Renungan Harian 505 (Kamis, 16 Januari 2020)

Aku Pergi Kepada Bapa-Ku

Devotion from Yohanes 14:25-31

Jika sebelumnya kita telah membahas tentang penyertaan Tuhan melalui Roh Kudus-Nya yang memberikan damai sejahtera, maka kali ini kita akan membahas tentang keindahan relasi antara Sang Anak Allah dengan Bapa-Nya. Di dalam ayat 28, Yesus meminta para murid bersukacita karena Yesus akan pergi kepada Bapa. Alasan para murid harus bersukacita adalah karena Bapa lebih besar daripada Yesus. Apakah yang dimaksud dengan hal ini? Di dalam Injil Yohanes, Yesus disebut sebagai Sang Firman yang bersama-sama dengan Allah, dan juga adalah Allah (Yoh. 1:1). Kesetaraan Sang Firman dengan Bapa di surga dilanjutkan dengan penggambaran keintiman antara Sang Bapa dengan Sang Firman, yaitu Anak Allah (Yoh. 1:18). Ini menjadi dasar yang penting dari beberapa tema besar di dalam Injil Yohanes. Apa sajakah tema besar itu? Yang pertama adalah tema “penciptaan kembali.” Injil Yohanes sengaja memberikan pendahuluan yang mengingatkan pembacanya kepada Kejadian 1. Penciptaan yang baru. Kedatangan Yesus ke dalam dunia adalah untuk menyatakan suatu penciptaan baru. Ini sudut pandang Yohanes dari tema “Kerajaan Allah” yang tidak dimiliki oleh Matius, Markus, dan Lukas. Kerajaan Allah itu datang, dan sebagai efeknya adalah ciptaan yang baru diinaugurasikan. Bagaimana Kerajaan Allah yang berefek menciptakan kembali segala sesuatu dimulai? Dengan kedatangan, karya, kehidupan, dan kematian serta kebangkitan Yesus Kristus. Tetapi penciptaan baru ini juga bukanlah suatu karya non personal. Tuhan tidak ingin menciptakan segala hal secara baru tetapi tidak menciptakan kembali relasi antarpersonal di dalam ciptaan baru itu. Tuhan memperbaiki semua, termasuk relasi antarpersonal, kasih, komitmen, kesetiaan yang memang seharusnya ada di antara manusia. Dan inilah yang menjadi tema besar kedua.

Injil Yohanes dengan konsisten menggambarkan relasi kasih yang intim antara Yesus dengan Bapa-Nya sebagai salah satu pesan utama yang konsisten di dalam kitabnya. Yesus mengasihi Bapa, menaati Bapa, mengasihi dunia, rela menebus manusia. Kasih antara Yesus dengan Bapa-Nya menjadi hal yang mengalir di dalam relasi antara Yesus dengan murid-murid-Nya. Dan di dalam ciptaan yang baru, kasih antara Yesus dengan murid-murid-Nya menjadi hal yang mengalir di dalam relasi antara murid-murid-Nya. Kerajaan Allah adalah kerajaan yang dibangun di atas dasar kasih pengampunan Allah yang dinyatakan melalui Sang Anak Allah, dan dilanjutkan oleh anak-anak Allah. Itu sebabnya di dalam pasal 1, Yohanes segera membahas tentang kesatuan antara Bapa dan Anak Allah, kasih antara Bapa dan Anak Allah, dan kesetiaan Bapa dan Anak Allah. Tetapi apakah kasih dan kesetiaan ini merupakan kasih dan kesetiaan yang eksklusif? Apakah kasih Bapa dan Anak adalah kasih antara dua pribadi yang dinikmati oleh keduanya tanpa melibatkan pribadi lain di luar keduanya? Tidak. Di abad ke-12, seorang theolog penting bernama Richard dari St. Victor menggambarkan relasi kasih antara Bapa dan Anak adalah relasi yang memiliki sudut pandang “Trinitarian (bersifat Tritunggal)”. Kasih antara Bapa dan Anak bukanlah “binitarian (bersifat dwitunggal)”. Ketika Alkitab menggambarkan tentang kasih antara Allah dan Anak, kasih ini adalah kasih yang tidak eksklusif, melainkan kasih yang melibatkan dan dinikmati oleh Pribadi ketiga, yaitu Roh Kudus. Orang Kristen yang mengerti ini akan memiliki relasi yang dinikmati oleh komunitas. Relasi suami istri yang baik adalah relasi yang membuat mereka sanggup untuk menjadi berkat bagi anak maupun komunitas lebih besar di mana mereka ada. Jika relasi antara dua orang membuat keduanya menjadi eksklusif, mengabaikan orang lain, dan saling menikmati kasih tanpa memikirkan bagaimana relasi mereka menjadi sesuatu yang mengalir keluar dan memberkati banyak orang, maka relasi antara dua orang itu menjadi relasi yang buruk. Ini bukanlah relasi yang dipahami oleh orang Kristen. Ini tidak berarti bahwa relasi suami istri tidak eksklusif di dalam komitmen, keintiman, dan kesetiaan. Seorang suami harus mengasihi dan berkomitmen kepada istrinya dengan kasih dan komitmen yang tidak dibagikan kepada perempuan lain. Demikian juga kasih, komitmen, dan keintiman seorang istri tidak mungkin boleh dibagikan kepada banyak laki-laki. Yang dimaksud dengan pengertian “Trinitarian” bukanlah memasukkan pihak ketiga untuk meramaikan suasana pernikahan. Tetapi yang dimaksudkan adalah bahwa relasi dan komitmen suami dan istri adalah relasi dan komitmen yang memerlukan Pribadi Allah untuk mengikat keduanya di dalam kasih, dan semakin besar kasih, kesetiaan, dan komitmen yang dimiliki oleh keduanya, semakin besar keduanya menjadi berkat bagi komunitas. Ini hal yang perlu digumulkan, dipikirkan, dan diperjuangkan dengan seserius mungkin, karena seperti inilah kasih, komitmen, dan keintiman yang dimiliki oleh Bapa dan Anak. Kasih, komitmen, dan keintiman yang Bapa miliki bersama Sang Anak adalah kasih, komitmen, dan keintiman yang disatukan oleh Roh Kudus dan yang mengalir keluar untuk menjangkau manusia di bumi. Dan kalau di dalam Yohanes 1 digambarkan kedekatan antara Bapa dan Anak (ay. 18), maka Yohanes 14:28 menggambarkan bagaimana kedekatan di Yohanes 1:18 kini sudah mengalir keluar ke dunia, menjangkau setiap orang yang ditarik Tuhan untuk menikmati kedekatan ini. Yohanes 14:28 mengingatkan bahwa relasi antara Yesus dan para murid adalah relasi yang terjadi karena adanya relasi kasih antara Bapa dan Anak di dalam Yohanes 1:18. Kasih yang disatukan oleh Roh Kudus dan yang melalui Roh Kudus mencapai manusia (Yoh. 14:17-20).

Inilah sudut pandang yang penting untuk memahami aspek kasih dan relasi di dalam ayat-ayat yang kita baca hari ini. Jika kemarin kita sudah melihat aspek kedatangan Kerajaan Allah yang menciptakan baru seluruh ciptaan yang sudah jatuh ke dalam dosa ini, maka sekarang kita akan memakai sudut pandang relasi untuk memahami bacaan ini. Ayat 26 memberikan pengertian bahwa Roh Kudus akan melanjutkan relasi yang telah dimiliki oleh Yesus dengan para murid. Ini pesan yang sangat indah. Yesus mengajarkan bahwa Roh Kudus menjadi jaminan bahwa kasih, kesetiaan, keintiman yang dimiliki oleh Yesus dengan para murid akan terus berlanjut. Roh Kudus dengan sempurna menyatakan kehadiran Kristus di tengah-tengah kita. Karena kasih selalu ditunjukkan dengan keinginan untuk dekat dan kasih hanya mungkin dipuaskan dengan kehadiran, maka Roh Kudus menyatakan kesempurnaan kasih Kristus, juga di dalam aspek kedekatan dan kehadiran Kristus. Tetapi mengapa Roh Kudus harus menggantikan kehadiran Kristus? Karena Kristus akan pergi kepada Bapa. Mengapa Dia pergi kepada Bapa? Tentu karena kasih-Nya kepada Bapa. Kristus mengasihi Bapa dan kehadiran serta kedekatan dengan Bapa tentu sangat diinginkan oleh Dia. Kristus ingin dekat dengan Bapa-Nya di surga dengan kedekatan yang Dia miliki sebelum Dia datang ke dalam dunia. Tetapi kasih Kristus dengan Bapa tidak mungkin bertentangan dengan kasih Kristus kepada murid-murid-Nya. Haruskah kedekatan Kristus dengan Bapa mengorbankan kedekatan Kristus dengan para murid? Ternyata tidak, karena Roh Kudus menyatukan kita dengan Kristus walaupun Kristus sekarang ada di sebelah kanan Bapa di surga.

Tetapi ternyata ada alasan lain mengapa Kristus ingin pergi kepada Bapa di surga. Alasan itu adalah karena Bapa lebih besar daripada Kristus (ay. 28). Apakah ini berarti Kristus adalah “allah” yang lebih kecil dari pada Bapa? Tidak. Ketiga Pribadi Allah Tritunggal adalah Allah. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah. Di dalam substansi ketiga Pribadi Tritunggal adalah Allah yang Esa. Namun Anak Allah yang berinkarnasi menjadi manusia dengan rela menundukkan diri kepada Allah Bapa di surga. Dia rela menaati Bapa, rela dengan penuh sukacita menjadi Pribadi yang dikepalai oleh Bapa. Tetapi di dalam bagian ini, Yohanes ingin menekankan hal yang lain selain dari perendahan diri Kristus, yaitu dampak kasih dan damai sejahtera yang akan diterima oleh para murid. Jika Yesus rela mati, bangkit, dan duduk di sebelah kanan Allah sebagai Imam Besar kita, maka kasih Allah dan kedatangan Kerajaan-Nya akan mencapai kegenapannya. Kembalinya Yesus Kristus kepada Bapa di Surga adalah demi kesempurnaan damai sejahtera Allah diberikan kepada umat-Nya. Inilah yang dimaksud dengan Bapa lebih besar dari pada Aku. Ini mirip dengan ketika Yesus mengatakan bahwa murid-murid akan mengerjakan pekerjaan lebih besar daripada Dia (ay. 12) karena kembalinya Yesus kepada Bapa. Jika Yesus mengasihi murid-murid, maka Dia harus meninggalkan mereka untuk mati di kayu salib, dan menggenapi pengorbanan-Nya yang menebus dengan datang kembali kepada Bapa di surga. Inilah yang dimaksud dengan kalimat “Bapa lebih besar dari pada Aku”.

Di manakah Kristus sekarang? Ada bersama Bapa di Surga. Berarti kesempurnaan kasih dan damai sejahtera yang diberikan kepada para murid di abad ke-1 juga diberikan kepada kita di abad ke-21. Saudara dan saya adalah orang-orang yang menikmati kasih Tritunggal yang mengalir keluar dengan sempurna karena pekerjaan penebusan Yesus yang genap. Penebusan yang memuncak pada kematian-Nya, dan menjadi genap pada kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Kiranya Tuhan memberikan kita kemampuan untuk mengerti dan merasakan kasih Bapa dan kasih Anak Allah. Kiranya Roh Kudus membawa kita ke dalam persekutuan indah dengan Bapa dan Anak-Nya. Sama seperti Anak Allah yang ada di pangkuan Bapa menikmati kasih Bapa dan menikmati kehadiran-Nya, demikian kita sekarang dibawa ke pangkuan Bapa, menikmati kasih Bapa dan Kristus, menikmati kehadiran Bapa dan Kristus melalui Roh Kudus yang dengan sempurna mendatangkan damai sejahtera di dalam hidup kita. (JP)