang Yesus maksudkan adalah pengertian tentang kematian-Nya. Kerajaan Allah tidak akan datang sebelum umat-Nya ditebus dari dosa-dosa mereka. Tanpa memahami hal ini, umat Tuhan akan terus berada di dalam belenggu dosa. Mereka tidak sadar kebutuhan mereka akan penebusan. Mereka tidak tahu bahwa kalau Kerajaan Allah datang, mereka tidak bisa berbagian di dalamnya. Mereka tidak sadar bahwa mereka berdosa, dan inilah belenggu dosa yang paling mematikan. Barang siapa tidak menyadari dosanya, dia tidak akan datang kepada Juru Selamat untuk memperoleh penebusan. Semua yang mengaku percaya harus tetap di dalam firman Yesus, dan Yesus terus menerus memberikan firman yang mengajarkan tentang kedatangan-Nya untuk mati bagi umat-Nya. Jika mereka akhirnya memahami ini, mereka akan mengetahui kebenaran, yaitu kebenaran tentang Kerajaan Allah yang datang melalui kematian Yesus Kristus. Kebenaran inilah yang membebaskan manusia. Manusia terbuka matanya dan menyadari dosa-dosa mereka. Manusia yang sadar akan dosa-dosanya akan datang kepada Yesus, yang memberikan air hidup, sehingga mereka bisa hidup bersama dengan Dia di dalam kehidupan yang limpah. Pengampunan, penebusan, dan kelimpahan hidup bersama dengan Tuhan, inilah hal-hal yang Yesus tawarkan. Tetapi orang yang masih mencari kemenangan militer, penaklukan, dan kekuatan dunia, mereka tidak sadar bahwa mereka masih dibelenggu oleh dosa. Cara dunia bukanlah cara Allah. Kerajaan dunia menjalankan kerajaannya dengan cara yang sangat berbeda dengan Yesus. Kerajaan Yesus bukan dari dunia ini (Yoh. 18:36). Orang-orang yang memakai cara dunia harus mengasumsikan satu hal, yaitu bahwa mereka adalah kelompok baik, yang sedang menjalankan perang suci dari Allah untuk menghancurkan kefasikan di dunia ini. Tetapi Yesus memberitahu hal yang sangat sulit mereka terima, yaitu bahwa merekalah kefasikan di dunia ini yang harus dihancurkan, tetapi karena kasih-Nya, Yesus justru menghancurkan hidup-Nya sendiri demi memberikan tempat bagi orang fasik yang percaya kepada-Nya di dalam Kerajaan-Nya. Inilah kebenaran itu. Inilah hal yang sulit untuk mereka terima, karena mereka masih diperbudak dosa pembenaran diri.

Tetapi janji Tuhan Yesus tetap berlaku. Siapa yang tetap di dalam firman Kristus akan mendapatkan kebenaran (tentang karya Allah) yang membebaskan dia. Tidak seorang pun yang mendengar firman Tuhan dapat mendengarnya tanpa kewajiban untuk memilih. Memilih untuk berdiam bersama dengan firman Tuhan itu, atau memilih untuk mengabaikannya demi pengertian yang sudah dimiliki. Siapa pun yang mendengar firman Tuhan sedang berada di bawah penghakiman Allah. Apakah setelah mendengar dia memilih untuk berjalan di dalam hidup berdasarkan firman Tuhan, ataukah dia memutuskan untuk menolaknya dan membalikkan badan dari hadapan Tuhan? Jika kita mendengar dan kita tidak bereaksi apa-apa, ini pun sebenarnya adalah tindakan membalikkan badan dari hadapan Tuhan. Tidak seorang pun boleh mendengarkan firman Tuhan tanpa sekaligus memiliki kewajiban untuk menaatinya. Mengabaikan sama dengan memberontak dan melawan! Hanya mereka yang memutuskan untuk menjadikan firman Tuhan sebagai cara menjalankan hidup, mereka inilah yang boleh disebut sebagai murid Yesus. Mereka inilah yang akan mengetahui kebenaran yang membebaskan mereka.

Ayat 35 dan 36 mengatakan bahwa hanya Sang Anak yang dapat membebaskan, karena hanya Sang Anak yang menyatakan kebenaran tentang siapa Allah lebih daripada siapa pun. Tanpa mengenal Allah, tidak ada seorang pun yang akan bebas dari belenggu dosa, yaitu belenggu yang meremehkan keadaan dosa, belenggu yang membuat kita tidak menyadari betapa pentingnya penebusan itu. Mengapa tidak? Di dalam buku Institutes, Calvin mengatakan bahwa tanpa menyadari terangnya kemuliaan Allah, tidak ada seorang pun akan terbuka matanya untuk menyadari betapa gelapnya dunia sekelilingnya itu. Tanpa mengenal Allah, tidak akan ada seorang pun yang menyadari dosanya. Tanpa mengenal dosa, tidak ada seorang pun yang akan menyadari kemuliaan Allah. Semua ini menjadi lingkaran neraka yang membuat manusia tidak bisa lepas dari kebinasaan. Semua agama yang menolak Allah didirikan di atas dasar ini. Tidak sadar dosa, tidak sadar perlunya penebusan, dan tidak sadar betapa mulianya Allah. Belenggu ini melahirkan begitu banyak dosa yang lain. Tidak sadar dosa menyebabkan pembenaran diri. Pembenaran diri melahirkan keangkuhan yang membuat seseorang memperilah diri atau budayanya. Memperilah diri dan budaya membuat kerusakan, kecemaran, dan hawa nafsu yang melawan kekudusan Tuhan menjadi sesuatu yang biasa dan umum. Kerusakan inilah yang membelenggu manusia ke dalam keadaan rohani yang palsu dan mati. Pembenaran diri selalu akan mematikan manusia. Tetapi yang lebih parah daripada semua ini adalah pembenaran diri akan menimbulkan kebencian kepada Allah. Ilah palsu yang bernama diri dan budaya sosial tidak ingin disamakan dengan ilah yang lain. Ilah palsu ini juga tidak mau disamakan dengan Allah yang sejati. Maka manusia yang sudah jatuh ke dalam belenggu seperti ini akan membenci Allah. Dan jika mereka membenci Allah, mereka akan membenci apa pun yang menyerupai Allah, apalagi yang sama dengan Allah. Maka, kebencian mereka kepada Allah membuat mereka juga pasti akan membenci Yesus.

Tetapi Anak Allah, yaitu Kristus justru menyatakan Allah dengan cara yang menghancurkan ilah palsu ini. Dia membuat kita menyadari keberdosaan kita, menyadari kemuliaan Allah, dan menerima dengan penuh kasih dan ucapan syukur penebusan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus. Yesus datang untuk menyatakan kasih-Nya, tetapi kasih-Nya ini baru bisa kita terima jika kita menyadari keadaan kita yang sebenarnya. Sang Anak Allah menyatakan kemuliaan Allah yang dikagumi oleh orang berdosa yang sadar dirinya berdosa. Kemuliaan ini dibenci oleh orang-orang yang menolak Tuhan, tetapi menjadi berkat yang teramat besar untuk pendosa besar seperti Saudara dan saya. Kita adalah anak-anak Allah yang dibebaskan dari keangkuhan dan pembenaran diri. Kita adalah anak-anak Allah yang disadarkan akan betapa tidak layaknya kita. Tetapi justru ketidaklayakan kita ini menjadi bukti dari kemuliaan Allah. Sang Anak Allah memanggil orang-orang hina ini untuk datang kepada Dia, percaya kepada-Nya, dan mengikut Dia. Kitalah orang-orang hina itu. Kiranya kita boleh dibebaskan dari dosa. Kiranya Allah sumber anugerah memberikan kita kesadaran akan keadaan ini dan mengizinkan kita mengikut Dia dengan penuh sukacita. Sukacita bukan karena keagungan kita, tetapi sukacita karena kehinaan kita tidak menggagalkan rencana Allah. Marilah, para pendosa dan orang-orang cemar, sadarilah kebutuhanmu akan Juru Selamat, dan datanglah kepada Yesus. Hanya di dalam Dia ada penebusan, pertobatan sejati, kemuliaan, dan kehidupan yang berlimpah, berlimpah di dalam kasih, kekudusan, dan kebenaran Allah. (JP)