Renungan Harian 457 (Jumat, 29 November 2019)

Ketidakpercayaan Para Murid

Pengabdian dari Matius 16:5-12

Jikalau orang Farisi dan Saduki meragukan Tuhan Yesus dan berniat membantah Dia, maka murid-murid, jatuh di dalam keraguan yang sama beberapa kali, tidak memiliki motivasi jahat terhadap Yesus. Namun demikian, mereka tetap memiliki kedegilan hati. Betapa sabarnya Tuhan Yesus terhadap mereka. Betapa sabarnya Tuhan Yesus terhadap kita, yang sebenarnya tidak lebih baik dari mereka. Dalam hal apakah para murid meragukan Tuhan Yesus? Dalam hal roti, lagi-lagi dalam hal roti. Setelah Acara Yesus memberi makan 5.000 orang, mereka masih melihat 4.000 orang akan diberi makan oleh Yesus. Setelah Cerita Yesus memberi makan 5.000 orang dan 4.000 orang, mereka masih belum mengerti bagaimana mereka bisa mendapatkan roti di tengah-tengah danau. Mereka lupa membawa roti, dan karena mereka mempertimbangkan Yesus kecewa dan marah karena tidak ada makanan. Bagaimana mungkin Yesus bisa menjadi marah dan kecewa karena tidak ada makanan? Dia yang berpuasa selama 40 hari dan tetap teguh menanti berkat dari Tuhan. Dia tidak goyah kompilasi Iblis disiapkan Dia untuk mengubah batu menjadi roti. Dia yang memberi makan 5.000 orang dari 5 roti, dan 4.000 orang dari 7 roti, bagaimana mungkin Dia menjadi begitu sulit karena tidak ada roti?

Tuhan Yesus yang sebenarnya sedang mengajar para murid untuk tidak terlalu mudah menerima dari para petinggi agama. Sementara itu, agama mereka adalah agama yang tinggi, tetapi agama mereka yang kosong dan sangat rumit tentang Tuhan Yesus. Mereka adalah wakil Allah tetapi menyuarakan kebenaran yang disampaikan Anak Allah sendiri. Ini sangat rusak. Itu sebabnya Tuhan menyamakan pembicaraan mereka dengan ragi. Sama seperti ragi yang tidak diubah untuk akirnya dia memengaruhi adonan, demikian halnya dengan para Farisi dan Saduki itu pun tidak diterjemahkan. Tidak banyak orang tahu tentang konsep mereka di mana. Dan tidak banyak orang yang menentangnya sedang menjauhkan umat dari Tuhan sendiri. Ajaran mereka yang mendukung Kristus yang sedang membawa kebinasaan di tengah-tengah umat Tuhan. Mereka sedang meracuni seluruh adonan dengan cara yang sangat halus sehingga tidak banyak yang tahu. Itu adalah Tuhan Yesus, para murid terhadap ragi Farisi dan Saduki.

Para murid telah menghabiskan waktu bersama-sama Yesus tetap mereka tidak mengenal Dia. Mereka tidak mengenal sifat-Nya, cara-Nya mengajar, dan perumpamaan-perumpamaan yang Dia pakai. Alangkah kasihan orang-orang yang mendapatkan kesempatan untuk mengenal Yesus dari dekat dan menghabiskan waktu begitu sering dengan Dia terbukti tidak mampu membicarakan apa yang penting yang dibutuhkan mereka. Betapa kasihan orang yang sangat dekat dengan Allah ternyata tidak mengenal Dia. Kiranya hal yang sama tidak terjadi pada kita. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang hanya fenomena begitu dekat dengan Tuhan, tetapi tidak ada pengenalan yang benar akan Dia. Betapa kasihan orang-orang yang sangat rajin ke gereja, aktif melayani ke sana sini, begitu diaktifkan-nyala untuk Tuhan, Tapi sungguh tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan! Juga sama salahnya jika ada orang yang begitu percaya Tuhan di dalam konsep dogmatik yang begitu ketat dan benar, tetapi tidak memiliki hati untuk Tuhan. Dua-duanya tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan. Yang satu mengaku mengenal Dia. Begitu fenomena begitu dekat dengan Tuhan, tetapi sepertinya semua yang terlihat palsu. Satu lagi yang disetujui sudah cukup diakui Tuhan yang memperkenalkannya dikurung oleh standar akademik yang begitu kaku dan remeh. Orang Farisi dan Saduki mengenal Tuhan dengan standar tradisi mereka yang sangat tidak memadai untuk membuat mereka mengenal Tuhan sepenuhnya. Namun para murid adalah orang-orang yang memiliki banyak waktu dan kebersamaan dengan Yesus, tetapi mereka tidak mengenal Tuhan Yesus. Juga sama salahnya jika ada orang yang begitu percaya Tuhan di dalam konsep dogmatik yang begitu ketat dan benar, tetapi tidak memiliki hati untuk Tuhan. Dua-duanya tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan. Yang satu mengaku mengenal Dia. Begitu fenomena begitu dekat dengan Tuhan, tetapi sepertinya semua yang terlihat palsu. Satu lagi yang disetujui sudah cukup diakui Tuhan yang memperkenalkannya dikurung oleh standar akademik yang begitu kaku dan remeh. Orang Farisi dan Saduki mengenal Tuhan dengan standar tradisi mereka yang sangat tidak memadai untuk membuat mereka mengenal Tuhan sepenuhnya. Namun para murid adalah orang-orang yang memiliki banyak waktu dan kebersamaan dengan Yesus, tetapi mereka tidak mengenal Tuhan Yesus. Juga sama salahnya jika ada orang yang begitu percaya Tuhan di dalam konsep dogmatik yang begitu ketat dan benar, tetapi tidak memiliki hati untuk Tuhan. Dua-duanya tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan. Yang satu mengaku mengenal Dia. Begitu fenomena begitu dekat dengan Tuhan, tetapi sepertinya semua yang terlihat palsu. Satu lagi yang disetujui sudah cukup diakui Tuhan yang memperkenalkannya dikurung oleh standar akademik yang begitu kaku dan remeh. Orang Farisi dan Saduki mengenal Tuhan dengan standar tradisi mereka yang sangat tidak memadai untuk membuat mereka mengenal Tuhan sepenuhnya. Namun para murid adalah orang-orang yang memiliki banyak waktu dan kebersamaan dengan Yesus, tetapi mereka tidak mengenal Tuhan Yesus. Tapi tidak memiliki hati untuk Tuhan. Dua-duanya tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan. Yang satu mengaku mengenal Dia. Begitu fenomena begitu dekat dengan Tuhan, tetapi sepertinya semua yang terlihat palsu. Satu lagi yang disetujui sudah cukup diakui Tuhan yang memperkenalkannya dikurung oleh standar akademik yang begitu kaku dan remeh. Orang Farisi dan Saduki mengenal Tuhan dengan standar tradisi mereka yang sangat tidak memadai untuk membuat mereka mengenal Tuhan sepenuhnya. Namun para murid adalah orang-orang yang memiliki banyak waktu dan kebersamaan dengan Yesus, tetapi mereka tidak mengenal Tuhan Yesus. Tapi tidak memiliki hati untuk Tuhan. Dua-duanya tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan. Yang satu mengaku mengenal Dia. Begitu fenomena begitu dekat dengan Tuhan, tetapi sepertinya semua yang terlihat palsu. Satu lagi yang disetujui sudah cukup diakui Tuhan yang memperkenalkannya dikurung oleh standar akademik yang begitu kaku dan remeh. Orang Farisi dan Saduki mengenal Tuhan dengan standar tradisi mereka yang sangat tidak memadai untuk membuat mereka mengenal Tuhan sepenuhnya. Namun para murid adalah orang-orang yang memiliki banyak waktu dan kebersamaan dengan Yesus, tetapi mereka tidak mengenal Tuhan Yesus. Satu lagi yang disetujui sudah cukup diakui Tuhan yang memperkenalkannya dikurung oleh standar akademik yang begitu kaku dan remeh. Orang Farisi dan Saduki mengenal Tuhan dengan standar tradisi mereka yang sangat tidak memadai untuk membuat mereka mengenal Tuhan sepenuhnya. Namun para murid adalah orang-orang yang memiliki banyak waktu dan kebersamaan dengan Yesus, tetapi mereka tidak mengenal Tuhan Yesus. Satu lagi yang disetujui sudah cukup diakui Tuhan yang memperkenalkannya dikurung oleh standar akademik yang begitu kaku dan remeh. Orang Farisi dan Saduki mengenal Tuhan dengan standar tradisi mereka yang sangat tidak memadai untuk membuat mereka mengenal Tuhan sepenuhnya. Namun para murid adalah orang-orang yang memiliki banyak waktu dan kebersamaan dengan Yesus, tetapi mereka tidak mengenal Tuhan Yesus.

Yesus menegur mereka karena mereka masih mempermasalahkan hal-hal yang sifatnya kompilasi sementara Yesus berbicara tentang hal-hal yang sifatnya kekal. Apakah bicara tentang roti itu tidak penting? Atau berdosa, mungkin? Tentu tidak. Sementara kompilasi sedang berbicara tentang hal yang melampaui kehidupan di dunia ini, maka tentu saja sangat bodoh jika kita melanjutkannya dengan membicarakan hal-hal yang ada di dunia ini.

Tuhan Yesus sering kali menggunakan hal-hal yang sederhana, yang ada di sekitar mereka untuk menyediakan yang sangat rumit tentang Kerajaan Allah. Ini merupakan cara mengajar dari Tuhan Yesus yang sangat luar biasa. Membicarakan hal yang ada di dunia ini untuk berbicara tentang Kerajaan Allah yang melampaui dunia ini. Bicara tentang menimba air, lalu berbicara tentang air hidup (Yoh. 4: 7-14). Bicara tentang penabur, lalu mengumpamakan Kerajaan Allah dengan seorang penabur. Tuhan Yesus menerima orang-orang paling sederhana dengan pesan paling agung dan paling mulia, yaitu tentang Kerajaan Allah.

Yesus tahu pelayanan-Nya sangat singkat. Pengetahuan seperti ini membuat Dia tidak akan membuang-buang waktu dengan meminta hal-hal yang remeh dan tidak penting. Seorang yang sudah sekarat dan segera akan meminta Tuhan tidak mungkin menghabiskan hari-hari akhirnya dengan hal-hal yang tidak berguna. Demikian juga Yesus, dalam diskusi tentang siswa-murid-Nya, tidak akan membahas tentang hal-hal remeh seperti untung rugi pribadi-Nya. Dia tidak akan membuang hal yang tidak penting. Dia tidak akan melepaskan ayah-Nya untuk sesuatu yang tidak mempermuliakan Bapa-Nya di surga. Mengapa para murid tidak mengerti hal ini? Karena belum juga mengenal dengan benar siapa Kristus. Orang-orang Kristen yang mengikut Yesus sudah demikian lama,

Kita semua akan menjadi orang-orang Kristen seperti ini jika kita tidak peka membawa dua hal. Hal pertama adalah kerinduan untuk melakukan kehendak Tuhan (Yoh. 7:17), dan yang kedua adalah kepekaan mendengarkan suara Tuhan untuk menerima Dia dengan tepat dan setia (Yoh. 10:27). Para siswa mungkin masih belum peka, tetapi mereka sedang dalam proses untuk menjadi peka dan mengerti kehendak Tuhan dengan tepat. Mereka sedang dibor oleh Tuhan Yesus sendiri sehingga membuat lahan mereka semakin rindu membuat kehendak-Nya dan mengambil Dia dengan setia. Mereka akhirnya menjadi pemimpin-pemimpin gereja yang memakai Tuhan dan diberkati luar biasa dalam pelayanan. Mereka setia, peka terhadap kehendak Tuhan, dan sangat setia memberitakan Injil-Nya. Orang-orang sederhana yang belum mengerti kehendak Tuhan. Kita harus melihat diri kita sendiri dalam posisi para siswa yang masih belum tahu apa-apa. Kita harus sadar bahwa kita sama bodohnya dengan mereka. Kita harus akui bahwa kita sama degilnya dengan mereka. Dengan kesadaran ini barulah harapan akan kita terus dikoreksi oleh Tuhan. Dengan demikian barulah kita akan semakin terasah untuk mengenal Dia dan peka terhadap kehendak-Nya. Terasah dengan melatih diri akan melakukan kehendak Tuhan untuk menyenangkan hati-Nya, dan melatih diri dengan mau belajar hidup dengan setia sampai pada hal yang kecil dalam hidup kita pun Tuhan boleh berkenan. Dengan kesadaran ini barulah harapan akan kita terus dikoreksi oleh Tuhan. Dengan demikian barulah kita akan semakin terasah untuk mengenal Dia dan peka terhadap kehendak-Nya. Terasah dengan melatih diri akan melakukan kehendak Tuhan untuk menyenangkan hati-Nya, dan melatih diri dengan mau belajar hidup dengan setia sampai pada hal yang kecil dalam hidup kita pun Tuhan boleh berkenan. Dengan kesadaran ini barulah harapan akan kita terus dikoreksi oleh Tuhan. Dengan demikian barulah kita akan semakin terasah untuk mengenal Dia dan peka terhadap kehendak-Nya. Terasah dengan melatih diri akan melakukan kehendak Tuhan untuk menyenangkan hati-Nya, dan melatih diri dengan mau belajar hidup dengan setia sampai pada hal yang kecil dalam hidup kita pun Tuhan boleh berkenan.

Doa:
Tuhan, sangat menantang kami dari standar-Mu. Terima kasih kami dari apa yang diberikan. Karena itu, ya Tuhan, kami memohon untuk pindah Tuhan berkenan mengubah hati kami. Izinkan kami peka terhadap kehidupan-Mu dan izinkan kami memiliki hati yang terpaut untuk-Mu dan setia kepada-Mu sampai akhir hidup kami. (JP)