Mati Untuk Seluruh Bangsa

Devotion from Yohanes 11:45-53

Apa yang Tuhan Yesus kerjakan membuat banyak orang Yahudi percaya kepada Dia. Tetapi semakin banyaknya jumlah orang Yahudi yang percaya kepada Yesus sebagai Kristus membuat para pemimpin ingin membunuh Dia. Mengapa Dia harus dibunuh? Ayat 48-50 mengatakan bahwa para pemimpin agama itu ingin membunuh Yesus demi alasan keamanan Israel dan tempat sucinya. Kalau Yesus tidak dibunuh, Dia akan menggerakkan banyak orang mengikut Dia. Ini akan memancing kemarahan Romawi, sehingga akhirnya Romawi akan datang, merampas tempat suci, dan menghancurkan seluruh Israel (ay. 48). Israel akan selamat kalau Yesus mati. Israel akan hancur kalau Yesus tetap hidup. Benarkah ini? Jika kita mengetahui kaitan ayat 48 dengan Kitab Nabi-nabi Perjanjian Lama, maka kita akan mengetahui juga betapa rusaknya hati para pemimpin ini. Kejahatan mereka sangat menonjol, tetapi mereka sendiri tidak menyadarinya. Mereka mau bertindak demi Tuhan mereka, demi Bait Suci-Nya, dan demi Israel milik Dia. Mereka berencana untuk bertindak sangat jahat terhadap Tuhan Yesus, tetapi mereka merasa seperti sedang merencanakan perbuatan yang berbakti kepada Tuhan (Yoh. 16:2)! Mereka merasa sedang bertindak sebagai pahlawan-pahlawan Israel yang mengambil tindakan dengan cost yang paling perlu demi keamanan bangsa mereka. Mereka mau menjauhkan Israel dari kehancuran Yerusalem yang kedua.

Yerusalem sudah pernah dihancurkan oleh Babel. Tembok-temboknya diruntuhkan, bangunan-bangunannya terbakar dan dijadikan puing-puing, dan Bait Allah dihancurkan oleh Nebuzaradan, Panglima tentara Raja Babel (2Raj. 25:8-10). Tuhan menggerakkan Babel untuk menghukum Yerusalem karena Israel sudah tidak setia kepada Allah (Yer. 25:5-9). Tuhan menghancurkan kota di mana Bait Suci-Nya berada karena kejahatan orang-orang di dalamnya yang melakukan kekerasan (Yer. 6:6-8). Tetapi di dalam Yohanes 11:48, para pemimpin agama mengatakan bahwa Yerusalem dan Bait Suci di dalamnya akan hancur kalau mereka tidak melakukan kekerasan kepada Yesus. Yesus harus dibunuh. Tetapi apakah pembunuhan Yesus tidak termasuk kekerasan? Mereka tidak sadar bahwa mereka termasuk kumpulan orang yang berbicara tentang kekerasan seperti yang dikatakan di dalam Zefanya 3:1-5! Mereka adalah ahli-ahli Kitab Suci, tetapi mereka tidak sadar akan hal ini. Merancang kematian seseorang dianggap sebagai hal kecil bagi mereka. Berkumpul untuk merencanakan pembunuhan dianggap sebagai bagian dari kesalehan. Apakah memang agama dirancang untuk menjadi keras seperti ini? Apakah iman kepada Tuhan memang harus diekspresikan dengan kemarahan, kebencian, dan niat membunuh seperti ini? Tentu tidak. Ini adalah alasan Tuhan membuang Yerusalem ke tangan tentara-tentara Babel. Tetapi, sebagaimana dulu Yerusalem melakukan kekerasan dan dibuang oleh Tuhan, demikian juga sekarang mereka merancang kekerasan yang sama. Tetapi betapa ironisnya kalimat di dalam Yohanes 11:48. Mereka merancang kekerasan yang menyebabkan Tuhan menghancurkan Yerusalem, dengan alasan untuk mencegah Yerusalem dihancurkan!

Injil Yohanes terus membongkar kesalahan orang-orang berdosa. Dosa mereka yang besar dapat dengan jelas kita lihat melalui cara mereka berkata-kata, rancangan mereka yang jahat, dan perbuatan mereka yang tidak mengenal kasih dan belas kasihan. Tidak ada perasaan merendah karena sadar akan dosa. Tidak ada hati yang hancur karena menyadari bahwa diri sudah begitu bersalah kepada Tuhan. Yang ada hanya peninggian diri, amarah, dendam kepada orang lain, keinginan untuk membunuh, dan rencana licik untuk menghilangkan nyawa orang lain dengan menghalalkan segala cara. Tetapi, walaupun pembaca dapat melihat ini dengan jelas, Injil Yohanes menggambarkan bahwa orang-orang berdosa ini tidak sadar akan dosa-dosa mereka ini. Mereka tidak sadar bahwa mereka ada di tempat orang fasik. Mereka tetap melihat diri mereka sebagai orang benar yang ingin membunuh orang fasik. Siapakah orang fasik itu bagi mereka? Yesuslah orang fasik itu. Yesus melakukan tanda-tanda yang membuktikan Dia adalah Sang Mesias, Yesus mengajar, Yesus menyembuhkan orang sakit, Yesus membangkitkan orang mati, Yesus memberi damai sejahtera bagi semua yang mengikuti Dia, Yesus menyatakan kasih, Yesus rela berkorban, Yesus adalah gembala yang baik, Yesus memberi makan ribuan orang, Yesus memperhatikan mereka yang miskin dan tidak berdaya, Yesus menegur dosa, Yesus menguatkan orang dengan khotbah-khotbah-Nya, Yesus mengasihi Allah dan sesama, Yesus berkuasa di dalam perkataan dan tindakan, Yesus berkata kebenaran, bertindak benar, tidak ada cacat di dalam perkataan-Nya dan tidak ada ketidakbenaran di dalam tindakan-Nya, dan Yesus mengumpulkan orang untuk mengajarkan kasih Allah kepada mereka… ini semua tanda-tanda bahwa Yesus orang fasik yang harus dibunuh! Sedangkan mereka adalah orang benar yang sedang duduk di kursi pengadilan (Mzm. 1:5). Mereka berkumpul untuk membicarakan fitnah, kemarahan, kebencian tanpa alasan, strategi membungkam dan menghancurkan orang lain, rencana untuk menghilangkan nyawa orang lain. Persepakatan mereka didorong oleh kebencian, iri hati, perasaan benar sendiri, dan amarah serta kekerasan. Rancangan mereka adalah kelicikan, suap, dan provokasi. Mereka senang mengumbar kalimat-kalimat penuh kebencian. Mereka senang menipu, mereka senang kekerasan, mereka ingin melihat Yesus dimatikan dengan segera… ini semua tanda-tanda bahwa merekalah orang benar! Betapa menggelikannya hal ini! Setiap pembaca Injil Yohanes segera ingin berseru kepada mereka, “tidak sadarkah kamu, hai kamu yang jahat, bahwa kamulah orang jahat yang dimaksudkan oleh Tuhan di dalam Mazmur 14?”

Ironi di dalam bacaan hari ini terus bertambah dengan kalimat dari seorang Imam Besar di ayat 49. Kayafas, Sang Imam Besar, berkata untuk menyimpulkan apa yang ada di dalam pikiran setiap pemimpin agama yang berkumpul pada waktu itu. Pikiran yang enggan mereka ungkapkan karena kemunafikan mereka. Niat membunuh yang disembunyikan karena takut dianggap jelek. Ini kelompok yang luar biasa munafik. Tidak seorang pun berani mengucapkan kalimat, “mari kita bunuh Yesus,” karena takut dianggap jahat. Tetapi keinginan untuk membunuh Yesus begitu besar. Perhatikan kalimat di ayat 47, “Apakah yang harus kita buat?” Ini adalah kalimat pancingan. “Apa yang harus diperbuat? Tentu saja kita harus membunuh Yesus. Tetapi siapa yang akan mengatakan ini? Masakan saya yang mengatakannya? Saya memang jahat, pembunuh, kejam, ingin darah orang yang tidak bersalah, penuh kebencian dan amarah, tetapi saya harus kelihatan seperti malaikat suci. Jadi kalimat saya harus dijaga. Tidak boleh keluar apa pun yang membuat orang tahu betapa busuknya saya…” Mereka semua ingin membunuh Yesus, tetapi terlalu munafik untuk mengatakannya. Maka mereka merancang seolah-olah membunuh Yesus adalah hal yang saleh. Kalau Dia tidak mati, Yerusalem mati. Kalau Dia tidak kita bunuh, Israel hancur. Jika Dia dibiarkan, pembuangan akan datang lagi. Jadi, walaupun kita tidak ingin, sepertinya dengan terpaksa kita harus membunuh orang ini. Oh, betapa munafiknya orang-orang ini! Akhirnya Sang Imam Besar menjadi pahlawan bagi semua penjahat busuk ini. Dialah yang mengeluarkan kalimat yang ingin segera dikatakan oleh semua orang yang hadir itu. Perhatikan betapa “agungnya” kalimat Sang Imam Besar itu. Lebih baik satu orang mati demi seluruh bangsa, daripada seluruh bangsa binasa. Tetapi perhatikan komentar dari Injil Yohanes di ayat 51. Yohanes mengatakan bahwa ini adalah nubuat. Nubuat? Ya. Imam Besar itu sedang bernubuat. Kalimat jahat yang dia ucapkan ternyata Tuhan pakai untuk menubuatkan apa yang akan dilakukan Yesus. Dia akan mati demi menyelamatkan bangsa Israel dan seluruh bangsa-bangsa di bumi. Dia akan menyelamatkan umat-Nya dari pembuangan dengan mengambil tempat mereka di pembuangan dan mati bagi mereka. Penebusan Kristus yang agung dinubuatkan secara tidak sadar oleh orang jahat ini. Imam Besar palsu secara tidak sadar sedang menubuatkan apa yang akan dilakukan oleh Sang Imam Besar sejati. Imam Besar palsu mau membunuh orang lain. Imam Besar sejati rela mati demi orang lain. Imam Besar palsu penuh kejahatan dan kemarahan. Imam Besar sejati penuh kasih setia dan kebenaran. Imam Besar palsu menubuatkan kematian Sang Imam Besar sejati. Imam Besar sejati menggenapi nubuat itu.

Untuk direnungkan:
Sadarkah kita apa yang sedang Injil Yohanes bagikan dalam bagian ini? Yohanes sedang meletakkan secara head to head antara Kristus di satu sisi dan Imam Besar Kayafas dan para pemimpin agama di sisi lain. Yohanes memberikan kontras yang besar antara kedua kelompok ini. Yesus baru saja membangkitkan Lazarus yang mati, sedangkan Imam Besar dan para pemimpin agama membahas cara mematikan Yesus yang hidup. Yohanes juga menyatakan bahwa era para Imam Besar palsu dan para pemimpin agama palsu ini akan berakhir dengan diangkatnya Sang Imam Besar sejati. Kehadiran Yesus memberi pengharapan di tengah-tengah kekacauan agama. Orang beragama dan pemimpin agama sudah terlalu banyak merusak bangsa. Tetapi Tuhan mengirimkan Kristus untuk menebus dan mengoreksi cara beragama. Agama tidak bisa dipertahankan dengan kuasa kekerasan, tetapi dengan kasih setia dan kebenaran. Agama tidak bisa disebarkan dengan membunuh lawan, tetapi dengan menawarkan pengampunan dari Tuhan. Agama tidak bisa dipaksakan dengan membungkam orang lain. Agama ditawarkan dengan tindakan pengorbanan. Yesuslah satu-satunya pengharapan bagi Israel untuk memiliki agama yang benar di hadapan Tuhan. Pemimpin agama palsu ingin mematikan orang yang hidup, tetapi Yesus menghidupkan orang yang mati. Yesuslah satu-satunya pengharapan bagi seluruh bangsa untuk memiliki ketulusan hati dan kebenaran di dalam agama. Akhirnya ada Imam Besar  dan Pemimpin sejati yang tidak munafik, yang tidak palsu. Yang segala ucapannya adalah kebenaran. Yang segala tindakannya adalah berkat. Yang mendedikasikan hidup sepenuhnya untuk berkorban memberi hidup bagi yang lain. (JP)