Renungan Harian 469 (Rabu, 11 Desember 2019)

Takut Mati dan Kemenangan Sejati?

Devotion from Yohanes 11:4, 25, 26, 40

Yohanes 11:4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan z  Allah 1 , sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.”

Yohanes 11:25 Jawab Yesus: “Akulah q  kebangkitan 1  dan hidup; r  barangsiapa percaya s  kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati

Yohanes 11:26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya t  kepada-Ku, tidak akan mati u  selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”

Yohanes 11:40 Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya l  engkau akan melihat kemuliaan Allah? m 

Di  dalam Yohanes 11 dikisahkan bahwa Lazarus mati. Tetapi sebelum dia mati Tuhan Yesus mengatakan bahwa penyakitnya itu tidak akan membawa kematian. Lalu setelah itu Lazarus mati. Lazarus mati? Tetapi penyakitnya tidak akan membawa kematian? Bagaimana bisa? Apa maksudnya penyakit yang tidak akan membawa kematian? Kematian seperti apa? Bukankah Lazarus mati? Pengajaran apakah yang seharusnya dipelajari para murid? Salah satu pengajaran yang perlu diketahui para murid adalah, menurut Kierkegaard mengenai despair. Despair? Ya. Suatu kegelisahan yang dialami manusia. Kegelisahan eksistensial manusia, kegelisahan yang terjadi karena manusia menjalani hidup yang terpisah dari Allah. Manusia tidak pernah mampu menjadi dirinya dengan sempurna jika terpisah dengan Allah dan inilah sumber kegelisahan itu. Kegelisahan yang, sebagaimana dikatakan Kierkegaard, bernama “Sickness Unto Death”. Tetapi manusia telah salah memahami kalimat ini. Penyakit yang membawa kematian bukanlah kematian itu sendiri! Apakah sumber kegelisahan manusia? Selama ini jawaban yang paling populer adalah “kematian”. Mati, inilah sumber segala despair. Mengapa manusia gelisah? karena ada kematian. Tetapi apakah benar kematian menjadi penyebab semua kegelisahan ini? Bukan! Bukan kematian penyakitnya! Jika demikian, berarti ada kemungkinan saya dapat bebas dari sengsara ini walaupun kematian adalah nasib mutlak saya di masa depan? Ya. Saya mungkin suatu saat nanti akan mati, tetapi saya tetap dapat menikmati hidup yang bebas dari kegelisahan ini. Maka, sebagaimana ditulis di dalam Yohanes 11, penyakit ini tidak akan membawa kepada kematian. Bukankah Lazarus mati? Ya. Tetapi setelah itu dia dibangkitkan dan terbuktilah perkataan Tuhan Yesus: “penyakit itu tidak akan membawa kematian.” Sebuah perkataan yang membutuhkan mukjizat besar untuk dipahami. Mukjizat kebangkitan Lazarus.

Lalu apakah penyakit yang membawa kematian ini? Penyakit ini bukanlah penyakit fisik, tetapi penyakit spiritual. Penyakit yang membawa kematian adalah dosa itu sendiri. Dosa yang membuat manusia menolak menjadi manusia. Ketika seseorang menolak untuk menjadi manusia sebagaimana seharusnya, maka dia akan kehilangan jati dirinya dan masuk ke dalam despair. Tetapi apakah maksudnya menjadi manusia? Seseorang hanya dapat menjadi manusia sejati jika dia berada di hadapan Allah. Seseorang hanya dapat menjadi manusia di dalam kriteria yang ditetapkan Allah. Allah menjadikan seseorang mempunyai diri yang sejati. Siapakah dia yang menjadi dirinya yang sejati? Kierkegaard mengatakan bahwa dia yang mempunyai iman untuk hidup di hadapan Tuhan, dialah yang mempunyai diri yang sejati. Despair terjadi karena dosa, dan diri yang sejati ada karena iman kepada Allah yang menjadikan diri dan memberikan penilaian atas diri.

Despair membuat seseorang mati. Inilah yang disebut penyakit yang membawa kematian yang sesungguhnya. Dia mungkin hidup, tetapi hidup dalam kegelisahan. Hidup dalam “sickness unto death”. Lazarus sakit dan akhirnya mati, tetapi Tuhan berkata bahwa penyakitnya tidak akan membawa kepada kematian. Miliaran orang saat ini hidup, tetapi hidup dengan terjangkit penyakit yang membawa kepada kematian. Ironis sekali… Dua jenis manusia, yang satu menjalani hidup di hadapan Tuhan dengan iman mereka, dan yang lain menjalani hidup di dalam kegelisahan. Dua jenis manusia yang akhirnya menghadap kematian.

Tidak ada yang dapat mencegah kematian menjemput. Kitab Pengkhotbah mengatakan bahwa semua orang akhirnya mati. Kaya, miskin, pintar, bodoh, saleh, pendosa, tidak ada satu orang pun yang luput. Dengan demikian boleh juga dikatakan orang yang mengalami “sickness unto death” akan mati dan orang yang hidup di hadapan Allah dengan imannya yang setia… juga akan mati. Lalu apakah ada perbedaan nasib antara orang percaya dan orang yang tidak percaya? Kalau perbedaan nasib itu ada pada hidup setelah kematian, apakah itu berarti ketika hidup menuju kematian tidak ada perbedaan apa pun antara orang percaya dan yang tidak? Di sinilah pengertian Kierkegaard dalam “sickness unto death” menjadi begitu penting. Orang percaya dan orang yang tidak percaya mempunyai perbedaan yang sangat jauh dalam hidup. Orang yang tidak beriman mengalami begitu banyak guncangan, kegelisahan, ketidaktenangan, dan semua yang terjadi akibat adanya penyakit bernama sickness unto death ini. Bagaimana tidak? Manusia hidup di tengah-tengah begitu banyak tension dan mau menjalaninya terlepas dari Allah. Tension apakah? Salah satunya adalah tension antara yang sementara (finite) dan kekal (infinite). Ada sifat sementara dan sifat kekal dalam hidup seorang manusia yang membawa tension begitu besar. Lalu manusia dalam kegelisahannya berusaha untuk meredakan tension ini dengan lari ke arah yang ekstrim, yaitu hidup sepenuhnya berfokus pada yang kekal atau hidup sepenuhnya berfokus kepada yang sementara. Fokus kepada yang kekal akan membuat seseorang hidup dalam fantasi yang abstrak, hidup yang tidak nyata, dan berada dalam keterasingan yang pada akhirnya membuatnya menjadi penuh kegelisahan. Sedangkan fokus kepada yang sementara membuat seseorang hidup dalam kehidupan yang sangat reduktif, penuh dengan kekosongan makna. Dengan mudah dia akan terseret ke dalam penilaian dunia. Ingin menjadi seperti orang lain. Ingin punya prestasi seperti orang lain. Ingin diakui oleh orang lain. Akhirnya hidupnya penuh dengan pencarian yang membuat dia kehilangan identitas dirinya yang hanya bisa ditemukan di hadapan Tuhan.

Maka, dengan kehidupan yang penuh despair orang-orang dunia berusaha menjalankan hidup hingga nanti kematian menjemput. Sebelum mati apakah yang akan saya lakukan? Saya akan mengejar kedudukankah? Saya akan mengejar penerimaan dari orang lainkah? Saya akan mencari cinta sejatikah? Saya akan lari dari dunia dan hidup dalam situasi kontemplatifkah? Apa pun yang mau dikerjakan oleh manusia tidak akan mengubah fakta bahwa dia tetap akan mengerjakannya dengan despair. Tetapi bagaimana dengan orang-orang yang sudah kembali kepada Allah? Bagi orang-orang ini dunia tidak lagi sama. Dunia tetap menawarkan kepedihan dan sukacita yang sama. Dunia juga tetap berjalan dengan keteraturan yang sama. Matahari bersinar di siang hari dan bulan di malam hari. Kadang bertemu dengan situasi penuh suka, dan saat lain kesedihan yang mendalam. Lalu apa yang berubah? Yang berubah adalah sekarang mereka tidak lagi hidup di hadapan dunia. Mereka hidup di hadapan Tuhan. Situasi dunia boleh penuh sukacita dan tawaran menggiurkan, tetapi mereka tidak akan terseret olehnya. Situasi dunia boleh penuh sengsara dan bahaya, tetapi mereka tidak akan menjadi hancur olehnya. Mengapa tidak? Karena sekarang mereka hidup di hadapan Juru Selamat mereka, yang telah menjadi sumber pengharapan, sumber kekuatan, sumber kemenangan, dan sumber kuasa kebangkitan mereka. Akankah mereka tertekan karena tekanan yang sementara dan yang kekal? Tidak. Mengapa tidak? Tekanan itu telah hancur. Kristus telah memberikan kuasa kebangkitan, sehingga tidak ada lagi ketakutan kehidupan di hadapan Allah yang terputus dan hilang. Sekarang semua orang percaya hidup di dalam kuasa kemenangan yang penuh kelimpahan. Tetapi walaupun demikian, tidak banyak yang menikmati kemenangan ini dengan sempurna. Ada yang hanya menikmati sebagian, ada yang menikmati dengan limpah. Adakah kita menikmati kuasa kemenangan ini dengan limpah? Ataukah kita tetap hidup dengan perasaan despair karena masih menjalani cara hidup yang lama, hidup di hadapan dunia? Alangkah sayang jika kita masih belum mau melepas hati dari dunia dan mengarahkannya kepada Kristus. (JP)