Renungan Harian 516 (Senin, 27 Januari 2020)

Murid-Murid Meninggalkan Yesus

Devotion from Yohanes 18:10-27

Setelah Yesus ditangkap, mulailah terjadi apa yang telah dinubuatkan Zakharia, yaitu pengikut Sang Gembala, murid-murid-Nya, berserak meninggalkan Dia (Za. 13:7). Ini adalah gambaran yang sangat menyedihkan. Gambaran yang biasa dipakai untuk menjelaskan kekalahan seorang raja. Jika raja terbunuh, maka para pengikutnya menjadi tercerai-berai seperti domba tidak bergembala. Benarkah Yesus seorang raja? Jika benar pun, maka Dia adalah raja yang kalah. Lihat, semua pengikut-Nya melarikan diri. Beberapa mengikuti diam-diam seperti tentara yang malu terlihat karena kalah berperang. Inikah raja Israel itu? Benar-benar raja di dalam pembuangan. Yohanes sangat jelas menggambarkan paradoksnya pada bagian ini. Dia mengisahkan narasi tentang Yesus yang menuju puncak, tetapi yang menanti di puncak itu adalah penangkapan dan tercerai-berainya para murid-Nya. Ini bukan yang kita harapkan. Tetapi justru itulah mengapa Yohanes menulis peristiwa ini dari sudut pandang seperti ini, yaitu supaya pengharapan kita akan Mesias benar-benar diubahkan agar sesuai dengan apa yang Tuhan firman-Kan. Biarlah kita menantikan Mesias yang sejati, yang diutus Allah ke dalam dunia. Tetapi situasi darurat dengan mudah mengubah sifat seseorang dan komitmennya untuk menepati janjinya. Para murid meninggalkan Yesus. Sebagian melarikan diri, beberapa mengikut Yesus dari jauh untuk mencari tahu apa yang akan terjadi pada Dia. Ada yang tidak melarikan diri, tetapi ketakutan dan bersembunyi seperti tentara dari pasukan yang telah dikalahkan. Ketakutan yang membuahkan penyangkalan. Mengapa Petrus ketakutan dan menyangkal Yesus? Karena dia merasa ada di pihak yang kalah. Dia tidak mau orang tahu kalau dia pengikut dari raja yang gagal. Dia takut karena pasukan dunia ini ternyata lebih kuat. Dia sudah berjuang memakai pedangnya, tetapi tidak ada respons dari yang lain. Bahkan Sang Kristus sendiri pun menyuruh dia meletakkan pedangnya. Yesus tahu kalau Petrus tidak sanggup memakai senjata untuk membela Dia. Kalaupun sanggup, bukan dengan cara itu Kerajaan Kristus akan disebarkan. Yesus tidak ingin pedang menghantam musuh-musuh-Nya. Dia ingin iman kepada-Nya bertumbuh, diberitakan bagi lebih banyak orang melalui firman sejati, dan disebarkan oleh pimpinan dan kuasa Roh Kudus yang memuliakan Sang Anak Allah.

Demikianlah saat ini Sang Raja sedang ditinggalkan pengikut-Nya. Dia menjadi seperti raja yang kalah perang dan ditinggalkan pengikut-pengikut-Nya. Apakah benar Yesus berada di pihak yang kalah itu? Tidak. Tetapi mengapa Dia ditangkap dan akan segera dimatikan di kayu salib? Karena pekerjaan-Nya telah diselesaikan. Dia tidak dikalahkan di kayu salib. Dia menyelesaikan pekerjaan-Nya di kayu salib. Dia menang di kayu salib! Namun keadaan yang digambarkan di dalam narasi ini sangat unik. Yesus Kristus sendiri diadili dengan cara yang sangat tidak adil. Di manakah para murid ketika Yesus ditangkap? Melarikan diri. Yesus sendirian menghadapi pengadilan. Orang benar itu sekarang difitnah dengan kata-kata kejam yang tidak terbukti sama sekali. Dan ketika Imam Besar bertanya tentang apa yang telah dilakukan Yesus, dengan tegas Yesus mengatakan bahwa ajaran yang diberitakan-Nya sudah didengar oleh banyak orang. Banyak orang telah menjadi murid Yesus. Banyak orang telah mendengar ajaran-Nya. Berbondong-bondong mengikuti dia. Banyak orang yang sudah mendapatkan berkat yang limpah melalui mukjizat, nasihat, dan pengajaran Yesus. Mereka tahu apa yang Yesus khotbahkan. Mereka tahu apa yang Yesus maksudkan. Seharusnya mereka tahu siapa Yesus. Tetapi jika mereka mengetahui siapa Yesus, mengapa tidak satu pun orang-orang itu yang benar-benar mengikut Yesus? Tidak seorang pun menemani Dia. Tidakkah ada seorang pun yang benar-benar menjadi pengikut-Nya selama ini? Bahkan Pilatus menyindir Yesus sebagai pemimpin gagal yang hanya memengaruhi beberapa orang pengkhianat yang tidak setia (Yoh. 18:35).

Demikianlah keadaan ketika Yesus ditangkap. Semua murid-Nya meninggalkan Dia, satu dari sedikit orang yang masih mengikuti dari jauh apa yang akan terjadi, dan orang itu justru menyangkal Tuhan Yesus. Yesus dibiarkan seorang diri. Tetapi, sebagaimana telah dikatakan-Nya sebelumnya, Dia tidak pernah sendiri. Bapa di surga senantiasa menyertai Dia karena Dia senantiasa berkenan kepada-Nya (Yoh. 16:32). Tuhan Yesus sedang menggenapi berakhirnya keadaan yang lama di dalam kegagalan Israel, dan dimulainya keadaan yang baru di dalam Dia. Ini Dia lakukan melalui kayu salib. Bukan hanya itu, kayu salib juga menebus umat Tuhan, membangkitkan mereka, dan membawa mereka untuk hidup bagi Tuhan sebagai umat-Nya. Dia melakukan semua ini agar ciptaan baru Allah tergenapi. Ciptaan itu sekarang sedang dinyatakan dengan kuasa perubahan yang sangat besar, tetapi hanya akan dimulai dengan kematian dan kebangkitan Yesus. Kerajaan yang agung itu, yaitu Kerajaan Allah, dimulai dengan kemuliaan yang tidak terlihat. Kemuliaan Yesus yang tersembunyi itulah yang sedang dinyatakan. Surga mengetahui hal ini dan bersukacita, sedangkan orang-orang di dunia ini memilih untuk mengabaikan Dia dan meninggalkan Dia.

Di dalam keadaan seperti ini Yesus tidak banyak diberi kesemptan untuk menyampaikan pembelaan-Nya. Ayat 22 bahkan menggambarkan bahwa Yesus ditampar. Dia dicabut dari hak untuk membela diri. Dia dicabut dari kesempatan memiliki rekan-rekan yang menolong dan mendorong Dia di tengah-tengah kesulitan ini. Semua ini tidak Dia miliki. Yesus dimaki, dipukul, dicambuk, disiksa, bahkan dibunuh dengan kejam. Apakah ada yang mendampingi untuk memberikan kekuatan? Tidak ada. Tetapi Dia menjalankan apa pun yang harus Dia kerjakan untuk memberkati umat Tuhan. Betapa berat harga yang harus dibayar Yesus agar ciptaan yang baru bisa dinyatakan. Inilah Sang Raja yang sedang menjalani langkah-langkah yang penuh dengan paradoks. Dia melangkah dengan berani menuju surga, tetapi yang menanti di depan Dia adalah neraka. Dia menyatakan kemenangan-Nya di dalam Kerajaan-Nya, tetapi para murid meninggalkan Dia seperti tentara yang meninggalkan kerajaan yang ditaklukkan. Murid-murid-Nya gagal melihat bahwa yang Yesus sedang jalani adalah cara menyatakan Kerajaan Allah hadir di bumi.

Di tengah-tengah kesendirian inilah Yesus memikul beban dari Bapa bagi seluruh dunia. Dia memikulnya tanpa mengeluh sekali pun. Dia melakukannya dengan ketaatan dan mata yang menuju kepada Bapa-Nya di surga. Seorang benar menghadapi sekelompok manusia penuh kelicikan. Kemunafikan, kepalsuan, kebencian, fitnah, dusta, kepentingan diri, penipuan, semua begitu memenuhi tempat Yesus diadili. Tetapi ada Yesus berdiri di tengah-tengah para penjahat itu. Dia dengan setia mengerjakan apa yang harus Dia kerjakan demi umat tebusan-Nya. Di tengah-tengah dunia yang penuh dengan kepalsuan dan kejahatan ini berdirilah Sang Penebus yang bersiap untuk melaksanakan tugas-Nya. Dia dikepung dan akan dihantam, bahkan dihukum sampai mati oleh orang-orang yang membenci-Nya. Dia sudah tahu apa yang akan terjadi pada-Nya setelah ini, tetapi dengan tenang Dia menjalankan semua ini dengan berserah kepada Bapa di surga. Dengan merenungkan semua hal ini, mari kita gumulkan pertanyaan-pertanyaan berikut bagi diri kita sendiri. Apakah kita sudah mengetahui bahwa Yesus adalah Sang Mesias? Jika ya, apakah pengetahuan itu sudah membuat perubahan di dalam hati dan hidup kita? Bisakah kita melihat Dia dengan benar, tidak seperti kebanyakan orang-orang pada zaman-Nya? Apakah kita benar-benar mengetahui kebesaran-Nya, keagungan-Nya, dan kemenangan-Nya? Bisakah kita mengetahui bahwa kebesaran-Nya dinyatakan lewat perendahan, keagungan-Nya lewat kehinaan, dan kemenangan-Nya lewat kematian? Keagungan inilah yang dibawa Yesus di depan Imam Besar, di tengah-tengah kesendirian ditinggalkan semua orang yang dikasihi-Nya, dan dalam keadaan dikelilingi oleh musuh-musuh-Nya. (JP)