Kemuliaan Sang Raja Israel

Devotion from Yohanes 12:27-33

Tuhan Yesus membagikan keadaan hati-Nya yang penuh pergumulan kepada para murid. Dia mengalami pergumulan batin yang berat. Yesus Kristus benar-benar menghadapi segala kesulitan untuk menghidupi kehidupan sebagai umat Allah di dunia ini. Dia tidak dikecualikan dari pergumulan dan kesulitan, baik secara fisik maupun secara batin. Dia sangat tertekan karena apa yang akan Dia alami. Rancangan Allah bagi pemanggilan umat-Nya menyebabkan Dia harus menjadi korban bagi seluruh umat Allah. Ini merupakan panggilan Tuhan bagi Kristus untuk keselamatan umat-Nya. Panggilan yang diresponi oleh Yesus Kristus dengan ketaatan dan pergumulan. Orang Kristen sering kali melihat panggilan yang dijalani oleh Yesus di dalam sisi ekstrem yang tidak tepat. Ada yang melihat Yesus sebagai Allah sejati, tetapi melupakan fakta bahwa Dia menjadi manusia sejati. Orang-orang ini lupa apa yang ditulis di dalam 1 Yohanes 4:2 dan 2 Yohanes 1:7. Sebagai manusia, Yesus Kristus bergumul di dalam hidup yang menaati Tuhan. Pergumulan ini tidak muncul dari keinginan berdosa yang ada di dalam jiwa Kristus. Ini cara melihat yang salah. Kristus tidak berdosa, maka Dia tidak bergumul menaati Tuhan. Kita berdosa, maka kita bergumul menaati Tuhan. Pembacaan seperti ini membuat kita gagal menangkap apa yang Yohanes mau ajarkan kepada kita. Yohanes mengajarkan kepada kita bahwa Yesus adalah seorang manusia yang suci, tidak memiliki kesalahan, dan Dia bergumul untuk menaati Tuhan. Dia gentar menjalankan panggilan-Nya karena panggilan-Nya itu akan membuat Dia dibuang oleh Allah untuk sementara waktu. Ini membuat Dia mengalami keadaan yang sangat berat untuk menggenapi kehendak Allah. Tetapi karena Dia bergumul dan berhasil taat, maka Dia menjadi teladan bagi kita semua yang juga bergumul dan berjuang untuk taat kepada Tuhan. Pergumulan yang sangat berat sehingga Dia sangat gentar. Apakah kita mengalami hal ini? Gentar dan takut? Orang-orang yang merasa gentar dan takut yang, tentu saja, bukan karena dosa, biarlah Dia melihat kepada Dia yang akan menyempurnakan iman mereka. Ketika mereka memandang kepada Dia, pada waktu itu mereka akan menyadari bahwa kesulitan yang mereka hadapi juga dihadapi Yesus. Dan mereka juga akan menyadari bahwa ketaatan Yesus menjadi teladan untuk mereka menaati Tuhan. Selain itu mereka akan semakin menghargai kasih Allah yang dinyatakan melalui kerelaan Yesus menjadi manusia dan menghadapi segala pergumulan dan kesulitan yang dialami manusia. Sang Anak Allah menjadi manusia, dan sebagai manusia menjalani apa yang kita harus jalani. Kemenangan-Nya bukanlah kemenangan tanpa kesulitan. Kasih-Nya mendorong Dia untuk mengalami segenap kesulitan yang kita alami dengan berat. Berat, tetapi menang.

Ayat 30 menyatakan kemenangan Yesus yang menggenapi pergumulan dalam Mazmur 41:11-13. Pergumulan ini digenapi di dalam perkataan Yesus bahwa Allah senantiasa berkenan kepada Dia. Mari pikirkan hal ini. Dengan iman Yesus menjadi kuat. Dia tidak terus menerus goyah karena Dia percaya kepada firman Sang Bapa. Yesus Kristus tidak digambarkan sebagai pahlawan Stoik ala Yunani dan Romawi yang tidak pernah mengalami pergumulan orang-orang biasa. Mereka pahlawan super yang menang tanpa pergumulan. Seperti seorang juara tinju tidak perlu mengalami kesulitan mengalahkan seorang anak kecil dalam bertinju, demikian para pahlawan ini tidak mengalami kesulitan untuk mengalami kemenangan hidup. Yesus Kristus memang menang, tetapi bukan tanpa pergumulan. Yesus Kristus tidak mungkin gagal, tetapi bukan tanpa kesulitan. Yesus Kristus tidak akan tidak setia, tetapi bukan tanpa kegentaran dan takut. Yesus Kristus bukan hanya berhasil taat kepada Allah, tetapi ketaatan-Nya kepada Allah diperkenan oleh Bapa di surga. Di dalam ayat 31 dikatakan bahwa Bapa menyatakan suara-Nya memperkenan Sang Anak dan mempermuliakan nama Allah. Kemuliaan Allah dinyatakan dengan begitu limpah karena ketaatan Kristus. Kemuliaan Allah didatangkan ke dalam dunia ini karena ketaatan Kristus. Tidakkah kita sadar akan hal ini? Ketaatan Kristus tidak membuat Dia mendapat kemuliaan di surga, tetapi membuat kemuliaan surga turun ke bumi di dalam Dia. Mengapa Dia taat? Agar kemuliaan surga dinyatakan di bumi. Mengapa Saudara dan saya taat? Supaya kemuliaan surga dinyatakan di bumi.

Di dalam ayat 30 ini juga dikatakan bahwa suara dari surga yang menyatakan kemuliaan Allah melalui Kristus terdengar oleh karena orang banyak. Tuhan Yesus tidak memerlukan pernyataan apa pun lagi bahwa Bapa akan menyatakan kemuliaan-Nya melalui Yesus. Dia tahu bahwa Bapa-Nya akan mempermuliakan nama-Nya melalui Dia. Tetapi suara dari surga itu selalu terdengar untuk kita yang dipanggil untuk mengenal Kristus. Tuhan Yesus memanggil kita dan segala tanda dari surga yang Tuhan nyatakan melalui Dia selalu berguna untuk kita yang dipanggil. Tanda-tanda, mukjizat, pernyataan supranatural, pernyataan dari surga adalah karena kita terlalu lambat menangkap siapakah Yesus. Sudahkah kita mengenal Yesus? Belum. Kita terlalu lambat memahami siapa Dia. Jika Allah tidak mengintervensi dan menyatakan dengan tanda-tanda supranatural, kita akan gagal mengenal siapa Kristus. Jangan menganggap hati kita baik dan peka. Kita terlalu keras hati, sama seperti Israel. Bahkan ketika mulut kita mengklaim mengenal Yesus Kristus, cara kita meresponi apa pun yang terjadi dalam hidup kita selalu kurang saleh, kurang meneladani Kristus, bahkan menjadi batu sandungan. Tuhan sungguh berbelaskasihan kepada kita sehingga kita boleh benar-benar mengenal Yesus dan diubahkan oleh pengenalan akan Dia. Jika pada waktu itu, di dalam Yohanes 12, Tuhan memakai suara yang dari surga, maka saat ini Dia memakai suara di dalam hati kita dari Roh-Nya yang kudus untuk membawa kita mengenal Tuhan. Suara yang diberikan oleh Tuhan bukan untuk keuntungan Yesus Kristus. Suara yang diberikan oleh Tuhan untuk kebaikan kita sendiri. Supaya kita mengenal Yesus dan mengetahui apa yang Allah sedang kerjakan melalui Dia.

Ayat 31 mengajarkan apa yang dihasilkan oleh kemuliaan Allah yang dinyatakan melalui Kristus. Karena ketaatan Kristus, kemuliaan Allah melalui kehadiran-Nya menjadi nyata di dunia ini. Kemuliaan ini menghancurkan Kerajaan dunia. Bayangkan betapa indahnya pembahasan seperti ini. Kerajaan Allah datang dan menghancurkan kerajaan dunia ini tanpa satu kali pun mengangkat pedang. Tidak ada panah yang ditembakkan, tidak ada pasukan tentara yang diutus, dan tidak ada teriakan perang yang diserukan. Yang ada hanyalah kerelaan, ketaatan, pengorbanan, dan kemuliaan Allah yang dinyatakan karena-Nya. Dari hal-hal inilah kerajaan dunia digoncangkan. Iblis dikalahkan dan Kerajaan Allah dinyatakan dengan penuh kuasa. Ayat 31 ini benar-benar menggambarkan Kristus sebagai penghancur kerajaan setan. Dia bukan pengusir setan. Dia adalah yang memusnahkan pekerjaan setan. Terlalu kecil kalau melihat Kristus sebagai orang yang berkeliling untuk mengusir setan. Tidakkah kita sadar kalau Yesus Kristus adalah yang menghancurkan kerajaan setan? Dialah keturunan perempuan yang menghancurkan kepala ular. Yohanes membagikan kekuatan ketaatan Kristus di dalam mengalahkan setan, dunia yang dipengaruhi oleh setan, bahkan di dalam bagian akhir, mengalahkan pemerintahan dunia yang sedang menjadi alat setan. Kuasa-Nya adalah kuasa yang penuh dengan kemuliaan dan kasih setia dari Allah. Dunia ini milik siapa? Dunia ini perlahan-lahan ditundukkan kepada Kristus. Yesus sedang menyatakan kerajaan-Nya. Dia melempar keluar kerajaan dunia ini, baik setan, maupun kehidupan dunia yang penuh kecemaran dan keserakahan serta agama palsu, dan mengambil alih dunia ini demi kemuliaan Bapa-Nya di surga. Sadarkah kita kalau hal ini sedang terjadi? Sulit. Mengapa? Karena kita hanya tahu perang, kekuatan militer, dan kekerasan. Kita sulit melihat tempat ketaatan, pengorbanan, setia kepada Allah, iman, dan penyembahan kepada Allah sebagai senjata untuk melempar keluar setan dan kerajaan dunia ini. Mintalah kepada Allah untuk memberi mata yang melihat kekuatan Tuhan Yesus menghancurkan kuasa dunia ini dengan ketaatan, pengorbanan, kerelaan dipakai Tuhan, kesetiaan, menyangkal diri, bahkan menyerahkan hidup dan nyawa bagi kepentingan banyak orang. Inilah senjata Kristus menaklukkan dunia ini saat ini. (JP)