Renungan Harian 498 (Kamis, 9 Januari 2020)

Meneladani Tuhan dan Guru

Devotion from Yohanes 13:12-20

Setelah membasuh kaki para murid, Yesus menjelaskan alasan mengapa Dia melakukan tindakan itu. Yesus mengatakan bahwa apa yang Dia kerjakan adalah untuk menjadi teladan bagi murid-murid yang mengakui Dia sebagai Guru dan sebagai Tuhan. Tidak semua murid yang ada di dalam ruangan itu adalah benar-benar murid Tuhan. Semua dibasuh kakinya, tetapi tidak semua adalah benar-benar murid Tuhan. Semua menyebut Dia dengan sebutan “Guru” dan “Tuhan”, tetapi tidak semua yang menyebut Dia dengan sebutan itu adalah benar-benar murid Tuhan. Itulah sebabnya ayat 10 dan 11 mencatat dan menjelaskan kalimat Yesus, “tidak semua kamu bersih”. Tidak semua adalah murid yang sejati. Siapa yang berbagian di dalam upacara pembasuhan atau bahkan baptisan air sekalipun belum tentu menjadi murid Yesus yang sejati. Siapa yang berkumpul bersama dengan Dia pada waktu itu belum tentu murid yang sejati. Maka Yesus menegaskan bahwa apa yang Dia lakukan adalah untuk diteladani.

Yesus Kristus merendahkan diri dan melayani para murid. Ini menjadi hal yang harus diteladani murid yang lain. Mengapa demikian? Karena Yesus adalah Sang Mesias, dan Sang Mesias akan mengubah hati orang Israel, dari hati yang memikirkan diri sendiri menjadi hati yang penuh dengan pengenalah akan Allah dan ketaatan kepada Allah (Yeh. 11:19-20). Sang Mesias akan membuat umat-Nya memiliki hati seperti hati-Nya. Yesus akan membuat hati yang seperti hati-Nya di dalam diri murid-murid-Nya. Hati yang ditundukkan kepada Allah dan Taurat-Nya, hati yang mengutamakan pekerjaan Allah di dalam umat-Nya ketimbang diri sendiri. Hati yang rela merendahkan diri demi memberikan tempat bagi orang-orang di dunia ini agar mereka dapat menjadi umat Tuhan yang sejati. Hati yang mendorong Yesus memiliki kerelaan untuk turun ke bumi dan menjadi manusia, bahkan turun ke dalam perendahan diri yang lebih lagi, yaitu dihina, disalibkan. Lalu bagaimana dengan para murid? Para murid akan mengadopsi hal yang sama. Mereka harus memiliki belas kasihan, kerelaan untuk taat kepada Bapa, dan kerinduan untuk saling merendahkan diri satu dengan yang lain. Hanya orang-orang yang memiliki hati demikianlah yang akan menjalankan hidupnya melewati apa pun dengan kedewasaan rohani yang baik.

Tetapi apakah semua murid-murid-Nya memiliki hati yang sama dengan Dia? Tidak. Yudas mengkhianati Yesus. Dia tidak memiliki hati yang sama dengan Yesus. Dia mengikut Yesus, tetapi tidak menjadi seperti Dia. Yesus mengatakan bahwa murid yang sejati harus menjalankan apa yang Dia jalankan. Mengapa demikian? Karena Sang Mesias sejati akan mendatangkan kerajaan yang baru, yaitu kerajaan yang terdiri dari belas kasihan, pengampunan, dan perendahan diri. Hal-hal yang dimulai dari Sang Raja, dan yang akan dilanjutkan oleh para murid-Nya. Murid-murid-Nya akan melihat hal ini ada pada Yesus dan akan meneladani-Nya. Siapa yang tidak meneladani-Nya bukan termasuk bagian dari kerajaan itu.

Banyak orang berharap Kerajaan Allah segera tiba dengan tanda-tanda ajaib yang besar. Tetapi tidak banyak yang peka bahwa tanda paling agung dari kerajaan itu adalah adanya hati yang baru, yang mengenal Tuhan, dan yang menjalankan perjanjian-Nya dengan setia (Yer. 31:31-34). Kerajaan damai sejahtera yang akan menghapus segala kecemaran dari diri manusia. Dan ketika Tuhan menghapus kecemaran, Tuhan tidak menjadikan manusia netral, dari kotor menjadi kosong. Tuhan menjadikan manusia cermin-Nya yang sejati. Dari kotor menjadi bersih. Dari jahat menjadi penuh dengan kasih. Dari cemar menjadi penuh dengan ketulusan. Dari kejam menjadi penuh pengampunan. Manusia tidak lagi menjadi musuh bagi manusia lain. Kehadiran manusia di atas bumi tidak menjadi ancaman bagi manusia lainnya. Keberadaan orang lain tidak menjadi alasan perang dan pemusnahan terjadi. Kehadiran Kristus, Sang Raja sejati, akan mengalahkan penguasa dunia ini, dan kekalahan penguasa dunia ini akan terlihat melalui terkikisnya pengaruh dia dari antara umat Sang Raja tersebut. Jika memang kita menyebut Dia guru kita, maka kita wajib meneladani kerelaan-Nya untuk merendahkan diri demi orang lain. Jika kita memang menyebut Dia Tuhan kita, maka kita wajib menaati perintah-Nya untuk meneladani Dia merendahkan diri demi orang lain. Dengan cara inilah kerajaan-Nya dinyatakan. Yesus adalah Raja yang akan memberikan pembaruan di bumi ini, dimulai dengan salib, dan dilanjutkan dengan tubuh-Nya yang bangkit memenuhi bumi. Para murid yang sejati, itulah tubuh Kristus yang memenuhi bumi. Memenuhi bumi bukan dengan kekuatan senjata, bukan dengan perang, membunuh, mengepung, mengalahkan, menghancurkan, dan meratakan kota-kota berkubu musuh; tetapi dengan kekuatan pengosongan diri, dengan saling melayani, dengan saling menyerahkan diri untuk memberi hidup bagi yang lain, dengan membebaskan orang lain dari dosa, dengan menghancurkan hati yang lama yang penuh kecemaran, dengan menghancurkan pekerjaan iblis di tengah-tengah dunia ini. Jika kita tidak menjalankan perang ini, maka kita masih menghidupi kehidupan yang penuh dengan keadaan lama dari dunia ini, yaitu keadaan yang ingin diperangi oleh Kristus. Kita menjadi seteru-Nya jika kita tidak berperang bersama dengan Dia. Tidak ada keadaan netral. Apakah kita mau berperang bersama dengan Dia? Atau kita akan berperang melawan Dia? Siapkah kita menjadi pejuang bagi kerajaan-Nya? Hanya jika kita siap melepas jubah dan rela merendahkan diri seperti Dia, barulah kita benar-benar menjadi milik-Nya yang berperang bagi kerajaan-Nya.

Kristus melepas jubah-Nya, mengambil kain lenan demi membasuh kaki murid-murid-Nya. Merendahkan diri demi membersihkan orang lain. Inilah inti dari kedatangan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah datang, dan inkarnasi Sang Raja, pengorbanan-Nya, dan pengangkatan orang-orang berdosa menjadi umat adalah dampak yang terjadi. Kerajaan Allah datang dan penebusan melalui pengorbanan terjadi. Apakah Kerajaan itu berhenti berdampak? Tidak mungkin. Apakah kedatangan Kristus sajakah dampak dari kerajaan itu? Tidak mungkin! Dampak dari kerajaan itu terus terasa, terdengar, dan terus menggoncang dunia ini. Kerajaan Kristus belum genap sepenuhnya terjadi di bumi, dan karena itu mustahil jika kerajaan itu telah berhenti memberikan dampaknya. Tetapi dampak dari kerajaan itu tidak akan terjadi jika kita merasa cukup puas karena pernah dibasuh oleh air baptisan. Dampak dari kerajaan itu tidak akan terjadi jika kita merasa cukup puas karena berada di dalam satu meja perjamuan dengan Kristus dan orang-orang kudus-Nya. Kerajaan itu memberikan dampak oleh kehadiran murid sejati. Dan siapa pun yang tidak termasuk murid sejati, Dia adalah sang pengkhianat, yang mengambil bagian di dalam Kristus tetapi yang hatinya tidak turut diubahkan oleh Dia.

Murid yang seperti apakah kita? Berbagian di dalam makan roti bersama dengan murid yang lain? Mengalami kehormatan yang luar biasa karena Kristus rela melayani kita sama seperti Dia telah melayani murid yang lain? Jika hati kita tidak mengalami perubahan untuk menjadi seperti Dia, maka kita bukanlah murid yang sejati. Biarlah dengan gentar kita menyelidiki hati kita. Jika hati kita masih menjadi tawanan dunia ini, silau melihat tawaran yang diberikan, sehingga rela mencapainya dengan cara apa pun, maka kita bukanlah bagian dari Kerajaan Kristus yang sedang menaklukkan dunia. Jika dengan gigih kita mempertahankan kepentingan kita, apalagi jika kita dengan gigih memberi makan keserakahan kita, menghancurkan orang lain demi ambisi dan kepentingan kita sendiri, maka jiwa pengorbanan, inkarnasi, dan perendahan diri Kristus tidak mungkin mendapat tempat di dalam diri kita. Bagaimana mungkin kita dapat menjadi orang Kristen tetapi tidak tahu apa yang Yesus sedang kerjakan? Bagaimana mungkin salib-Nya tidak pernah mendapat tempat di dalam perenungan kita? Dan bagaimana mungkin perenungan akan salib tidak pernah mengikis ego, ambisi, keserakahan, dan kepentingan diri kita sendiri? (JP)