Renungan Harian 504 (Rabu, 15 Januari 2020)

Damai Sejahtera Kristus

Devotion from Yohanes 14:25-31

Yesus Kristus akan segera menuju kepada puncak pekerjaan-Nya di bumi ini, yaitu menjadi korban yang mati di kayu salib. Keberadaan-Nya di tengah para murid akan segera berakhir. Dia akan mati, dan setelah itu akan bangkit dan segera pergi kepada Bapa di surga. Tentu saja Kristus berjanji akan datang kembali, tetapi sebelum Dia datang kembali, apakah penyertaan-Nya diambil dari para murid? Jika Yesus tidak hadir secara fisik di tengah-tengah mereka, pengharapan apa yang dapat mereka miliki? Tetapi, walaupun Yesus tidak akan bersama-sama dengan mereka melalui kehadiran fisik-Nya, Dia bersama-sama dengan mereka melalui Roh Kudus yang dijanjikan-Nya. Roh Kudus yang akan memberi damai sejahtera bagi para murid.

Di dalam konsep Perjanjian Lama, Roh Kudus adalah Roh yang mengerjakan banyak hal, tetapi orang Israel mengenal pekerjaan-Nya melalui dua hal, yaitu pekerjaan-Nya di dalam penciptaan. Roh Kudus adalah Sang Pencipta. Bersama dengan Bapa dan Anak, Roh Kudus juga menciptakan langit dan bumi. Di dalam Kejadian 1:2 dikatakan bahwa Roh Allah menaungi samudera raya. Menaungi ini adalah tindakan membuat kekacauan menjadi teratur. Samudera raya menjadi lambang kekacauan, tetapi Roh Kudus justru menciptakan keadaan teratur melalui kekacauan. Ini gambaran yang sangat indah untuk kita pahami. Kisah penciptaan di dalam Kejadian memberikan fokus kepada penataan dan pemberian kelimpahan kepada langit dan bumi yang dicipta Tuhan. Fokus yang diberikan bukanlah kepada penciptaan dari tiada menjadi ada. Tuhan memang menciptakan dari tiada menjadi ada. Dari tidak ada apa pun, dicipta menjadi ada karena Tuhan berfirman. Tanpa Dia berfirman, tidak ada apa pun yang jadi dari apa yang diciptakan (Yoh. 1:3). Tetapi penekanan seluruh narasi penciptaan justru ada di membuat teratur dan membuat limpah. Tuhan membuat dan menopang seluruh ciptaan sehingga keteraturan dan kelimpahan ada di dalamnya. Inilah keadaan baik yang Tuhan sukai. Apa yang Tuhan senangi dari seluruh ciptaan ini akan mendatangkan damai sejahtera bagi manusia yang tinggal di bumi ciptaan Tuhan sebagai gambar-Nya. Keadaan baik karena topangan dan pemeliharaan Tuhan ini adalah damai sejahtera bagi seluruh makhluknya di bumi.

Namun kita tahu kisah selanjutnya. Manusia jatuh dalam dosa dan memberontak kepada Tuhan. Apakah yang terjadi? Ciptaan membantah Penciptanya? Bagaimana mungkin tanah memberontak kepada yang membentuknya? Tetapi ini yang terjadi. Allah, yang begitu berkuasa menopang dan mempertahankan keadaan baik yang teratur dan limpah, seperti tidak berdaya ketika manusia ciptaan-Nya jatuh dan tidak lagi membuat seluruh ciptaan menjadi baik, teratur, dan limpah. Tetapi Tuhan menjalankan rencana-Nya. Rencana untuk menciptakan kembali ciptaan yang sudah rusak ini. Bukan mengganti, tetapi menciptakan kembali. Di satu sisi, penciptaan kembali bukanlah sesuatu yang terputus dari ciptaan yang lama. Tetapi di sisi lain, penciptaan kembali menghancurkan seluruh keadaan yang tidak semestinya. Dosa dihancurkan oleh Tuhan yang mengerjakan penciptaan kembali. Penciptaan kembali ini demikian dahsyat, sehingga dapat membawa seluruh ciptaan Tuhan berada ke dalam keadaan sempurna sesuai dengan yang Tuhan telah rencanakan. Rencana Tuhan tidak gagal. Rencana Tuhan akan mencapai kesempurnaannya. Jadi, walaupun Kerajaan Allah telah datang, namun tetap ada sisi pengharapan masa depan yang saat ini belum terjadi. Pasti terjadi, tetapi belum terjadi.

Untuk menggenapi rencana inilah Tuhan mempersiapkan sebuah umat, yaitu Israel. Umat yang diberi pengertian bahwa langit yang baru dan bumi yang baru akan ada di bawah pemerintaan Allah dan Kristus-Nya (Why. 5:13, 11:15; Kol. 1:16). Bagaimanakah umat Tuhan, yaitu Israel, memahami hal ini? Melalui firman, ibadah, dan simbol yang Tuhan berikan, yaitu Bait Allah. Bait Allah memberikan gambaran tentang langit dan bumi yang disatukan di dalam Kerajaan Allah. Sejak di padang gurun, Tuhan telah memerintahkan Musa untuk membuat Bait, yaitu kemah Perjanjian. Sebelum Israel tiba di tanah perhentian mereka, maka Bait belum boleh dibangun. Di padang gurun, tempat mereka berada sebagai musafir, Bait dinyatakan di dalam bentuk Kemah Suci. Dan di dalam Keluaran 31:1-5, Tuhan memenuhi Bezaleel dengan Roh Allah untuk membuat hal-hal yang perlu dibuat dengan keindahan sangat tinggi untuk Kemah Suci. Roh Allah membuat keteraturan di tengah-tengah samudera (Kej. 1:2), dan Roh yang sama membuat simbol keteraturan di tengah-tengah padang gurun (Kel. 3:1-5). Roh yang sama yang telah membuat simbol keteraturan di tengah-tengah padang gurun melalui Kemah Suci, juga adalah Roh yang akan menggenapi keteraturan ini di tengah-tengah “padang gurun” dunia berdosa dengan mendirikan Bait Suci yang sejati, yaitu kita, tubuh Kristus, dan menjadikan Kristus sebagai Allah yang berdiam (berkemah) bersama-sama dengan kita (Yoh. 1:14). Inilah yang sedang dijanjikan oleh Tuhan Yesus. Roh Kudus akan menjadikan kita Bait Suci-Nya yang memenuhi seluruh bumi, menggenapi nubuat Tuhan melalui mimpi Nebukadnezar (Dan. 2:35, 45). Dan apakah yang menjadi hasil dari pekerjaan Roh Kudus? Di dalam Kejadian 1:2, bumi yang penuh samudera raya dinaungi-Nya sehingga siap untuk dibentuk, dibuat teratur, dan dibuat limpah untuk kehidupan manusia demi kemuliaan Allah. Demikian juga di dalam Yohanes 14 ini. Bumi yang penuh dosa dinaungi-Nya sehingga siap untuk dibentuk, dibuat teratur, dan dibuat limpah oleh manusia tebusan Kristus demi kemuliaan Allah. Damai sejahtera Kristus akan diberikan kepada murid-murid, dan damai sejahtera Kristus itu datang melalui kehadiran Roh Kudus yang membawa pekerjaan Kristus yang genap di kayu salib untuk mengubah dunia ini.

Untuk direnungkan:
Biarlah kita memahami dengan tepat apa yang dikerjakan Roh Kudus. Roh Kudus membawa pekerjaan Kristus yang genap di kayu salib untuk memenuhi bumi dan mengubahnya. Sama seperti Dia menaungi bumi yang penuh samudera raya dengan kuasa penciptaan Allah yang besar, demikian sekarang Dia menaungi bumi yang penuh dosa dengan kuasa penebusan Kristus yang besar. Berapa banyak orang Kristen yang sadar akan hal ini? Damai sejahtera Kristus memerintah dengan cara ini. Damai sejahtera Kristus diberikan untuk tujuan ini. Sudahkah Roh Kudus datang sesuai janji Tuhan Yesus? Sudah! Sudahkah kita berbagian di dalam Kristus? Sudah, jika kita memang telah menerima Kristus dan mendedikasikan seluruh hidup untuk mengikuti Dia sebagai Tuhan kita. Jika demikian, maka seharusnya damai sejahtera Kristus diberikan untuk kita, dan damai yang sama itu diberikan melalui kita untuk dunia ini.

Dunia tempat kita berada memang penuh dengan kerusakan. Kehancuran, permusuhan, eksploitasi, perang, kebencian, kemarahan, keserakahan, semua telah menghancurkan manusia dan bumi tempat manusia berada. Adakah pengharapan? Tidak ada pengharapan dari dunia ini. Semua pengharapan dari dunia ini sifatnya begitu sempit, tidak menyeluruh, dan tidak akan konsisten. Pengharapan dunia ini sifatnya seperti pemati rasa untuk luka. Memang tidak lagi sakit untuk sementara, tetapi kebusukan luka itu tidak bisa dicegah. Tetapi pekerjaan Tuhan Yesus menghancurkan kebusukan dan memperbaiki luka yang disebabkan oleh dosa. Kerusakan yang ada pada ciptaan ini dijadikan sembuh. Siapakah yang menyembuhkan? Yesus Kristus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Siapakah yang membawa kesembuhan ini ke seluruh dunia? Roh Kudus, melalui tubuh Kristus, Bait Suci Allah yang sejati. Roh Kudus memakai kita untuk membawa damai sejahtera. Damai sejahtera yang dapat kita nikmati, dan damai sejahtera yang dinikmati orang lain melalui kita. Mari hidup dengan cara sedemikian, sehingga bumi ini dapat menjadi tempat yang dinyatakan baik oleh Allah, dan mendatangkan damai sejahtera bagi manusia yang hidup di dalamnya. Berhenti hidup bagi diri, dan mulai lihat kerusakan di sekeliling kita. Jika saja kita ingat bahwa kita ini adalah bagian dari Bait, sumber damai sejahtera di bumi melalui Roh Kudus yang ada di dalam kita, maka kita akan berhenti hidup bagi diri sendiri. Mari persembahkan diri untuk Kristus supaya diri kita dipakai Tuhan untuk memperbaiki bumi. Biarlah seluruh ciptaan dimiliki kembali oleh Tuhan, dan biarlah perbaikan terjadi di dalam diri kita dan melalui kita. Biarlah melalui perbaikan hidup kita, perjuangan kita, dan tuntunan Roh Kudus dan damai sejahtera-Nya, Tuhan membuat kita bekerja dan mengusahakan dengan segiat mungkin apa yang diperlukan untuk adanya damai sejahtera di bumi. (JP)