Renungan Harian 473 (Minggu, 15 Desember 2019)

Maria dan Elisabet

Devotion from Lukas 1:39-56

Dalam bacaan kita hari ini Lukas mencatat peristiwa perjumpaan Maria dengan Elisabet yang tengah mengandung selama 6 bulan. Perjumpaan ini terjadi karena Maria segera mengunjungi Elisabet untuk melihat bayi yang diberitakan oleh malaikat Gabriel dalam ayat 36. Itu sebabnya Maria tinggal bersama Elisabet selama 3 bulan, yaitu sampai Elisabet melahirkan Yohanes Pembaptis. Elisabet, yang sekarang tengah mengandung Yohanes Pembaptis, masih merupakan saudara Maria. Kunjungan ini juga adalah karena Maria ingin menunjukkan perasaan hormatnya kepada Elisabet dan bayi di dalam kandungannya. Tetapi yang terjadi justru Elisabetlah yang menyatakan perasaan hormatnya kepada Maria. Bukan Elisabet, tetapi Maria yang lebih berbahagia karena, sebagaimana dikatakan Elisabet, dia adalah perempuan yang diberkati karena diizinkan menjadi ibu dari Tuhan sendiri, yang datang menjadi manusia. Dengan demikian, Lukas mencatat peristiwa ini sebagai catatan mengenai pernyataan tentang ke-Tuhan-an Yesus yang paling awal di dalam keadaan-Nya sebagai manusia. Bahkan sebelum Dia datang, ke-Tuhan-an Yesus telah dinyatakan kepada Maria. Siapa yang menyatakannya? Yohanes Pembaptis di dalam kandungan menyatakannya dengan melonjak (ay. 44), dan Elisabet menyatakannya dengan menyebut Maria sebagai “ibu dari Tuhanku” (ay. 43). Bayi yang akan ada di dalam kandungan Maria inilah yang membuat Maria disebut berbahagia.

Bagian ini sama sekali tidak berbicara tentang kemuliaan Maria, tetapi kemuliaan Yesus. Maria adalah alat di tangan Tuhan untuk melahirkan Yesus ke dalam dunia ini. Itulah sebabnya Maria segera mengucapkan kalimat-kalimat pengagungan bagi Allah di dalam ayat 46-55. Kalimat-kalimat ini adalah gambaran tentang iman yang sejati dan kesadaran akan kerendahan diri dari Maria. Maka kita melihat keagungan dari Elisabet dan Maria karena mereka memuliakan Tuhan, bukan manusia. Maria datang untuk menghormati Elisabet, tetapi Elisabetlah yang menyatakan hormatnya kepada Maria. Hormat ini pun bukanlah karena Maria patut dihormati, tetapi karena kandungan Maria yang akan dipakai Tuhan untuk melahirkan Yesus Kristus. Untuk menekankan hal inilah maka Maria mengucapkan puji-pujiannya bagi Allah, sehingga bukan dia, juga bukan Elisabet, tetapi hanya Allah yang layak menerima hormat dan puji-pujian. Elisabet menyadari kerendahannya dengan merasa tidak layak dikunjungi oleh Maria. Maria menyadari kerendahannya dengan merasa tidak layak dihormati oleh Elisabet. Akhirnya Maria menutup dengan kalimat-kalimat pengagungan kepada Tuhan dengan menekankan betapa kecil, hina, dan tidak layaknya dia.

Dalam ayat 46-49 Maria berbicara tentang kerendahannya tetapi diperhatikan oleh Allah. Baik dia maupun Elisabet bukanlah orang-orang berkedudukan tinggi di dalam masyarakat pada waktu itu, tetapi Tuhan justru memakai orang-orang kecil ini agar kemuliaan Tuhan dinyatakan dan belas kasihan-Nya diberikan bagi orang-orang yang tidak layak ini. Tuhan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan mulia melalui orang-orang yang rendah dan tidak layak. Lalu ayat 50 mengingatkan kembali bahwa orang-orang rendah yang tidak layak ini memiliki hati yang takut akan Tuhan. Tuhan tidak akan pakai orang congkak dan sombong. Tuhan hanya akan memakai orang yang takut akan Tuhan dan sadar akan kerendahannya. Orang kaya yang membanggakan kekayaan tidak mungkin akan Tuhan pakai. Orang kaya yang sadar dirinya rendah dan tidak layak, dia akan Tuhan pakai. Orang miskin yang penuh keluh kesah dan sifat iri hati tidak akan Tuhan pakai. Orang miskin yang takut akan Tuhan dan terus bersyukur kepada Tuhan, ini akan Tuhan pakai. Tuhan tidak perlu orang berkedudukan tinggi, kuat, dan kaya. Tuhan tidak akan memakai mereka. Tetapi Tuhan akan pakai orang-orang yang rendah hati dan takut akan Tuhan. Orang-orang ini akan melihat pekerjaan-pekerjaan agung yang Tuhan kerjakan dan bahkan akan mempermalukan orang-orang yang berkedudukan tinggi dan kaya. Tuhan memakai yang lemah untuk mempermalukan yang kuat agar menjadi nyata bahwa segala hal yang mulia yang dilakukan oleh orang-orang lemah itu adalah dari Tuhan saja.

Bagian terakhir, di dalam ayat 54 dan 55 dikatakan bahwa semua berkat dan anugerah yang Tuhan kerjakan tidak akan terlepas dari apa yang memang telah Dia janjikan di dalam sejarah. Janji kepada Abraham, Ishak, dan Israel, inilah yang sedang Dia kerjakan. Puji-pujian dan hormat layak diberikan kepada Allah karena Dia mengingat janji-Nya dan dengan belas kasihan-Nya Dia memakai orang-orang rendah untuk menggenapi janji-Nya yang agung itu.

Untuk direnungkan:
Baik Maria maupun Elisabet mengerti bahwa Tuhan mengasihani mereka dengan memakai mereka untuk rencana-Nya yang agung, bukan Elisabet yang penting, juga bukan Maria. Maria hanyalah perempuan biasa yang Tuhan izinkan boleh melahirkan Sang Mesias. Dia bukanlah orang yang tidak bercacat. Dia juga bukan juru selamat. Hanya Yesus Juru Selamat, bukan Maria. Hanya Yesus tempat kita memanjatkan doa dan permohonan. Doa salam Maria adalah penyembahan berhala dan tindakan yang kafir. Manusia hanya boleh berdoa kepada Allah, bukan manusia. Maria adalah orang rendah yang menyadari anugerah Tuhan atas dirinya. Mari belajar hal ini dari dirinya, bukan memperilah dia menjadi Sang Bunda Allah. Dia bukan Bunda Allah dalam pengertian ilahi. Dia adalah seorang perempuan yang Tuhan pakai untuk melahirkan Yesus. Itu saja! Orang-orang kudus, juga Maria, bersama-sama dengan kita, menjadi persekutuan yang kudus dan am dan sama-sama berdoa kepada Allah. Kita tidak boleh berdoa kepada orang kudus. Bahkan kepada Paulus, Abraham, Musa, Yohanes, atau siapa pun. Ajaran untuk berdoa kepada seorang manusia sangat bertentangan dengan Alkitab. Tetapi untuk belajar iman, kerendahan hati, teladan hidup, dan kesetiaan orang-orang kudus di dalam Alkitab itu baik. Itu sebabnya kita perlu belajar dari Maria. Belajar dari sikap hidupnya, kerendahan hati, kesadaran akan dosa dan ketidaklayakannya, dan kesadaran akan besarnya anugerah sehingga dia boleh menjadi perempuan yang dipakai untuk melahirkan, merawat, dan membesarkan Anak Allah yang datang menjadi manusia. Tidak ada perempuan yang lebih berbahagia dari Maria dalam hal ini. Dia mendapatkan keistimewaan sangat besar. Mengandung, melahirkan, dan membesarkan Yesus adalah kemuliaan Maria yang tidak dimiliki oleh siapa pun sepanjang sejarah. Tetapi yang menunjukkan keadaan rohani yang sangat dewasa dari Maria adalah kesadaran bahwa Tuhan melakukan pekerjaan mulia melalui orang-orang yang rendah akan memberikan kemuliaan kepada Allah. Jika kita, dengan kekuatan kita, kemampuan kita, kepandaian kita melakukan hal-hal mulia, maka kekaguman akan pekerjaan Tuhan tidak terlalu menonjol. Tetapi ketika Tuhan memakai orang rendah, hina, tidak berpendidikan, dan mengerjakan pekerjaan-Nya dengan agung dan besar, maka semua yang melihat kemuliaan pekerjaan itu akan sadar bahwa Allah yang mengerjakan pekerjaan itu dengan kuasa dan hikmat-Nya. Biarlah kita menyadari kelemahan-kelemahan kita. Biarlah kita bersyukur untuk kelemahan-kelemahan itu karena kita hanya bisa bergantung kepada Tuhan, dan ketika Tuhan melakukan pekerjaan-Nya melalui kita, nama Tuhanlah yang akan dipermuliakan. Tetapi sebaliknya, kalau kita gemar menonjolkan diri, kekuatan, keahlian, kepandaian, dan segala hal hebat yang lain, maka kita tidak pernah dipakai Tuhan dengan mulia. Tuhan akan menyatakan kemuliaan-Nya, dan Dia tidak akan memberikan kemuliaan-Nya kepada yang lain (Yes. 48:11). Sebaliknya, orang-orang yang besar, kuat, kaya, pandai, dan angkuh akan diruntuhkan oleh orang-orang yang rendah tetapi dipakai Tuhan. Ayat 52 mengatakan bahwa yang kuat direndahkan oleh Tuhan melalui yang lemah. Dia memakai yang lemah untuk meniadakan yang kuat (1Kor. 1:27). Jangan banggakan kekuatanmu. Tunduklah kepada Tuhan dan hiduplah dengan rendah hati, maka Tuhan akan memakai kita untuk hal-hal yang akan meninggikan nama-Nya.

Doa:
Tuhan, ajarkan kami untuk benar-benar menyadari kerendahan kami, dan pakailah kami di dalam segala keterbatasan kami dan ketidaklayakan kami. Nyatakan kekuatan-Mu, hikmat-Mu, kasih-Mu, kemuliaan-Mu yang merendahkan orang-orang congkak dan meninggikan orang-orang rendah. Pakailah kami ya Tuhan, dan nyatakan kepada semua orang bahwa bukan kami, melainkan Engkaulah yang melakukan pekerjaan-Mu. (JP)