Nubuat Sang Nabi

Devotion from Yohanes 12:44-50

Israel memerlukan seorang nabi untuk mewakili Tuhan menyatakan kehendak Tuhan. Nabi-nabi Tuhan ini akan Tuhan bangkitkan supaya umat Tuhan menghormati perkataan Tuhan (Ul. 18:16-22). Perkataan Tuhan yang tidak didengar akan membangkitkan murka Tuhan kepada mereka yang tidak mendengar. Perkataan palsu yang dikatakan seolah-olah dari Tuhan akan membangkitkan murka Tuhan kepada mereka yang mengatakannya. Tuhan tidak ingin firman-Nya diremehkan oleh umat-Nya. Israel tidak dipanggil di dalam cara pandang pragmatis, seperti yang dimiliki oleh zaman kita sekarang. Mereka bukan hanya dipanggil untuk menjalankan perkataan Tuhan. Perkataan dari Allah begitu besar dan agung. Tidak cukup jika seseorang hanya mendengar dan menjalankan. Perkataan-Nya harus dihormati. Lihat kembali apa yang dikatakan di dalam Ulangan 18:16. Kegentaran melihat kemuliaan Tuhan di puncak gunung Horeb adalah hal yang baik. Tuhan mengizinkan kegentaran yang dialami itu dikurangi melalui pengantara. Mereka tidak usah langsung mendengar suara Tuhan, mereka boleh mendengarnya dengan pengantaraan seorang nabi (ay. 18). Tetapi, meskipun kegentaran melihat langsung kemuliaan Tuhan dikurangi melalui pengantara, ini tidak berarti kegentaran itu hilang sama sekali. Sebaliknya, penghormatan kepada Tuhan melalui menghormati sang pengantara tetap dituntut oleh Tuhan. Siapa pun yang mengabaikan perkataan sang pengantara, yaitu sang nabi, akan dibunuh. Tuhan ingin perkataan-Nya tetap dihormati walaupun Dia menudungi kemuliaan yang menyertai-Nya dengan darah dan daging melalui seorang nabi. Orang Israel akan melihat seorang manusia biasa, tetapi Tuhan menuntut kegentaran yang sama dengan kegentaran melihat gunung Horeb yang menyala-nyala ketika orang Israel mendengar suara seorang biasa yang Tuhan bangkitkan menjadi nabi-Nya. Nabi dihormati bukan karena kemuliaan yang mereka miliki, sama seperti gunung Horeb ditakuti bukan karena kemuliaan di dalam dirinya sendiri. Nabi dihormati karena Tuhan memutuskan untuk menyatakan diri-Nya melalui dia, sama seperti gunung Horeb ditakuti karena Tuhan memutuskan untuk menyatakan kemuliaan-Nya di sana. Inilah yang Tuhan sedang ajarkan di dalam Ulangan 18, yaitu supaya Israel menghormati Tuhan melalui menghormati perkataan para nabi.

Para nabi Tuhan bangkitkan, tetapi ada satu Pribadi yang Tuhan nubuatkan melalui perkataan dalam Ulangan 18 ini, yaitu Kristus. Dialah yang menggenapi perkataan para nabi. Dialah yang dinubuatkan oleh mereka. Tetapi Dia juga adalah yang menyatakan perkataan Allah (Ibr. 1:1-4). Dia juga adalah Sang Nabi, puncak dari nubuat Tuhan ada pada Dia. Bagaimana kita mengenal Kristus sebagai nabi? Kita mengenal Dia sebagai nabi yang menubuatkan tentang diri-Nya. Dia berbicara tentang pernyataan Allah yang dinyatakan melalui kehadiran-Nya di bumi. Ini pengertian yang sangat dalam. Allah menyatakan diri-Nya secara sempurna dan puncak di dalam Yesus Kristus. Di dalam kehidupan-Nya, perkataan-Nya, dan seluruh keberadaan-Nya yang berinkarnasi menjadi manusia. Jadi Yesus Kristus adalah Sang Nabi yang berkata bahwa Allah menyatakan diri-Nya dengan genap melalui Yesus Kristus. Jika demikian, maka perkataan nubuat Yesus tentang diri-Nya sendiri adalah bagian yang sangat penting (bahkan tidak berlebihan kalau disebut paling penting) dari nubuat tentang Kerajaan Allah. Jika Matius, Markus, Lukas banyak memberikan fokus kepada perkataan Yesus tentang Kerajaan Allah, maka Injil Yohanes banyak mencatat perkataan Yesus tentang Sang Raja dari Kerajaan Allah, yaitu Bapa-Nya di Surga dan diri-Nya sendiri. Kalau perkataan para nabi yang menyatakan kehendak Allah harus dihormati dengan sangat, seperti dikatakan di dalam Ulangan 18, maka lebih lagi perkataan dari Sang Nabi yang menyatakan tentang puncak dari wahyu Allah di dalam diri Kristus. Betapa lebihnya ini harus dihormati.

Hal kedua yang membuat perkataan Yesus harus lebih dihormati adalah bahwa perkataan Yesus menyatakan janji Allah dan belas kasihan-Nya. Di dalam Taurat Allah menyatakan janji-Nya disertai berkat dan kutuk. Siapa yang menjalankan akan mendapatkan berkat, tetapi siapa yang tidak menjalankan akan mendapatkan kutuk. Berkat dan kutuk diperhadapkan kepadamu, demikian dikatakan di dalam Ulangan 11:26-28. Tetapi di dalam Yohanes 12:44-50, dengan unik dicatat peringatan Tuhan Yesus yang menekankan berkat, pengampunan, belas kasihan, dan hidup. Inilah keselamatan dari Allah. Keselamatan yang menekankan tawaran Allah yang penuh anugerah, agar mereka yang sedang di dalam kutuk diselamatkan oleh Kristus. Orang Yahudi pada zaman Tuhan Yesus tidak lagi berada di dalam keadaan yang sama dengan Ulangan 11:26-28. Israel di dalam Ulangan 11 berada di dalam keadaan netral. Mereka belum menunjukkan ketaatan, maka berkat yang dijanjikan di Tanah Perjanjian itu pun belum menjadi milik mereka. Demikian juga mereka belum menunjukkan pemberontakan, dan karena itu kutuk yang dinyatakan untuk memperingati mereka pun belum mereka alami. Tetapi tidak demikian orang-orang Yahudi pada zaman Tuhan Yesus. Mereka tidak berada di dalam keadaan netral. Mereka adalah umat buangan yang belum dipulihkan oleh Allah. Mereka sedang berada di dalam kutuk! Nabi ini, yaitu Yesus Kristus tidak menghadapkan berkat dan kutuk. Dia sedang berbicara kepada orang-orang yang sudah gagal menaati Taurat. Dia sedang berbicara kepada orang-orang yang berada di dalam kutuk. Maukah kita mengakhiri keadaan terkutuk ini? Maukah kita bebas dari dosa? Maukah kita menaklukkan pembuangan dan maut yang menjadi bagian kita hingga saat ini? Betapa indah suara Sang Nabi ini. Dia berbicara kepada orang-orang mati supaya mereka hidup. Dia berbicara kepada orang-orang buta supaya mereka melihat. Dia berbicara kepada orang-orang di dalam gelap untuk menerima terang-Nya.

Tetapi bagaimana jika mereka menolak mendengarkan perkataan Yesus? Jika mereka terus menolak, maka mereka mendapatkan penghukuman yang sangat berat. Apakah penghukuman itu? Penghukuman itu adalah kesempatan yang hilang. Mereka mendapatkan kesempatan yang sangat besar dan penuh anugerah dengan kehadiran Yesus Kristus. Jika mereka mengabaikan, maka mereka akan terus berada di dalam keadaan terkutuk dan terhukum. Hukuman mereka akan lebih berat lagi ketika menyadari bahwa mereka sudah pernah mendapatkan kesempatan untuk dipulihkan dan menerima kembali berkat Tuhan, dan mereka menolak. Penolakan itu akan menjadi penyesalan yang tidak habis-habis di dalam hidup mereka. Jangan hanya lihat penghukuman sebagai suatu tindakan aktif dari Tuhan menyatakan murka. Hukuman paling berat sebenarnya adalah ketika orang-orang yang berada di dalam penghukuman, yang akan menerima penghukuman kekal Tuhan, menolak satu-satunya kesempatan yang Tuhan berikan untuk memulihkan mereka.

Orang-orang Yahudi menolak Yesus. Mereka mengabaikan perkataan yang paling besar, paling agung, dan juga paling penuh kasih karunia. Betapa keras hati mereka, betapa tegar tengkuk mereka, dan betapa buta telinga mereka. Para nabi ditolak oleh nenek moyang mereka, dan mereka sendiri menggenapi penolakan nenek moyang mereka dengan menolak Orang Benar yang menggenali perkataan para nabi yang ditolak oleh nenek moyang mereka. Perlu anugerah untuk memahami anugerah. Kiranya kita hidup dengan penuh kepekaan untuk menghargai dan menyambut setiap pernyataan belas kasihan Tuhan. Masihkah Tuhan berfirman? Masihkah Dia menyatakan pekerjaan-Nya dengan limpah? Masihkah Dia bekerja di dalam hidup kita, di dalam gereja kita, dan di dalam komunitas sekitar kita? Jika ya, apakah yang menjadi respons kita? Mengeraskan hati? Menolak? Menghina? Meremehkan? Ingatlah bahwa kesempatan di dalam Kristus jauh lebih mulia daripada seluruh gunung Horeb yang menyala-nyala di dalam api Tuhan. (JP)