Renungan Harian 470 (Kamis, 12 Desember 2019)

Belas Kasihan dan Kuasa Kebangkitan

Devotion from Yohanes 11:28-44

Setelah Marta bertemu Tuhan Yesus, dia memberitakan kepada Maria, saudaranya, bahwa Tuhan Yesus memanggil Maria. Maria segera bertemu dengan Tuhan Yesus dan menangis tersungkur di hadapan Tuhan Yesus. Kesedihan yang sangat besar membuat dia tidak sanggup mengatakan apa pun yang lain kecuali penyesalan karena Tuhan Yesus tidak hadir bersama dengan mereka ketika Lazarus sakit. Tidak ada yang dapat menenangkan hati orang yang sedang berduka kehilangan orang yang dikasihinya. Kesedihan karena kehilangan orang yang dikasihi begitu kuat dan akan membekas di dalam hati untuk waktu yang lama. Maria menangis, dan ternyata tangisan Maria membuat Yesus Kristus menangis juga. Kesedihan yang besar dialami juga oleh Yesus Kristus. Kesedihan apakah ini? Bukankah Yesus akan membangkitkan Lazarus? Bukankah Dia berkuasa atas maut sekalipun? Bukankah Dia adalah kebangkitan dan hidup? Mengapa Dia menangis? Dia menangis bukan karena Dia tidak berdaya. Dia menangis bukan karena Dia tidak mempunyai pengharapan. Dia menangis bersama-sama dengan orang yang menangis karena kesedihan yang sama juga menimpa Dia. Kesedihan yang Tuhan izinkan, bahkan alami sendiri. Kesedihan yang besar, tetapi bukan kesedihan tanpa pengharapan. Adanya pengharapan yang besar tidak menghilangkan dukacita ketika orang yang kita kasihi meninggal. Kita tahu bahwa di dalam Kristus akan ada kebangkitan, tetapi kita tetap berduka ketika orang yang kita kasihi meninggal. Kesedihan ini menandakan bahwa sejarah sangat penting bagi Tuhan. Tuhan tidak meremehkan pergumulan yang kita hadapi “hanya” karena pergumulan itu terjadi di dalam kesementaraan. Tuhan tidak meniadakan yang sementara demi yang kekal. Tuhan tidak menganggap kosong dan remeh segala hal yang terjadi di dalam sejarah manusia. Tuhan bergumul bersama-sama dengan umat-Nya yang dikasihi-Nya di dalam sejarah. Inilah Tuhan yang kita kenal. Tuhan yang mengasihi manusia, mengalami yang dialami manusia, berjalan bersama-sama dengan umat-Nya di sepanjang sejarah, dan yang memandang penting apa yang terjadi di dunia ini di dalam sejarah. Tuhan Yesus adalah yang berkuasa atas maut. Dan Dia, yang memegang kuasa yang sedemikian besar itu, adalah Dia yang rela bergumul bersama-sama dengan umat-Nya menghadapi segala keadaan hidup di tengah-tengah dunia ini.

Orang-orang yang menemani Maria melihat Yesus menangis, tetapi reaksi mereka terbagi dua. Yang pertama melihat kesedihan besar yang dialami Tuhan Yesus dan segera menyimpulkan bahwa Yesus sangat mengasihi Lazarus, Marta, dan Maria. Kesedihan, kehilangan, dan dukacita karena meninggalnya seseorang hanya akan dirasakan oleh orang yang mengasihi seseorang tersebut. Tuhan Yesus mengasihi Lazarus dan bersedih hati ketika alam maut menguasai Lazarus. Kesedihan Yesus bukanlah tanda ketiadaan pengharapan, juga bukan tanda ketidakmampuan bertindak. Kesedihan Yesus adalah tanda kasih-Nya. Tetapi kelompok kedua malah mengidentikkan Yesus yang menangis dengan kegagalan untuk melakukan tanda-tanda yang Dia lakukan di tempat lain. Seolah-olah mereka mengatakan bahwa segala berita tentang Tuhan Yesus ternyata tidak seperti kenyataannya. Tuhan Yesus tidak sanggup bertindak, padahal Dia sanggup memelekkan mata orang buta sebelumnya. Dia gagal karena waktu kedatangan-Nya yang salah. Tidak sanggupkah Dia melakukan sesuatu sehingga orang ini tidak perlu meninggal? Demikian yang ada dalam pikiran mereka. Pertanyaan yang dijawab dengan karya Kristus membangkitkan Lazarus. Yesus bukan hanya sanggup mencegah Lazarus dari kematian sebelum kematian itu tiba kepada dia, Yesus bahkan sanggup menyelamatkan Lazarus dari kematian walaupun kematian itu telah tiba kepada dia!

Setelah berdukacita bersama-sama dengan orang-orang yang kehilangan Lazarus, Yesus segera akan menyatakan kuasa-Nya atas maut. Dia pun pergi ke tempat Lazarus dikubur dan meminta agar batu yang menutup kubur Lazarus dipindahkan. Marta meragukan perintah Tuhan Yesus itu dengan mengatakan bahwa mayat Lazarus tentu sudah berbau. Tetapi Tuhan Yesus kembali mengingatkan Marta untuk percaya agar dia dapat melihat kemuliaan Allah. Setelah batu itu diangkat, Tuhan Yesus pun berdoa kepada Bapa di surga dengan doa yang sangat penuh dengan keagungan. Yesus menyatakan di dalam doa-Nya bahwa Allah selalu mendengarkan Dia. Dia juga menyatakan kepada Allah di dalam doa-Nya agar orang-orang yang ada pada saat itu dapat melihat bahwa Yesus diutus oleh Allah. Doa yang sangat penting untuk memperkenalkan karya Kristus yang membangkitkan orang mati. Yesus membangkitkan orang mati karena Dialah yang diperkenan Allah untuk menyatakan atau menginaugurasikan zaman yang baru itu, yaitu zaman di mana Kerajaan Allah dinyatakan dengan sempurna dan Iblis, dosa, dan maut tidak mendapat tempat di dalamnya. Setelah doa ini Yesus pun berseru, “Lazarus, marilah keluar!” Di dalam menyatakan kuasa kebangkitan ini pun Yesus tetap berseru dengan panggilan yang penuh kasih. Yesus tidak hanya mendemonstrasikan kuasa-Nya mengalahkan maut saja, Dia menyatakan kuasa-Nya atas maut dengan memanggil orang keluar dari belenggu maut. Sama seperti Allah menaklukkan Mesir dan membebaskan Israel dengan memanggil mereka keluar dari Mesir, dan sama seperti Kristus membebaskan umat-Nya dari dosa dengan memanggil mereka keluar dari dosa (Yoh. 8:30-32), demikian juga dalam pasal 11 ini Yesus Kristus membebaskan umat-Nya dari maut dengan memanggil mereka keluar dari maut, sebagaimana dinyatakan di dalam karya Kristus membangkitkan Lazarus. Yesus menaklukkan maut sambil menyatakan panggilan yang penuh kasih kepada Lazarus. Yesus tidak berseru, “maut, takluklah!” Dia lebih senang memberikan fokus kepada umat-Nya, kepada Lazarus. Hai, Lazarus, datanglah kemari dan keluar dari dalam kuburmu…

Ayat 44 mengatakan bahwa Lazarus keluar dari kuburnya dengan kain kafan yang masih menutup badannya. Dia keluar dengan keadaan yang sama dengan orang hidup. Tidak ada kebusukan, sebab Kristus telah memberikan kemenangan bagi Lazarus atas maut dan dia kembali bersama-sama dengan keluarganya dengan tidak kurang apa pun! Inilah orang yang telah mati empat hari itu. Jika Juru Selamatnya memutuskan untuk memberkati dia dan mengaruniakan kepada dia kemenangan atas maut, maka itu pasti terjadi atas dirinya. Jika Juru Selamatnya mau membangkitkan dia dan untuk sementara waktu hidup kembali dengan keadaan yang sama, maka tidak ada kekuatan apa pun yang dapat mencegah hal ini. Kebusukan dan kematian ditelan oleh Kuasa Yesus Kristus. Tetapi apakah ini final atau puncak dari pelayanan Yesus di bumi? Tidak. Ini adalah tanda bahwa suatu saat nanti maut akan ditaklukkan dengan tuntas. Saat ini janji Tuhan itu belum menjadi nyata dengan sempurna, tetapi apa yang Yesus kerjakan ini menjadi tanda pasti bahwa kuasa untuk mengalahkan maut ada di dalam Dia.

Untuk direnungkan:
Kuasa Tuhan Yesus dinyatakan dengan sempurna bersamaan dengan kasih dan belas kasihan-Nya. Tuhan Yesus menyatakan kuasa yang sempurna, tetapi juga belas kasihan yang berlimpah. Dia menyatakan tanda-tanda sebagai bukti bahwa apa yang Dia katakan itu benar, tetapi Dia juga menyatakan belas kasihan-Nya ketika mengerjakan tanda-tanda itu. Dia berkuasa atas maut, tetapi tergerak oleh kesedihan Maria dan Marta. Dia berkuasa atas segala sesuatu, tetapi mau bergumul untuk apa yang terjadi di sebuah keluarga kecil di Betania. Dia mengalahkan Iblis dan maut, tetapi Dia memperhatikan dua orang perempuan yang sedang berduka. Terpujilah Tuhan, bukan hanya karena kuasa-Nya yang besar, tetapi karena belas kasihan-Nya yang tak terbatas. (JP)