Kedatangan Pembawa Berita Duka

Devotion from Yesaya 53:1-3

Berita sukacita dan seruan kemenangan yang sebelumnya dinyatakan sekarang berubah menjadi seruan yang sulit dipercaya. Mengapa? Sebab berita yang seharusnya adalah mengenai Sang Raja bertakhta, sekarang makin menekankan Sang Hamba yang menderita. Apakah mudah untuk mengerti bahwa baik Sang Raja yang akan bertakhta dan Sang Hamba yang menderita adalah pribadi yang sama? Sangat sulit. Siapakah yang akan percaya pemberitaan seperti ini? Tetapi sebenarnya pemberitaan ini adalah pernyataan tangan Tuhan yang penuh kuasa. Tuhan berkuasa menyatakan rancangan keselamatan bagi umat pilihan-Nya dengan cara yang penuh kemuliaan. Dia menyelamatkan umat pilihan-Nya dengan korban penebusan dosa yang dilakukan oleh Sang Anak Allah, yang datang menjadi manusia. Bagi orang-orang yang percaya, inilah berita Injil yang menyatakan kekuatan Allah menyelamatkan manusia (Rm. 1:16). Tidak ada yang dapat melihat kekuasaan Tuhan kecuali jika dia menyadari bahwa Tuhan telah merancangkan ini semua sejak mulanya (Ef. 1:4) karena kasih sayang-Nya kepada kita. Bisakah kita melihat kekuatan Tuhan di dalam berita Injil? Kekuatan yang tersembunyi di dalam kelemahan dan di dalam salib? Sebab begitulah cara Tuhan menyatakan kuasa-Nya yang menyelamatkan itu.

Ayat 2 mengatakan bahwa Dia tumbuh seperti taruk, yaitu akar yang bertunas dari tanah yang kering. Tunas yang dimaksud adalah tunas yang mengganggu akar induknya, sehingga dianggap merusak, dan biasanya orang akan memotong dan membuang taruk seperti ini. Tetapi ayat ini juga mengatakan bahwa Dia tumbuh seperti itu di hadapan Tuhan. Dia diperkenan oleh Tuhan, dan kedatangan-Nya yang dianggap hina oleh manusia sekalipun ternyata sangat diperkenan oleh Allah. Ingatlah bahwa Kristus menjadi orang tertolak yang sangat hina menjelang kematian-Nya di kayu salib. Siapakah yang tidak menghina dan mengolok-olok Dia? Dia tidak punya semarak. Dia juga tidak mempunyai hal yang diinginkan oleh kita semua. Dia hanyalah seorang yang hina dan layak dibuang begitu saja. Tetapi pada saat yang sama, keadaan-Nya adalah keadaan yang sangat diperkenan oleh Allah. Allah Bapa di sorga meninggikan Dia karena kerelaan-Nya menjadi orang yang hina dan penuh sengsara. Di dalam keadaan hina seperti inilah penebusan dosa kita tengah berlangsung. Kristus menjadi seorang yang dihina ketika Dia sedang menanggung kehinaan orang-orang yang menghina Dia itu.

Selain menggambarkan Dia sebagai taruk, Yesaya juga menggambarkan Dia seperti tunas yang tumbuh di tanah kering. Ini menggambarkan keadaan yang tanpa harapan. Tunas tumbuh di tempat kering tidak akan bertahan lama. Demikian juga sepertinya Kristus tidak akan mengubah apa-apa dengan semua karya yang dilakukan-Nya. Dia akhirnya harus mati di kayu salib dan keadaan Israel tidak menjadi lebih baik. Tanah kering yang akhirnya membuat tunas yang tumbuh juga menjadi kering dan mati. Inilah penggambaran tentang keadaan Yesus Kristus ketika Dia akan dipaku di kayu salib. Tidak ada kemuliaan apa pun yang terlihat. Tidak ada harapan apa pun yang sepertinya bisa dipegang. Tidak ada masa depan apa pun bagi umat Tuhan, karena Yesus Kristus mereka paku di atas kayu salib.

Tetapi, meskipun digambarkan dengan sangat menyedihkan, ayat 1 mengingatkan bahwa tangan kekuasaan Tuhan sedang dinyatakan. Berbahagialah orang-orang yang memahami hal ini. Tidak akan ada kegagalan apa pun dari rencana Allah yang mulia untuk menyelamatkan manusia. Allah tidak mungkin gagal. Tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan melalui kelemahan. Itulah sebabnya hanya orang-orang yang mengimani firman Allah tentang hal-hal ini yang akan mampu menerima bahwa Tuhan menyatakan kuasa-Nya di dalam keadaan terhina seperti ini.

Inilah berita yang dibawa untuk pembebasan umat Tuhan. Kita tidak mungkin menjadi umat yang diperkenan oleh Tuhan tanpa mengalami penebusan dari Tuhan. Sejak pertama kali manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan telah menjanjikan keselamatan bagi manusia (Kej. 3:15) yang harus melalui penebusan terlebih dahulu (Kel. 12:6-7). Tuhan telah merancangkan keselamatan orang-orang pilihan-Nya tanpa sedikit pun mengompromikan kekudusan dan keadilan-Nya. Dia merancangkan keselamatan melalui konsep penebusan. Siapakah yang akan menggenapi rencana keselamatan ini dengan menjadi Sang Penebus? Yesus Kristus. Hanya Dia yang sanggup dan yang telah ditetapkan Allah menjadi penebus orang-orang pilihan-Nya. Jadi, apakah berita sukacita yang dimaksud di awal Yesaya pasal 52? Berita sukacita bagi pendengarnya, yaitu kita sekalian. Tetapi ini adalah berita yang sangat keras, penuh kesukaran dan penderitaan, serta penuh dengan dukacita bagi yang akan menggenapi penebusan bagi kita sekalian, yaitu Yesus Kristus. Itulah sebabnya berita di dalam Yesaya 52 dan 53 sangat bersifat paradoks. Berlawanan, tetapi tidak dapat dipisahkan. Berbicara mengenai keselamatan jiwa, tetapi juga berbicara tentang penghiburan dan kerelaan untuk menjadi berkat bagi yang lain. Yesus yang menanggung segala berita dukacita dan menakutkan itu, sementara kita semua menanggung kabar baik, yaitu Allah rela memperbaiki umat-Nya.

Dengan memahami bahwa Yesus Kristus mengalami semua yang jelek dan menakutkan karena penebusan dosa, dan apa yang Dia alami inilah yang menjadi dasar dari berita Injil, yaitu berita pendamaian bagi umat-Nya yang masih terhilang, maka kita akan memahami makna berita Injil dengan tepat. Lihat, sang pembawa berita sudah pergi lagi. Pergi dengan membawa berita Injil ke pelosok-pelosok. Berita pengampunan, pertobatan, pendamaian, dan pemulihan bagi umat Tuhan dari Allah. Tetapi berita yang didapat dari penderitaan Sang Hamba Allah yang menjalani sengsara bagi kita. Yesus menjalani sengsara ini untuk membawa berita sukacita itu kepada umat pilihan Tuhan. Tidak ada kasih, penebusan, dan kerelaan berkorban lebih besar daripada apa yang telah dibuktikan oleh Yesus Kristus di kayu salib.

Mengapa pengorbanan Kristus dinyatakan di atas kayu salib? Karena kayu salib adalah hukuman paling berat yang bisa dialami oleh Kristus. Salib bukan hanya berat karena penderitaan fisik yang diberikan, tetapi terutama salib menjadi sangat berat karena salib adalah lambang penaklukkan dan lambang orang yang dipermalukan secara amat sangat. Yesus Kristus memiliki kemuliaan yang begitu agung dan melampaui segala sesuatu. Tetapi ketika Dia harus mengalami hukuman salib, maka kemuliaan yang begitu besar seolah-olah menjadi kehinaan yang sangat besar. Inilah hal yang sangat berat bagi Dia. Salib juga memiliki makna terkutuk oleh Tuhan. Dengan digantung di atas kayu salib, Yesus sedang dipamerkan sebagai orang yang ditolak oleh Allah dan dihukum berat oleh Allah Bapa di sorga. Kayu salib inilah yang menyebabkan orang-orang menganggap Dia hanyalah taruk yang sedang dibuang. Kayu salib inilah yang membuat Yesaya menggambarkan Dia seperti tunas yang tumbuh di tanah kering. Tetapi kayu salib inilah sebenarnya sumber dari perdamaian dan penebusan yang hendak diberikan oleh Allah kepada umat-Nya. Apa yang nampak seperti taruk yang harus dibuang, ternyata adalah tunas yang akan menjadi pokok keselamatan. Apa yang tumbuh seperti di tanah kering, ternyata adalah sumber hidup yang akan menghidupkan seluruh umat Tuhan. (JP)