Renungan Harian 474 (Senin, 16 Desember 2019)

Kelahiran Yohanes Pembaptis

Devotion from Lukas 1:57-66; Yesaya 40:1-11

Sebelum Yesus Kristus dilahirkan, Tuhan telah menubuatkan tentang kedatangan nabi terakhir di dalam Perjanjian Lama, yaitu Yohanes. Di dalam Yesaya 40 ini dikatakan bahwa sebelum Tuhan datang sebagai gembala yang akan menggembalakan kawanan ternak-Nya, akan ada seorang yang berseru-seru di padang gurun terlebih dahulu. Apakah yang diserukan? Di dalam ayat 6-8 seruan itu adalah seruan yang mengingatkan kepada manusia betapa singkat hidupnya. Betapa kering dan layunya kemuliaan dunia. Betapa mudahnya segala sesuatu hilang lenyap dengan begitu cepat. Seruan ini adalah seruan agar umat Tuhan bertobat. Bertobat dari segala dosa-dosa dan kecemaran yang dilakukan. Bertobat dari ikatan hati kepada harta, kedudukan, dan semua kenikmatan dunia yang fana. Bertobat dari mengabaikan Tuhan dan tidak menyembah Dia. Semua seruan ini adalah seruan sebelum Tuhan mengadakan pendamaian. Perhatikan di dalam ayat 1 dan 2. Tuhan mengatakan: “Hiburkanlah. Hiburkanlah umat-Ku.” Tuhan mau mengampuni umat-Nya. Perhambaannya karena hukuman Tuhan sudah berakhir. Semua kesalahannya telah diampuni. Segala bentuk hukuman yang harus mereka jalani telah berakhir. Sekarang adalah waktu pengampunan bagi Israel. Apakah yang diperlukan agar pendamaian benar-benar terlaksana? Hal yang diperlukan adalah pertobatan yang sejati. Tuhanlah yang akan mempersiapkan pertobatan sejati itu. Tuhanlah yang akan menyatakan firman-Nya melalui nabi-nabi-Nya agar orang-orang yang disiapkan-Nya mau kembali kepada Dia. Tuhan tidak akan mengundang umat-Nya bertobat tanpa mempersiapkan terlebih dahulu orang-orang yang akan mendengar pertobatan itu. Siapakah orang-orang yang hatinya telah dipersiapkan? Mereka adalah orang-orang yang akan mendengarkan seruan sang nabi yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan, yaitu Yohanes Pembaptis.

Yohanes Pembaptis akan menyerukan pertobatan, dan orang-orang yang telah disiapkan Tuhan, mereka itulah yang akan kembali karena mendengar seruan itu. Tetapi mereka yang tetap keras hati, mereka akan membenci Yohanes, menolak dia, bahkan membunuh dia. Namun siapa yang mendengar seruan Yohanes, mereka inilah yang dipersiapkan untuk menyambut Tuhan yang akan datang. Yohanes mempersiapkan orang-orang Israel untuk menerima Yesus Kristus, Sang Gembala sejati atas Israel. Inilah kebangunan rohani yang sejati. Kesadaran untuk berbalik dari dosa-dosa, dan hati yang sungguh-sungguh mau sujud kepada Yesus Kristus dan mengikuti Dia dengan setia.

Untuk direnungkan:
Betapa besar anugerah Tuhan bagi orang-orang yang mendapatkan kesempatan untuk dibangunkan kerohaniannya. Orang-orang yang disadarkan akan betapa besar dosa dan kecemaran yang dia jalani dalam hidup. Betapa besar berkat bagi orang-orang yang masih mendengarkan seruan untuk bertobat. Betapa bahaya orang-orang berdosa yang tidak pernah melihat terang. Betapa rusak mereka yang hidup tanpa Tuhan dan tidak menyadari kecemaran yang mereka lakukan. Bagaimanakah keadaan gereja Tuhan sekarang? Masih adakah orang yang berseru-seru dengan keras agar orang-orang Kristen sungguh-sungguh bertobat? Masih adakah orang-orang yang menghargai seruan firman Tuhan agar kembali kepada Tuhan? Jika masih, maka pertobatan yang sejati akan terjadi dan harapan bagi umat Tuhan masih terus ada. Tuhan masih beranugerah memanggil kembali umat-Nya untuk datang kepada Dia dan menyembah Dia dengan segenap hatinya. Seperti apakah pertobatan yang sejati itu?

Hal pertama, pertobatan sejati berarti kembali sujud menyembah Allah yang sejati. Orang Israel jatuh ke dalam penyembahan berhala, dan gereja Tuhan jatuh ke dalam dosa mengabaikan Tuhan. Tetap mengaku Kristen, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan mendedikasikan hidup bagi Dia. Inikah kekristenan sejati? Bukan! Inilah kekristenan lesu yang tidak beda dengan mati rohani. Orang-orang Kristen yang hidup rohaninya begitu kering, begitu kosong, dan tidak ada semangat apa pun untuk datang kepada Tuhan. Tidak mungkin orang-orang Kristen seperti ini akan menyenangkan hati Tuhan. Bertobatlah kembali kepada Tuhan. Jika kita hidup di dalam kekeringan seperti ini tetapi tidak menganggap perlu terjadi pertobatan, maka kita berada di dalam celaka yang besar. Kita akan semakin terseret jauh dari Tuhan, menjadi begitu sekuler, begitu mengabaikan Tuhan dan tidak lagi memiliki kebiasaan untuk datang kepada Tuhan. Keadaan seperti ini harus diubah. Orang-orang Kristen seperti ini harus dibangunkan kembali dari tidur rohani mereka. Mereka harus kembali kepada Tuhan, mengasihi Dia, tunduk kepada Dia, dan sungguh-sungguh merindukan Dia dan mau menyenangkan hati-Nya.

Hal kedua, pertobatan sejati berarti mengenal Dia dan makin ingin mengenal Dia. Orang Israel sejati adalah mereka yang mengenal dan dikenal oleh Allah. Mereka akan menikmati relasi dengan Allah. Mereka akan merindukan pengenalan akan Allah. Mereka akan haus akan firman Tuhan dan merenungkan firman itu siang dan malam. Bagaimana dengan kita? Merindukan firman? Ingin mengenal Tuhan lebih lagi? Berdoalah kepada Allah agar Dia memberikan kepada-Mu hati yang haus akan Tuhan. Biarlah kita tidak pernah puas dengan keadaan rohani kita, apalagi kalau kita telah begitu jauh dari kehausan untuk mengenal Allah. Memiliki relasi yang penuh kasih dan kerinduan kepada Allah adalah pertobatan yang sejati. Biarlah Tuhan terus membangkitkan kerinduan seperti ini di dalam gereja-Nya melalui kebangunan rohani sejati yang sedang Dia kerjakan.

Tetapi, kerinduan untuk mengenal Tuhan haruslah dilakukan di dalam kebenaran firman-Nya. Kerinduan mengenal Dia haruslah disertai dengan doktrin yang benar tentang Dia. Gereja yang mengabaikan doktrin adalah gereja yang sedang menuju kepada kematian. Gereja perlu mengenal siapa Allah dengan akurat, sesuai dengan firman Tuhan. Gereja harus memberikan fondasi yang benar untuk iman seseorang. Itulah sebabnya gereja dengan ajaran yang begitu simpang siur tidak mungkin memiliki kebangunan rohani yang sejati. Apalagi jikalau pemimpinnya pun mengabaikan doktrin dan tidak memedulikannya. Tanpa pengertian akan doktrin yang sejati, maka gereja akan makin terseret di dalam ajaran yang sesat.

Hal ketiga, pertobatan sejati berarti mengasihi sesama dan hidup dengan karakter yang mulia. Bagaimanakah caranya agar kita dapat memiliki kasih dan karakter yang mulia? Hanya satu cara yang dapat membuat kita mengasihi dan memiliki karakter yang mulia. Yohanes Calvin mengatakan bahwa cara untuk melatih kerohanian kita agar memiliki sikap hidup yang diperkenan Tuhan adalah dengan menyangkal diri. Bagaimana bisa mengasihi? Dengan menyangkal diri. Bagaimana bisa mengampuni? Dengan menyangkal diri. Bagaimana menunjukkan kasih kepada Tuhan? Dengan menyangkal diri. Tetapi kalau gereja pun tidak lagi mau melatih jemaat Tuhan untuk menyangkal diri, berarti gereja itu sedang berada di dalam bahaya. Kalau gereja hanya mau menyenangkan anak-anak muda dengan musik-musik rusak yang mereka miliki, lalu membawa musik seperti itu ke dalam gereja, maka gereja akan memasukkan pengaruh dunia ke dalam gereja. Bagaimana mungkin gereja seperti ini bisa memengaruhi dunia? Engkau adalah garam, demikian dikatakan Tuhan Yesus (Mat. 5:13), tetapi kalau garam itu tidak sanggup menggarami dunia karena sudah menjadi sama tawarnya dengan dunia, maka garam itu tidak berguna lagi. Gereja yang tidak lagi menggarami dunia adalah gereja yang tidak mungkin dipakai Tuhan. Menyangkal diri! Menyangkal diri agar menjadi mampu untuk hidup benar, hidup penuh kasih, dan hidup yang menang atas kuasa dosa. Ini semua tidak mudah. Tetapi siapa yang melakukannya akan berbahagia karena ini berarti kerohaniannya semakin bertumbuh di dalam Tuhan. Jauhkan diri dari dosa! Jauhkan dari kecemaran! Jangan jadi orang Kristen yang menghina Tuhan dengan menjalani hidup yang rusak!

Hal keempat, pertobatan sejati berarti ada kerinduan yang besar untuk menyatakan kemuliaan nama Tuhan. Gereja yang mengalami kebangunan adalah gereja yang memberitakan Injil. Gereja sejati harus memiliki kerinduan supaya lebih banyak orang mengenal nama Yesus. Gereja yang sejati akan terus bergerak untuk memberitakan Injil. Gereja yang tidak pernah berhenti berseru agar orang-orang dapat mengenal Tuhan Yesus adalah gereja yang dipakai Tuhan. Tetapi gereja yang diam, dan merasa nyaman dengan komunitas yang telah terbangun di dalamnya adalah gereja yang sedang menuju kepada kematian. Gereja menjadi sekarat dan sudah akan mati jika tidak ada kerinduan memberitakan Injil dan gerakan untuk menjangkau orang lain.

Doa:
Tuhan, berikanlah kebangunan yang sejati. Berikanlah pertobatan yang sejati bagi gereja-Mu. Kami rindu Tuhan boleh disenangkan oleh gereja-Mu dan cara hidup orang-orang Kristen di dunia ini. Kami mohon ampun jika kami terus menerus gagal menyenangkan Tuhan kami. Berikanlah kami kekuatan, ya Tuhan, agar kami pun boleh dipakai oleh Tuhan untuk hal-hal yang menyenangkan hati Tuhan kami. (JP)