Gembala Yang Rela Mati

Devotion from Yohanes 10:11-18

Gembala yang sejati berbeda dengan pencuri. Pencuri tidak pernah peduli kesejahteraan para domba. Pencuri hanya berusaha untuk mengambil dan merampok apa yang bisa dia rampas dari para domba. Gembala yang sejati berusaha untuk memberi apa pun yang perlu Dia beri agar para domba-Nya sejahtera. Pemimpin politik harus meneladani ini. Pemimpin agama juga harus meneladani ini. Para pemimpin agama di Israel saat itu adalah para perampok. Mereka tidak memperkenalkan pengharapan sejati di dalam Allah, mereka mengajarkan tradisi kosong yang tidak mengaitkan orang yang mendengarnya kepada kasih akan Allah. Yesus mengingatkan di dalam ayat 12 bahwa pencuri yang hanya mementingkan diri akan lari jika bahaya datang. Gembala yang palsu akan mencari keamanan sendiri, sedangkan Sang Gembala yang sejati akan memberikan nyawa-Nya. Karena para gembala palsu itulah maka Israel tercerai berai. Serigala datang dan mereka semua tercerai berai. Tercerai berai ini istilah yang sering dipakai untuk menggambarkan keadaan Israel yang tanpa gembala (1Raj. 22:36-37, Za. 13:7) ataupun keadaan Israel yang dibuang ke Babel (Yeh. 34:5-8). Binatang buas memangsa domba-domba adalah gambaran dari pembuangan Israel. Gembala sejati rela berada di dalam keadaan seperti ini, rela menanggung pembuangan Israel, rela menanggung murka Allah kepada Israel supaya Israel dapat kembali dikumpulkan menjadi satu umat.

Setelah dibuang, Israel sangat rindu dipulihkan kembali menjadi satu. Itulah sebabnya istilah “kol Yisrael” atau “seluruh Israel” menjadi istilah yang berulang-ulang dipakai untuk mengharapkan pemulihan Israel. Setelah pulih dari pembuangan Israel akan bersatu. Tidak lagi pecah. Tidak lagi dibagi utara dan selatan. Israel akan menjadi gabungan yang sempurna dari 12 suku. Itulah sebabnya angka 12 menjadi simbol kesatuan Israel, simbol pengharapan baru setelah pembuangan. Siapakah yang akan menyatukan kembali Israel? Anak Daud, Yesus Kristus (Yoh. 11:52). Yesus Kristus akan menyatukan seluruh umat Tuhan dengan kematian-Nya (Yoh. 10:14-15) untuk membawa seluruh umat itu ke dalam pengenalan akan Bapa dan Anak-Nya. Pengenalan yang dimaksud di dalam Injil Yohanes bukan sekadar tahu di dalam pikiran. Pengenalan berarti mengasihi, memberikan komitmen, menikmati, dan memberi diri seutuhnya ke dalam sebuah relasi. Keutuhan umat Tuhan yang diikat oleh kasih, komitmen, sukacita di dalam Tuhan, satu, dan tidak terpecah, inilah yang akan diberikan oleh Kristus sebagai Sang Gembala bagi seluruh Israel. Sama seperti Dia diikat dengan kasih, komitmen, sukacita, dan segenap hati berelasi dengan Bapa-Nya, demikian Dia memberikan kasih, komitmen, sukacita, dan dedikasi relasi itu kepada kita domba-domba-Nya. Dia memberikannya dengan cara menyerahkan nyawa-Nya. Kematian-Nya mendamaikan kita dengan Allah. Kematian-Nya mematikan ego dan kejahatan kita. Kematian-Nya menjadi dasar bagi komitmen, kasih, dan relasi kita dengan Allah. Inilah yang Dia kerjakan bagi domba-domba-Nya. Di dalam ayat 16 bahkan dikatakan bahwa Dia menyatukan domba-domba lain yang bukan dari kandang Israel. Dia menyatukan seluruh umat Tuhan di seluruh dunia. Anak-anak Tuhanlah yang akan Kristus satukan, bukan hanya Israel (Yoh. 11:52). Kesatuan seluruh umat inilah yang menyenangkan hati Bapa di surga (ay. 17). Bapa di surga mengasihi Kristus bukan karena Dia mati, tetapi karena kerelaan-Nya membayar apa yang diperlukan untuk kesatuan umat-Nya. Apa yang dihancurkan oleh para gembala palsu sekarang dipulihkan oleh Kristus. Gembala palsu mematikan dan mencerai-beraikan umat Tuhan, tetapi Sang Gembala sejati, meskipun Dia harus dipukul sampai mati, akhirnya berhasil menyatukan kembali anak-anak Tuhan di seluruh dunia sepanjang zaman. Israel menjadi satu umat yang sangat besar. Israel tidak lagi terdiri dari satu bangsa, tetapi berbagai bangsa. Israel bukan lagi daerah kecil di sekitar Palestina, tetapi memenuhi seluruh bumi. Seluruh bumi ditundukkan oleh manusia yang tunduk kepada Tuhan, dikepalai oleh Satu Gembala yang rela taat sampai mati demi menjalankan kehendak Bapa.

Di dalam ayat 18 Yesus mengatakan bahwa Dia memberikan nyawa-Nya menurut kehendak-Nya sendiri, bukan karena paksaan. Inilah pernyataan kasih Kristus. Dia tidak terpaksa mati bagi domba-domba-Nya, Dia rela mati bagi domba-domba-Nya. Pengorbanan-Nya dijalankan-Nya di dalam kasih yang sempurna. Karena kasih-Nya yang besar bagi kita semua Dia bertekun di dalam penderitaan dan menghadapi kematian. Dia rela mati karena kasih. Bukan karena terpaksa, tetapi karena dorongan kasih. Tugas dan kerelaan menjadi satu di dalam Kristus. Ketaatan dan gairah ingin menjalankan menjadi satu. Keharusan dan kasih menjadi satu di dalam salib Kristus.

Untuk direnungkan:
Yesus mati untuk menyatukan umat Tuhan agar kita hidup di dalam kasih dan sukacita sejati dari Allah. Dia mati untuk membuat kita menjadi satu umat. Satu umat bukan berarti satu denominasi. Satu Israel bukan berarti satu suku. 12 suku, tetapi satu bangsa. Banyak denominasi, tetapi satu tubuh Kristus. Apakah yang menyatukan seluruh umat? Dua hal yang sangat penting adalah pengenalan dan kasih. Sebenarnya dua hal ini adalah satu di dalam istilah “mengenal”: Mengenal berarti mengasihi, mengasihi karena mengenal. Tuhan ingin umat-Nya menjadi satu di dalam pengenalan akan Bapa dan akan Kristus. Mari renungkan sejenak hal ini. Bagaimanakah sikap kita kepada orang lain? Bagaimanakah sikap satu gereja terhadap gereja lain? Adakah kasih dan kerinduan untuk berkorban demi kesatuan ini? Adakah ingatan kepada sengsara dan kematian Kristus yang menyatukan seluruh gereja-Nya? Satu dengan Allah dan satu dengan sesama. Tetapi yang sering kali terjadi adalah perpecahan dan ketidaksehatian.

Umat Tuhan pecah karena apa? Karena ego, karena ingin menang sendiri, karena ingin membuat yang lain menjadi pelayan diri sendiri. Gereja saya yang paling penting, gereja lain harus melayani saya. Saya yang paling penting. Orang lain harus melayani saya. Cara pikir seperti inilah yang membuat kekacauan di dalam gereja Tuhan. Perpecahan pasti terjadi jika semua orang masih berpikir kekanak-kanakan dan ingin menjadi tuan atas semua. Tuhan tidak ingin hal ini terjadi. Jika kita masih membesarkan diri dan menganggap diri lebih penting dari yang lain, maka kesatuan gereja tidak mungkin terjadi. Mengapa tidak? Karena sifat Kristus yang mengosongkan diri tidak ada di dalam sifat-sifat seperti ini. Tetapi sebelum kita mengkritik para pemimpin gereja, biarlah kita terlebih dahulu melihat tuntutan Tuhan kepada kita di dalam komunitas. Bukankah Tuhan juga menuntut yang sama? Mengapa kita saling membenci? Karena kita saling meninggikan diri dan mau menjadi yang utama. Jika lebih dari satu orang ingin menjadi yang utama, pastilah perpecahan terjadi. Biarlah kita belajar untuk mengingat apa yang diinginkan oleh Allah. Dia ingin menyatukan seluruh umat-Nya untuk menyembah Dia. Kristus datang untuk menggenapi apa yang diinginkan Allah Bapa-Nya dan membayar dengan nyawa-Nya. Biarlah kita memiliki kerinduan yang sama untuk adanya satu komunitas yang benar-benar mencerminkan kerelaan berkorban dari Kristus. Sama seperti Kristus hidup, demikian kita juga harus hidup.

Doa:
Ya Tuhan kami, kami bersyukur kepada-Mu oleh karena darah-Mu menyatukan kami. Kami tadinya adalah orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, yang membenci Dia di dalam hati dan pikiran kami, seperti yang nyata dari perbuatan kami yang jahat, sekarang telah diperdamaikan oleh Tuhan. Lebih dari itu, ya Tuhan, Engkau menebus kami untuk membuat kami menjadi satu. Satu di dalam persekutuan yang penuh kasih dan penuh kekudusan. Relasi yang indah dengan Allah dan relasi yang indah dengan sesama adalah dua hal yang sangat indah bagi kami ya Tuhan. Kami bersyukur karena Kristus memberi ini semua bagi kami dengan menyerahkan nyawa-Nya. Ajari kami untuk mengasihi umat-Mu seperti Kristus mengasihinya. (JP)