Renungan Harian 467 (Senin, 9 Desember 2019)

Mati Bersama Dengan Dia

Devotion from Yohanes 11:11-16

Yesus mengabarkan kepada murid-murid-Nya bahwa Lazarus sudah tertidur. Yesus memakai kata “tertidur” untuk mengatakan bahwa Lazarus sudah mati. Murid-murid tidak mengerti bahwa Yesus berbicara tentang kematian. Tetapi mengapa berbicara tentang kematian dengan memakai istilah “tertidur”? Karena Yesus sedang mengajarkan suatu fakta yang sangat memberi sukacita, yaitu bahwa Dia adalah yang akan menaklukkan maut. Jika Dia adalah yang menaklukkan maut, maka maut menjadi takluk di dalam Dia dan serangan yang dapat dia berikan bagi umat-Nya tidak lagi fatal. Maut telah takluk, dan karena itu “kematian” menjadi “tertidur”. Ini merupakan pengertian yang sangat mengejutkan. Bagi orang Yahudi, kematian adalah keadaan terputus dari anugerah Tuhan. Orang Yahudi (dan juga ajaran Perjanjian Lama!) melihat anugerah Tuhan diberikan bagi manusia di bumi ini. Kehidupan yang dipelihara Tuhan adalah kehidupan di bumi ini, bukan kehidupan setelah kehidupan di bumi. Allah menciptakan manusia di bumi. Allah memberkati manusia di bumi. Kutuk akibat dosa adalah “kematian”, sehingga kematian tidak pernah bisa ada bersama-sama dengan berkat. Berkat di dalam hidup bertentangan dengan kutuk dan maut. Itulah sebabnya kematian dilihat sebagai suatu kecelakaan bagi manusia. Manusia tidak diciptakan untuk mati, dan manusia tidak bisa menerima berkat Tuhan jika dia sudah mati. Kejadian 1 dan 2 mengajarkan bahwa manusia diciptakan Allah untuk menikmati berkat Tuhan dan menjalankan mandat Tuhan di bumi. Tanpa menikmati berkat Tuhan, manusia tidak akan sanggup menjalankan mandat yang Tuhan berikan di bumi. Tanpa menjalankan mandat Tuhan, manusia tidak mungkin menikmati berkat Tuhan. Kegagalan untuk menjalankan mandat Tuhan membuat manusia tidak lagi menerima berkat Tuhan, dan keadaan tanpa berkat yang paling kelam adalah kematian. Mati adalah terpisahnya manusia dari berkat Tuhan dalam hidup di bumi ini. Kita bisa melihat di dalam ayat-ayat tentang kematian seperti di dalam Imamat 21:1, atau Mazmur 6:5 dan 6. Kematian bukanlah sesuatu yang baik dan penuh berkat. Kematian sangat menakutkan. Kematian adalah keadaan terputus dari berkat Tuhan.

Tetapi kuasa dan pekerjaan Yesus Kristus mengubah semua hal ini. Kematian tidak lagi dilihat sebagai keadaan tanpa berkat Tuhan dan terputus dari rancangan Tuhan di bumi. Pekerjaan Kristus membuat kematian menjadi bagian dari pekerjaan Tuhan di bumi. Bagaimana ini bisa terjadi? Karena kematian dan kebangkitan Kristus membuat kematian menjadi bagian dari keadaan sebelum kebangkitan. Kematian menjadi penuh pengharapan karena ada kebangkitan. Sebelum Yesus bangkit, kematian akan menelan hidup manusia. Tetapi setelah Yesus bangkit, kematian ditelan oleh pengharapan akan kebangkitan. Jika ayat-ayat tentang kematian sebelumnya begitu pesismis dan gelap, maka di dalam Perjanjian Baru, ayat-ayat tentang kematian menjadi penuh pengharapan. Ayat-ayat seperti Roma 6:3 dan 4, Roma 6:9, 1 Korintus 15:42, dan 1 Korintus 15:52 mengajarkan pengharapan, tetapi pengharapan ini hanya ditemukan di dalam Kristus, yang telah membuktikan kemenangan-Nya atas maut. Inilah yang mulai dibukakan di dalam Injil Yohanes melalui pengajaran dan pekerjaan Yesus Kristus. Keseimbangan antara pengajaran dan pekerjaan Yesus membuat Dia jauh lebih berkuasa daripada pengajar mana pun. Dia mengajarkan tentang kebangkitan, tetapi juga membuktikannya dengan membangkitkan orang mati dan dengan kebangkitan-Nya sendiri. Inilah sebabnya Yesus mengatakan kepada para murid bahwa Lazarus sudah tertidur dan akan dibangunkan. Dia mati, tetapi mati di dalam Kristus. Dia mati, tetapi kematiannya tidak akan membawa maut. Kematian-Nya akan mempermuliakan nama Tuhan. Dia mati, tetapi kematiannya adalah kematian yang penuh pengharapan, karena adanya kebangkitan.

Sekarang makin terjawab pertanyaan mengapa Lazarus dibiarkan sampai mati oleh Tuhan Yesus. Dia bisa saja datang lebih cepat dan menyembuhkan penyakit Lazarus. Atau Dia juga bisa menyatakan kuasa-Nya dari jauh untuk menyembuhkan Lazarus. Mengapa biarkan dia mati? Karena Tuhan Yesus ingin mengerjakan hal yang akan menyatakan Dia sebagai sang kebangkitan itu sendiri. Dari Dialah kuasa kebangkitan berasal. Dan, sebagaimana menjadi ciri khas Injil Yohanes, Yesus tidak hanya mengajar bahwa Dia adalah kebangkitan. Yesus membangkitkan orang mati! Dia membuktikan pengajaran-Nya dengan pekerjaan-Nya membangkitkan orang mati.

Tomas, yang mendengar Yesus berkata akan kembali ke Yudea untuk membangkitkan Lazarus, dengan penuh semangat mengatakan, “mari kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia”. Apakah maksud Tomas mengatakan hal ini? Apakah dia mengerti apa yang Yesus katakan? Kita tidak tahu. Tetapi kalimat itu menunjukkan kesiapan para murid untuk menghadapi apa pun yang harus dihadapi Yesus Kristus. Meskipun kalimat ini belum teruji, tetapi kalimat ini adalah respons yang tepat sekali bagi orang yang memahami bahwa Yesus adalah kebangkitan. Jika benar Yesus mengalahkan maut, maka mari kita pergi bersama-sama dengan Dia, ke dalam kematian sekalipun, karena Dia telah mengalahkan kematian. Apakah ini yang ada di dalam pikiran Tomas? Kita tidak tahu. Tetapi ini harus ada di dalam pikiran Tomas dan di dalam pikiran kita semua yang mengenal Kristus. Jika maut takluk kepada Kristus, maka marilah kita pergi untuk mati bersama-sama dengan Kristus. Ini menjadi cetusan yang sangat agung dari orang-orang Kristen sejati di sepanjang zaman. Orang-orang Kristen yang menggerakkan sejarah gereja dan yang menggoncangkan dunia di sekeliling mereka. Apa yang menyebabkan mereka demikian kuat? Karena kuasa terbesar yang menaklukkan manusia telah mereka taklukkan. Maut, yang telah menaklukkan manusia generasi demi generasi sejak awalnya, sekarang telah tunduk di bawah kaki Kristus, Sang Kebangkitan dan Hidup.

Untuk direnungkan:
Kristus adalah kebangkitan. Dia datang untuk menaklukkan semua musuh Kerajaan Allah. Musuh yang paling besar adalah kematian. Sadarkah kita akan hal ini? Tidakkah kita tahu bahwa sejak manusia jatuh ke dalam dosa, maut telah berkuasa atas semua manusia. Kematian menjadi berita yang begitu umum kita dengar setiap hari. Tetapi, walaupun begitu sering kita dengar, kematian ternyata sangat menakutkan jika terjadi di dekat kita, jika kita sendiri yang sudah berada dekat dengannya. Ini keadaan yang terjadi pada semua manusia. Manusia telah ditaklukkan oleh dosa dan maut. Alkitab memberikan gambaran maut sebagai kerajaan yang telah menyerang, menghancurkan, dan menaklukkan manusia menjadi budaknya. Kita yang dicipta sebagai gambar Allah sekarang takluk kepada maut. Kerajaan maut bertakhta atas manusia dan, sebagai akibatnya, bumi telah jatuh kepada kuasa jahat. Tetapi Sang Raja, yaitu Allah, sedang merebut kembali bumi ini. Allah telah menyiapkan Sang Penakluk, yaitu Anak-Nya sendiri, untuk datang ke bumi dan mengalahkan maut. Pada bagian ini kuasa maut sedang dilumpuhkan. Yesus mengklaim diri-Nya sebagai Sang Kebangkitan dan pada bagian akhir Kitab Yohanes terbukti bahwa Yesus benar-benar telah mengalahkan kematian dengan kebangkitan-Nya. Semua ajaran agama mengajarkan jalan kebaikan, tetapi hanya Yesus Kristus mengajarkan jalan kebangkitan. Baik? Ya, tetapi takluk oleh maut. Kristus membawa kita untuk mengalahkan maut. Kematian boleh menimpa kita, tetapi pada akhirnya kuasa kebangkitan Kristus menjadi milik kita untuk menaklukkan maut. (JP)