Renungan Harian 466 (Minggu, 8 Desember 2019)

Penyakit Yang Tidak Membawa Kematian

Devotion from Yohanes 11:1-10

Kisah yang akan kita bahas adalah kisah yang sangat terkenal. Yesus membangkitkan seorang yang telah mati empat hari, ini tentu menjadi kisah fenomenal yang membuat nama Yesus menjadi begitu populer. Yohanes menulis bagian ini dengan mengaitkannya dengan peristiwa selanjutnya, yaitu popularitas Yesus di Yerusalem. Banyak pengikut Yesus di Yerusalem yang mengelu-elukan Dia karena berita dari orang-orang yang menyaksikan peristiwa bangkitnya Lazarus (Yoh. 12:17-19). Peristiwa ini begitu penting di dalam Injil Yohanes sehingga menjadi peristiwa mukjizat puncak sebelum Yesus Kristus disalibkan.

Kisah ini dimulai dengan berita tentang sakitnya Lazarus (ay. 3), berita yang dikabarkan kepada Yesus oleh Marta dan Maria. Injil Yohanes mengisahkan tentang besarnya kasih dan relasi antara Yesus dengan Marta, Maria, dan Lazarus. Relasi kasih yang begitu indah, yang tentunya menyebabkan luka hati yang besar bila ada kehilangan. Berita tentang sakitnya Lazarus pasti akan menyedihkan hati orang-orang yang mengasihi dia, terutama tentunya Marta, Maria, dan Yesus. Tetapi apa yang Yesus katakan setelah mendengar berita tentang saktinya Lazarus sangat tidak biasa. Yesus mengatakan bahwa penyakit ini tidak akan membawa kematian, tetapi menyatakan kemuliaan Allah. Dua perbandingan yang sangat tidak lazim. Apakah lawan kata kematian? Kehidupan. Tetapi Yesus Kristus justru mengatakan bahwa lawan kata kematian adalah kemuliaan Allah (Yoh. 11:4). Kemuliaan Allah dinyatakan, itulah lawan dari kematian. Dengan demikian, kehidupan yang memuliakan Allah adalah kehidupan yang sejati, sedangkan kehidupan yang telah kehilangan kemuliaan Allah adalah sama dengan kematian. Hidup, tetapi mati. Lazarus sakit, dan dia akhirnya mati (Yoh. 11:13). Lazarus mati? Ya. Jika demikian, mengapa Yesus mengatakan bahwa penyakit Lazarus tidak akan membawa kepada kematian? Karena Lazarus akan mempermuliakan Allah dengan menjadi contoh dari kebangkitan di dalam Kristus. Apa pun yang terjadi pada seseorang, jika itu memuliakan Allah, maka itu bukanlah kematian. Mati untuk memuliakan Allah bukanlah kematian. Kematian demi mempermuliakan Allah bukanlah kematian. Kematian Lazarus, dan juga kematian Yesus Kristus sendiri, adalah kematian yang akan menyatakan kemuliaan Allah, dan karena itu tidak bisa disamakan dengan kematian yang lain.

Bagaimanakah Allah dipermuliakan? Ayat 4 mengatakan bahwa Allah dipermuliakan dengan mempermuliakan Anak-Nya. Jika Yesus Kristus dipermuliakan, maka Allah dipermuliakan. Penyakit, kesulitan, penderitaan, bahkan kematian sekalipun, jika itu mempermuliakan Anak Allah, itu akan mempermuliakan Allah. Demikian juga penyakit Lazarus. Penyakit ini akan membawa kematian, tetapi akan dipakai Allah untuk menyatakan kemuliaan Anak-Nya. Inilah caranya Allah dipermuliakan, yaitu melalui memuliakan Anak-Nya.

Di dalam ayat 5 dikatakan bahwa Yesus mengasihi Marta, Maria, dan Lazarus. Jika Yesus benar-benar mengasihi mereka, mengapa Dia menunda-nunda datang kepada Lazarus yang sedang sakit? Kasih Yesus justru membuat Dia harus menunda kedatangan-Nya kepada Lazarus. Kasih-Nya membuat orang-orang yang Dia kasihi menjadi tanda kemuliaan-Nya. Mereka akan menjadi bukti bahwa Allah sedang bekerja di tengah-tengah umat-Nya dan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah. Orang-orang yang Tuhan kasihi harus menjadi tanda kemuliaan-Nya. Tetapi untuk menyatakan kemuliaan yang agung dari Allah, Marta, Maria, dan Lazarus harus mengalami peristiwa yang sangat pahit, yaitu peristiwa kematian Lazarus.

Di dalam ayat 8 murid-murid heran dengan keputusan Yesus kembali ke Yudea. Bukankah orang-orang Yahudi sedang berusaha membunuh Dia? Apa yang mendorong Dia untuk kembali ke daerah Yudea? Mereka menduga karena kasih-Nya kepada Lazarus yang sedang sakit, maka Dia rela menempuh bahaya kembali lagi ke Yudea. Tetapi jawaban Yesus di dalam ayat 9 sangat berbeda. Yesus menyatakan bahwa Dia kembali ke Yudea karena inilah kehendak Allah supaya nama Allah dipermuliakan melalui Dia. Dia tidak bertindak tanpa digerakkan dengan tujuan menaati Allah. Dia tidak merencanakan apa pun jika bukan untuk kemuliaan Allah. Dia memutuskan untuk menyingkir ke Yudea karena waktunya belum tiba. Dia memutuskan untuk kembali ke Yudea karena waktunya telah tiba. Maka Yesus menjawab mereka, “Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari?” Yesus membangkitkan kesadaran para murid mengenai waktu. Tetapi kali ini yang Dia nyatakan bukanlah betapa singkatnya waktu dan betapa giatnya para murid harus melayani Tuhan (Yoh. 9:4). Yang Dia nyatakan pada saat ini adalah bahwa ada dua belas jam dalam satu hari di mana manusia dapat menikmati terang. Pada waktu dua belas jam ini kita berjalan dengan terang dan tidak akan tersandung. Tetapi jika waktu siang telah lewat, di kegelapan malam kita sulit untuk berjalan tanpa tersandung sesuatu. Yesus sedang menyatakan bahwa keputusan Dia untuk melakukan apa pun adalah terang. Jika murid-murid berjalan bersama dengan Dia, Dia tidak akan menyesatkan mereka. Mereka dapat dengan tenang mengikuti Yesus tanpa terantuk. Mengapa? Karena Yesus sedang menjalankan kehendak Allah. Siapa pun yang sedang menjalankan kehendak Allah, hidupnya penuh dengan kepastian dalam melangkah. Tetapi tanpa ada teladan yang memimpin, tidak seorang pun sanggup melangkah di dalam hidupnya dengan langkah-langkah yang tepat. Murid-murid dapat dengan tenang mengikut Yesus. Baik Lazarus, yang seolah dibiarkan sakit hingga mati oleh Yesus, maupun para murid yang mengikuti Yesus, yang seolah dipimpin berjalan menuju tempat konflik yang berbahaya. Jika bersama dengan Yesus, bahaya pun tidak akan membuat rencana hidup kita gagal. Jika berjalan dengan Yesus, kematian pun tidak akan membuat rencana hidup kita gagal. Mengapa? Karena kemuliaan Allah akan dinyatakan melalui pekerjaan Yesus, dan kita yang mengikuti Dia akan menikmati pimpinan Tuhan yang membawa kita melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan. Kemuliaan yang dinyatakan di dalam sakit, di dalam bahaya, bahkan di dalam kematian sekalipun. Berjalanlah bersama dengan Dia, Sang Terang itu, sehingga kita tidak berjalan dalam kegelapan. Tetapi jika kita memutuskan untuk melangkah sendiri, demi bahagia sendiri, demi kemuliaan sendiri, demi kehendak sendiri, maka kita sedang berjalan di dalam gelap. Tidak ada Tuhan Yesus, dan tidak ada terang.

Untuk direnungkan:
Cara berpikir orang Kristen benar-benar dirombak oleh pengenalan akan Yesus. Tujuan yang satu, yaitu kemuliaan Allah, merombak tujuan hidup kita. Keinginan yang satu, yaitu supaya nama Kristus dipermuliakan demi kemuliaan Bapa di surga, menjadi keinginan hati yang paling besar. Iman yang memandang kepada Kristus menjadi kekuatan yang tidak terbendung untuk hidup bagi Dia. Kristus, yang menjalani hidup demi kemuliaan Bapa, telah mengalami kemenangan yang tidak bisa ditahan oleh apa pun. Bahkan kematian pun tidak bisa mencegah Yesus memperoleh kemenangan-Nya. Salib justru menjadi puncak kemuliaan dan kemenangan-Nya. Jadi, jika Yesus yang menjalani hidup dengan satu tujuan, yaitu kemuliaan Allah, adalah Sang Terang itu, biarlah kita juga rela berjalan bersama dengan Dia. Berjalan dengan kesadaran bahwa tidak ada apa pun yang dapat menggagalkan pekerjaan Allah di dalam diri kita. Tidak ada apa pun yang dapat membatalkan kemenangan kita di dalam Kristus. Marilah berjalan bersama dengan Dia. Apakah Dia menuntun kita menuju bahaya konflik? Apakah Dia menuntun kita ke dalam sakit dan kematian? Mungkin saja. Tetapi tujuan untuk memuliakan Allah akan menyusul setelahnya dan ini tidak akan gagal. (JP)