Renungan Harian 471 (Jumat, 13 Desember 2019)

Kelahiran Anak Daud

Devotion from Lukas 1:26-33; 2 Samuel 7:8-17

Prakata
Tuhan memberikan kita anugerah yang sangat besar dengan adanya empat Injil yang mengabarkan tentang kehidupan Sang Juru Selamat. Injil Matius memberikan tekanan bahwa Yesus Kristus adalah penggenap nubuat-nubuat di dalam Perjanjian Lama. Injil Markus menekankan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang berkuasa atas kuasa jahat. Injil Yohanes memberikan penekanan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang menyatakan siapa Allah Bapa dengan sempurna. Injil Lukas adalah Kitab yang mengabarkan bahwa Yesus Kristus adalah Juru Selamat bagi kaum yang terpinggirkan. Inilah keunikan Kitab Lukas. Dalam renungan pendek ini kita akan merenungkan perikop-perikop natal dan bersama-sama menggali kedalaman Kitab ini. Harap kita semua bisa menangkap apakah makna merayakan Natal menurut Injil Lukas, mengapa setiap tahun kita menyanyikan puji-pujian Natal, membaca narasi-narasi Natal tentang gembala, dan apa yang harus kita ingat kembali di dalam hari Natal.

Jika Saudara merasa kurang jika tidak melihat kehidupan Kristus secara utuh, dapat membaca seri renungan Reforming Heart yang lain telah membahas nubuat dan penggenapan mengenai Kristus di dalam pembahasan Kitab Samuel, Raja-raja, Ezra, Nehemia, Hagai, Zakharia, Maleakhi, dan Matius. Kiranya renungan harian ini boleh menjadi berkat di dalam Saudara membaca Kitab Suci dan menikmati kedalaman pengenalan akan Allah melaluinya. Selamat hari Natal!

Ketika Daud menyatakan keinginannya untuk membangun rumah bagi Tuhan, Tuhan menyatakan firman-Nya melalui Nabi Natan. Tuhan mengatakan bahwa Dialah yang akan membangun keturunan bagi Daud untuk membangun rumah Tuhan. Bukan Daud, tetapi keturunannya yang kemudian. Siapakah keturunannya kemudian? Di dalam penggenapan langsung, keturunan itu adalah Salomo. Salomo adalah keturunan Daud yang lahir sesudah nubuat ini diberikan (2Sam. 7:11). Salomo jugalah yang membangun Bait Allah. Tuhan juga berjanji tidak akan membuang kerajaan anak Daud ini walaupun dia melakukan kesalahan. Salomo melakukan kesalahan dan Tuhan menghukum dia (1Raj. 11:8-1), tetapi Tuhan juga menepati janji-Nya untuk tidak membuang kerajaan Daud ini (1Raj. 11:12-13). Tuhan memelihara takhta ini hingga Sang Anak Daud yang sejati itu dilahirkan. Salomo adalah penggenapan langsung dari nubuat mengenai Anak Daud ini, tetapi dia bukanlah penggenapan final dari janji ini. Tuhan menjanjikan keturunan yang takhta kerajaan-Nya kekal hingga selama-lamanya. Semua keturunan Daud yang memerintah akhirnya tidak bisa melanjutkan takhta pemerintahan Daud karena mereka semua mati. Daud mati. Salomo mati. Rehabeam mati. Begitu juga seluruh keturunan Daud yang lain. Jikalau mereka semua pada akhirnya mati, siapakah yang dapat menggenapi janji ini?

Di dalam sejarah selanjutnya bukan saja takhta kerajaan Daud yang kekal ini tidak terjadi, bahkan keadaan kerajaan Daud terus merosot. Mereka terus menerus mengalami perang, bahkan mengalami kekalahan dalam perang dengan Israel Utara, dengan orang-orang Aram, dengan Etiopia, Mesir, Asyur, hingga akhirnya Babel yang menghancurkan mereka sama sekali. Di manakah takhta yang dijanjikan itu? Siapakah keturunan Daud yang sanggup memimpin hingga kerajaan ini menjadi kuat kembali? Tuhan belum menggenapi janji-Nya.

Keadaan yang menyedihkan ini terus berlanjut karena setelah Babel menaklukkan mereka (2Raj. 25:8-12), mereka hidup di dalam pembuangan. Kerajaan Daud sekarang habis. Tidak ada lagi anak Daud yang duduk di takhta. Bahkan tidak ada lagi takhta untuk diduduki! Inilah masa yang sangat menyesakkan untuk Israel. Tetapi pengharapan mereka terus menyala karena Tuhan yang menyatakan janji-Nya adalah Allah yang mahakuasa dan setia. Dia tidak pernah melupakan janji-Nya. Itulah sebabnya ketika genap waktunya, malaikat Gabriel datang kepada seorang perempuan muda bernama Maria. Siapakah Maria? Dia adalah seorang yang masih perawan dan dia bertunangan dengan seorang muda bernama Yusuf. Yusuf ini adalah keturunan Daud (Luk. 1:27). Seorang keturunan Daud? Ya. Apakah dia raja? Bukan. Apakah dia seorang pembesar? Juga bukan. Orang-orang telah melupakan keagungan takhta Daud. Takhta itu tidak lagi diingat orang setelah 70 tahun pembuangan dan 400 tahun berada di dalam kebertundukan kepada bangsa-bangsa lain. Setelah Babel hancur, mereka dikuasai oleh Persia. Setelah Persia hancur, mereka dikuasai oleh orang-orang Makedonia. Setelah itu mereka tunduk kepada Kerajaan Romawi. Takhta Daud? Takhta itu sudah hancur di dalam debu. Orang-orang telah melupakan janji Tuhan itu. Tetapi Tuhan tidak pernah melupakan janji-Nya. Yusuf adalah seorang anak Daud, dan anak Yusuf juga secara sah akan menjadi anak Daud. Dialah yang akan Tuhan pakai untuk menyambung kembali kerajaan Daud yang sempat terputus karena pemberontakan Israel sendiri. Tetapi bukan dia yang akan naik takhta. Anaknya yang akan bertakhta.

Malaikat Gabriel, pembawa nubuat mengenai kerajaan-kerajaan manusia yang akan muncul dan berkuasa atas Israel (Dan. 11), sekarang membawa berita tentang penggenapan nubuat berakhirnya kerajaan manusia dan dimulainya kembali takhta Kerajaan Daud. Babel, Persia, Makedonia, dan Romawi, semua kerajaan besar itu sudah berakhir masanya dan Kerajaan Daud akan dipulihkan oleh Tuhan. Betapa agungnya berita ini! Itu sebabnya Gabriel mengatakan salam kepada Maria sebagai yang diberikan karunia dan penghormatan (Luk. 1:28). Ayat 29 mengatakan bahwa Maria terkejut. Bagaimana mungkin dia diberikan salam hormat dan karunia? Seorang malaikat memberikan penghormatan seolah-olah dia adalah ibu seorang raja. Apakah ini tidak salah? Tetapi Gabriel tidak salah di dalam penghormatan ini, sebab memang Maria akan menjadi ibu seorang Raja yang akan meneruskan takhta Daud. Seorang ibu dari Raja yang paling besar, melampaui semua raja  yang pernah dan yang akan memerintah di bumi ini.

Untuk direnungkan:
Berita Natal dari Gabriel kepada Maria ini memberikan kita kesempatan untuk merenungkan satu hal pada hari ini. Hal itu adalah bahwa Allah melatih orang Israel untuk berharap kepada janji Allah karena Allah, bukan karena bukti-bukti yang mendukung di sekitar Israel. Jika Israel terus berada di dalam keadaan damai dan sejahtera, tidak sulit bagi mereka untuk mengamini janji-janji Tuhan mengenai Sang Keturunan Daud. Tetapi ketika keamanan hilang, tembok kota diruntuhkan, istana raja dibakar, Bait Allah dihancurkan dan dibakar, mayat-mayat laki-laki dan perempuan bergelimpangan di jalan, dan raja-raja bangsa-bangsa kafir memerintah atas umat Tuhan, masihkah pengharapan akan janji Tuhan itu ada? Bagaimana mungkin berharap di tengah-tengah keadaan seperti ini? Tetapi inilah inti dari berharap. Berharap berarti tetap memegang janji Tuhan meskipun tidak ada alasan mengapa kita harus memegang janji itu. Abraham berharap kepada janji Tuhan memberikan keturunan meskipun tidak ada dasar bagi dia untuk terus berharap (Rm. 4:16-22). Pengharapan untuk sesuatu yang sudah terlihat bukan pengharapan yang sejati. Untuk apa berharap untuk hal yang sudah di depan mata? Tetapi berharap untuk sesuatu yang tidak terlihat, bahkan sepertinya tidak mungkin terjadi, inilah pengharapan yang sejati. Apakah dasar untuk berharap? Janji Tuhan! Janji Tuhanlah alasan mengapa kita tetap berharap. Pengharapan palsu adalah kalau kita mengharapkan sesuatu yang Tuhan tidak pernah janjikan. Kurang iman adalah ketika kita tidak mengharapkan hal-hal yang telah Tuhan janjikan. Tuhan menjanjikan takhta kepada Israel. Anak Daud akan bangkit dan memerintah. Tetapi ini tidak mungkin! Kami sedang dijajah oleh orang Babel, lalu tidak ada anak Daud dengan identitas yang jelas yang memiliki kedudukan yang penting. Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Hal itu akan terjadi karena bukti paling kuat yang telah dinyatakan, yaitu perkataan Tuhan sendiri.

Mari renungkan hidup kita. Apakah kita menjadi orang-orang yang berpegang kepada janji Tuhan? Tuhan menjanjikan penyertaan, kuasa, dan kekuatan bagi orang-orang yang membawa berita Injil (Kis. 1:8; Mat. 28:19-20), tetapi mengapa banyak orang Kristen tidak mau mengalami penyertaan, kuasa, dan kekuatan ini? Kita begitu takut memberitakan Injil sehingga kita menjadi orang-orang yang hidup tanpa kuasa, tanpa penyertaan Tuhan, dan tanpa kekuatan apa pun. Begitu lemah dan begitu mudah hancur. Kemudian Tuhan juga menjanjikan pemeliharaan di dalam Matius 6:25. Jangan khawatir. Tetapi mengapa begitu banyak orang Kristen tidak berani melangkah melakukan panggilan Tuhan karena takut kurang uang? Orang-orang Kristen yang ragu-ragu menjadi hamba Tuhan karena takut kekurangan adalah orang yang tidak beriman. Tanpa sadar dia sedang menghina Tuhan dengan meragukan kemampuan-Nya memelihara hamba-hamba-Nya. Lalu Tuhan juga memanggil umat-Nya dengan kekudusan dan kesucian-Nya (Im. 19:2), tetapi kita berani hidup dalam kecemaran dan mengabaikan firman yang berkuasa, yang telah memberi kita perintah untuk hidup di dalam kekudusan. Bukankah ini berarti menghina Tuhan dan mengatakan bahwa firman-Nya tidak bermakna apa-apa di dalam kehidupan kita? Mari kita bertobat dan kembali kepada Dia. Mari kita belajar melihat kuasa dan kebenaran firman-Nya sebagai sesuatu yang lebih jelas dan lebih pasti dari pada pengalaman kita dan keadaan di sekeliling kita.

Doa:
Tuhan, kami bersyukur sebab Engkau berkuasa atas segala sesuatu sehingga apa yang Engkau nyatakan tidak mungkin gagal, dan apa yang Engkau janjikan tidak mungkin batal. Kami bersyukur karena Engkau rela menyatakan janji-Mu kepada kami. Ajari kami untuk sungguh-sungguh beriman kepada-Mu ya Tuhan. Kami rindu mempersembahkan seluruh hati dan iman kami untuk melihat janji-Mu sebagai sesuatu yang lebih jelas dari pada keadaan di sekeliling kami. Kuatkanlah kami, ya Tuhan. (JP)