Hutang Untuk Mengasihi

Devotion from Roma 13:8-9

Dalam bagian ini Paulus mengatakan bahwa kita tidak boleh mempunyai hutang apapun, kecuali hutang kasih. Paulus menyinggung mengenai hutang di dalam surat Roma ini dalam tiga kesempatan. Yang pertama adalah Paulus mengatakan bahwa dia berhutang Injil kepada jemaat di Roma. Mengapa demikian? Apakah jemaat di Roma memberi sesuatu kepada Paulus lalu Paulus menjadi berhutang kepada mereka? Tidak. Konsep hutang Paulus di sini bukanlah karena seseorang memberi maka saya harus melunasi. Yang dia tekankan di sini adalah hutang yang dia miliki karena Tuhan sudah memberi kepada dia. Tuhan sudah menyatakan berita Injil-Nya kepada dia. Tuhan sudah menyelamatkan dia melalui darah Kristus, maka dia berhutang untuk menyampaikannya kepada jemaat di Roma. Di sini kita mengerti bahwa Paulus berhutang karena Tuhan yang memberi dan dia harus menyalurkannya kepada orang lain. Hal kedua adalah pada ayat sebelum bagian bacaan kita kali ini. Paulus mengatakan jangan berhutang pajak, atau rasa hormat, atau rasa takut, atau penghargaan kepada orang lain. Prinsip yang mau Paulus tekankan masih sama. Kita berhutang penghargaan kepada orang lain karena Tuhan memberikan kepada orang lain itu sesuatu yang harus kita hargai. Kepada orang yang Tuhan percayakan firman kita memberikan penghargaan sebagai orang yang Tuhan telah panggil. Kepada orang yang menjalankan tugas pemerintahan kita memberikan ketaatan kita karena Tuhan berkehendak demikian. Maka kita berhutang penghormatan kepada orang lain karena Tuhan menetapkan bahwa orang lain diberikan penghormatan tersebut. Jadi tetap dengan  prinsip yang sama. Saya berhutang karena Tuhan sudah memberi kepada orang tersebut hak untuk mendapatkan apa yang harus saya bayarkan tersebut.

Jadi jangan berhutang kecuali berhutang cinta kasih. Karena Paulus berhutang Injil kepada orang lain, maka dia pergi memberitakan Injil. Ketika semua yang dapat dia lakukan sudah dilakukan kepada orang lain agar dia menerima Injil, maka hutangnya sudah selesai. Dia tidak lagi bertanggung jawab atas kebinasaan orang yang masih menolak. Demikian juga ketika kita berhutang apapun dari orang lain, ketika kita sudah membayar lunas hutang tersebut, maka hutang kita sudah selesai. Tetapi tidak demikian dengan kasih. Kita berhutang kasih kepada orang lain sampai seumur hidup kita. Mengapa? Karena kita mendapatkan cinta kasih dari Tuhan seumur hidup kita. Hari demi hari kita menikmati kasih Allah dan hari demi hari juga kita berhutang mengasihi orang lain. Kita mengasihi karena Allah sudah lebih dahulu mengasihi kita. Maka di dalam hal ini, sebagaimana dikatakan Paulus, kita berhutang kasih tanpa sanggup melunasinya.

Kasih sebagai Dasar Melakukan Hukum Taurat
Kasih yang Tuhan tuntut kita lakukan adalah kasih yang dinyatakan oleh Tuhan sendiri melalui firman-Nya. Kasih ini bukanlah kasih dari dunia ini. Mengapa demikian? Karena dunia ini tidak mengenal kasih Allah. Kalau dunia ini tidak mengenal kasih Allah, maka itu berarti dunia ini harus mengandalkan diri sendiri untuk mengasihi. Tetapi manusia tidak diciptakan untuk menjadi sumber kasih. Apalagi setelah jatuh ke dalam dosa. Manusia tidak mampu mengasihi sebagaimana Tuhan inginkan. Seorang filsuf dan sastrawan atheis Perancis bernama Jean-Paul Sartre menulis sebuah drama yang berjudul “No Exit”. Dalam drama itu diceritakan tentang tiga orang yang tidak tahu dari mana mereka berasal. Mereka tiba-tiba muncul di sebuah ruangan dan duduk di situ. Lalu mereka mulai bertanya-tanya, “di manakah kami?” Baru mereka sadari ternyata mereka ada di neraka! Lho, kok neraka tidak ada apinya? Tidak ada setan warna merah membawa garpu raksasa? Lalu mereka mulai saling bicara, berinteraksi. Makin lama mulai ada gesekan-gesekan. Akhirnya perselisihan makin besar dan mereka tidak tahan lagi tinggal bersama-sama. Ternyata tempat ini sungguh-sungguh neraka karena adanya orang lain. Orang lain adalah neraka. Demikian kesimpulan dari drama tersebut. Mengapa demikian? Karena setiap orang mau membangun dunia mereka sendiri di mana orang lain adalah alat untuk membuat dunia tersebut memuaskan bagi si pemiliknya. Celakanya setiap orang lain juga punya dunia sendiri dan mau orang lain menjadi alat untuk membuat dunianya memuaskan. Maka relasi setiap orang pasti menjadi konflik. Inilah pengertian Sartre yang mewakili pengertian dunia ini mengenai relasi. Relasi adalah konflik dan orang lain adalah neraka. Seperti inikah hidup kita? Jika ya, maka kita belum juga mengerti apa yang dituntut Tuhan dengan perintah kasihilah sesamamu manusia. Kita masih menjadikan orang lain alat untuk kepuasan pribadi kita. Orang lain hanya berguna selama dia bermanfaat. Berelasi dengan orang lain akan dilakukan selama ada keuntungan pribadi. Ini bukan kasih.

Dunia ini tidak sanggup menjadi sumber kasih. Selain karena terbatas dan tidak sempurna, manusia sudah jatuh di dalam dosa dan tidak lagi mampu dengan tulus memberikan kasih sebagaimana Tuhan Yesus telah mengasihi. Maka kita menjadi berhutang kasih dan membayar hutang itu sebagai saluran kasih. Kasih yang bersumber dari Allah yang kita bagikan kepada orang lain. Ini adalah hal yang menjadi pembeda antara kasih dunia ini dengan kasih yang diajarkan dalam Kitab Suci.

Dengan mengaitkan kasih sebagai kasih yang dari Allah, maka kasih tidak mungkin dilepaskan dari pengenalan akan kehendak Allah melalui firman-Nya. Kita mengasihi karena Allah memberikan kita cinta kasih-Nya dan memberikan kita pengertian akan kasih itu melalui firman-Nya di dalam Taurat. Kalau begitu ada dua pengertian yang mengaitkan antara kasih dengan firman Tuhan, hukum Taurat. Yang pertama adalah kasih menjadi dasar kita melakukan hukum Tuhan. Paulus memberikan beberapa contoh mengenai Hukum Taurat pada bagian ini. Yang pertama  Paulus mengatakan bahwa perintah jangan berzinah sudah digenapi jikalau kita mengasihi orang lain. Perzinahan adalah sesuatu yang menghina pernikahan, menghina lambang relasi antara Kristus dengan jemaat, merendahkan seks sebagai pemuas nafsu saja, dan menurunkan relasi kasih dan komitmen. Tuhan menciptakan seks bukan hanya sebagai suatu kenikmatan yang boleh dinikmati hanya di dalam pernikahan, tetapi Tuhan juga memaksudkan seks sebagai lambang komitmen total dari sebuah pernikahan. Mengapa seseorang melanggar janji pernikahannya? Karena seks, atau mungkin karena merasa bosan, atau merasa salah pilih, semua alasan itu adalah alasan yang menunjukkan apa yang dikatakan Sartre. Orang lain hanyalah alat untuk memuaskan saya. Jadi kalau tidak puas, ya, saya boleh cari yang lain. Inilah kerusakan itu. Kerusakan yang terjadi karena manusia tidak belajar kasih dari Allah, tetapi bertumbuh dan melatih diri dengan pengertian kasih yang oportunis, hanya dijalankan kalau saya senang atau untung. Rumah tangga yang rusak menghasilkan anak-anak yang rusak yang nanti akan memandang rendah pernikahan. Akhirnya terus menerus berulang hingga menciptakan masyarakat yang rusak. Masyarakat yang rusak inilah yang pada akhirnya membuat suatu bangsa menjadi bangsa yang rusak. Mau reformasi negara? Mau bangsa ini menjadi lebih baik? Daripada memaki-maki pemerintah, bagaimana kalau dimulai dengan mengasihi keluarga? Mengasihi pasangan dan mengajarkan anak-anak apa itu kasih dari Allah.

Kemudian Paulus juga mengatakan bahwa perintah jangan membunuh juga sudah digenapi dengan perintah kasihilah sesamamu manusia. Tuhan Yesus mengatakan bahwa perintah jangan membunuh tidak dimaksudkan untuk hanya mencegah seseorang melakukan tindakan pembunuhan yang sebenarnya. Perintah ini juga mencegah seseorang untuk membenci orang lain. Benci berarti saya ingin agar orang lain itu hilang saja dari kehidupan saya. Maka suatu kebencian akan menuju kepada pembunuhan secara alami. Maka memenuhi hukum “jangan membunuh” tidak cukup dengan saya tidak melakukan pembunuhan. Memenuhi hukum “jangan membunuh” harus dilakukan dengan mengasihi. Kasih tidak menganggap orang lain sebagai gangguan. Kasih tidak menganggap kejelekan orang lain sebagai sesuatu yang membuat saya membenci dia. Kasih tidak membuat kita mendendam. Kasih berarti kita mengampuni orang lain. Sebab tidak logis bila kita tidak mampu mengasihi orang lain yang untuk dia Kristus rela mengampuni dan menyerahkan nyawa. Siapakah kita sehingga kita menganggap diri terlalu tinggi untuk dapat mengampuni orang lain?

Dua hukum terakhir saya gabungkan jadi satu. Jangan mengingini. Mengapa kita mengingini? Karena kita ingin diri kita yang menjadi pusat alam semesta. Karena saya pusat alam semesta, maka saya yang harus mendapatkan segala yang baik. Jikalau orang lain yang dapat, saya akan iri hati dan marah. Saya iri karena saya anggap dia tidak berhak mendapat apa yang dia dapatkan. Dan karena itu saya tidak salah kalau saya mencuri. Tetapi jikalau kita mengasihi orang lain kita akan bersukacita bila mereka mendapatkan berkat. Biarlah mereka yang mendapatkannya, bukan saya. Inilah cinta kasih yang sejati. Kerinduan saya bukanlah untuk menjadikan diri sendiri pusat dunia ini dan orang lain adalah alatnya, tetapi kerinduan saya adalah boleh menjadi alat untuk membagi sesuatu bagi kepentingan orang lain. Ini merupakan tuntutan yang hanya dapat dipenuhi kalau hati kita sungguh-sungguh memiliki cinta kasih. Hati yang mengasihi akan dengan rela melakukan apa yang perlu bagi kebaikan orang yang dikasihi, dan bukan bagi keuntungan sendiri.

Kasih Dibimbing oleh Hukum Taurat
Yang berikutnya adalah Hukum Taurat adalah pembimbing bagi kita untuk mengasihi. Hukum Taurat membimbing dengan cara yang lebih dalam daripada anugerah umum Tuhan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa kalau kita mengasihi orang yang mengasihi kita, maka apa bedanya kita dengan orang-orang kafir? Karena mereka pun mengasihi orang-orang yang mengasihi mereka. Berarti firman Tuhan mengarahkan kita untuk mengasihi lebih daripada orang dunia ini mengasihi. Yang celaka adalah kalau kita bahkan lebih buruk dalam mengasihi dibandingkan dunia ini! Kalau kita saling iri, saling gosip, saling benci, saling memperebutkan sesuatu untuk nafsu pribadi, maka kita lebih parah dari dunia ini! Betapa jauhnya kita dari tuntutan Tuhan! Kita harus terus berusaha melaksanakan apa yang Tuhan Yesus perintahkan, yaitu saling mengasihi begitu rupa hingga orang-orang dunia langsung tahu bahwa kita adalah murid Tuhan Yesus. Tidak ada yang mampu mengasihi lebih daripada murid-murid Tuhan Yesus karena hanya murid-murid Tuhan Yesus saja yang mengalami penebusan melalui darah-Nya. Tetapi kalau gereja malah menjadi tempat iri dan dengki… celakalah kita semua.

Hal kedua yang dilakukan hukum Taurat adalah menyadarkan akan dosa. Luther mengatakan inilah fungsi Taurat yang membuat orang berfokus kepada Kristus bagi keselamatan jiwa mereka. Taurat menyadarkan kita tentang siapa kita sebenarnya. Ketika kita mengasihi, pada saat yang sama hukum Taurat menyadarkan kepada kita bahwa kita tidak layak dan tidak berhak mendapat kasih Allah. Tetapi karena belas kasihan Allah maka kita mendapatkan kasih Allah. Karena belas kasihan yang sama juga kita mengasihi orang lain. Kasih yang merupakan cerminan dari kasih Allah. Kasih yang tidak melihat keuntungan timbal balik, tetapi kasih yang didorong oleh perasaan tidak layak di hadapan Tuhan. Dengan demikian juga kita melihat kepada orang lain dan tidak memandang rendah mereka yang jatuh ke dalam dosa. Kita tidak dipanggil untuk merasa lebih baik daripada orang lain, tetapi kita dipanggil untuk memberikan kasih. Di dalam kasih ada belas kasihan.

Hal ketiga adalah apa yang dinyatakan oleh Calvin. Luther, setelah menyerukan Sola Fide, hanya oleh iman, meletakkan dasar keselamatan bukan karena menuruti Taurat, tetapi hanya karena iman kepada Yesus Kristus. Lalu apa fungsi Hukum Taurat? Calvin memberikan pemikiran yang penting mengenai fungsi pendidikan dari Taurat. Hukum Tuhan berguna untuk mendidik umat Tuhan bagaimana menjalankan hidup sehari-hari. Hukum itu tidak menyelamatkan, tetapi membimbing orang yang sudah memperoleh keselamatan. Maka Hukum Taurat juga mengajarkan kepada kita bagaimana mengasihi. Satu hal yang paling penting adalah kasih merupakan cerminan sifat Allah yang tidak boleh dipisahkan dengan sifat Allah yang lain, yaitu keadilan. Allah menyatakan kesucian-Nya dengan memberikan cinta kasih yang tidak mengompromikan keadilan-Nya. Maka kasih sejati tidak boleh diberikan lepas dari keadilan. Kasih tidak membuat orang yang kita kasihi menjadi lumpuh. Sebaliknya kasih yang kita berikan seharusnya memampukan orang yang kita kasihi untuk bertumbuh dan menjadi saluran kasih bagi orang lain juga. Inilah pendidikan Tuhan melalui Hukum Taurat mengenai bagaimana mengasihi. Allah mengasihi umat-Nya, karena itu Dia memberikan peringatan-Nya melalui Taurat yang diberikan kepada umat-Nya. Dengan demikian kasih sejati memberikan belas kasihan kepada orang berdosa sambil mempertahankan kesucian Allah. Maka doa, teguran, dan bimbingan harus menyertai cinta kasih yang sejati. Kristus membenci dosa. Dia menegur dosa. Tetapi Dia mengajar, membimbing, dan berdoa bagi orang berdosa. Dia juga mengorbankan nyawa-Nya bagi orang berdosa. Inilah kasih yang harus kita salurkan kepada orang lain itu.

Kiranya kita boleh dikuatkan oleh Tuhan. Kita belajar mengasihi dengan mengambil kekuatan hanya dari Tuhan. Orang dunia ini tidak sanggup mengasihi dengan tulus karena mereka mengharapkan mendapat kekuatan untuk mengasihi dari orang yang mereka kasihi. Tetapi kita tidak mengharapkan apa-apa dari orang yang kita kasihi. Mungkin orang yang kita kasihi menyakiti kita, membuat hati kita hancur, tetapi kita akan menjadi kuat karena sumber kekuatan kita adalah kasih Allah. Kita mengasihi karena Allah sudah mengasihi kita. Bapa sudah rela mengorbankan Anak-Nya karena Dia mengasihi kita. Yesus Kristus sudah rela menyerahkan nyawa-Nya karena Dia mengasihi kita. Maka, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Marilah kita menutup tahun ini dengan saling mengasihi. (JP)