Renungan Harian 506 (Jumat, 17 Januari 2020)

Pokok Anggur Yang Berbuah

Devotion from Yohanes 15:1-10

Yesus melanjutkan perkataan-Nya kepada murid dengan mengaitkan keberadaan mereka dengan Yesaya 27:6 dan Mazmur 80. Dua bagian ini, dan juga banyak bagian lain di dalam Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel, menyamakan Israel dengan kebun anggur milik Tuhan. Tuhanlah pemilik mereka, dan mereka ditanam untuk bertumbuh, merambat hingga memenuhi bumi dan berbuah dengan limpah. Yesaya 27:6 memberikan gambaran tentang pengharapan eskatologis di mana Israel adalah pohon anggur yang akan bertumbuh dan memenuhi bumi. Gambaran yang sangat penting karena memberikan pengertian tentang tujuan Allah memanggil Israel. Allah menciptakan manusia untuk memenuhi bumi, menaklukkan bumi, dan menyembah Dia. Sebagai gambar Allah, manusia akan mencerminkan kemuliaan Allah di seluruh bumi jika setia kepada panggilan ini. Tetapi kegagalan manusia membuat bumi penuh dengan kerusakan dan kejahatan. Kecenderungan hati manusia adalah jahat semata-mata dan semua ini menyakiti hati Tuhan. Kegagalan manusia menghancurkan hati Tuhan! Kita bukan orang-orang yang percaya ilah palsu gambaran para filsuf, ilah yang mempunyai pengaruh yang absolut tetapi tidak memiliki perasaan dan keterlibatan dengan ciptaan. Allah yang diberitakan oleh Alkitab tidak demikian. Dia mencipta bumi, mencipta manusia, dan sangat terlibat di dalam perjalanan sejarah manusia. Ada tujuan Allah mendesain segala sesuatu seperti yang Dia lakukan. Kegagalan manusia memenuhi tujuan itu menghancurkan segalanya. Menghancurkan keindahan, damai sejahtera, dan kebaikan yang Tuhan inginkan ada, memenuhi bumi, dan menghancurkan hati Tuhan, mendukakan Dia, juga membangkitkan murka-Nya. Keinginan Allah yang sangat besar akan kesejahteraan, kedamaian, dan kebaikan di bumi ini membuat Dia murka ketika manusia ciptaan-Nya menghancurkan semua itu.

Tetapi kehancuran yang terjadi tidak mematikan harapan akan pembaruan dari Allah. Di setiap keadaan rusak, Allah menghadirkan janji-Nya melalui firman-Nya. Firman-Nya yang berkuasa membuat segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada membuat janji-Nya sangat kuat. Apa yang Allah nyatakan tidak mungkin gagal. Dia membuat seluruh ciptaan ini dengan perkataan-Nya, dan Dia akan membuat seluruh ciptaan ini menjadi baru, juga dengan perkataan-Nya. Dia merancang pembaruan atas bumi ini dengan memanggil Israel. Israel akan menjadi pohon anggur yang memenuhi bumi dengan buah yang limpah, sesuai keinginan Allah. Tetapi di manakah realisasi janji ini? Apa yang Tuhan katakan seolah hancur karena kegagalan Israel. Semakin mereka berkembang karena berkat Tuhan, semakin mereka menjauhi Tuhan. Berkat yang limpah yang Tuhan berikan kepada mereka justru membuat mereka semakin menjadi-jadi di dalam menyembah berhala, menolak Tuhan, dan membangkitkan murka-Nya (Hos. 10:1). Tuhan akhirnya membuang Israel, memotong kebun anggur-Nya itu dan menyerakkannya ke bangsa-bangsa lain (Yeh. 17:2-12). Tetapi walaupun keadaan kebun anggur ini sudah hancur dan menjadi sindiran, Yesaya 27:6 tetap menjadi pengharapan yang tidak akan batal. Tuhan sanggup memulihkan Israel sekalipun dari tunggul sebuah pohon yang telah dihancurkan berkali-kali (Yes. 6:13). Tunas Daud, yaitu Sang Mesias, tumbuh dari tunggul yang mati.

Dari latar belakang ini kita mengerti bahwa perkataan Tuhan Yesus tentang pohon anggur yang berbuah lebat sedang berbicara tentang penggenapan Yesaya 27:6. Israel akan sekali lagi bertumbuh, menyebar ke seluruh bumi, dan berbuah dengan limpah bagi kemuliaan Allah. Apa yang Tuhan rancangkan sejak awal penciptaan, sekarang akan digenapi. Tuhan memulihkan Israel! Tetapi, sebagaimana sebelumnya, apa yang Yesus genapi selalu melampaui ekspektasi Israel secara tradisi. Tuhan Yesus menjelaskan bahwa pemulihan yang diharapkan dari Yesaya 27:6 hanya mungkin terjadi kalau Israel ada di dalam Dia. Dialah yang akan memulihkan Israel. Dialah yang akan menopang seluruh ranting anggur yang akan berbuah dengan limpah. Bukan seluruh Israel yang akan pulih, tetapi hanya yang ada di dalam Yesus Kristus. Bahkan, menurut Yohanes 15:19, pembagian manusia di bumi bukan lagi terdiri dari Israel dan non Israel, tetapi milik Yesus atau milik dunia. Siapa yang menjadi milik Yesus, dialah yang akan berbuah dengan limpah, entah dia orang Israel atau bukan. Siapa bukan milik Yesus, dia milik dunia, dan dia akan dibuang dan dicampakkan keluar kebun, entah dia orang Israel atau bukan. Barang siapa ada di dalam Yesus, dia akan berbuah dengan limpah.

Ini menjadi satu pengertian yang limpah sekali bagi kita. Kita yang ada di dalam Yesus, kitalah yang melanjutkan apa yang Tuhan harapkan untuk Israel kerjakan. Bahkan kita akan berbuah dengan lebat, tidak seperti Israel yang gagal. Mengapa kita berhasil? Karena kita ada di dalam Yesus. Jika kita di luar Yesus, kita tidak akan mungkin berbuah. Dialah yang akan membawa umat yang baru, Israel yang sejati, untuk berbuah bagi Tuhan, memenuhi bumi dan menyatakan kemuliaan Tuhan. Bukankah kekristenan telah mulai, sedang, dan akan terus melakukan hal ini? Yesaya 27:6 tergenapi melalui penebusan Kristus yang menjadikan kita milik-Nya. Tetapi ini berarti tuntutan yang Tuhan berikan kepada Israel untuk berbuah sekarang jadi tuntutan yang diberikan kepada kita. Tuhan menuntut kita berbuah. Siapa yang gagal berbuah, dia akan dibentuk oleh Tuhan, dibersihkan, dan dipotong, agar bisa berbuah. Sudahkah kita berbuah? Sudahkah kehadiran kita membawa klaim Kerajaan Tuhan di tempat itu? Sudahkah kita berbuah dengan limpah? Sudahkah kasih, kesetiaan, kebenaran, keadilan Allah diperjuangkan di tempat kita hidup? Sudahkah kita berbuah dengan membawa banyak orang mengenal Tuhan dan menghidupi kehidupan mereka dengan cara Tuhan?

Orang-orang Kristen yang sejati harus menyadari hal ini. Kita bukanlah orang yang hidup tanpa arah dan tujuan. Tetapi apakah kita sadar kalau kita tidak hidup di dalam arah dan tujuan Tuhan, maka sebenarnya kita hidup tanpa arah? Jika kita tidak mengerjakan apa yang Tuhan mau dikerjakan oleh umat-Nya, maka kita sama buruknya dengan Israel yang gagal berbuah bagi Tuhan. Namun, perbedaan kita dengan Israel adalah bahwa kita memiliki Kristus sebagai kepala kita. Kita harus tinggal di dalam Dia dan kita akan berbuah. Apakah yang dimaksudkan dengan tinggal di dalam Dia? “Tinggal di dalam” mempunyai arti tetap berada di dalam kasih. Ayat 7 dan 9 menjelaskan hal ini. Tinggal di dalam Kristus berarti senantiasa berada di dalam kasih-Nya supaya bisa berbuah. Kegagalan untuk tinggal di dalam Allah, inilah problem yang dialami oleh orang Israel. Mereka tidak lagi melihat keindahan tinggal di dalam kasih Allah. Tinggal di dalam kasih Allah berarti menikmati Dia di dalam perjanjian. Banyak yang mau menikmati Allah dengan cara yang sembarangan. Tidak peduli kehendak Allah dan perjanjian yang Allah buat dengan manusia. Ini bukan menikmati Allah. Mengasihi Allah hanya mungkin dikerjakan di dalam ketaatan kepada perjanjian. Itu sebabnya Yohanes 15:10 mengatakan bahwa tinggal di dalam kasih berarti menjalankan perintah Tuhan. Hidup di dalam perjanjian, menikmati perjanjian, dan menghidupi dengan taat, itulah yang disebut dengan menikmati kasih Allah.

Maukah kita berbuah dengan limpah? Hanya satu cara, yaitu tinggal di dalam Kristus. Menikmati kasih-Nya, menikmati perjanjian dengan Dia, menikmati mengasihi Dia, menikmati kesetiaan Dia kepada perjanjian-Nya dengan kita, menikmati pengorbanan-Nya bagi kita, menikmati mendedikasikan hidup bagi Dia. Betapa limpahnya hidup seperti ini! Tetapi jika kita melihat Dia sebagai Pribadi yang jauh dari kita, Dia bertakhta di surga tetapi tidak dekat di hati kita, Dia menguasai seluruh hidup kita tetapi kita tidak pernah benar-benar rela dipimpin oleh Dia, semua ini membuat kita tidak mungkin menjalani hidup yang berbuah. Tidak ada buah yang sejati dan limpah di dalam hidup jika mengenal Kristus pun tidak memberikan buah apa-apa di dalam hati. Panggilan kita sebagai umat Tuhan bukanlah panggilan dari seorang pegawai dengan bos, tetapi panggilan sebagai kekasih yang menikmati segalanya dari sang kekasih hati. Menikmati mengenal dia, menikmati berjalan bersama dengan dia, menikmati mengerjakan apa pun untuk menyenangkan dia. Inilah yang sebenarnya Tuhan tawarkan kepada kita. Penebusan-Nya membuat kita masuk di dalam tahap yang baru dalam hidup. Tahap yang penuh kelimpahan. Segalanya tentang Kristus membuat hidup kita begitu berlimpah. Apa pun yang Dia berikan dan apa pun yang kita boleh persembahkan membuat kita makin berlimpah. Dan keadaan yang seperti ini tidak mungkin membuat kita tidak berbuah. Tinggallah di dalam Kristus, maka kita akan berbuah dengan limpah. (JP)