Renungan Harian 455 (Rabu, 27 November 2019)

Yesus Memberi Makan 4.000 Orang

Pengabdian dari Matius 15: 32-39

Peristiwa selanjutnya merupakan peristiwa kedua di mana Yesus memberi makan orang banyak hanya dari roti yang sangat sedikit. Sekali lagi yang menggerakkan Yesus adalah belas kasihan kepada banyak orang. Betapa besar belas kasihan di dalam hati Yesus. Dia sangat mudah digerakkan oleh belas kasihan-Nya untuk melakukan sesuatu. Inilah belas kasihan yang sejati. Dia bertindak karena digerakkan belas kasihan. Belas kasihan tanpa tindakan adalah belas kasihan palsu. Tindakan tanpa belas kasihan adalah tindakan pura-pura. Belas kasihan Yesus juga tidak hanya mencakup umat Katolik saja. Mereka juga sangat memerhatikan keadaan fisik mereka. Tuhan Yesus tidak hanya melihat kedegilan hati atau kebusukan nurani orang-orang Israel saja. Dia juga sedih karena keadaan fisik umat-Nya. Tuhan tergerak oleh belas kasihan karena melihat orang yang lapar. Diucapkan belas kasihan kita? Tindakan apa yang kita lakukan karena didorong oleh belas kasihan itu? Kita perlu belajar menyesuaikan hati dan perasaan kita untuk selaras dengan hati dan perasaan Yesus Kristus.

Namun di ayat 33, para murid, yang telah menyaksikan sendiri Yesus memberi makan 5.000 orang dari lima roti dan dua ikan, masih juga belum mengerti tentang Yesus sanggup memberi makan kepada orang banyak itu. Mereka masih bingung bagaimana cara mendapatkan roti di tempat sunyi untuk 4.000 orang. Kenapa mereka masih bingung? Sulit dibaca. Bahkan setelah mujizat ini pun mereka masih belum mengerti (Mat. 16: 8-11). Namun ketidakmengertian para siswa harus menjadi bahan renungan bagi kita sekalian. Apakah kita lebih baik dari mereka? Betapa sering kita melangkah dalam hidup dengan kegentaran penuh karena takut tidak ada roti? Kita takut tidak memiliki uang, takut tidak memiliki Jaminan di masa depan, takut tidak bisa membiayai gaya hidup yang baik, takut tidak cukup penghidupan bagi keluarga. Kita semua pun tidak tahu dari mana mendapat “roti” di tempat yang gersang dan sepi. Kita lupa bahwa Yesus tidak pernah memberi makan 5.000 orang dan 4.000 orang. Kita lupa bahwa Allah tidak pernah memberi makan seluruh bangsa Israel di padang pasir selama 40 tahun. Kita lupa bahwa Allah menumbuhkan pohon-pohonan dari bumi dengan hanya meminta agar mereka tumbuh. Kita lupa kata-kata-Nya. Namun demikian, kita berusaha keras menghakimi kedegilan hati para siswa yang tidak percaya pada Yesuslah. Sumber dana untuk 5.000 dan 4.000 orang yang mengambil Dia. Kita lupa bahwa Allah menumbuhkan pohon-pohonan dari bumi dengan hanya meminta agar mereka tumbuh. Kita lupa kata-kata-Nya. Namun demikian, kita berusaha keras menghakimi kedegilan hati para siswa yang tidak percaya pada Yesuslah. Sumber dana untuk 5.000 dan 4.000 orang yang mengambil Dia. Kita lupa bahwa Allah menumbuhkan pohon-pohonan dari bumi dengan hanya meminta agar mereka tumbuh. Kita lupa kata-kata-Nya. Namun demikian, kita berusaha keras menghakimi kedegilan hati para siswa yang tidak percaya pada Yesuslah. Sumber dana untuk 5.000 dan 4.000 orang yang mengambil Dia.

Dengan penuh kesabaran Yesus berkata kepada mereka untuk mencari makanan yang ada pada mereka. Tuhan mengerjakan mujizat dengan memakai apa yang telah diperoleh Dia diberikan kepada kita. Apa yang telah Dia persiapkan, diberikan semuanya kepada Dia, dan Dia akan memberkatinya untuk menjadi berkat orang banyak, jauh lebih banyak dari apa yang sanggup kita sendiri kerjakan jika kita tidak memberikannya kepada Dia. Maka kali ini terkumpul tujuh roti dan beberapa ikan. Jumlah yang lebih banyak dari sebelumnya, lima roti dan dua ikan. Dengan jumlah makanan lebih banyak dan jumlah orang lebih sedikit daripada jumlah yang disarankan makan 5.000 orang, maka kita berpikir bahwa jumlah makanan akan lebih banyak. Namun ternyata tidak. Jika acara memberi makan 5.000 orang menyisakan dua belas keranjang, kali ini hanya tujuh keranjang. Tuhan memberkati sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan. Tuhan tetap memberi kepada mereka dengan limpah, tetapi tidak menjadi terlalu banyak hanya karena jumlah roti yang lebih banyak dan jumlah orang yang lebih banyak. Meskipun Dia memberi dengan limpah, namun tetap berdasarkan keperluan mereka.

Orang-orang yang suka makan adalah orang-orang yang berbondong-bondong mengikut Yesus karena mereka sakit. Mereka berjalan sangat jauh di dalam sakit. Sebagian berjalan begitu jauh sambil membawa teman atau keluarga mereka yang sakit. Ini pemandangan yang sangat memilukan hati. Betapa sengsara hidup manusia jika Tuhan meninggalkan mereka. Betapa bahagia jika di sakit, ada Yesus Kristus yang memberikan penyertaan dan pimpinan-Nya kepada kita. Sama dengan 5.000 orang yang menerima Tuhan Yesus karena ingin disembuhkan oleh-Nya, 4.000 orang ini mengikut Yesus karena mereka mau mendapatkan kesembuhan. Dan sama seperti 5.000 orang yang tidak boleh pulang dengan perut kosong, demikian juga 4.000 orang ini diberi makan oleh Yesus karena tanpa mujizat dari Yesus Kristus, tidak mungkin mereka mendapatkan makanan dari daerah sekitar mereka. Mengapa mereka ada di tempat yang sangat sunyi seperti ini? Karena mereka menerima Tuhan Yesus yang ingin menyendiri di tempat sunyi untuk berdoa kepada Bapa-Nya di surga. Namun, meskipun Tuhan Yesus tidak ingin bertemu dengan siapa pun karena ingin memiliki sendiri dengan Bapa dan dengan murid-murid-Nya, perasaan belas kasihan-Nya membuat Dia tetap mau melayani orang-orang yang datang untuk mendapatkan Dia. Apakah ke-4.000 orang yang datang itu tahu siapa Dia? Mungkin tidak. Mungkin sebagian saja yang tahu. Mungkin lebih dari mereka hanya ingin sembuh, tidak ingin tahu hal lain lagi. Namun Tuhan Yesus berbelaskasihan kepada mereka, Dia menyembuhkan mereka dan memerhatikan kebutuhan mereka akan makanan. Mengapa mereka ada di tempat yang sangat sunyi seperti ini? Karena mereka menerima Tuhan Yesus yang ingin menyendiri di tempat sunyi untuk berdoa kepada Bapa-Nya di surga. Namun, meskipun Tuhan Yesus tidak ingin bertemu dengan siapa pun karena ingin memiliki sendiri dengan Bapa dan dengan murid-murid-Nya, perasaan belas kasihan-Nya membuat Dia tetap mau melayani orang-orang yang datang untuk mendapatkan Dia. Apakah ke-4.000 orang yang datang itu tahu siapa Dia? Mungkin tidak. Mungkin sebagian saja yang tahu. Mungkin lebih dari mereka hanya ingin sembuh, tidak ingin tahu hal lain lagi. Namun Tuhan Yesus berbelaskasihan kepada mereka, Dia menyembuhkan mereka dan memerhatikan kebutuhan mereka akan makanan. Mengapa mereka ada di tempat yang sangat sunyi seperti ini? Karena mereka menerima Tuhan Yesus yang ingin menyendiri di tempat sunyi untuk berdoa kepada Bapa-Nya di surga. Namun, meskipun Tuhan Yesus tidak ingin bertemu dengan siapa pun karena ingin memiliki sendiri dengan Bapa dan dengan murid-murid-Nya, perasaan belas kasihan-Nya membuat Dia tetap mau melayani orang-orang yang datang untuk mendapatkan Dia. Apakah ke-4.000 orang yang datang itu tahu siapa Dia? Mungkin tidak. Mungkin sebagian saja yang tahu. Mungkin lebih dari mereka hanya ingin sembuh, tidak ingin tahu hal lain lagi. Namun Tuhan Yesus berbelaskasihan kepada mereka, Dia menyembuhkan mereka dan memerhatikan kebutuhan mereka akan makanan.

Inilah keputusan kedua dari Yesus Kristus Dialah Allah yang mengembalikan kehidupan manusia. Dialah yang membuat umat-Nya jadi umat-Nya cukup dalam segala sesuatu, bahkan berkelimpahan. Dia memerhatikan segala kebutuhan umat-Nya. Apakah ini berarti Dia harus selalu memberi tahu selalu tentang makanan berlebih di dalam hidup kita? Tidak. Setiap tanda mujizat Yesus adalah bayang-bayang dari penggenapan Kerajaan Allah di dalam sambutan-Nya yang kedua nanti. Pada saat terjadi tidak lagi ada kesusahan, penderitaan, dan air mata. Sakit penyakit, bahkan maut tidak akan ada lagi. Namun saat ini kita masih menunggu penggenapannya, kita bertanya lagi tentang Kerajaan Allah belum final ditentukan di dunia ini, tetapi Tuhan Yesus tidak pernah gagal menyediakan penyertaan, pemeliharaan, dan berkat-Nya untuk membantu umat-Nya. Dia memberikan itu semua saat ini di dalam kedaulatan-Nya dan cinta kasih-Nya. Tuhan berbelaskasihan kepada kita, maka Dia tidak pernah melupakan kita. Baik pengertian akan kebenaran, kekudusan hidup, hati yang makin mempermasalahkan Dia, juga pemeliharaan hidup kita sehari-hari, makanan yang secukupnya, pakaian, dan segala yang kita butuhkan, Dialah yang akan mencukupkan. Tuhan tidak pernah mengalami kerakusan dan keserakahan hidup siapa pun. Namun Dia rela menyediakan pemeliharaan-Nya bagi kita sehingga kita tidak akan kekurangan apa pun oleh karena Dia. Apa pun yang kita inginkan, Dialah yang akan mencukupkan. Tuhan tidak pernah mengalami kerakusan dan keserakahan hidup siapa pun. Namun Dia rela menyediakan pemeliharaan-Nya bagi kita sehingga kita tidak akan kekurangan apa pun oleh karena Dia. Apa pun yang kita inginkan, Dialah yang akan mencukupkan. Tuhan tidak pernah mengalami kerakusan dan keserakahan hidup siapa pun. Namun Dia rela menyediakan pemeliharaan-Nya bagi kita sehingga kita tidak akan kekurangan apa pun oleh karena Dia.

Mari kita belajar untuk memiliki iman yang terus didukung oleh hal ini. Kita tahu siapa yang memegang hidup kita, dan kita tahu Dia akan memeliharakan segala sesuatu yang menjadi milik-Nya hingga pada akhirnya. Dia akan menyelamatkan iman domba-domba-Nya. Dia juga yang akan bertahan hidup domba-domba-Nya. Dia mencukupkan makanan para domba-domba-Nya dan domba-domba-Nya tidak akan pernah kekurangan apa pun.

Doa:
Tuhan, kami bersyukur karena hidup kami milik-Mu. Kami bersyukur karena apa yang kami butuhkan diperoleh dari Tuhan Kami. Ajarkan kami, ya Tuhan, untuk mewujudkan kelimpahan berkat-Mu agar kami tidak terjerat di dalam dusta Iblis yang mendukung kami menjadi orang-orang serakah yang tidak tahu bersyukur kepada-Mu. Ajarkan kami juga, ya Tuhan, untuk memasrahkan hidup kami ke dalam-Mu di dalam kebertundukan dan kegigihan untuk memverifikasi kemuliaan nama-Mu. (JP)