Renungan Harian 499 (Jumat, 10 Januari 2020)

Dia Yang Memakan Rotiku

Devotion from Yohanes 13:21-30

Tidak banyak yang dapat kita pahami dari bagian ini jika kita tidak mengerti posisi duduk perjamuan makan abad ke-1 daerah Mediterania di dalam pengaruh budaya Greco-Roman (Yunani-Romawi) yang disebut dengan triclinium. Di dalam triclinium, diatur tiga buah meja di dalam posisi seperti huruf “u” dengan sofa panjang untuk berbaring. Orang yang makan di jamuan makan seperti ini akan berbaring di sofa dengan bertumpu pada tangan kiri dan makan dengan tangan kanan. Tempat duduk yang di tengah adalah tempat utama. Di sini tuan rumah akan duduk dengan dua orang penting (satu orang yang sangat dipercaya duduk di sebelah kiri, orang nomor satu yang paling dipercaya oleh tuan rumah; dan satu lagi sebagai orang penting nomor dua duduk di sebelah kanan). Sedangkan tamu-tamu akan menduduki tempat duduk di sebelah kiri dan di sebelah kanan, satu tempat duduk bisa terdiri dari tiga sampai lima orang. Yesus makan bersama dengan murid dengan urutan seperti ini. Para pemimpin besar biasanya akan meletakkan orang kepercayaannya di sebelah kiri, karena posisi di sebelah kiri ini (dengan tangan kiri bertumpu dan tangan kanan bebas) adalah posisi paling mudah untuk menikam tuan rumah. Orang yang duduk di sebelah kiri akan sangat mudah mengkhianati dan menikam sang pemimpin tanpa bisa dicegah orang lain. Itu sebabnya seorang pemimpin besar yang memiliki banyak musuh hanya meletakkan orang yang dipercaya sepenuh hati dan dengan seluruh hidupnya untuk duduk di sebelah kiri. Sedangkan orang penting kedua, yaitu yang duduk di sebelah kanan, walaupun orang yang sangat penting, tetapi tidak dipercaya sebesar yang duduk di sebelah kiri. Tetapi orang yang duduk di sebelah kanan juga adalah orang yang sangat spesial bagi tuan rumah karena dia dengan mudah bisa merebahkan kepalanya dekat ke dada sang tuan rumah. Hal penting lainnya mengenai tempat duduk utama ini adalah mudahnya sang tuan rumah menghormati orang penting di sebelah kirinya dengan menawarkan makanan kepadanya. Dengan tangan kanan yang bebas, orang yang duduk di sebelah kiri akan dengan mudah mengambil tawaran makanan yang diberikan tuan rumah, yang juga diberikan dengan tangan kanan.

Sekarang kita akan lihat apa yang Alkitab katakan tentang posisi duduk para murid di dalam triclinium pada waktu perjamuan terakhir ini. Orang yang duduk dekat Yesus, yang dapat membaringkan kepalanya di dada Yesus adalah sang murid yang dikasihi (ay. 23). Tradisi memercayai bahwa orang ini adalah Yohanes. Ini berarti Yohanes berbaring di sebelah kanan Tuhan Yesus, membuat dia menjadi orang penting kedua di dalam kelompok para murid. Dia dengan mudah bisa mendekatkan kepalanya kepada Yesus dan bertanya tanpa mengharuskan Yesus untuk memalingkan wajah mendengarkan dia. Lalu yang menjadi pertanyaan, siapakah orang utama yang duduk di sebelah kiri? Yang paling dipercaya dengan sepenuh hati dan jiwa? Yang sangat mungkin menikam tuan rumah dengan tangan kanan yang bebas? Orang itu adalah Yudas! Ini diketahui dari ayat 26. Dia memberikan roti yang sudah dicelup kepada Yudas. Yudas ada di sebelah kiri Yesus! Yudas adalah bendahara (ay. 29) dan Yudas duduk di tempat duduk utama di sebelah kiri Yesus, tempat yang paling dipercaya. Mengapa ini terjadi? Apakah Yesus tidak tahu bahwa Yudas akan mengkhianati Dia? Yesus tahu bahwa Yudas akan mengkhianati Dia (ay. 11). Jika Yesus tahu bahwa Yudas akan mengkhianati Dia, mengapa Dia memberikan jabatan penting (bendahara) dan tempat duduk penting (di sebelah kiri di tempat duduk utama) kepada Yudas? Satu hal yang sering gagal kita pahami adalah bahwa bacaan hari ini sedang memberi tahu kita bahwa Yesus sangat mengasihi dan memercayai Yudas! Bagaimana ini mungkin? Yesus mengasihi reprobat? Yesus mengasihi orang yang akhirnya tidak selamat? Bukankah Yudas pasti akan binasa? Bagaimana mungkin orang yang akan binasa ini benar-benar dipercaya dan dikasihi oleh Yesus? Tetapi bacaan kita hari ini menjelaskan hal itu. Bahkan ketika Yesus memberikan roti kepada Yudas setelah sebelumnya memberikan penjelasan bahwa sang pengkhianat itu akan menerima roti dari Dia (ay. 26), para murid tetap tidak menyangka (ay. 28-29). Seluruh kebobrokan Yudas baru terbongkar belakangan, tetapi pada waktu itu tidak ada yang menyangka bahwa Yudas adalah seorang licik yang penuh dengan tipu daya, munafik, dan penuh kejahatan. Apakah Yesus pun tertipu? Tentu saja tidak. Injil Yohanes telah memberikan penjelasan tentang hal ini (Yoh. 6:70; 13:11, 21), bahwa Yesus mengetahui sejak awal bahwa Yudas adalah pengkhianat. Jika demikian apakah posisi bendahara dan juga posisi duduk Yudas di tempat utama adalah bentuk kepura-puraan Yesus? Dia pura-pura mengasihi dan menganggap Yudas penting? Tentu tidak. Di sini kita sangat sulit memahami kasih Yesus Kristus. Apakah ada orang yang Tuhan kasihi tetapi tidak selamat? Ada. Apakah Tuhan tidak membenci Yudas? Jika Tuhan membenci Yudas, mengapa Dia memberikan tempat utama? Jika Tuhan memang benar mengasihi Yudas, mengapa Dia tidak menyelamatkan Yudas? Apakah Allah membenci Yudas tetapi Yesus mengasihi Dia? Semua ini pertanyaan yang sangat sulit dijawab dengan tuntas. Cornelius van Til mengatakan bahwa memahami hal-hal yang sifatnya paradoks dalam kedaulatan dan karya Allah adalah seperti memahami perintah untuk mengisi air ke sebuah ember yang sudah penuh dengan air. Jika kita tetap mengisi ember tersebut dengan air, berarti kita sebenarnya tidak menganggap serius kalau ember itu penuh air. Kita menganggap bahwa ember itu sebenarnya belum penuh dengan air. Jika kita percaya bahwa ember itu sudah penuh dengan air, kita tidak akan menganggap serius perintah untuk mengisinya dengan air. Kita menganggapnya sebagai perintah yang tidak berguna. Tetapi paradoks di dalam karya Allah dan kedaulatan-Nya menuntut kita untuk percaya bahwa ember air itu penuh, dan perintah untuk mengisinya dengan air juga sebagai perintah yang sungguh-sungguh. Inilah keindahan dan kelimpahan pekerjaan Tuhan dan kedaulatan-Nya. Tuhan sudah memilih siapa yang akan diselamatkan, dan karena itu Tuhan menuntut kita untuk sepenuh hati mengabarkan Injil-Nya. Tuhan Yesus tahu Yerusalem akan hancur binasa dan kasih-Nya dan tangisan-Nya kepada Yerusalem adalah tulus (Luk. 13:34-35). Tuhan tahu Yudas adalah yang mengkhianati Dia, dan panggilan-Nya, kasih-Nya, kepercayaan-Nya kepada Yudas adalah tulus! Tuhan tidak memilih Yudas, dia adalah seorang reprobat, sejak dalam kekekalan dia bukanlah orang pilihan Tuhan, tetapi Tuhan dengan tulus mengasihi dia. Inilah paradoks-paradoks di dalam kedaulatan dan karya Allah dalam sejarah. Kita harus belajar merendahkan diri dan menerima paradoks-paradoks ini sebagai cara untuk dapat semakin memahami Allah dengan limpah. Kita harus menganggap serius fakta bahwa ember air itu sudah penuh, dan kita juga harus menganggap serius dan menaati perintah untuk mengisi ember air itu dengan air. Kiranya Tuhan terus memimpin pergumulan kita untuk mengenal Dia dengan limpah.

Yohanes 13:21 menunjukkan kasih dan kepercayaan Yesus yang tulus kepada Yudas. Dan Yohanes 13:10 dan 11 menunjukkan bahwa Yesus tahu kejahatan, kelicikan, dan rencana Yudas mengkhianati Dia. Apakah Yesus mengasihi Yudas? Ya. Jika tidak demikian, pengkhianatan Yudas tidak akan menimbulkan sakit hati yang sangat berat di dalam jiwa Yesus (ay. 21). Hati-Nya sangat susah, tertekan, dan terganggu (kata-kata yang lebih tepat menggambarkan ayat 21 ketimbang “terharu”). Hati-Nya sangat sakit, seperti tertusuk sebuah pisau, ketika orang yang sangat Dia kasihi adalah orang yang akan menikam Dia dari belakang. Kita tidak bisa memahami kasih Yesus Kristus. Bagaimana mungkin Yudas mendapat tempat di hati-Nya? Mengapa Yesus harus terganggu oleh orang jahat yang licik ini? Bagian pendek ini adalah satu dari bagian yang sangat sedikit yang menunjukkan kasih Yesus kepada Yudas. Di bagian lain Dia menyebut Yudas sebagai “teman” (Mat. 26:50), yang di dalam budaya Yahudi, Yunani, maupun Romawi, memiliki pengertian relasional yang sangat dalam dan penuh ikatan perasaan. Betapa agung jiwa Sang Juru Selamat kita. Yudas bukan orang pilihan, tetapi Yesus sanggup menunjukkan afeksi sedemikian besar. Hati-Nya hancur karena dikhianati oleh sahabat karib-Nya sendiri (Mzm. 41:10). Perintah Yesus untuk mengasihi orang yang membenci kita adalah perintah yang datang dari hati Yesus sendiri. Dia, dengan afeksi yang tulus, dalam, dan penuh kasih memberikan Yudas kesempatan, posisi utama, dan menjadikan dia sahabat. Dan Dia juga tahu dengan sangat sakit, bahwa orang yang sangat Dia kasihi ini tidak pernah mengasihi dan memercayai Dia, dan bahkan tersimpan kejahatan besar di dalam dirinya untuk mengkhianati dan membunuh Yesus. (JP)