Renungan Harian 507 (Sabtu, 18 Januari 2020)

Perintah Untuk Mengasihi

Devotion from Yohanes 15:7-17

Dalam bacaan hari ini, Yesus menjelaskan pengertian yang sangat indah tentang relasi antara Allah dan umat-Nya. Relasi antara Allah dan umat-Nya adalah relasi kasih. Kasih yang sejati membuat adanya kerinduan untuk memberi demi kebaikan pihak yang lain. Di dalam kasih, relasi antara Allah dan manusia akan menjadi indah. Allah mengasihi manusia dan apa pun yang dikerjakan Allah adalah untuk memberikan kebaikan bagi manusia. Manusia mengasihi Allah dan apa pun yang dikerjakan manusia adalah demi kemuliaan Allah. Namun manusia yang sudah dirusak oleh dosa menghancurkan keindahan kasih. Di dalam dosa hanya ada diri dan keinginannya. Tidak ada kemungkinan untuk berfokus kepada pribadi di luar diri. Kalaupun manusia berdosa sanggup memberikan perhatian, perasaan yang dalam, dan dedikasi kepada orang-orang dekatnya, seperti keluarga atau sahabatnya, tetapi komitmen dan kasih kepada Allah tidak mungkin ada. Dan ketika komitmen dan kasih kepada Allah tidak ada, maka relasi yang dia bentuk hanyalah relasi yang tetap merusak. Mengapa merusak? Karena tidak pernah memiliki tujuan membentuk komunitas yang sejati, yaitu komunitas yang menyatukan manusia dan Allah. Suami mengasihi istri, istri mengasihi suami, orang tua mengasihi anak, anak mengasihi orang tua, sahabat mengasihi sahabatnya yang lain, tetapi semua pihak ini tidak mengasihi Allah. Relasi utama di dalam alam semesta ini adalah antara Allah dan manusia. Mengasihi sesama tanpa mengenal Allah adalah seperti seseorang yang naik pesawat dan dia melihat seluruh penumpang pesawat dan semua flight attendant sebagai bagian penting dari penerbangan itu, tetapi dia tidak pernah mengetahui bahwa di dalam penerbangan diperlukan adanya pilot. Dia tidak pernah melihat pilot dan tidak tahu bahwa penerbangan hanya mungkin terjadi karena ada pilot. Orang ini merasa bahwa di dalam pesawat harus ada penumpang dan pramugari. Dengan bodohnya dia merasa aman dan damai karena semua penumpang dan pramugari ada, tetapi tidak pernah tahu siapa yang sesungguhnya membuat pesawat tersebut terbang dan mendarat di tempat tujuan. Demikian juga dengan relasi antarmanusia. Dengan bodohnya manusia berpikir jika dia mampu hidup baik dengan sesama, itulah yang baik dan aman. Dia tidak tahu siapa yang sesungguhnya “menerbangkan” hidup manusia, menopang alam, dan memimpin perjalanan sejarah manusia! Tanpa Tuhan manusia akan hancur. Untuk mencegah kehancuran, manusia meminjam istilah-istilah seperti “kasih”, “komitmen”, “pengorbanan”, “kesetiaan”, dan menjadikan istilah-istilah ini sebagai kunci untuk membangun relasi antarmanusia. Tetapi manusia tidak tahu bahwa istilah-istilah ini berasal dari perjanjian yang Allah lakukan. Istilah-istilah ini hanya mungkin dipahami dengan tepat dari tempat originalnya, yaitu dari sifat-sifat Allah sendiri. Manusia mencuri dari Allah, menikmati apa pun dari Dia, tetapi tidak merasa perlu mengenal Dia. Allah mengikat perjanjian dengan manusia berdasarkan sifat-sifat yang Dia miliki. Sifat-sifat seperti kasih, komitmen, pengorbanan, kesetiaan, kemurahan, pengampunan, kasih setia, dan kebenaran, semua ini diperkenalkan oleh Allah di dalam perjanjian-Nya dengan manusia. Tanpa mengembalikan istilah-istilah ini ke dalam kerangka utuhnya, yaitu di dalam perjanjian antara Allah dengan manusia, maka istilah-istilah ini hanya bisa diterapkan di dalam keadaan yang sangat sempit dan kecil. Bisakah manusia mengasihi? Tidak. Bisakah manusia menerapkan fenomoena-fenomena yang ada di dalam kasih secara parsial? Ya. Bisakah penerapan parsial ini memberi pengharapan? Tidak. Manusia bisa saling mengasihi dengan menerapkan beberapa hal dalam perjanjian Tuhan secara parsial. Seorang yang tidak mengenal Tuhan bisa mengasihi keluarganya, mengasihi tetangganya, mengasihi sahabat baiknya, tetapi kasih seperti ini tidak bertujuan, tidak kekal, dan tidak berguna bagi komunitas yang lebih besar. Mengapa tidak? Karena di dalam kasih seperti ini tidak ada Allah dan rancangan besar-Nya bagi manusia.

Tetapi kedatangan Yesus Kristus menyatakan kasih yang sejati. Kasih yang berpusat kepada Allah, berasal dari Allah, dinyatakan melalui perjanjian-Nya, menjangkau manusia, dan memberi bagi manusia. Perhatikan apa yang dikatakan di dalam ayat 7. Kasih Allah membuat kita tinggal di dalam firman-Nya dan menerima apa pun yang kita kehendaki. Apa pun? Apa pun demi tercapainya tujuan. Apakah tujuannya? Berbuah banyak bagi seluruh dunia dan memuliakan Bapa di surga (ay.  8). Allah akan mengerjakan rencana-Nya bagi kita karena kita mengejar apa yang memuliakan Allah. Kita mengejar apa yang memuliakan Allah karena kita tinggal di dalam kasih-Nya. Kita tinggal di dalam kasih-Nya karena Allah lebih dahulu mengasihi kita dan mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal bagi kita. Inilah kasih yang sejati itu. Kasih yang mencakup surga dan bumi. Kasih yang menjangkau Allah dan seluruh komunitas. Kasih yang mengalir dan memberkati seluruh bumi. Sudahkan kita mengasihi? Apakah yang terjadi dari kasih kita? Apakah kasih kita membuat istri senang, atau suami senang, atau anak-anak senang, atau kenalan dekat kita senang, tetapi tidak bersentuhan dengan Allah? Apakah kasih kita mengalir keluar dan membuat dunia ini menuju ke keadaan yang baik, yaitu sesuai dengan rancangan Sang Pencipta? Bagaimana mungkin orang yang tidak mengenal Sang Pencipta mengetahui keadaan baik yang menjadi tujuan penciptaan? Dia akan mereinterpretasi makna ciptaan, tujuan ciptaan, makna relasi, makna kasih, dan makna hidup. Inilah yang membuat seluruh dunia rusak. Maju secara teknologi, tetapi tidak bergerak ke mana pun secara kasih, kedamaian, kebenaran, dan keadilan. Yesus datang untuk menyatakan kasih Allah melalui kasih-Nya dan memanggil kita untuk mengasihi Allah dan mengerjakan seluruh pekerjaan kita, menyerahkan seluruh hidup kita untuk mengasihi Allah. Yesus datang dan menyerahkan segalanya bagi Bapa-Nya karena Dia mengasihi Bapa-Nya. Yesus memanggil kita dengan menyerahkan segalanya bagi kita karena Dia mengasihi kita. Kasih Yesus membuat kita mengasihi Dia dan menyerahkan segalanya bagi Dia karena kita mengasihi Dia. Kasih kepada Yesus membuat kita mengasihi Bapa dan menyerahkan segalanya bagi Bapa karena kita mengasihi Bapa. Mengasihi Bapa dan Kristus membuat kita mengasihi manusia demi kebaikan manusia dan demi kemuliaan Bapa dan Kristus. Kasih seperti inilah yang dibawa oleh Kristus. Indahnya kasih yang dampaknya mencakup surga dan bumi, Allah dan manusia, rencana Allah bagi kemuliaan-Nya dan kebahagiaan manusia.

Yesus Kristus membawa kasih yang seperti ini ke dalam dunia. Dia memanggil sekelompok murid yang akan membentuk umat yang baru di bumi ini. Dia memperlakukan sekelompok murid itu sebagai sahabat-Nya dan mengasihi mereka. Sahabat adalah tema besar di dalam pemikiran Yunani dan Yahudi. Sahabat adalah orang yang dikasihi dengan kasih yang sungguh-sungguh. Kasih yang sungguh-sungguh mencakup kerinduan untuk bertemu, kerinduan untuk berbagi, kesehatian di dalam melihat segala sesuatu, niat baik bagi yang lain, keinginan untuk hal yang sama, keterlibatan di dalam membagi dengan berkorban, dan terakhir, seperti dikatakan Tuhan Yesus, kerelaan untuk membagi hidup secara radikal, yaitu kerelaan untuk mati bagi sahabat. Yesus menganggap para murid sebagai sahabat-Nya. Dia menyerahkan hidup-Nya bagi mereka. Menyerahkan hidup bukanlah sesuatu yang Yesus serahkan di akhir saja, yaitu di kayu salib saja. Tidak. Dia sudah menyerahkan hidup-Nya dengan kerelaan berinkarnasi menjadi manusia. Dia sudah menyerahkan hidup-Nya dengan menjalani kehidupan sehari-hari bagi sahabat-sahabat-Nya. Adakah tindakan-Nya ini berlawanan dengan kasih kepada Allah? Tidak. Dia melakukan hal ini demi Allah. Betapa indahnya kasih Kristus, yang membawa manusia kepada Allah dan membawa rencana Allah bagi manusia demi kemuliaan Allah dan demi kesejahteraan manusia. Kasih-Nya adalah kasih sejati, karena mencakup semua hal ini. Sekarang Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi seperti Dia mengasihi. Kasih seperti Yesus membuat kita memperlakukan orang lain sebagai sahabat. Kita mengorbankan nyawa kita bagi mereka. Ini bukan hanya berarti kita harus rela mati bagi orang lain. Ini juga berarti kerelaan untuk hidup bagi orang lain. Kerelaan untuk menghabiskan hari-hari hidup kita bagi sesama manusia, demi tergenapnya rencana Allah bagi damai sejahtera manusia. Sudahkah kita mengasihi? Bukan kasih yang parsial. Bukan hanya di dalam mengasihi teman dekat yang eksklusif, atau keluarga sendiri, atau anak sendiri. Sudahkah kita merancang dan menjalani hidup kita dengan cara demikian, sehingga seluruh hidup akan dihabiskan sampai akhir demi kebaikan sesama manusia dan demi nama Allah dan Kristus dipermuliakan? (JP)