Renungan Harian 500 (Sabtu, 11 Januari 2020)

Kasih Kepada Sesama

Devotion from Yohanes 13:30-38

Di dalam kebiasaan orang-orang pada waktu Tuhan Yesus melayani di bumi, perjamuan makan adalah hal yang sangat penting. Selain menunjukkan level sosial melalui pergaulan seseorang, perjamuan makan menunjukkan siapakah lingkaran teman terdekat yang dimiliki seseorang. Mereka umumnya akan menyuruh pergi orang-orang yang tidak dihargai sebagai yang terdekat ketika mereka akan masuk ke dalam pembicaraan yang paling penting. Di dalam bacaan kita, Yesus tidak pernah mengusir Yudas. Yesus mengatakan kepadanya untuk melakukan apa yang memang dia ingin lakukan. Keputusan hatinya untuk menyerah kepada keserakahan dan tamak uang dengan menjual Yesus, itulah yang ingin dia jalankan. Maka setelah menerima roti dari Tuhan Yesus, Yudas pun pergi untuk menjalankan apa yang dia rencanakan itu. Tetapi kepergian Yudas justru menyaring kelompok itu dan memurnikannya. Tanpa Yudas sekarang orang-orang yang ada di dalam ruangan itu adalah orang-orang yang dengan tulus mengikuti Yesus. Dan kepada mereka inilah Tuhan Yesus mengatakan pesan yang sangat penting, yaitu supaya mereka saling mengasihi karena Allah akan dipermuliakan dan Allah akan mempermuliakan Tuhan Yesus. Apakah yang dimaksudkan dengan Allah dan Yesus dipermuliakan? Yang dimaksud adalah kemuliaan melalui kedatangan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah datang dengan salib. Penebusan yang dikerjakan Kristus di atas kayu salib menginaugurasikan Kerajaan yang mulia itu. Allah mengambil kembali bumi. Takhta-Nya dinyatakan di antara manusia. Kemuliaan-Nya bersinar sekali lagi di tengah-tengah umat-Nya. Dengan cara apakah kemuliaan-Nya dinyatakan sekali lagi? Dengan cara penebusan umat yang dipilih-Nya melalui pekerjaan Kristus yang genap di kayu salib. Tidak ada yang tahu mengapa Yesus datang, kecuali Yesus sendiri. Dan ketika Dia berusaha menjelaskan pengertian ini, bahkan para murid pun tidak mengerti. Kerajaan Allah datang bukan untuk menghancurkan musuh-musuh Allah, tetapi untuk memanggil anak-anak Allah yang sementara sedang dikuasai oleh dosa dan menjadi musuh Allah. Maka, saat Yesus menggenapi penebusan di atas kayu salib inilah kemuliaan Allah melalui kedatangan kerajaan-Nya digenapi.

Sering kali kita membaca Kitab Injil dengan cara pembacaan yang salah. Itu sebabnya kita sulit memahami apa yang dimaksud dengan kemuliaan di dalam bacaan hari ini. Tetapi orang Yahudi tidak akan pernah memisahkan kemuliaan Allah dengan kehadiran-Nya di tengah-tengah umat-Nya. Allah dipermuliakan ketika Allah berada di tengah-tengah umat kepunyaan-Nya. Kemuliaan Allah adalah juga kemuliaan Israel karena pada waktu kemuliaan itu dinyatakan, kemuliaan itu akan bersinar di tengah-tengah Israel, karena Allah ada di tengah-tengah mereka. Mengapa Allah mau berada di tengah-tengah Israel? Karena Israellah yang dipilih Tuhan untuk menjadi umat yang memenangkan kembali seluruh bumi ini untuk mengakui bahwa Allah adalah Raja! Allah dan Kristus-Nya adalah Raja atas langit dan bumi, dan kemuliaan Israel adalah karena Allah berkenan untuk hadir di tengah-tengah mereka menyatakan kerajaan-Nya di bumi. Tetapi Israel berontak, dan mereka pun kehilangan kemuliaan Allah (Yeh. 10-11) yang pergi meninggalkan Bait Allah dan meninggalkan Yerusalem. Tetapi Tuhan kembali. Kemuliaan-Nya dinyatakan melalui kehadiran Kristus di bumi, dan kemuliaan itu menjadi genap ketika Kristus menggenapi pekerjaan Bapa-Nya di atas kayu salib. Kerajaan Allah telah datang, dan orang-orang tidak menyadarinya. Tuhan Yesus sendiri mengatakan hal ini kepada orang-orang Yahudi (Yoh. 7:33-34). Orang-orang Yahudi tidak dapat datang ke dalam Kerajaan Allah karena mereka tidak mengenal Allah dan tidak mengenal Kristus yang diutus oleh Allah. Sebenarnya para murid pun tidak mengerti Kerajaan Allah dan pekerjaan Kristus, dan karena itu mereka pun sebenarnya tidak dapat masuk ke dalamnya. Tetapi karena Yesus berkenan untuk datang kepada mereka, memberi anugerah kepada mereka untuk mengenal diri-Nya, maka mereka tahu jalan ke dalam Kerajaan Allah yang sebenarnya telah ada di tengah-tengah mereka (Yoh. 14:5-6).

Jadi, kalau orang-orang Yahudi di dalam Yohanes 7 tidak mungkin mengikuti Yesus ke dalam Kerajaan Allah itu karena mereka tidak mengenal Yesus, apakah ini berarti para murid juga berada di dalam keadaan yang sama? Bukankah Tuhan Yesus juga mengatakan hal yang sama kepada mereka (Yoh. 13:33)? Tidak. Meskipun Yesus mengatakan hal yang sama, yaitu para murid tidak bisa pergi ke tempat Dia akan pergi, tetapi alasan yang Yesus berikan berbeda. Di dalam pasal 7 orang-orang Yahudi tidak bisa mengikuti Dia ke tempat Dia akan pergi, yaitu ke dalam kemuliaan Kerajaan Allah, karena mereka tidak mengenal Dia. Tetapi di dalam Yohanes 13:33 Tuhan Yesus memberikan alasan yang berbeda. Mengapa murid-murid tidak bisa mengikuti Yesus? Karena mereka masih harus tinggal di bumi ini. Mereka masih harus berada di bumi dan menyatakan kemuliaan dari Kerajaan Allah dengan mencerminkan sifat Kristus, yaitu kasih. Mereka dipilih oleh Tuhan dan dipanggil untuk menyatakan kehadiran Allah di bumi melalui menjadi anggota-anggota tubuh Kristus. Inilah mengapa mereka tidak mungkin mengikuti Yesus ke tempat Dia akan pergi. Mereka harus mencerminkan kasih Kristus di dalam seluruh hidup mereka. Kasih yang akan mencerminkan bahwa mereka adalah murid-murid Kristus.

Jadi, berbeda dengan orang-orang Yahudi di dalam Yohanes 7, murid-murid Yesus mengenal Yesus. Kemuliaan Kerajaan-Nya dinyatakan di dalam mereka dan melalui mereka. Mereka menjadi wakil Kristus untuk menyatakan kasih setia dan kebenaran-Nya. Tetapi bukankah ini pekerjaan yang mustahil? Siapakah yang sanggup menjalani hidup seperti ini? Siapakah orang yang sanggup menyatakan kasih setia dan kebenaran Kristus di dalam hidupnya? Tetapi Tuhan justru memimpin para murid yang banyak kekurangan. Di dalam Yohanes 8:36 Tuhan Yesus mengatakan bahwa Petrus belum sanggup mengikuti Kristus ke tempat yang akan Dia tuju. Tempat apakah itu? Tempat berada di dalam kemuliaan surgawi untuk orang-orang percaya di bumi? Bukan. Yang Yesus maksudkan dengan tempat tujuan-Nya adalah keselamatan yang akan Tuhan nyatakan di bumi melalui salib Kristus. Salib yang menyatakan kasih setia dan kebenaran-Nya. Yesus harus mati karena menunjukkan kasih dan pengorbanan-Nya untuk murid-murid dan orang-orang pilihan yang akan ditebus-Nya.

Berbeda dengan Tuhan Yesus, Simon Petrus tidak sadar kalau dia belum sanggup menjalani hidup seperti Kristus menjalani hidup-Nya. Dia dengan penuh kebanggaan memastikan Yesus bahwa dia sanggup hidup seperti yang Allah inginkan. Dia merasa sudah di garis akhir. Dia merasa telah menyelesaikan perlombaan. Kesombongan Petrus ditaklukkan oleh Kristus yang mengatakan bahwa Petrus belum sanggup menjalani hidup seperti Kristus di tengah-tengah dunia ini. Petrus belum sanggup untuk menyerahkan nyawanya bagi Kristus. Bukan hanya itu, Petrus bahkan akan menyangkal Yesus yang sedang dibelenggu. Nyawa akan diberikan? Petrus bahkan tidak bisa memberikan kesetiaannya kepada Yesus di saat yang sangat diperlukan oleh Yesus. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kasih dan pengorbanan yang Yesus sedang tunjukkan dengan kerelaan-Nya untuk berkorban dan mati. Petrus, sama seperti kita, adalah orang-orang yang sangat jauh dari kemampuan untuk meneladani Kristus.

Tetapi apakah yang dikatakan Tuhan? Tuhan mengatakan (di dalam ayat 36) bahwa Petrus belum sanggup mengikuti Yesus sekarang, namun dia akan sanggup suatu hari kelak. Ketidaksanggupan mengikuti Yesus akan digantikan dengan kerelaan. Tuhan memberikan ruang bagi murid-murid-Nya bertumbuh, sehingga kegagalan mereka tidak membuat Tuhan segera membuang para murid. Inilah panggilan dan kasih Kristus kepada orang-orang pilihan Allah. Walaupun kita sangat besar dosanya, dan walaupun kita tidak sanggup untuk meneladani Kristus sebagaimana seharusnya, tetapi Allah senantiasa memanggil kita, membersihkan kita, memperkenalkan pekerjaan-Nya yang besar untuk dilakukan, dan mendewasakan iman kita sehingga kita semakin sanggup meneladani Kristus. (JP)