Renungan Harian 512 (Kamis, 23 Januari 2020)

Kemenangan Yesus dan Doa-Nya

Devotion from Yohanes 16:32-17:8

Kemuliaan Kristus akan dinyatakan. Dia akan menggenapi pekerjaan-Nya di bumi ini dan akan diperkenan oleh Bapa. Ketaatan Kristus membuat Dia menjadi satu-satunya manusia yang diperkenan Allah. Kesetiaan-Nya kepada kehendak Bapa dan kebertundukan-Nya membuat Dia mengalahkan dunia ini. Dialah yang berhasil menjalankan hidup dengan sempurna di dunia ini. Dan Kristus, yang telah mengalahkan dunia dan yang telah menjalankan kehidupan-Nya dengan taat, juga memiliki kasih yang sejati. Di dalam keadaan sulit, ketika Dia mendekati kematian-Nya, Kristus mengasihi murid-murid-Nya dan mengutamakan mereka di dalam hati-Nya dan doa-Nya. Setelah selesai dengan pengajaran-Nya Yesus pun mendoakan para murid. Doa yang sangat indah dan penuh dengan pengertian yang limpah tentang rencana Allah di dalam Kristus. Doa itu dimulai dengan kerinduan Yesus Kristus agar kemuliaan-Nya segera dinyatakan. Ini adalah kemuliaan yang dimiliki Kristus sejak sebelum dunia dijadikan. Inilah kemuliaan yang dimiliki karena Dia berada bersama-sama dengan Bapa di surga. Kemuliaan karena kasih, relasi, dan keberadaan-Nya yang dekat dengan Bapa. Jadi apakah maksudnya Yesus meminta dipermuliakan? Maksudnya adalah biarlah keadaan-Nya sebelum Dia datang ke dalam dunia dimiliki-Nya kembali. Ini berarti ketaatan Yesus, kerelaan-Nya untuk menjadi rendah, dan ketekunan-Nya untuk menjalankan hidup-Nya dengan setia, semua ini dijalankan bukan agar memperoleh sesuatu yang belum dimiliki sebelumnya. Yesus Kristus tidak bertambah di dalam kemuliaan ketika Dia menaati Allah. Dia sudah memiliki kemuliaan yang sempurna itu. Pengorbanan-Nya bukanlah untuk menambahkan sesuatu yang belum Dia miliki. Segala hal yang Yesus kerjakan bukanlah untuk mencapai sesuatu bagi diri-Nya sendiri, tetapi untuk kemuliaan Bapa dan Kerajaan-Nya dinyatakan di bumi ini. Tetapi Yesus tahu bahwa untuk Dia kembali menikmati kemuliaan-Nya bersama dengan Bapa di surga, Dia harus menjalankan dengan taat penebusan yang akan menyatakan kemuliaan Bapa di bumi. Maka sebenarnya, cara untuk Yesus segera dipermuliakan dengan kemuliaan yang telah Dia miliki sebelumnya adalah dengan kematian-Nya di kayu salib. Dengan kematian-Nya inilah Dia akan segera kembali kepada Bapa di surga dan dengan kematian-Nya jugalah Dia menyatakan kemuliaan Bapa di bumi ini. Bapa dipermuliakan melalui Kristus yang rela mati. Kristus ingin dipermuliakan dengan cara yang akan mempermuliakan Bapa di bumi. Dan Bapa dipermuliakan dengan cara yang membuat domba-domba milik Kristus dapat menjadi milik Allah dan memuliakan Dia di bumi ini.

Inilah bagian pertama dari doa Kristus. Biarlah Dia masuk ke dalam kemuliaan-Nya dengan cara yang menyatakan kemuliaan Bapa di bumi untuk dinikmati oleh para murid. Kemuliaan Bapa inilah yang akan menghidupkan para murid. Kehadiran Bapa dan pancaran kemuliaan-Nya yang dinyatakan di bumi akan mematikan manusia. Siapakah yang tahan memandang kemuliaan Allah dan tetap hidup? Tetapi Yesus Kristus menaati Allah dengan rela mati di kayu salib agar ketika kemuliaan Allah dinyatakan, para murid tetap hidup. Bukan saja para murid tetap hidup, mereka juga akan dikenal sama seperti Yesus dikenal. Inilah hidup kekal itu. Ketika Allah menyatakan kemuliaan-Nya, kita dapat menikmatinya dengan limpah dan kita menjalani hidup di dalam damai sejahtera dan sukacita serta kekaguman yang melimpah kepada Allah. Semua ini dapat terjadi karena Kristus rela mati bagi murid-murid-Nya.

Inilah hidup kekal itu. Ketika Allah menyatakan kemuliaan-Nya di bumi, Dia mengizinkan kita untuk menikmatinya karena kita mengenal Dia dengan benar. Kita juga menikmatinya dengan menyadari bahwa kelayakan kita untuk menikmati kemuliaan Allah adalah karena Kristus telah menebus dan memberikan hidup yang limpah di dalam pengenalan akan Allah. Inilah hidup kekal yang sejati. Hidup kekal tidak berkait dengan keadaan kita nanti setelah mati. Hidup kekal lebih berkait kepada apa yang kita nikmati ketika hidup di bumi ini dan berlanjut setelah kematian. Hidup kekal adalah mengenal Allah Tritunggal. Pengenalan ini bukanlah pengenalan pengertian di otak, melainkan pengenalan yang melihat kemuliaan Allah dinyatakan dan menikmatinya karena adanya kasih yang sejati kepada Allah Tritunggal. Ketika Kerajaan Allah datang, kemuliaan-Nya akan menghancurkan dosa dan keberadaan yang cemar. Tetapi orang-orang yang telah mengenal Allah tidak lagi khawatir akan kemuliaan yang menghancurkan dosa di tengah-tengah dunia. Orang-orang ini telah ditebus oleh Kristus dan karena itu mereka menjadi umat tebusan-Nya yang boleh memandang kepada kemuliaan-Nya. Tanda bahwa mereka umat tebusan-Nya adalah bahwa mereka mengenal Bapa di Surga melalui mengenal Yesus. Apa yang mereka dengar dari Yesus, apa yang mereka lihat dari hidup-Nya, dan apa yang mereka saksikan ketika Dia menggenapi tugas untuk menebus manusia, membuat mereka melihat Sang Kristus yang dengan sempurna menyatakan Allah. Orang-orang yang melihat kemuliaan Allah di dalam Kristus inilah orang-orang yang mengenal Allah dan mengenal Kristus yang diutus Allah.

Inilah sudut pandang yang indah tentang kemuliaan Allah dan hidup yang kekal. Hidup yang kekal bukanlah hanya sekadar hidup yang tak berkesudahan. Hidup yang kekal adalah hidup yang menjadi bagian dari Kerajaan Allah, baik kerajaan-Nya yang mulia di Surga sana maupun pernyataan diri-Nya di dalam dunia ini. Dan siapapun yang berbagian di dalam Kerajaan-Nya ini, boleh mengambil bagiannya dengan menikmati kasih dan pengenalan yang benar. Dia mengenal satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang diutus-Nya. Inilah yang terus menerus dengan limpah dinikmati oleh orang percaya. Bukan hanya hidup yang tidak habis-habis. Apa gunanya hidup yang tidak habis-habis jika kita tidak menikmati apa pun di dalamnya. Apa gunanya hidup yang menikmati segala hal tetapi tidak pernah memiliki relasi dengan siapa pun. Apa gunanya memiliki relasi dengan siapa pun, tetapi tidak mempunyai relasi yang penuh kasih dengan Allah.

Demikianlah yang Yesus doakan untuk para murid. Kasih, pengenalan yang sejati, dan kerelaan untuk saling mendahulukan dan saling menghormati, ini membuat kehadiran Allah menjadi sesuatu yang intim, penuh kasih dan kehangatan. Yesus, melalui doa-Nya dan pengorbanan-Nya yang sempurna di kayu salib, mengubah apa yang semula sangat menakutkan, yaitu kehadiran Allah dan kemuliaan-Nya, menjadi sesuatu yang sangat indah, intim, dan penuh pengenalan yang akrab dan kasih. Ini merupakan doa dan pekerjaan yang sangat berkuasa. Betapa limpah dan besarnya kuasa kematian dan kebangkitan Kristus. Akankah kehadiran Allah menghanguskan? Tidak. Akankah tempat yang disucikan tertutup bagi manusia? Tidak lagi. Semua berubah. Tidak ada lagi yang menghanguskan dan membinasakan dari diri Allah bagi orang-orang yang sungguh-sungguh percaya. Mendekat saat kematian-Nya, Yesus mendoakan hal yang paling penuh pengharapan dan keyakinan. Doanya bukanlah doa orang-orang putus asa yang mendoakan keselamatan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain. Di saat-saat kematian-Nya tiba, Yesus menjalankan posisi-Nya sebagai Imam Besar. Doa-Nya tentunya didengar oleh Bapa dan dikabulkan sehingga komunitas gereja Tuhan dapat menjadi satu di dalam mengenal Allah dengan pengenalan yang sejati.

Dengan memahami apa yang Yesus doakan, tentu kita tidak lagi main-main dengan kehidupan Kristen kita. Kita adalah umat tebusan yang mendapatkan sukacita istimewa di dalam mengenal Allah. Apakah sukacita terbesar kita? Sukacita terbesar adalah ketika kita boleh menikmati kehadiran Tuhan dan tetap menyimpan beban hati yang berat untuk mendoakan orang lain sehingga mereka pun dapat menikmati keindahan relasi yang saling mengenal dan saling mengasihi. (JP)