Renungan Harian 461 (Selasa, 3 Desember 2019)

Pintu Hidup Kekal

Devotion from Yohanes 10:6-13

Orang banyak masih belum memahami maksud Yesus. Yesus meneruskan perumpamaan-Nya dengan gambaran tentang pintu. Jika sebelumnya Yesus berbicara tentang penjaga pintu, sekarang Dia berbicara tentang diri-Nya sebagai pintu. Hal ini adalah ciri Injil Yohanes. Perumpamaan dengan simbol yang sama tetapi mengandung pengertian yang semakin penting. Yesus bukanlah penjaga pintu seperti yang dimaksudkan di dalam ayat 3. Yesus adalah pintu. Ayat 7 mengatakan bahwa Dia adalah pintu bagi domba-domba itu (lebih tepat diterjemahkan “bagi” domba-domba ketimbang “ke” domba-domba). Pintu bagi domba-domba? Pintu apakah yang dimaksud? Di dalam pengertian saat itu, pintu (gerbang), jika dikaitkan dengan hidup damai dan keselamatan (ay. 9), adalah gerbang menuju surga. Yesus sedang mengatakan bahwa dengan melalui Dia sebagai gerbang, domba-domba itu akan masuk ke tempat yang penuh dengan damai sejahtera. Yesus membawa para domba ke tempat yang memberikan hidup berkelimpahan. Dalam ayat 8 dan 10 Yesus mempertentangkan diri-Nya dengan para gembala palsu, yaitu para pencuri. Mereka mematikan domba-domba, tetapi Yesus Kristus memberikan kepada mereka hidup yang kekal. Gembala palsu dipertentangkan dengan Gembala yang baik, dan kematian dan kebinasaan dipertentangkan dengan hidup yang berkelimpahan. Hidup berkelimpahan dan hidup kekal akan diberikan oleh Yesus Kristus  kepada semua domba-domba-Nya. Domba-domba-Nya yang sebelumnya sedang menuju kematian, bahkan sedang menghidupi kematian, karena tanpa Allah tidak ada hidup. Pencuri datang untuk menjauhkan para domba ini dari Allah. Mereka sedang menuntun para domba menuju kematian, yaitu hidup kosong tanpa Allah.

Inilah pesan penting di dalam bagian ini. Yesus Kristus memberi hidup yang berkelimpahan. Dia memelihara domba-domba-Nya di dalam ketaatan kepada Bapa-Nya di surga. Dia memberikan pengenalan akan Allah, kasih Allah, pengorbanan penebusan, dan penyertaan yang sempurna bagi umat Allah. Inilah hidup yang berkelimpahan. Penyertaan, penebusan, kasih, dan pengenalan akan Allah, semua ini harus ada dalam hidup manusia. Tanpa hal-hal ini, manusia mati. Jika saja domba-domba itu dibiarkan di tangan para pencuri dan perampok, maka mereka akan menjadi kumpulan orang yang hidup sama dengan dunia ini. Mereka tidak akan mengenal Allah, mereka akan hidup dengan cemar, sama seperti hidup orang-orang yang tidak mengenal Allah, dan mereka akan hidup tanpa persekutuan dengan Allah. Dan karena mereka ini menjadikan diri-Nya seteru Allah, mereka akan dihakimi oleh Allah. Inilah kematian itu. Mati dan hidup bukan saja ditentukan dari aktivitas fisik manusia. Mati dan hidup terutama ditentukan oleh relasi dengan Allah. Tanpa relasi dengan Allah manusia mati. Gembala palsu tidak memberikan ini. Pencuri akan mengambil ini. Tetapi Gembala sejati membawa kita ke dalam kehidupan yang sejati. Kehidupan di dalam Allah!

Tetapi bagaimanakah caranya Dia membawa itu bagi domba-domba-Nya? Ayat 11 mengatakan bahwa Yesus membawa hidup yang berkelimpahan bagi para domba-Nya melalui kematian-Nya. Tuhan kita mengalami kematian demi membawa kita keluar dari kematian. Dia menyerahkan nyawa-Nya supaya kita tidak lagi hidup di dalam perhambaan kepada kematian. Dia menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Di dalam pengorbanan Kristus ada hidup yang berkelimpahan bagi setiap orang yang telah ditebus-Nya. Hidup diberikan demi domba-domba memperoleh hidup. Dengan nyawa-Nya domba-domba dapat memperoleh hidup yang berkelimpahan. Dengan kematian-Nya kita semua memperoleh kehidupan yang sejati. Inilah pintu gerbang surga yang dimaksudkan oleh Yesus. Ini pintu gerbang yang lain dengan pintu gerbang mana pun yang dipikirkan oleh orang saat itu. Pintu ini bukan pintu berlian yang penuh cahaya. Ini bukan pintu gerbang emas dengan jalanan emas. Pintu gerbang ini adalah pintu dengan lumuran darah Sang Anak Domba. Dengan kematian-Nya di kayu salib, maka pintu gerbang itu pun tercipta. Inilah jalan yang dapat dilalui para domba untuk memasuki hidup yang penuh kelimpahan. Berlimpah di dalam kasih Bapa, kemuliaan Allah, dan penyertaan-Nya yang penuh.

Untuk direnungkan:
Tidak seorang pun dapat memperoleh hidup yang kekal. Jangankan memperoleh, memahami hidup kekal pun sulit. Sering kali manusia memahami pengertian hidup kekal sebagai hidup yang tidak berkesudahan, terus menerus tanpa berakhir. Ini bukanlah hidup kekal yang dimaksudkan di dalam Injil Yohanes. Penjelasan tentang hidup kekal ada pada ayat 10 dan ada pada Yohanes 17:3. Hidup kekal adalah hidup yang penuh dengan kelimpahan bersama dengan Allah dan Kristus. Apakah gunanya seseorang menjalani hidup yang tidak berhenti sampai selama-lamanya tanpa Allah dan Kristus? Itu bukan hidup. Itu kematian! Sadarkah kita bahwa tanpa Allah kita mati? Orang-orang dunia ini terus menerus menggantikan kehadiran Allah dengan hal-hal lain. Kehadiran Allah tidak bisa diganti hal lain! Apa pun itu, berapa pun banyaknya, tidak akan mungkin menggantikan kehadiran Allah. Tanpa Allah manusia mati, dan tidak ada apa pun yang dapat menyelamatkan dia. Dia hidup di dalam kematiannya. Hidup di dalam hawa nafsu, hidup di dalam damai sejahtera palsu, hidup tanpa Allah, hidup kering, kosong, gelap, tanpa harapan. Oh, manusia… apakah yang dapat engkau peroleh untuk menggantikan kehadiran Allah? Setan berbisik di telingamu mengatakan bahwa engkau tidak memerlukan Allah. Dunia berteriak di sekelilingmu menawarkan pengganti Allah. Semua adalah kosong. Semua tidak bisa menolongmu dari hidup yang mati! Tanpa Allah tidak ada relasi dan kasih. Tanpa Allah tidak ada pengharapan. Tanpa Allah tidak ada damai sejahtera. Bagaimana mungkin ada damai sejahtera kalau sumber damai sejahtera itu sedang menjadi musuhmu? Tidak ada damai, tidak ada hidup. Tanpa Allah manusia mati!

Tetapi Sang Gembala datang, untuknya penjaga pintu kandang membukakan pintu. Dia memanggil domba-domba-Nya dengan nama mereka. Dia tahu nama mereka. Bukan hanya tahu, Dialah yang memberi nama. Dialah yang memberi identitas. Dialah yang memberi makna hidup bagi domba-domba-Nya. Dia pun menuntun kawanan domba ini keluar. Ke manakah? Dia membawa domba-domba-Nya menuju ke sebuah gerbang. Gerbang surga yang permai! Ada apakah di surga ini? Ada kasih yang sempurna, ada kemuliaan yang tiada tara dari kehadiran Allah bersama dengan umat-Nya. Inilah kehadiran yang telah dinanti-nantikan manusia sejak kejatuhan pertama di taman Eden. Inilah pengharapan sejati manusia, yaitu Allahnya rela berdiam bersama dengan dia. Tetapi pintu gerbang itu tidak sebagus yang dipikirkan sebelumnya. Bahkan sangat menakutkan! Pintu gerbang itu adalah salib tempat Sang Gembala dibantai. Pintu gerbang itu adalah tempat Yesus Kristus digantung, dipaku, disiksa, dan dihina sampai Dia mati. Inilah pintu gerbang itu. Golgota! Bukit inilah gerbang ke surga, tempat Dia memberikan nyawa-Nya agar kita memperoleh hidup.

Doa:
Tuhan, berikanlah kami senantiasa hidup yang kekal itu. Hidup yang berkelimpahan di dalam Engkau. Tolong, ya Tuhan, bimbing jiwa kami untuk merindukan-Mu. Bimbing kami untuk melihat bahwa di luar Engkau hanya ada kematian. Tolong kami untuk menerima dengan segenap hati kami pintu menuju surga, yaitu pengorbanan Yesus Kristus. Pengorbanan Sang Gembala kami memberikan kami apa yang kami perlukan, tetapi yang dahulu tidak pernah kami sadari. Kami sungguh bersyukur untuk itu, Tuhan. Kami menikmati kasih-Mu, kehadiran-Mu, kemuliaan-Mu, hikmat-Mu, semua melalui Salib Kristus. Inilah hidup berkelimpahan itu, ya Tuhan. Terpujilah kasih karunia-Mu selamanya. (JP)