Renungan Harian 511 (Rabu, 22 Januari 2020)

Bersatu Dengan Bapa

Devotion from Yohanes 16:23-31

Yesus tidak hanya mengajarkan bahwa kebangkitan-Nya akan terjadi. Dia juga mengajarkan apa yang berubah akibat dari kematian dan kebangkitan-Nya, yaitu kesatuan antara Bapa dan para murid. Kesatuan dengan Bapa hanya mungkin terjadi karena kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Inilah yang para murid peroleh dari Yesus. Relasi antara Dia dan Bapa di surga akan dinikmati juga oleh para murid. Mereka akan mengasihi Allah, mereka dikasihi oleh Bapa dan Kristus, dan mereka menikmati kasih Bapa dan Kristus melalui Roh Kudus yang menyatukan mereka dengan Kristus. Kesatuan ini begitu indah, tetapi harus dibayar dengan harga yang begitu menakutkan. Mengapa kematian Kristus harus terjadi? Karena Dia memikul hukuman pembuangan yang Allah berikan kepada umat-Nya. Umat-Nya harus dibuang karena pemberontakan mereka. Dari manakah mereka dibuang? Dari Tanah Perjanjian, yaitu Kanaan, daerah yang ditempati oleh Kerajaan Israel. Tetapi kalau Tuhan memulihkan bumi menjadi milik-Nya, bukankah itu berarti mereka harus terbuang dari seluruh bumi? Jika bumi menjadi milik Tuhan, ke manakah Israel akan dibuang? Ke dalam dunia orang mati. Maut menjadi tempat yang tidak ada penyertaan kasih Allah. Maut menjadi tempat pembuangan yang paling final dan mengerikan. Apakah Israel mengalami ini? Ya, melalui wakil mereka, yaitu Yesus Kristus. Yesus Kristus bukan hanya memikul pembuangan bagi orang Israel, Dia memikul pembuangan bagi seluruh orang percaya. Allah membuang Dia karena kecemaran umat-Nya yang begitu besar. Dia menjadi kepala dan wakil umat-Nya yang memikul pembuangan itu di dalam diri-Nya. Dia menjalani pembuangan dan maut demi umat-Nya yang dikasihi-Nya. Dengan demikian, setiap mereka yang ditentukan oleh Allah menjadi umat-Nya, mereka mendapatkan keselamatan melalui penebusan ini. Maka, seperti dikatakan Kristus di dalam ayat 23, ketika hari perjumpaan kembali Kristus dengan para murid, mereka telah sempurna menjadi milik Bapa di surga. Dalam nama Yesus mereka menjadi anak-anak Bapa di surga.

Dengan rancangan keselamatan yang Tuhan telah siapkan, kematian Yesus menjadi kematian yang paling mulia. Itulah sebabnya Yohanes beberapa kali memakai istilah “ditinggikan” (Yoh. 3:14; 12:32) dan “dimuliakan” (Yoh. 8:45; 13:31-32) untuk menggambarkan kegenapan pekerjaan Kristus yang sangat mulia. Tanda kemuliaan-Nya yang paling besar bukanlah mukjizat-mukjizat yang dikerjakan-Nya di tengah-tengah orang banyak. Tanda kemuliaan-Nya yang paling besar adalah ketika Dia menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Bapa-Nya. Inilah kemuliaan yang diberikan Sang Bapa kepada Dia (Yoh. 17:5, 6, dan 24). Kemuliaan dari Kerajaan Allah yang merestorasi kembali umat buangan-Nya melalui Kristus yang taat sampai mati. Dengan kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus memberikan posisi yang Dia miliki kepada para murid. Ini akan lebih jelas terlihat di dalam doa Yesus di pasal 17. Yesus berdoa agar mereka benar-benar menjadi satu dengan Bapa-Nya, sehingga sebagaimana Bapa mengasihi Yesus, demikian kasih yang sama itu dirasakan oleh murid-murid-Nya. Yesus menebus mereka supaya kemuliaan Allah, firman Allah, dan Roh Kudus Allah yang ada pada Kristus juga ada pada para murid. Ini kemuliaan yang melampaui apa pun! Kemuliaan yang melampaui kemuliaan Israel di Perjanjian Lama, kemuliaan yang melampaui kemuliaan Musa di Gunung Sinai, bahkan kemuliaan yang melampaui kemuliaan para malaikat di surga! Kemuliaan Anak Allah dibagikan kepada para murid. Alangkah besarnya berita ini. Saudara dan saya dijadikan sama dengan Kristus, bukan karena kita layak, tetapi karena begitu besar kasih Allah kepada kita. Segala persiapan kemuliaan yang Tuhan siapkan bagi Israel sekarang dimiliki oleh orang-orang kafir seperti kita karena Tuhan Yesus menebus kita. Adakah berita yang lebih baik daripada ini? Adakah hal lain yang lebih pantas disebut Injil selain hal ini? Tidak ada. Relasi, kasih, kebenaran, kesetiaan, kekudusan, kemuliaan yang dinikmati oleh Sang Bapa dan Sang Anak, sekarang menjadi milik kita di dalam Tuhan Yesus.

Jika kita percaya bahwa Allah mengutus Kristus, maka kita menerima semua hal ini. Apakah maksudnya percaya? Apakah yang harus kita percaya tentang Kristus? Yang harus kita percaya tentang Kristus adalah bahwa Dialah yang menggenapi seluruh janji Tuhan bagi umat-Nya di dalam Perjanjian Lama. Dialah Allah yang menyertai manusia dan berdiam bersama dengan umat-Nya. Dialah Raja yang memerintah langit dan bumi dan yang menyatakan takhta-Nya di tengah-tengah umat-Nya. Dialah Sang Gembala yang menuntun domba-domba-Nya supaya tidak sesat. Yang tersesat dicari dan dibawa pulang. Dialah Sang Nabi yang menyatakan peringatan dari Tuhan untuk adanya sebuah pertobatan yang sejati. Dialah Sang Imam yang memimpin ibadah di surga untuk menyembah Allah dan yang segera akan memimpin ibadah yang sama di bumi yang baru. Tanpa memahami apa yang Tuhan janjikan bagi umat-Nya di Perjanjian Lama, kita akan mengenal Kristus dengan cara yang sangat sempit. Tetapi jika kita tahu bahwa apa pun yang Tuhan nyatakan di dalam Kitab Suci, semuanya memuncak kepada Kristus, maka kita akan menghormati dan menikmati kemuliaan-Nya yang tiada tara itu. Bayangkan semua pembahasan kita hari ini. Semua dibahas untuk menjelaskan kematian Kristus. Kematian-Nya! Adakah orang yang lebih kaya daripada Kristus sehingga kematian-Nya pun memberikan kekayaan yang demikian limpah bagi umat-Nya? Ini bukan berita dukacita. Kematian Yesus mengembalikan kemuliaan Allah, bahkan membawa kemuliaan yang lebih besar bagi manusia. Tidak ada orang yang pernah mengalami kemuliaan lebih besar daripada orang-orang yang percaya kepada Kristus! Sayang sekali terlalu banyak orang Kristen hidupnya sangat miskin dan kosong. Di tengah-tengah kelimpahan yang Musa dan Elia pun tidak bisa miliki, banyak orang Kristen yang tetap mencari penghiburan-penghiburan sampah. Uang, ketenaran, kenikmatan dunia, kuasa duniawi, semua omong kosong yang dikejar dunia juga dikejar oleh orang-orang Kristen. Apakah ini tidak salah? Tidakkah kita sadar bahwa Raja kita, Sang Kepala Gereja, jauh lebih limpah daripada apa pun yang dunia ini bisa tawarkan? Bahkan kematian-Nya pun memberikan kita surga. Apalagi kebangkitan-Nya! Apalagi kedatangan-Nya yang kedua!

Tetapi kabar sukacita ini dikemas di dalam berita tentang kematian Kristus. Ayat 32 mengingatkan kembali akan hal itu. Sebelum segala kemuliaan yang dijanjikan Allah digenapi di dalam diri para murid, Yesus Kristus harus mati, dan para murid mengalami kebingungan yang luar biasa. Ayat 32 mengingatkan bahwa segala pengakuan yang para murid katakan di ayat 30 ternyata hanyalah pengakuan kosong. Murid-murid mengatakan bahwa mereka percaya kalau Yesus datang dari Allah. Tetapi mereka masih belum mengerti perlunya Yesus mati. Bahkan mereka masih belum mengerti kalau Yesus akan mati! Kedegilan ini ada di dalam hati para murid dan juga di dalam hati kita. Kita juga terlalu bodoh untuk memahami rencana Tuhan yang agung. Pikiran kita dilatih dan dibiasakan oleh hal-hal yang sifatnya kaku dan sempit. Kita tidak lihat jalan Tuhan yang jauh lebih lincah, agung, dan dinamis. Kita terpaku kepada pola yang kaku, tetapi Tuhan memperbaiki itu semua. Tidak seorang pun dari para murid yang dapat membayangkan bahwa cara Tuhan menaklukkan kematian adalah dengan kematian. Tidak seorang pun yang dapat mengantisipasi kedatangan Kerajaan Allah yang dinyatakan lewat kesederhanaan, kerendahan hati, kerelaan taat, kerelaan pikul salib, dan kerelaan untuk mati bagi para sahabat. Tetapi di tengah-tengah kebodohan para murid ini Yesus Kristus tetap mengajar mereka dengan penuh kesabaran agar mereka memperoleh damai sejahtera dan mengetahui damai sejahtera yang Dia siapkan bagi mereka. Demikian juga kita sekarang. Kita, sama seperti para murid, juga adalah orang-orang degil yang tidak sanggup memahami rencana Tuhan. Kita tidak tahu dan bodoh karena pikiran kita sudah terikat oleh kebiasaan dan cara berpikir yang membelenggu. Sungguh, kita perlu menjadi murid Yesus yang tetap di dalam firman-Nya. Hanya dengan cara itu maka kita akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan membebaskan kita. Kiranya Tuhan berbelas kasihan, membukakan pikiran kita untuk melihat damai sejahtera, sukacita, dan kemuliaan yang ada pada Kristus. (JP)